Berbagi Cinta : Ternyata Aku Dikhianati

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Dikhianati
15. Harus Bilang Apa?


__ADS_3

Selamat Membaca... 😊


Pagi-pagi sekali Agnia sudah terbangun dan menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Meski Agnia merupakan anak satu-satunya, akan tetapi hal itu tidak membuat Agnia menjadi anak yang manja. Sejak kecil Agnia sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga. Hingga saatnya kini, setelah berumah tangga bukan pekerjaan yang sulit bagi Agnia untuk melakukan semuanya.


"Menantu ibu rajin sekali, pagi-pagi gini semua pekerjaan rumah sudah beres," puji Bu Sinta.


"Ah ibu, ini semua kan sudah tugas Agi," jawab Agnia yang tetap rendah hati.


"Cahya mana? Kok belum keliatan?" tanya Bu Sinta yang sejak semalam belum melihat keberadaan anaknya.


Deg..


Hati Agnia mulai tidak tenang, alasan apa lagi yang akan ia gunakan untuk menutupi kesalahan suaminya. Meski Cahya adalah anaknya sendiri, akan tetapi sebagai seorang istri yang baik Agnia tidak mungkin jika harus membicarakan tentang keburukan suaminya sendiri.


Walaupun ini merupakan waktu yang tepat untuk mengadukan perilaku anaknya kepada ibunya, akan tetapi Agnia tidak mungkin melakukan hal itu. Agnia mencoba menutupi kesalahan suaminya serapat mungkin.


"Harus bilang apa? Alasan apa lagi yang harus aku katakan jika mas Cahya sedang berada di rumah madunya," gumam batin Agnia yang mulai merasa cemas.


"Agnia kenapa? Kok diem aja?" tanya Bu Sinta yang melihat Agnia terdiam.


"Anu bu, mas Cahya sedang ada pekerjaan diluar kota," dusta Agnia yang terpaksa membohongi ibu mertuanya.


"Oh.. Udah berapa hari Cahya pergi?" tanya ibu lagi.


"Ada sekitar 2 mingguan bu," dusta Agnia lagi.


"Astaghfirulloh kebohongan apa lagi yang aku katakan. Maafkan Agi bu, Agi tidak bermaksud untuk membohongi ibu," gumam batin Agnia.


"Ya sudah sini biar ibu yang gendong Rehan, kamu sarapan dulu nak," titah Bu Sinta.


Bu Sinta segera mengambil Rehan dari Agnia dan mengajaknya jalan-jalan diteras rumah.


Beberapa hari kemudian, tanpa sepengetahuan Agnia tiba-tiba Cahya pulang.

__ADS_1


"Ibu?" tanya Cahya yang terkejut dengan keberadaan Bu Sinta.


"Cahya anak ibu, kamu apa kabar nak?" tanya Bu Sinta yang langsung menghampiri dan memeluk anaknya karena sudah lama tidak bertemu.


"Aku baik ibu, ibu sendiri bagaimana kabar ibu? Ibu sudah berapa hari disini? tanya Cahya.


"Ibu baru dua hari disini nak. Oiya kamu sudah berapa lama ada pekerjaan diluar kota?" tanya Bu Sinta.


Keberadaan Bu Sinta membuat Cahya menjadi tidak tenang. Ada perasan senang, namun ada juga rasa khawatir yang ia rasakan. Cahya takut jika ibunya tahu mengenai pernikahan keduanya dengan Zoya.


"Apa Agnia menceritakan semua perbuatannku pada ibu?" Tapi aku rasa tidak, karena jika Agnia sudah menceritakannya semua pada ibu, aku pasti sudah habis dimarahi," gumam batin Cahya.


"sekitar sebulan bu," jawab Cahya datar.


Uhuk... uhuk..


"Ibu kenapa?" tanya Cahya yang melihat ibunya tersedak saat minum.


"Ibu tidak apa-apa nak, ibu hanya tersedak saja," dusta Bu Sinta.


Bu Sinta mulai merasa jika ada sesuatu yang terjadi diantara mereka. Sebagai seorang ibu, Bu Sinta pasti sudah merasakan jika ada sesuatu yang terjadi diantara mereka. Tapi apapun yang terjadi diantara mereka, Bu Sinta tidak boleh ikut campur dalam persoalan mereka. Mereka sudah dewasa, biarkan mereka berdua yang menyelesaikan masalah mereka berdua. Sebagai orang tua, Bu Sinta hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk pernikahan mereka.


