Berbagi Cinta : Ternyata Aku Dikhianati

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Dikhianati
33. Bertemu Rizal


__ADS_3

Happy Reading... 😊


Hari demi hari pun terus berganti hari. Sejak kedatangan Rizal kemarin-kemarin membuat hidup Zoya menjadi tidak tenang. Pikirannya selalu terganggu oleh bayangan mantan suaminya. Zoya khawatir jika Rizal akan datang kembali menemuinya dan menganggu hidupnya. Zoya juga takut jika Rizal akan menyakiti Cahya karena dia adalah orang yang nekat.


"Zoya, kenapa?" tanya Cahya yang melihat Zoya akhir-akhir ini selalu melamun.


"Ti, tidak. Aku tidak apa-apa," jawab Zoya gagap.


"Tapi kenapa ya aku merasa jika akhir-akhir ini kamu terlihat lebih pendiam," ujar Cahya.


"Ah itu hanya perasaanmu saja," jawab Zoya dengan senyuman yang dipaksakan.


Sebagai seorang wanita terkadang tidak mudah mengatakan tentang apa yang dirasakannya. Rata-rata setiap wanita akan menutup mulutnya rapat-rapat meski sebenarnya merasa sesak. Terlebih ini mengenai mantan suaminya yang tiba-tiba datang kembali meminta rujuk setelah sekian lama menghilang entah kemana. Entah apa yang harus Zoya lakukan. Yang jelas kini ia merasa dilematis.


Yang membuat Zoya bingung memang waktu itu mereka belum berpisah secara resmi. Sedangkan Zoya dan Cahya hanya menikah secara agama saja. Meski Rizal pergi begitu lama akan tetapi belum ada kata perpisahan diantara mereka.


"Ada apa dengan Zoya? Tidak biasanya dia bersikap seperti ini," gumam batin Cahya.


Zoya yang mulai merasa tidak karuan karena pertanyaan Cahya akhirnya berlalu ke dapur meninggalkan Cahya yang sedang duduk minum kopi diteras rumah.


Hari ini adalah hari Minggu, untuk itu Cahya bisa menikmati secangkir kopi secara santai diteras. Di hari libur seperti ini tidak ada kegiatan yang biasa dilakukan, hari liburnya hanya Cahya gunakan untuk beristirahat saja. Merasa kasihan karena Zoya terlihat begitu pendiam, Cahya akhirnya mengajak Zoya untuk pergi jalan-jalan. Mungkin dengan mengajaknya keluar akan membuat Zoya merasa lebih baik.


"Zoya cepat bersiap kita pergi keluar," pekik Cahya dari arah ruang tamu.


"Keluar kemana? Aku sedang tidak ingin kemana-mana," ujar Zoya.


"Tapi Zoya, aku sedang ingin makan bakso. Kamu temani aku ya," ucap Cahya memohon.


Melihat Cahya yang memelas membuat Zoya akhirnya mau menerima ajakan Cahya. Meski sebenarnya Zoya tidak ingin pergi karena masih merasa khawatir, akhirnya dia pergi juga.


"Ya sudah, aku mau mandi dulu dan siap-siap dulu," ucap Zoya.


"Oke, aku tunggu," Cahaya langsung mengangkat jempolnya sebagai tanda setuju.


Setelah beberapa menit menunggu akhirnya Zoya siap juga. Cahya yang sedari tadi menghangatkan mobilnya kini sudah siap. Mereka mulai pergi meninggalkan rumah.


Disepanjang perjalanan tidak keluar banyak kata yang keluar dari mulut Zoya, dia hanya melihat-lihat ke luar dari balik jendela. Meski raganya berada disamping Cahya, namun pikirannya melayang memikirkan Rizal sejak kemarin.

__ADS_1


Bukan memikirkan karena masih cinta, namun memikirkan akan keselamatan pernikahan dirinya dan Cahya. Selain itu, Zoya juga masih merasa khawatir tentang keselamatan Cahya. Meski Zoya bersikap untuk tenang, namun pikirannya tetap melayang.


"Bagaimana jika Cahya tahu yang sebenarnya?" gumam batin Zoya.


"Zoya!" ujar Cahya yang sejak tadi bertanya pada Zoya.


"Eh iya kenapa Cahya?" jawab Zoya yang merasa terkejut.


"Kamu kenapa sih?" tanya Cahya.


"Tidak, aku tidak apa-apa," jawab Zoya.


"Aku tahu pasti kamu sedang memikirkan sesuatu kan?" tanya Cahya.


