Berbagi Cinta : Ternyata Aku Dikhianati

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Dikhianati
6. Kembali Bertemu


__ADS_3

Sesampainya dikantor Cahya masih tidak fokus dalam melakukan pekerjaannya. Ingatannya selalu teringat pada pertemuannya kemarin dengan Zoya.


"Aku harus meminta penjelasan pada Zoya, aku harus bertemu dengannya," gumam batin Cahya.


Selesai dari pekerjaannya Cahya mencoba mencari nomor Zoya di ponselnya. Tak berapa lama akhirnya Cahya menemukan nomor Zoya dan langsung mencoba menghubunginya.


📱"Hallo Zoya, apa besok kita bisa bertemu?"


📱"............................................"


📱"Baik kalau begitu, kita bertemu ditempat biasa ya!"


📱".........................................."


Keesokan harinya Cahya dan Zoya sudah membuat janji untuk bertemu. Cahya memilih tempat dimana mereka sering bertemu dulu. Sebuah taman bunga yang terdapat air mancur ditengahnya. Cahya yang sudah lebih dulu datang menunggu Zoya dikursi panjang dekat air mancur.


Sudah beberapa menit Cahya menunggu, akan tetapi Zoya masih belum datang juga.


Tak berapa lama akhirnya Zoya datang juga.


"Maaf aku terlambat," sapa Zoya yang tiba-tiba datang dari arah belakang.


"Tidak apa-apa, aku juga baru datang," dusta Cahya yang sejak dari tadi menunggu.


"To the point aja, meski sudah lama tapi aku ingin tahu alasan yang sebenarnya dulu kamu tiba-tiba menghilang? Jujur sejak saat itu aku masih sangat sakit hati, bahkan aku tidak bisa melupakanmu. Butuh waktu yang sangat lama untuk bisa bangkit kembali," lirih Cahya yang merasakan kembali rasa sakit itu.


"Maafkan aku Cahya, aku tidak sempat memberikan kabar karena aku dijodohkan oleh ayahku. Aku terpaksa harus menikah untuk meluasi hutang-hutang ayahku," jawab Zoya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa? Lalu mengapa kamu tidak menceritakannya kepadaku?" tanya Cahya yang merasa terkejut dengan penjelasan Zoya.


"Saat itu, aku juga terkejut dan tidak mau melakukan semua ini, tapi ayahku," lirih Zoya yang perlahan mulai mengeluarkan bulir bening dipipinya.


"Maafkan aku Cahya, dulu.." sambung Zoya lagi mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya.


Flash back on


Saat itu Zoya baru pulang kuliah. Sesampainya dirumah, ayah Zoya Pak Rudi langsung mengajaknya berbicara. Karena sedari tadi memang Pak Rudi sudah menunggu kedatangan Zoya.


"Assalamualaikum," Zoya langsung membuka pintu rumah.


"Waalaikumsalam, sini sebentar nak," jawab Pak Rudi sambil memegang pundak Zoya.


"Ada apa yah? Sepertinya ayah sudah menungguku," tanya Zoya yang menautkan kedua halisnya.


"Begini nak, ayah ingin kamu segera menikah," jelas Pak Rudi yang langsung masuk pada inti pembicaraan.

__ADS_1


"Apa? Menikah? Tapi kan aku masih kuliah yah, bagaimana dengan kuliahku?" timpal Zoya.


"Begini nak, ayah memiliki hutang pada teman ayah dan ayah tidak bisa membayarnya jadi ayah terpaksa harus menikahkanmu dengan anaknya," jawab Pak Rudi yang merasa sedih.


"Jadi ayah punya hutang? Baik kalau dengan menikah akan melunasi hutang ayah, aku bersedia untuk menikah," lirih Zoya yang terpaksa menikah karena ia tidak tega melihat ayahnya.


