Berbagi Cinta : Ternyata Aku Dikhianati

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Dikhianati
20. Gara-Gara Cahya


__ADS_3

Happy Reading... 😊


Mentari pagi mulai menyinari dunia. Suasana pagi ini pun begitu cerah. Pagi yang cerah seolah mewakili perasaan Agnia yang sedang merasa senang. Betapa tidak, hari ini Agnia melihat Bu Hana terlihat lebih sehat. Kemarin Bu Hana terlihat pucat dan terlihat lemas kini belliau terlihat jauh lebih sehat dan lebih segar.


"Ibu sudah baikan?" tanya Agnia yang membawakan sarapan untuk ibunya.


"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat sekarang ibu sudah sehat. Satu lagi hari ini ibu tidak mau makan bubur, ibu sudah bosan sejak kemarin sarapan bubur terus,"ujar Bu Hana.


"Ya sudah ibu mau dibuatkan apa?" tanya Agnia dan menawarkan makanan yang lainnya.


"Hari ini ibu ingin makan sayur nak," pinta Bu Hana.


"Ya sudah Agi buatkan dulu sayurnya ya bu," pamit Agnia ke dapur.


Sementara Pak Adi baru pulang dari stasiun setelah mengantarkan Bu Sinta pulang. Sejak pagi tadi Bu Sinta berpamitan untuk pulang karena suaminya Pak Hadi akan segera pulang. Karena jarak rumah ke jalan raya cukup jauh, maka dari itu Pak Adi harus mengantarkan besannya untuk sampai ke stasiun dengan cepat.


"Bu ini makan dulu," ucap Agnia setelah selesai memasak sayur sop yang diberi daging.


"Alhamdulillah datang juga, ibu sudah lapar dari tadi," Bu Hana segera menyantap makanan yang dibawa Agnia. Dan dalam hitungan detik makanan ibu sudah dilahap habis.


"Ini bu obatnya makan dulu, Agi sekalian mau pamit dulu ya ada hal yang harus Agi urus. Agnia titip Rehan dulu ya bu," pamit Agnia.


Setelah selesai memberikan makanan pada ibunya, Agnia bergegas pergi ke pengadilan agaman. Diam-diam Agnia sedang mengurus perpisahannya dengan Cahya. Bagi Agnia sebenarnya perpisahan ini sangatlah berat, karena Rehan mungkin tidak akan memiliki orang tua yang lengkap lagi.


Namun walaupun begitu, Agnia ingin segera lepas dari pernikahannya karena Agnia sudah tidak sanggup lagi dimadu. Agnia tidak mau jika cintanya harus dibagi dua.


"Maafkan Agi bu, Agi tidak bisa mempertahankan hubungan ini. Hubungan ini terlalu berat untuk Agi jalani, Agi tidak bisa hidup dengan lelaki yang memiliki dua istri. Maaf Agi tidak bisa mendengarkan kata-kata ibu," lirih Agnia dalam hatinya.


Dalam hati kecilnya Agnia tidak menginginkan perpisahan ini karena Agnia sangat mencintai Cahya. Agnia tahu jika perpisahan ini paling dibenci Tuhan, namun apa daya hati Agnia tidak sanggup lagi. Agnia lebih memilih hidup sendiri daripada harus dimadu.


Di tempat lain, Zoya disibukankan dengan aktifitasnya mengurus rumah dan memasak.

__ADS_1


"Mas bangun, ini sudah pagi," pekik Zoya membangunkan suaminya.


"Sebentar lagi, aku masih ngantuk," jawab Cahya yang malah menutup wajahnya dengan bantal.


"Tapi ini sudah jam 7 mas, apa kamu tidak akan bekerja?" timpal Zoya lagi.


"Apa jam 7? Mati aku, sudah siang," ucap Cahya yang ketiduran karena sejak semalaman Cahya tidak bisa memejamkan matanya.


Sejak malam Cahya memikirkan tentang ucapan Agnia yang harus memilih antara Agnia atau Zoya. Cahya merasa bingung ketika harus memilih satu diantara mereka berdua karena Cahya sangat mencintai mereka berdua. Jika Cahya memilih Zoya, Cahya bingung karena Agnia baru saja melahirkan anaknya, darah dagingnya, tidak mungkin jika Cahya harus meninggalkan Agnia begitu saja.


