
Happy Reading... 😊
"Maafkan Agnia yah Agi tidak bisa menuruti perkataan ayah. Agi masih trauma dengan kejadian yang dulu yah, tolong mengerti," lirih Agnia.
"Ayah tahu nak, tapi ayah melakukan ini untuk kebaikanmu. Untuk masa depan Rehan, ayah ingin Rehan mendapatkan masa depan yang cerah," ujar Pak Arga.
"Entahlah yah, Agie masih butuh waktu," tegas Agnia.
"Baik kalau begitu, ayah akan menunggu sampai kamu siap," ujar Pak Arga.
Setelah pembicaraan itu membuat Agnia tidak bisa memejamkan matanya. Agnia teringat kata-kata ayahnya tentang sebuah pernikahan. Bukannya tidak ingin melanjutkan hidup, namun Agnia masih merasa takut untuk menjalin sebuah hubungan. Agnia takut jika semua laki-laki akan melakukan hal yang sama, menyakiti setiap perempuan. Namun setelah beberapa saat akhirnya Agnia tertidur dengan pulasnya.
Keesokan harinya...
Selepas Agnia mengantar sekolah Rehan, Agnia mencoba mencari pekerjaan lagi. Beberapa lamaran pekerjaan yang kemarin ia buat masih banyak yang tersisa. Agnia berencana untuk mencari pekerjaan lagi hari ini. Meski ayahnya sempat datang kemarin, akan tetapi Agnia tidak membicarakan tentang pekerjaannya kepada ayahnya. Pak Arga sudah bergegas pulang saat pagi masih buta.
Agnia bukan tipe wanita yang selalu ingin mencurahkan isi hatinya kepada siapapun, termasuk ayahnya sendiri. Agnia tidak pernah menceritakan tentang apa yang terjadi dalam hidupnya. Meski sebenarnya ia sangat ingin bercerita, namun sejak dulu Agnia bukan merupakan tipe orang yang suka mengeluh. Agnia akan menjalani semua yang terjadi dalam hidupnya.
Perusahaan yang pertama ia coba adalah pabrik tekstil. Agnia mendengar jika diperusahaan itu sedang membutuhkan karyawan. Agnia mencoba menitipkan sebuah lamaran pada seorang satpam yang sedang berjaga.
"Permisi pak, apa betul disini sedang ada lowongan pekerjaan?" tanya Agnia yang merasa ragu dan tidak yakin, namun Agnia ingin sekali mencobanya.
"Betul bu," jawab satpam itu.
"Apa boleh saya menitipkan lamaran saya? tanya Agnia ragu.
"Boleh bu boleh, silahkan," jawab satpam itu ramah.
Ketika Agnia hampir berputus asa, kini justru semangat itu berkobar kembali. Ada perasaan senang yang Agnia rasakan, akhirnya setelah hampir seharian berkeliling ada juga harapan yang membuat Agnia tersenyum. Meski belum pasti, namun tidak ada salahnya mencoba, siapa tahu nanti akan ada panggilan. Setelah hampir seharian Agnia berkeliling Agnia berisirahat ditepi jalan. Secara kebetulan Ihsan sedang melewati jalan itu.
"Bukannya itu mobil Agnia? Sedang apa dipinggir jalan," gumam Ihsan dalam hatinya.
Ihsan pun membunyikan klakson mobilnya.
Tidid...
"Loh Agnia? Kamu sedang apa disini?" tanya Ihsan yang langsung turun dari mobilnya dan menghampiri Agnia.
"Ihsan? Kamu sendiri sedang apa disini? Aku sedang beristirahat sebentar," jawab Agnia yang sedang duduk didalam mobil dengan pintu yang terbuka.
"Aku baru saja akan makan siang, dan pas lewat jalan sini aku lihat mobil kamu," ujar Ihsan.
__ADS_1
"Kamu sudah makan?" tanya Ihsan.
"Mmh, belum sih," jawab Agnia malu.
"Gimana kalau kita makan siang bareng?" ajak Ihsan.
"Tidak, kamu saja. Aku akan pergi lagi," jawab Agnia.
"Tapi mau kemana?" tanya Ihsan.
"Aku lagi cari pekerjaan," jawab Agnia.
"Masih belum dapet ya?" tanya Ihsan lagi.
"Belum," Agnia menggeleng.
Melihat Agnia yang terdiam, Ihsan pun merasa tidak tega. Ihsan merasa kasihan padahal sejak kemarin Ihsan sudah tahu jika Agnia sedang membutuhkan pekerjaan. Namun Ihsan justru lupa tentang Agnia yang membutuhkan pekerjaan.
