
Happy Reading... 😊
Hal yang Agnia takutkan akhirnya terjadi. Agnia benar-benar diberhentikan dari perusahaan itu. Agnia tidak pernah mengira jika ia akan diberhentikan secepat ini. Padahal Agnia sudah bekerja diperusahaan itu selama bertahun-tahun. Tapi Agnia yakin jika ini semua terjadi pasti ada hubungannya dengan Bayu. Entah dugaan Agnia itu benar atau salah, yang jelas Agnia kini benar-benar kehilangan pekerjaannya.
"Kalau begitu saya permisi pak, saya pamit pergi. Mohon maaf jika selama ini saya banyak melakukan kesalahan," ujar Agnia sebelum meninggalkan ruangan HRD.
"Maafkan saya juga Agnia, sebenarnya ini bukan wewenang saya melakukan semua ini. Satu lagi, gaji kamu bulan ini sudah saya transfer ke rekening kamu ya beserta uang pesangon dari perusahaan sudah saya kirim juga," jelas Pak Yogi.
"Tidak apa-apa pak, terima kasih banyak. Saya permisi," pamit Agnia yang mulai meninggalkan ruangan HRD itu.
Setelah menerima surat itu, Agnia pun segera bergegas menuju meja kerjanya membereskan semua alat-alat kantor yang berada diruangannya. Semua barang milik Agnia, ia masukan kedalam kotak kardus satu persatu.
Begitu banyak kenangan yang pernah ia lewati saat berada dikantor itu. Kenangan bersama teman-teman dan tentunya kenangan bersama dengan Bayu yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.
Dengan mata yang berkaca-kaca Agnia mulai bergegas meninggalkan ruangan itu. Langkah demi langkah ia coba jalani, namun rasanya sungguh berat. Disepanjang perjalanan, mata Agnia mulai berkaca-kaca. Agnia tidak pernah mengira jika ia akan diberhentikan secepat itu. Mungkin hanya karena soal Bayu, semuanya menjadi seperti ini. Bulir bening itu mulai mengalir diatas pipi Agnia, semakin ia tahan justru bulir bening itu semakin deras.
"Selamat tinggal semuanya, maafkan jika ada salah-salah kata," pamit Agnia pada setiap orang yang ia temui.
Entah cobaan apa lagi yang akan Agnia dapatkan. Mulai dari kehilangan Bayu, dan kini Agnia kehilangan pekerjaannya. Hidup itu memang benar-benar sebuah ujian. Selama kita masih hidup ujian itu memang akan selalu ada. Tapi entah ujian apa lagi yang akan datang menerpa hidup Agnia, yang jelas kini ia hanya bisa berpasrah. Berserah diri pada Maha Yang Kuasa.
Tak terasa langkah itu akhirnya sampai diluar gedung. Kini Agnia mulai memasukan kardus itu ke dalam bagasi mobilnya. Sebelum ia masuk ke dalam mobil, Agnia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut gedung yang pernah ia lewati.
"Terima kasih Bayu karena kamu sudah memberikan aku kesempatan untuk bisa bekerja ditempat ini. Maafkan aku jika aku banyak berbuat salah sama kamu. Semoga Tuhan memberikan tempat yang paling indah untuk kamu," gumam batin Agnia sesaat sebelum Agnia masuk ke dalam mobil.
Selepas memanjatkan doa untuk Bayu, Agnia segera bergegas dari kantor itu. Entah apa yang akan Agnia katakan pada Rehan nanti. Saat ini Agnia hanya ingin menenangkan pikirannya. Agnia segera bergegas dari kantor itu. Agnia berencana ingin pergi ke salah satu cafe langganannya.
"Mungkin aku akan mampir sejenak disana," gumam batin Agnia.
Satu jam kemudian, akhirnya Agnia tiba ditempat itu. Beruntung disana tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Agnia mulai mencari tempat duduk yang berada dilantai atas. Agnia sengaja memilih tempat yang bisa melihat pemandangan ke arah bawah. Saat Agnia mulai duduk, datanglah seorang waitress menawarkan buku menu.
__ADS_1
"Saya pesan kopi rasa capucino hangat satu," ujar Agnia.
"Ada lagi yang lain nyonya?" tanya waitress itu.
"Tidak, itu saja dulu," jawab Agnia.
"Baik kalau begitu, ditunggu sebentar," ujar waitress itu sambil berlalu.
"Ya," jawab Agnia singkat.