"Ibu beneran tidak apa-apa?" tanya Cahya lagi untu memastikan karena Cahya sangat menyayangi ibunya.


"Tidak nak, ibu tidak apa-apa," jawab Bu Sinta.


"Mas Cahya? Kapan pulang?" tanya Agnia yang baru keluar kamar setelah menidurkan anaknya.


Agnia langsung menghampiri dan meraih tangan Cahya dan mengecup punggung tangan Cahya. Walaupun dalam hatinya merasa sakit, akan tetapi Agnia berusaha untuk bersikap biasa dihadapan ibu mertuanya. Agnia berusaha untuk tersenyum dan berusaha seolah-olah tidak terjadi apa-apa diantara mereka.


Cahya yang awalnya merasa ketakutan karena perbuatannya akan diketahui oleh ibunya, kini ia merasa cukup lega. Karena Agnialah yang menutupi kesalahan Cahya, karena Agnialah sampai saat ini Cahya masih merasa aman.


"Iya sayang, mas baru pulang. Buatkan kopi ya," pinta Cahya dengan senyuman termanisnya. Cahya juga bersikap seolah tidak melakukan apa-apa.

__ADS_1


"Iya mas, Agi buatkan dulu," pamit Agnia ke dalam dapur.


"Bu aku ke air dulu ya," pamit Cahya yang mengekor mengikuti Agnia ke dalam dapur.


Sementara Bu Sinta hanya menggeleng melihat tingkah putranya. Sebagai orang tua yang lebih berpengalaman, Bu Sinta tahu jika Cahya bukannya pergi ke wc, melainkan pergi mengikuti Agnia ke dapur.


Sebagai seorang suami yang sudah lama pergi meninggalkan istrinya, tentu ada rasa rindu yang Cahya rasakan. Meski Cahya tidak mengatakannya secara langsung, akan tetapi Bu Sinta tahu benar tentang rasa rindu yang di rasakan Cahya.


"Alhamdulillah, sekarang aku lega karena sepertinya mereka baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa pada mereka," gumam batin Bu Sinta.


"Sayang aku rindu," ucap Cahya yang tiba-tiba datang dari arah belakang dan langsung memeluk Agnia begitu eratnya.


"Mas Cahya bikin kaget saja, lepas mas nanti ada ibu loh," pekik Agnia yang berusaha keras melepaskan tangan Cahya yang melingkar dipinggangnya.


"Memangnya kamu tidak rindu sama mas," tanya Cahya.


"Sudahlah mas, aku begini hanya karena ada ibu. Bukan berarti aku lupa dengan kesalahan yang mas perbuat," tegas Agnia.


"Aku tahu, terima kasih karena kamu menutupi kesalahanku," ujar Cahya.


"Kenapa kamu harus berterima kasih mas, aku bersikap seperti ini karena aku tidak mau jika ibu akan merasa sedih dan akan terluka," lirih Agnia yang matanya mulai berkaca-kaca.


Mendengar hal itu membuat Cahya terdiam dan merenungi apa yang terjadi diantara mereka.


"Aku juga tidak bisa membayangkan bagaimana jika ibu tahu yang sebenarnya," gumam batin Cahya.


Ada rasa khawatir, ada rasa takut yang Cahya rasakan. Pikirannya mulai tidak tenang. Cahya mulai membayangkan apa yang akan terjadi pada kedua orang tuanya. Orang tuanya adalah orang yang sangat baik, mereka pasti akan sangat kecewa jika tahu anaknya sudah menikah lagi dengan wanita lain.


"Mas Cahya?" tanya Agnia.


"Ini kopinya sudah selesai, apa mas mau makan dulu?" tawar Agnia yang masih memberikan perhatiannya meski ia sangat terluka.


"Oiya, nanti saja mas makannya. Mas ingin mandi dulu, rasanya gerah," timpal Cahya.

__ADS_1


Cup..


Cahya tiba-tiba mencium bibir Agnia sambil berlalu ke dalam kamar mandi.


__ADS_2