
Happy Reading... 😊
Sebelum benar-benar pergi meninggalkan kota itu. Cahya berencana menemui anaknya Rehan terlebih dahulu. Sudah sangat lama Cahya tidak bertemu dengan Rehan. Hal itu membuat Cahya sangat merindukan anaknya. Begitupun dengan Pak Arga yang sangat merindukan cucunya. Baginya Rehan adalah cucu kesayangannya, karena Rehan adalah cucu satu-satunya.
Sebelum bergegas ke rumah Agnia, Cahya dan Pak Arga pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa mainan dan berbagai aneka makanan. Mulai dari cemilan hingga, makanan berat tidak lupa mereka membelinya. Didalam toko mainan, Cahya dan Pak Arga dihadapkan dengan beberapa pilihan, sebab ditoko itu banyak sekali berbagai jenis mainan. Untuk itu mereka membeli beberapa macam mainan untuk Rehan.
Setelah beberapa lama memilih barang dan makanan, akhirnya mereka segera bergegas dari toko itu. Satu jam kemudian, akhirnya mereka tiba dirumah Agnia.
Ting.. tong..
"Siapa ya, " gumam Agnia.
"Biar aku aja yang buka bu," ujar Rehan yang langsung bergegas membukakan pintu.
"Ayah?" tanya rehan yang terkejut dengan kedatangan ayahnya.
"Rehan sayang, ayah sangat merindukanmu nak," jawab Cahya yang langsung memeluk anaknya.
"Ayah kemana saja? Kenapa baru menemuiku lagi sekarang?" tanya Rehan.
"Maaf sayang, ayah sedang banyak pekerjaan," jawab Cahya yang terpaksa berbohong pada Rehan.
"Hai cucu kakek, apa kabar?" sapa Pak Arga yang baru menemui cucunya lagi, sebab dulu Rehan masih sangat kecil.
"Kakek? Apa dia benar kakekku yah?" tanya Rehan yang menautkan kedua halisnya, sebab memang baru kali ini Rehan bertemu dengan Pak Arga.
"Iya sayang, itu kakekmu. Papahnya ayah," ujar Cahya.
"Liat apa yang kakek bawa buat kamu?" ujar Pak Arga yang langsung memberikan semua barang bawaannya.
"Makasih banyak kek," ucap Rehan.
"Sama-sama sayang," jawab Pak Arga.
Melihat Rehan yang terlihat bahagia membuat Cahya merasa senang. Setelah sekian lama, baru kali ini Cahya melihat Rehan tersenyum bahagia.
"Siapa Rehan?" teriak Agnia dari dalam rumah.
__ADS_1
"Ada Ayah bu," teriak Rehan yang tak kalah nyaring.
"Ada Cahya? Aku kira dia sudah pergi," gumam batin Agnia.
Agnia segera menemui Cahya dan mantan ayah mertuanya. Agnia mempersilahkan mereka masuk dan membuatkan mereka minuman. Cahya menghabiskan waktu bermain dengan Rehan. Cahya dan Rehan membuka semua mainan yang ia beli tadi dijalan. Sedangkan Pak Arga berbincang bersama Agnia. Beberapa jam berlalu, Cahya harus segera pamit kepada Rehan.
"Rehan?" panggil Cahya disela-sela permainan mereka.
"Iya yah," jawab Rehan sambil memainkan mobil-mobilannya menggunakan remote control.
"Begini Rehan, ayah akan pergi. Rehan baik-baik disini bersama ibu yah. Rehan harus jadi anak yang baik dan harus nurut ya," lirih Cahya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa? Memangnya ayah mau kemana?" tanya Rehan yang tampak bingung dengan perkataan ayahnya.
"Begini sayang, ayah harus bekerja ke tempat yang jauh," jawab Cahya.
"Kenapa tidak bekerja disini saja yah?" tanya Rehan lagi.
"Maaf sayang, tapi ini perintah bos ayah," jawab Cahya dengan seadanya.
Cahya berusaha memberikan pengertian kepada Rehan. Meski awalnya Rehan kurang setuju, akhirnya ia mengerti juga. Bagi Cahya hal ini tidaklah mudah. Sebenarnya Cahya tidak ingin berada jauh dari Rehan, akan tetapi hal ini terpaksa harus ia lakukan karena walau bagaimanapun Cahya harus menjauhi Agnia. Mungkin dengan begini Cahya akan benar-benar melupakan Agnia.
Begitupun dengan Pak Arga yang terus memeluk cucunya. Dalam lubuk hatinya ia ingin tinggal lebih lama bersama Rehan, tapi itu tidak mungkin. Baru kali ini Pak Arga bertemu lagi dengan cucunya, tapi sekarang ia harus berpisah lagi dengan Rehan.