Ibu Zoya sudah meninggal dunia sejak ia masih berumur 5 tahun, karena itulah Zoya hanya tinggal bersama ayahnya. Semenjak kepergian ibunya, ayahnya lah yang membesarkan Zoya seorang. Mulai dari hal-hal kecil ia lakukan hanya demi untuk anaknya Zoya. Hal itulah yang membuat Zoya sangat menyanyangi ayahnya. Rasa sayang itu pula lah yang membuat Zoya tidak bisa menolak keinginan ayahnya.


Setelah pembicaraan itu Zoya langsung memasuki kamarnya. Didalam kamar Zoya memikirkan pernikahannya.


"Bagaimana dengan Cahya, aku sangat mencintainya tapi aku tidak bisa menceritakan ini semua kepadanya, maafkan aku Cahya," lirih Zoya yang memikirkan perasaan Cahya bagaimana jika ia tahu jika Zoya akan segera menikah.


Sedangkan hubungan mereka sudah terjalin begitu lama. Mereka saling menyanyangi dan saling mencintai, bahkan mereka berencana akan segera menikah setelah mereka lulus kuliah.


"Bagaimana aku harus menjelaskan ini semua kepadamu," gumam batin Zoya yang terus menangisi keputusannya.


Dalam hidupnya, hal ini merupakan keputusan terberat baginya. Di lain sisi Zoya sangat mencintai Cahya, namun di sisi lain Zoya juga sangat menyanyangi ayahnya dan tidak mau menyakiti perasaannya. Belum lagi kuliahnya yang hanya sebentar lagi, selama bertahun-tahun Zoya harus bekerja dan kuliah. Namun pada akhirnya hanya kesia-siaan yang ia dapatkan. Usahanya selama ini tidak seperti apa yang ia harapkan.


Beberapa hari setelah pembicaraan itu, tibalah hari dimana Zoya harus menikah dengan seseorang yang sama sekali belum ia kenal sebelumnya. Entah apa yang akan terjadi, yang jelas mau tidak mau semua ini harus ia jalani.


Didalam pernikahannya tidak banyak orang yang diundang, hanya keluarga kedua mempelai yang dekat saja yang hadir pada saat itu.


Acara pernikahan berlangsung begitu sederhana. Seorang pria yang sudah menunggu Zoya sudah berada diruang tamu sejak tadi. Zoya yang baru selesai dihias baru keluar dari kamar dengan berlinangan air mata.


Seluruh keluarga merasa terharu dengan pernikahan itu.


"Selamat Pak Rudi!" ujar seseorang yang menyapanya.


"Selamat juga untuk anda Pak Bram, berarti dengan menikahnya anak saya lunas juga kan hutang-hutang saya," lirih Pak Rudi.


"Ya tentu Pak Rudi, semua sudah saya anggap lunas," kekeh Pak Bram yang merasa senang karena akhirnya anaknya menikah juga.


Pak Bram memang sengaja menikahkan Rizal hanya agar anaknya mendapatkan warisan dari kakeknya. Karena hanya dengan menikah, semua warisan kakeknya akan jatuh ke tangan Rizal anaknya. Semua tamu menghampiri kedua mempelai dan menyalami mereka berdua.


Tak terasa seluruh rangkaian acara telah selesai. Rizal dan Zoya menghabiskan waktu malam pertama mereka disebuah hotel yang sudah dipesan sebelumnya.


"Silahkan nyonya," sapa supir yang membukakan pintu mobil untuk Zoya, dia tidak berhenti terisak setelah berpamitan pada ayahnya Zoya masuk ke dalam mobil.


"Maafkan ayah nak," gumam Pak Rudi dari luar mobil yang menyaksikan Zoya pergi dari rumahnya.


"Cepat kita pergi!" pekik Rizal kepada supirnya.


Disepanjang perjalanan Zoya hanya menangis. Dia teringat akan Cahya kekasihnya yang sangat ia cintai, tapi kini ia harus menikah dengan orang lain.


"Sudahlah, sampai kapan kamu akan terus menangis?" tanya Rizal dengan nada tegasnya.