Tidak berapa lama, akhirnya minuman Agnia datang juga. Suasana yang tidak terlalu panas, juga tidak hujan, seolah menjadi momen yang pas untuk sekedar minum kopi. Perlahan Agnia mulai meniup kopi itu karena masih panas, kemudian Agnia mulai menyeruput sedikit demi sedikit kopi itu sambil sesekali memperhatikan pemandagan ke arah bawah yang terlihat begitu indah.
Untuk beberapa saat Agnia teringat kembali akan kenangannya dikantor itu. Agnia teringat saat awal-awal Agnia mulai bekerja ditempat itu. Hingga akhirnya ia pun diangkat menjadi seorang sekretaris hingga saat ini. Setelah bertahun-tahun, Agnia harus mulai melupakan semua yang pernah terjadi di kantor itu. Meski hal itu cukup sulit, akan tetapi seiring berjalannya waktu mungkin Agnia akan segera bisa melupakan setiap kejadian yang pernah terjadi saat ini.
"Semoga masa-masa sulit ini cepat berakhir," gumam Agnia dalam hatinya.
Tak terasa hampir setengah jam Agnia berada ditempat itu. Agnia harus segera pulang karena hari sudah mulai sore. Tapi, saat Agnia akan meninggalkan mejanya tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilnya.
"Ihsan? Kamu disini juga?" tanya Agnia.
"Iya, apa boleh aku duduk disini?" tanya Ihsan sebelum ia duduk dimeja itu.
"Tentu, tapi aku sudah mau pulang," ujar Agnia.
"Apa? Duduklah sebentar lagi, kita ngobrol-ngobrol," pinta Ihsan.
"Mmh, baiklah kalau begitu," jawab Agnia yang segera duduk kembali ditempatnya.
"Kamu sudah lama berada disini?" tanya Ihsan.
__ADS_1
"Lumayan lama. Kamu suka datang ke tempat ini juga?" tanya Agnia balik.
"Iya ini tempat favorit aku," jawab Ihsan.
"Aku juga sering kesini. Tapi kenapa kita baru sekarang ketemu ya," ujar Agnia yang merasa heran.
"Iya juga, mungkin ini takdir kali," timpal Ihsan yang merasa konyol.
Sejak saat itu mereka mulai berbincang satu sama lain. Sedikit banyak Agnia mulai mengetahui tentang Ihsan, begitupun sebaliknya. Ihsan mulai tahu banyak tentang Agnia. Namun setelah pembicaraan itu, Ihsan merasa sangat kasihan pada Agnia. Ihsan merasa iba dengan apa yang terjadi pada Agnia. Ihsan tidak pernah mengira jika Agnia akan mengalami itu semua.
"Eh maaf, kenapa aku jadi curhat ya," ujar Agnia yang merasa tidak enak karena hampir semuanya Agnia ceritakan kepada Ihsan.
"Tidak, tidak apa-apa kok. Lagian aku senang karena dengan bercerita berarti kamu sudah percaya sama aku," jelas Ihsan yang merasa senang karena akhirnya Ihsan tahu banyak cerita tentang kehidupan Agnia.
"Bagaimana dengan kehidupan kamu sendiri? Apa kamu sudah menikah? Sudah punya anak berapa?" tanya Agnia yang mulai penasaran dengan kehidupan Ihsan.
"Eh satu-satu dong pertanyaannya. Aku kan jadi bingung harus jawab yang mana," jawab Ihsan yang mencoba menggoda Agnia.
"Maaf, maaf habisnya aku penasaran sih," ujar Agnia yang pura-pura menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Yang jelas saat ini, aku tidak memiliki anak dan belum menikah," jawab Ihsan yang menjawab pertanyaan Agnia dengan jelas.
Setelah mengetahui semuanya, entah mengapa ada rasa nyaman saat Agnia berbicara dengan Ihsan. Padahal mereka baru beberapa kali bertemu, tapi entah mengapa seperti sudah mengenal lama. Begitupun dengan Ihsan yang merasakan hal yang sama. Berbicara dengan Agnia membuat Ihsan sangat senang dan merasa nyaman. Ada rasa yang tak biasa yang ia rasakan.
"Kirain kamu udah nikah," ucap Agnia.
"Belum lah, mana ada orang yang mau nikah sama aku," ujar Ihsan merendah.
"Bukannya tidak ada, tapi belum ada," celetuk Agnia.
__ADS_1
"Iya semoga secepatnya ya," timpal Ihsan yang mengamini doanya sendiri.
Setelah cukup lama berbincang, akhirnya mereka pun pulang.