
Happy Reading... 😊
Setelah Agnia dan Ihsan menikah, mereka tinggal dirumah yang cukup mewah. Rumah yang sudah Ihsan miliki sebelum memiliki seorang pendamping. Ihsan merupakan laki-laki yang bijak dalam mengatur keuangan, sehingga hasil jerih payahnya ia tabung sedikit demi sedikit. Hal itu ia lakukan untuk masa depan keluarganya kelak, beruntung Agnia menikah dengan laki-laki yang pandai mengatur keuangan seperti Ihsan.
Beberapa bulan pun berlalu, akan tetapi Agnia dan Ihsan masih merasa seperti pengantin baru. Setiap hari selalu mereka habiskan bersama. Bahkan kemana-mana selalu bersama. Hal ini membuat Agnia dan Ihsan merasa sangat bahagia. Sudah beberapa hari Agnia merasa tidak enak badan, kepalanya selalu terasa pusing bahkan perutnya selalu merasa mual.
"Huweek... huweek..." terdengar suara Agnia yang tiba-tiba merasa mual saat sedang menyapu lantai.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Ihsan dengan penuh rasa cemas.
"Ga tau mas, sudah beberapa hari perutku merasa mual dan kepalaku selalu pusing," lirih Agnia yang memegangi kepalanya.
"Sudah kamu tidak usah membereskan pekerjaan rumah, biar aku nanti yang mengerjakannya. Sekarang kita pergi ke dokter ya!" ajak Ihsan.
"Tidak mas, ga usah. Sepertinya aku cuma masuk angin," ujar Agnia.
"Tapi kan sudah beberapa hari juga kamu kaya gini, aku tidak tega liat kamu terus-terusan seperti itu," ucap Ihsan.
"Ya sudah kalau begitu," lirih Agnia yang terpaksa mengikuti suaminya.
Setelah Agnia setuju, Ihsan pun segera menyiapkan mobilnya. Tidak tega mendengar Agnia yang terus muntah membuat Ihsan ingin segera mengajak Agnia ke dokter. Dengan kecepatan yang tinggi Ihsan melajukan kendaraannya, satu jam kemudian akhirnya mereka tiba dirumah sakit. Ihsan segera turun dari mobil, sedangkan Agnia menunggu didalam mobil. Meski Ihsan adalah seorang dokter yang bekerja dirumah sakit, akan tetapi Ihsan tidak membawa Agnia ke tempat Ihsan bekerja. Ihsan membawa Agnia ke rumah sakit yang tidak begitu jauh dari rumahnya.
"Tunggu sebentar disini, aku akan membawa kursi roda," ujar Ihsan yang langsung berlari ke dalam rumah sakit.
"Iya mas," jawab Agnia yang bersandar dalam mobil. Tidak berapa lama akhirnya Ihsan datang dengan membawa sebuah kursi roda.
"Hati-hati sayang," ujar Ihsan sebelum Agnia menaiki kursi roda.
"Iya mas," jawab Agnia dengan perlahan duduk dikursi roda itu.
__ADS_1
Ihsan segera mendorong Agnia yang sudah terduduk dikursi roda. Ihsan segera mendaftar, dan tidak berapa lama akhirnya Ihsan dan Agnia dipanggila ke dalam ruangan untuk diperiksa.
"Selamat siang dok," sapa Ihsan saat membuka pintu.
"Selamat siang, silahkan duduk," ujar dokter wanita itu mempersilahkan.
"Terima kasih dok," jawab Ihsan dam Agnia serempak.
Agnia pun segera berbaring diatas ranjang rumah sakit. Dengan cekatan dokter itu segera memeriksa tekanan darah. Beberapa saat setelah diperiksa akhirnya dokter itu berkata,
"Anda tidak perlu khawatir, karena anda akan menjadi seorang ibu," ujar dokter itu setelah memeriksa Agnia.
"Apa dok? Jadi istri saya hamil?" tanya Ihsan yang masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Iya istri anda sedang hamil dan sekarang usia kandungan istri anda sudah menginjak 2 bulan," ujar dokter.
"Ini saya berikan resep untuk ibu Agnia," ujar dokter itu sebelum mereka meninggalkan ruangan itu.
"Terima kasih banyak dok," ujar Ihsan dan Agnia yang segera bergegas meninggalkan ruangan itu.