__ADS_1


Tidak ada jawaban, Zoya hanya menuruti kata-kata lelaki yang baru ia lihat tadi saat menikah.


Beberapa saat kemudian, tibalah Zoya dan Rizal disebuah hotel berbintang lima. Disana kamar mereka sudah dihiasi dengan banyak bunga mawar dan hiasan lilin yang ditata dengan sangat indah.


Selain itu diatas ranjang kasur dihiasi dengan hamparan bunga mawar yang berbentuk love. Betapa indah dan romantisnya suasana itu. Namun seindah dan seromantis apapun suasana dikamar itu tidak membuat Zoya merasa senang berada ditempat itu.


Zoya masih saja menangis merutuki nasibnya yang harus menikah dengan orang lain.


"Apa tidak bosan dari tadi menangis terus?" pekik Rizal.


"Maaf, aku hanya sedih saja," jawab Zoya.


"Cepat siapkan makanan aku sangat lapar!" titah Rizal yang merebahkan tubuhnya keatas ranjang.


"Baik, aku akan menelpon resepsionis dulu," jawab Zoya langsung menelpon resepcionist agar dikirim makanan kedalam kamarnya.


Tak berapa lama datanglah makanan yang dipesan Zoya. Dengan sangat lahap Rizal hampir menghabiskan makanan yang dipesan Zoya.


"Apa kamu tidak lapar hah?" tawar Rizal disela-sela makannya.


"Tidak, aku belum lapar," dusta Zoya yang sebenarnya merasa lapar.


Namun pikiranannya masih melayang kesana kemari memikirkan pernikahan yang tidak diinginkannya.


Setelah habis menyantap makanannya pria itu mulai mendekati Zoya. Rizal memperhatikan Zoya dari bawah hingga ke atas. Zoya yang merasa risih segera bergegas ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Saat keluar Rizal masih saja memandangi Zoya sambil memegang rokok yang sedari tadi ia hisap.


"Kamu memang cantik," gumam Rizal dalam batinnya.


Zoya yang masih merasa risih cepat-cepat pergi keatas ranjang untuk bersitirahat. Namun, saat ia akan memejamkan matanya tiba-tiba ada tangan yang menggerayangi setiap lekuk tubuhnya.


"Maaf, lepaskan aku," lirih Zoya yang sedikit menjauh.


"Kenapa? Kamu kan sudah resmi menjadi istriku, apa aku tidak boleh menyentuhmu hah?" pekik Rizal yang sedikit angkuh.


Didalam hati Zoya, ia tidak mau melakukan hal itu. Akan tetapi dalam hatinya Zoya mengerti jika ini sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang istri.


"Bukan begitu, aku hanya belum siap," lirih Zoya.


"Lagian kita belum saling mengenal, apa boleh kita saling mengenal dulu," ujar Zoya yang mencoba mengutarakan pendapatnya.


"Aku sudah tahu namamu, bahkan kamu juga tahu namaku kan?" timpal Rizal yang tidak mau kalah dan mencoba mendekatinya lagi.


Meski sedikit risih, akan tetapi Rizal masih saja mendekati Zoya. Tangannya masih berkeliaran disekitar tubuh Zoya. Bahkan Zoya tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa menangisi setiap tindakan yang dilakukan Rizal.


Wajar saja jika bagi seorang lelaki pasti akan mudah melakukan hal itu meski tanpa cinta. Rizal masih saja menjelajah, bahkan kini ia memegang gunung kembar milik Zoya. Karena saat pertama kali ia melihatnya, Zoya terlihat begitu seksi.

__ADS_1


Tangannya masih memegangi dan mulai mencumbu setiap bagian tubuh Zoya. Zoya yang mulai pasrah, menerima setiap tindakan yang dilakukan Rizal.


Bahkan kini, Rizal semakin lincah seakan tidak kuat lagi menahan hasrat yang sudah sejak tadi ia rasakan.


__ADS_2