Berbagi Cinta : Ternyata Aku Dikhianati

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Dikhianati
45. Kehilangan Pekerjaan


__ADS_3

Happy Reading... 😊


📱"Tidak, tidak! Aku tidak apa-apa. Kalau begitu selamat beristirahat ya, maaf jika aku sudah mengganggu," pamit Ihsan yang mengakhiri panggilan telponnya.


📱"Iya tidak apa-apa, selamat beristirahat juga," jawab Agnia dan langsung menutup telponnya.


Setelah panggilan itu membuat Ihsan tidak bisa memejamkan matanya, karena teringat Agnia. Bayangan Agnia seolah selalu mengganggu pikiran Ihsan.


Keesokan harinya Ihsan memulai aktifitasnya seperti biasa. Pagi-pagi sekali Ihsan sudah bersiap untuk segera bergegas ke rumah sakit. Ihsan menuju rumah sakit dengan menggunakan mobil pribadinya. Tidak ada supir yang mengantar, semua Ihsan lakukan sendiri karena ia tidak mau merepotkan orang lain.


Sementara Agnia memulai aktifitasnya seperti biasa layaknya seorang ibu rumah tangga yang mengerjakan pekerjaan rumah pada umumnya dan mengurus anaknya sebelum berangkat ke sekolah. Setelah itu Agnia menyiapkan sarapan untuk Rehan lalu seperti biasa mengantarnya sekolah sebelum Agnia pergi ke kantor.


"Rehan sayang, cepet makan dulu nak," titah Agnia.


"Baik bu," jawab Rehan yang langsung menghampiri ibunya dimeja makan.


Seperti biasa hanya mereka berdua yang ada dimeja makan. Sepi, tidak ada lagi orang lain yang ikut makan bersama mereka.


"Bu, seandainya aku punya ayah, pasti kita tidak akan seperti ini," ujar Rehan yang tiba-tiba membuka pembicaraan.


"Kita berdua saja sudah ramai kan sayang," jawab Agnia.


"Tapi kalau aku punya seorang ayah, pasti hidupku akan terasa lebih lengkap bu," ujar Rehan yang biacaranya seperti orang dewasa.


Agnia terdiam memikirkan kata-kata Rehan barusan, pikirannya seolah melayang kesana-kemari. Agnia hanya menggeleng. Bukan tidak mau memiliki pasangan, akan tetapi tidaklah mudah mencari pasangan yang cocok untuk kita. Sudah beberapa orang yang mulai mendekati Agnia tapi selalu ada saja halangan yang membuat hubungan itu tidak berlanjut.


"Bu," tanya Rehan yang melihat ibunya terdiam.


"Iya sayang?" tanya Agnia lembut.


"Maafkan Rehan bu, karena Rehan selalu meminta seorang ayah," lirih Rehan.


"Tidak apa-apa sayang," ujar Agnia lembut.


"Jika sudah selesai sarapannya kita berangkat sayang!" ajak Agnia.


"Iya bu sudah," jawab Rehan.

__ADS_1


Agnia pun segera bergegas untuk mengantar Rehan ke sekolah. Meski terasa melelahkan, akan tetapi Agnia mencoba menikmati setiap proses hidupnya. Agnia tetap sabar menjalani setiap roda kehidupan yang menerpa hidupnya. Satu jam kemudian akhirnya Agnia tiba disekolah Rehan.


"Makasih bu, karena sudah mengantarku ke sekolah," ujar Rehan sebelum turun dari mobil.


"Sama-sama sayang," ucap Agnia saat Rehan akan turun dari mobil dan mengecup pucuk kepala Rehan.


"Aku sekolah dulu bu," pamit Rehan sambil mencium punggung tangan kanan Agnia.


"Iya sayang, belajar yang baik ya!" ujar Agnia.


Setelah Rehan keluar dari mobil, Agnia pun segera bergegas ke kantor. Tidak butuh waktu yang lama, satu jam kemudian akhirnya ia tiba dikantor. Selesai memarkirkan mobilnya, Agnia segera masuk ke dalam kantor.


"Agnia!" panggil seseorang dari kejauhan.


"Iya, ada apa?" tanya Agnia yang menautkan kedua halisnya.


"Agnia, kamu sudah ditunggu di ruang HRD oleh Pak Yogi," ujar seseorang itu yang tidak lain adalah teman sekantornya.


"Apa? Memangnya ada apa?" tanya Agnia sambil menautkan kedua halisnya.