"Kita makan dulu ya! Biar nanti aku bantu untuk mencari pekerjaan," ajak Ihsan.
"Tapi," jawab Agnia ragu.
"Sini biar aku yang nyetir," pinta Ihsan.
"Terus mobil kamu gimana?" tanya Agnia.
"Nanti biar aku telpon supirku untuk membawanya," ujar Ihsan.
Mereka pun akhirnya pergi bersama menggunakan mobil Agnia. Sebenarnya ada rasa canggung yang Agnia rasakan. Agnia merasa tidak enak karena Ihsan selalu mengajaknya. Tapi bagi Ihsan, hal itu membuatnya senang karena bisa bertemu lagi dengan Agnia. Mungkin kali ini Ihsan akan mencoba mengutarakan isi hatinya.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Ihsan membuka pembicaraan.
"Iya boleh, tanya aja," jawab Agnia.
"Apa saat ini kamu sedang dekat dengan seseorang?" tanya Ihsan ragu.
"Maksudnya?" tanya Agnia tidak mengerti.
"Maksudku apa kamu sedang menjalin sebuah hubungan dengan seseorang?" jelas Ihsan.
"Aku sedang tidak dekat dengan siapapun," jawab Agnia.
__ADS_1
"Kalau begitu, apa aku boleh dekat denganmu?" tanya Ihsan lagi.
"Mmhh, boleh," jawab Agnia dengan malu-malu.
Sejak saat itu mereka pun mulai dekat. Agnia dan Ihsan mulai lebih sering bertemu dan berkomunikasi. Meski awalnya sulit, tapi Agnia berusaha untuk membuka hatinya untuk Ihsan. Agnia mencoba membuka hatinya karena ayahnya juga. Meski sebenarnya Agnia masih belum mau membuka hatinya, tapi Agnia tidak ingin jika kejadian yang dahulu terulang kembali.
Agnia menolak karena Agnia tidak mau dijodohkan seperti dulu. Agnia ingin menikah dengan seseorang yang sebelumnya sudah ia kenal. Untuk itu Agnia mau mencoba membuka hatinya untuk Ihsan. Tak terasa karena obrolan mereka, akhirnya mereka tiba disalah satu tempat makan yang berada pinggir jalan.
Ihsan segera menepikan mobilnya dan membukakan pintu untuk Agnia.
"Terima kasih," ujar Agnia saat turun dari mobil.
"Sama-sama," jawab Ihsan.
"Pak pesan baksonya 2!" ucap Ihsan.
"Kamu suka baso kan?" tanya Ihsan.
"Iya suka," jawab Agnia.
"Siang-siang gini enaknya makan bakso," celetuk Ihsan.
Dipinggir jalan mereka menikmati semangkuk bakso. Meski Ihsan memiliki harta yang berlimpah, akan tetapi Ihsan suka makan dipinggir jalan. Menurutnya makan dimana saja sama, yang terpenting rasanya. Selesai makan bakso, Ihsan pun mengantar Agnia pulang.
"Makasih ya," ujar Agnia sesampainya dirumah.
"Sama-sama," jawab Ihsan.
"Terus kamu pulangnya gimana?" tanya Agnia karena Ihsan meninggalkan mobilnya dijalan tadi.
"Ah itu mah gampang, nanti aku telpon supir," jawab Ihsan.
"Ya sudah kalau begitu, aku pamit yah," pamih Ihsan yang langsung bergegas pergi.
"Kamu ga akan mampir dulu?" tawar Agnia.
"Lain kali saja, terima kasih," ucap Ihsan yang langsung pergi.
Agnia merasa sangat senang karena akhirnya ia dan Ihsan bisa saling mengisi. Agnia berharap Ihsan adalah laki-laki yang tepat untuknya. Agnia merasa jika Ihsan berbeda dari laki-laki yang lain. Ihsan sangat baik dan sangat tulus. Ihsan juga merupakan laki-laki yang sangat bertanggungjawab. Hal itulah yang menjadi nilai plus dimata Agnia.
"Maafkan aku yah, aku tidak bisa menerima perjodohan itu. Bukannya aku tidak percaya dengan pilihan ayah, hanya saja aku tidak mau jika karena perjodohan itu, hal yang telah lalu akan terulang kembali. Aku harap ayah akan mengerti dan setuju dengan pilihanku," gumam batin Agnia.
__ADS_1