Zoya seketika terdiam. Zoya merasa bingung jawaban apa yang harus ia berikan.


"Zoya! Tuh kan kamu melamun lagi!" pekik Cahya yang menepuk punggung Zoya.


"Iya Cahya, sebenarnya," lirih Zoya.


Zoya mulai menceritakan semua yang terjadi mengenai kedatangan Rizal kemarin. Setelah mendengar itu Cahya merasa marah dan kecewa. Cahya merasa jika Rizal adalah lelaki yang tidak bertanggungjawab.


"Jadi, karena itu sejak kemarin kamu melamun?" tanya Cahya.


"Iya, aku takut kalau kamu akan marah," lirih Zoya.


"Kenapa aku harus marah? Itu semua bukan kesalahanmu," ujar Cahya.


"Tapi aku takut jika kamu akan meninggalkanku jika tahu tentang ini semua," lirih Zoya yang mulai berkaca-kaca. Perlahan tapi pasti bulir bening itu akhirnya keluar dari mata Zoya. Zoya sangat mencintai Cahya, dan ia tidak ingin kehilangan suaminya.


Melihat Zoya yang terus terisak membuat Cahya tidak tega melihatnya. Cahya menepikan mobilnya dipinggir jalan dan berusaha menenangkan Zoya dengan memeluknya.


"Sudahlah jangan menangis, aku tidak akan pernah meninggalkanmu," ujar Cahya sambil memeluk Zoya dan mengusap punggung Zoya.


Mendengar hal itu membuat Zoya merasa lega dan tidak khawatir lagi. Rasanya begitu plong.


"Terima kasih," ucap Zoya ditengah-tengah isakannya.

__ADS_1


"Sudahlah," ujar Cahya sambil mengusap pipi Zoya yang penuh dengan air mata.


Setelah melihat Zoya terlihat lebih baik, akhirnya Cahya melajukan kembali kendaraannya. Cahya sengaja mencari tempat bakso langganannya. Entah mengapa tiba-tiba Cahya ingin makan bakso. Tak berapa lama, sampailah mereka di tempat bakso langganan mereka sejak masih zaman kuliah dulu.


"Kamu masih ingat sama tempat ini kan?" tanya Cahya.


"Iya, aku ingat. Kenapa kamu ngajak aku kesini?" tanya Zoya.


"Aku sengaja, biar kita mengenang masa-masa pacaran dulu," ujar Cahya sambil tersenyum melihat Zoya.


Begitupun dengan Zoya yang merasa senang. Cahya berhasil membuat Zoya tersenyum kembali. Mereka segera bergegas masuk ke kedai bakso langganan mereka. Disana disuguhkan berbagai jenis bakso. Hal itulah yang membuat Cahya dan Zoya dulu sering mampir ke tempat ini, sebab bakso merupakan makanan favorit mereka berdua.


Zoya mengedarkan matanya mencari temaot yang nyaman untuk mereka berdua. Dan akhirnya mereka menemukan tempat yang paling nyaman di sebelah jendela yang terbuka. Mereka pun segera memesan bakso favorit mereka.


Untuk beberapa menit mereka harus menunggu pesananannya. Namun saat menunggu tiba-tiba ada seseorang yang mendekati Zoya dan Cahya.


"Jadi ini suami barumu?" tanya lelaki itu.


"Mas Rizal?" Zoya terkejut dengan kedatangan Rizal yang tiba-tiba dihadapannya.


"Jadi ini yang namanya Rizal?" tunjuk Cahya yang langsung menghampiri Rizal.


"Iya memangnya kenapa hah? Masalah buat loh?" geram Rizal yang mulai tersulut emosi.


"Sudah mas, sudah! Tolong pergi dari sini," timpal Zoya berada ditengah-tengah untuk melerai mereka.


"Kamu mundur Zoya, ini urusan laki-laki!" ucap Cahya yang langsung maju membelakangi Zoya.


"Tapi Cahya dia itu sangat berbahaya," ujar Zoya mencoba mengingatkan.


"Apa kau bilang?" tanya Rizal.


Zoya hanya terdiam dan berusaha mengajak Cahya pergi dari tempat itu. Dengan sekuat tenaga Zoya meraih tangan Cahya dan menyeretnya bergegas pergi meninggalkan tempat itu.


Namun baru beberapa langkah Zoya dan Cahya melangkahkan kaki mereka, Rizal tiba-tiba menarik kerah baju Cahya dari belakang.


"Tunggu, mau kemana bung? Urusan kita belum selesai!" tegas Rizal.

__ADS_1


__ADS_2