Akan tetapi jika Cahya memilih Agnia, Zoya adalah cinta pertamanya. Dari dulu hingga sekarang Cahya tidak bisa melupakan Zoya, karena sejak dulu Cahya sudah mencintainya.


Hal itu sangat mengganggu pikiran Cahya.


Karena menyadari hari sudah terlalu siang, Cahya segera bergegas mandi dan pergi ke kantor tanpa sarapan terlebih dahulu.


Setibanya dikantor Cahya sudah disibukan dengan pekerjaannya. Orang-orang yang berada dikantor itupun sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Seharian bekerja tak terasa kini saatnya untuk istirahat. Cahya lebih memilih mencari makanan diluar dibandingkan makan di kantor. Mungkin dengan makan di luar akan membuat Cahya sedikit lebih baik.


"Ini ada surat dari pengadilan," ucap Zoya yang memberikan undangan itu.


"Benar-benar Agnia," ujar Cahya sambil.memgepalkan tangannya.


Merasa tidak terima karena Agnia menggugat cerai Cahya, akhirnya ia bergegas menuju rumahnya mencari Agnia. Namun setibanya dirumah ternyata Agnia tidak ada disana. Cahya berfikir jika Agnia pasti berada dirumah orang tuanya. Seketika Cahya menyusul ke rumah orang tua Agnia. Dan benar saja jika Agnia berada disana.


"Agnia, apa maksudmu dengan datangnya surat ini," pekik Cahya dari luar rumah.


"Itu suara siapa teriak-teriak," ujar Bu Hana yang sedang berada di ruang tamu.


"Ternyata kamu Cahya, ada apa? Silahkan masuk dulu," Bu Hana mempersilahkan.


"Agnia mana bu? Aku mau minta penjelasa dia!" pekik Cahya.

__ADS_1


"Emang kamu minta penjelasan apa? Apa yang dilakukan anak ibu?" tanya Bu Hana yang penasaran.


"Ini bu," jelas Cahya yang langsung memberikan surat dari pengadilan itu.


Setelah membaca sekilas isi surat itu Bu Hana langsung tidak sadarkan diri.


"Ibu? Ibu kenapa?," pekik Agnia yang merasa panik melihat ibunya pingsan saat keluar dari kamar.


"Apa yang kamu bicarakan sama ibu mas? Kenapa ibu jadi seperti ini?" pekik Agnia yang terlihat geram karena melihat ibunya jadi tidak sadarkan diri.


"Aku tidak tahu, ibu hanya melihat surat ini dan langsung pingsan," jelas Cahya tanpa berdosa.


"Apa? Jadi kamu ngasih tau ibu mas? Keterlaluan kamu ya!" jelas Agnia yang merasa kesal karena perbuatan Cahya.


"Iya, orang ibunya yang tanya sendiri ya aku kasih tau," jawab Cahya.


"Ini semua gara-gara kamu ya mas ibu jadi seperti ini," jelas Agnia menyalahkan Cahya.


"Cepat kita bawa ibu ke rumah sakit," ajak Cahya yang mulai panik melihat ibu mertuanya yang tidak sadarkan diri.


Dengan kecepatan yang sangat tinggi Cahya melajukan kendaraannya. Beberapa menit kemudian akhirnya mereka tiba dirumah sakit dan langsung di bawa ke IGD. Dan ternyata,


"Maaf kami tidak bisa berbuat apa-apa karena nyawa pasien tidak tertolong," ujar dokter yang keluar dari ruangan IGD itu.


"Apa? Jadi ibu.. Tidak mungkin.." pekik Agnia yang mulai histeris karena nyawa ibunya tidak dapat diselamatkan.


"Maaf ibu anda terkena serangan jantung. Beliau kaget mendengar kata-kata yang membuatnya terkejut," ujar doktet lagi.


Deg..


Kata-kata itu seolah menyindir Cahya. Cahya tidak pernah mengira jika karena perbuatannya membuat orang lain meninggal dunia.

__ADS_1


__ADS_2