"Maafkan kakek nak, kakek juga harus meninggalkanmu." gumam batin Pak Arga setelah memeluk cucunya.
Rehan merasa sedih setelah berpelukan dengan kakek dan ayahnya untuk yang terakhir kalinya. Baru saja ia merasakan kebahagiaan bertemu dengan ayah dan kakeknya tapi kini mereka harus berpisah kembali. Setelah sekian lama berbincang dan bermain akhirnya kini mereka benar-benar harus pergi.
"Maafkan atas semua kesalahanku Agnia," ujar Cahya sebelum benar-benar pergi.
"Sudahlah mas, aku sudah ikhlas memaafkanmu," jawab Agnia.
"Aku titip Rehan ya, tolong jaga dia baik-baik. Semoga kamu hidup bahagia bersama Ihsan," ujarnya lagi dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya mas pasti, insya Allah aku akan menjaga Rehan. Aamiin, terima kasih mas," ucap Agnia yang mengaminkan doa Cahya.
"Ayah juga pamit nak, maafkan ayah juga," timpal Pak Arga yang langsung memeluk Agnia.
__ADS_1
"Tidak apa-apa yah, ayah baik- baik disana ya," ujar Agnia.
Setelah berpamitan Cahya dan Pak Arga pun segera bergegas dari rumah Agnia. Sekarang mereka benar-benar pergi jauh dari kota ini. Mungkin sesekali Cahya akan datang untuk menengok putranya. Meski Rehan merasa sedih karena kapergian ayahnya, akan tetapi di usianya yang masih anak-anak Rehan mencoba mengerti jika ibu dan ayahnya tidak mungkin bersama lagi.
Beberapa hari setelah kepergian Cahya, Agnia dan Ihsan segera meresmikan hubungan mereka. Sekarang tiba saatnya Agnia dan Ihsan menyatukan hubungan mereka secara resmi. Semua persiapan sudah rampung, tamu undangan juga sudah hadir semuanya. Termasuk pak penghulu dan semua saksi semua sudahlah lengkap.
"Bagaimana para saksi sah? Sah?" tanya Pak Penghulu setelah menikahkan mereka berdua.
"Sah.." jawab saksi dan semua tamu undangan secara serempak
"Alhamdulillah," ujar Agnia dan Ihsan secara kompak.
"Semoga menjadi keluarga yang sakinnah, mawwadah dan warrohmah," ujar pak penghulu setelah menikahkan Agnia dan Ihsan.
"Aamiin," jawab Agnia dan Ihsan.
Akhirnya penantian panjang mereka membuahkan hasil. Sekarang mereka sudah
sah menjadi sepasang suami istri. Agnia merasa bahagia, begitupun dengan Ihsan yang sama-sama merasa bahagia. Rehan tersenyum melihat ibunya bahagia. Begitupun dengan Pak Adi dan kedua orang tua Ihsan, semua terlihat senang melihat kebahagiaan mereka berdua.
Setelah ijab qabul selesai, tamu undangan satu persatu menyalami kedua mempelai. Hampir seharian penuh acara itu dilaksanakan.
"Selamat sayang, semoga menjadi keluarga yang sakinna, mawwadah dan warrohmah," ujar Pak Adi yang langsung memeluk anaknya.
"Aamiin, makasih yah," jawab Agnia yang langsung membalas pelukan ayahnya.
"Ihsan, om titip Agnia ya! Tolong jaga Agnia baik-baik," ujar Pak Adi.
"Pasti om, aku akan selalu menjaga Agnia dan akan selalu membahagiakan Agnia," jelas Ihsan yang langsung menggenggam erat tangan istrinya.
Tidak lupa mereka pun menyalami orang tua Ihsan satu persatu. Rangkaian acara pun telah selesai dilaksanakan. Agnia dan Ihsan segera bergegas menuju hotel bintang 5 untuk berbulan madu, sementara Rehan tinggal bersama Pak Adi untuk sementara. Satu jam kemudian mereka tiba di hotel itu.
"Terima kasih Agnia karena kamu sudah bersedia menjadi pendamping dalam hidupku," ujar Ihsan yang duduk ditepi ranjang bersama
Agnia.
"Sama-sama mas, terima kasih juga karena kamu sudah mau menerima semua kekuranganku," lirih Agnia.
__ADS_1
Tanpa membuang waktu mereka pun langsung melaksanakan kewajiban mereka sebagai pengantin baru. Penyatuan cinta yang dilakukan setiap insan yang sudah menikah. Malam pertama yang Ihsan tunggu-tunggu, akhirnya mereka lewati dengan sangat indah.