Setelah mengetahui Agnia hamil, Ihsan harus memberikan perhatian yang lebih untuk Agnia. Mulai dari makanan, semua Ihsan lah yang lebih memperhatikan. Bahkan Ihsan adalah suami yang siap antar jaga. Ihsan merupakan laki-laki idaman setiap wanita, karena hanya seribu satu laki-laki yang mau membantu pekerjaan istrinya.
Meski mereka tinggal dirumah yang cukup mewah, akan tetapi mereka tidak mempunyai asisten rumah tangga. Semenjak Agnia hamil, Ihsan lah yang mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Mulai dari mencuci, mengepel, bahkan memasak pun Ihsan yang mengerjakan.
Agnia sangat beruntung karena mendapatkan laki-laki yang seperti itu. Hal itu pula yang membuat Agnia semakin hari semakin jatuh cinta pada Ihsan.
Mungkin nanti setelah melahirkan, Ihsan akan mencari asisten rumah tangga di tempat penyaluran ketenaga kerjaan yang resmi. Agnia tidak pernah mengira jika Ihsan ternyata diluar dugaannya memiliki sifat yang begitu baik dan lembut. Bahkan sangat penyanyang dan begitu perhatian.
Rehan juga sangat senang ketika mendengar ibunya sedang hamil. Ia begitu bahagia karena ia akan menjadi seorang kakak. Mungkin dengan hadirnya seorang adik tidak akan membuat Rehan kesepian.
__ADS_1
9 bulan kemudian akhirnya Agnia melahirkan seorang bayi perempuan. Agnia melahirkan secara normal. Berat badan bayi itu mencapai 3 kg dengan panjang 50 cm.
"Selamat bu anak anda perempuan," ujar dokter kandungan itu.
"Alhamdulillah," ucap Agnia tersenyum senang setelah berjuang melawan maut mempertaruhkan nyawanya.
"Wah anak ayah, cantik sekali," puji Ihsan yang langsung menggendong anaknya.
"Cantik ya mas," ujar Agnia.
"Iya cantik kaya ibunya," ucap Ihsan.
"Kamu bisa aja," ujar Agnia yang tersipu malu.
Semua sudah menunggu diluar, tapi saat terdengar suara bayi orang tua Ihsan dan ayahnya Agnia langsung masuk ke dalam ruangan. Semua terlihat begitu bahagia dengan kelahiran Agnia.
"Selamat anda menjadi seorang kakek," ujar Pak Arga yang langsung memeluk besannya.
"Selamat juga untuk anda pak," ujar Pak Hasan yang langsung membalas pelukan Pak Arga.
"Cucu oma cantik banget," ujar Bu Dewi yang tak kalah senangnya melihat cucu pertamanya.
Akhirnya Pak Hasan dan Bu Dewi kini menimang cucu setelah penantian panjang yang mereka lewati. Kebahagiaan pun terpancar dari wajah mereka berdua.Tidak ada kebahagiaan yang lebih indah selain memiliki seorang cucu. Begitupun dengan Rehan yang kini sudah duduk di bangku SD. Kini ia telah tumbuh menjadi anak yang pintar dan mandiri. Di usianya yang sudah menginjak 10 tahun, Rehan sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Sehingga Agnia tidak terlalu repot mengurus bayinya.
Agnia sangat beruntung karena kini Agnia memiliki keluarga yang utuh. Ditambah kehadiran anak keduanya yang membuat Agnia semakin bahagia. Agnia berhak mendapatkan kebahagiaan ini setelah ia merasakan sakit hati yang begitu mendalam.
Seiring berjalannya waktu, rasa sakit itu akan menghilang. Sekarang tugas Agnia hanya menjadi seorang ibu dan menjadi seorang istri yang lebih baik lagi. Biarkan pengalaman hidup yang sudah terlewati menjadi sebuah kenangan.
Kata mmaf memang sebuah kata yang sangat mudah diucapkan, namun sulit untuk dipraktikan. Agnia berusaha untuk memaafkan setiap kesalahan Cahya, karena dengan memaafkan akan membuat hati semakin tenang. Yang terpenting dalam hidup ini kita harus senantiasa bersyukur dan menghargai setiap apa yang kita miliki, karena dengan bersyukur akan memberikan kebahagiaan.
__ADS_1