"Astaga, apa yang aku perbuat? Perasaan aku tidak pernah berbuat kesalahan sedikitpun," gumam batin Agnia.


Setelah menerima kabar dari temannya itu, Agnia segera bergegas menuju ruang HRD dilantai 3. Untuk lebih cepat sampai diruangan itu, Agnia memilih menggunakan lift. Dalam hatinya Agnia merasa tidak enak hati, Agnia merasa gugup, entah hal apa yang alan dibicarakan Pak Yogi kepadanya. Yang jelas Agnia sangat jarang pergi ke ruangan itu.


Dulu Agnia masuk ke ruangan HRD saat pertama kali masuk untuk wawancara kerja. Sekarang setelah sekian lama, baru kali ini Agnia menginjakan lagi kakinya diruangan itu. Meski merasa gugup, Agnia tetap berusaha bersikap tenang dan tetap berfikiran positif. Setibanya dilantai 3, Agnia segera bergegas masuk ke dalam ruangan itu.


Tok... tok...


"Permisi pak, apa bapak memanggil saya?" tanya Agnia sesaat sebelum masuk ke dalam ruangan itu.


"Iya Agnia, silahkan masuk!" ujar Pak Yogi mempersilahkan.


Perlahan tapi pasti, Agnia segera masuk kedalam ruangan itu.


"Silahkan duduk Agnia!" ucap Pak Yogi mempersilahkan.


"Terima kasih pak. Sebenarnya ada hal apa yang membuat bapak memanggil saya kesini?" tanya Agnia yang sangat penasaran dengan panggilannya itu.

__ADS_1


"Begini Agnia, ini ada surat untuk kamu," ujar Pak Yogi yang langsung memberikan sebuah surat kepada Agnia.


Agnia yang menerima amlop putih berisi surat itu, lantas segera membuka dan membaca isi dari surat itu.


No : 100


Perihal : Pemberhentian Hak Kerja


Kepada Yth.


Sdr : Agnia


Di Tempat


Dengan Hormat,


Sehubungan dengan efisiensi perusahaan yang mengakibatkan adanya restrukturisasi karyawan dengan ini PT. Angkasa Raya melakukan pengurangan sebagian karyawan. Untuk menyesuaikan dengan kondisi tersebut PT. Angkasa Raya memecat karyawan dengan sangat berat hati dan menyatakan bahwa Perusahaan tidak dapat lagi memperkerjakan Sdr. Agnia Mufida sebagai sekretaris.


Dengan demikian terhitung sejak saat ini hubungan kerja dengan Sdr. Agnia dinyatakan berakhir.


Pihak Perusahaan mengucapkan banyak terima kasih atas loyalitas saudara selama ini.


PT. Angkasa Raya


Yogi (Manager HRD)


"Apa? Jadi saya diberhentikan?" tanya Agnia setelah membaca surat itu.


"Iya Agnia, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya," ujar Pak Yogi.


"Tapi apa kesalahan saya pak? Saya sudah banyak berkorban untuk perusahaan ini," lirih Agnia.


"Saya mohon maaf Agnia, ini merupakan perintah dari atasan saya," ujar Pak Yogi.


"Ya sudah kalau begitu pak, tidak apa-apa. Kalau begitu saya permisi," pamit Agnia yang langsung meninggalkan ruangan itu.


"Maafkan saya Agnia, ini merupakan perintah dari Bu Ester. Saya sangat tahu bahwa kamu adalah karyawan yang baik, tapi saya tidak bisa menolak perintah beliau,"gumam Pak Yogi setelah Agnia pergi.

__ADS_1


Hal yang Agnia takutkan akhirnya terjadi. Agnia benar-benar diberhentikan dari perusahaan itu. Agnia tidak pernah mengira jika ia akan diberhentikan secepat ini. Padahal Agnia sudah bekerja diperusahaan itu selama bertahun-tahun. Tapi Agnia yakin jika ini semua terjadi pasti ada hubungannya dengan Bayu. Entah dugaan Agnia itu benar atau salah, yang jelas Agnia kini benar-benar kehilangan pekerjaannya.


Entah bagaimana Agnia akan menjalani hari-harinya. Dari mana ia akan mendapatkan pemasukan jika sekarang ia diberhentikan dari pekerjaannya. Dari mana ia mendapatkan biaya untuk sekolah Rehan. Semua itu sangat membuat Agnia pusing tujuh keliling.


__ADS_2