
Happy Reading... 😊
"Agnia, nama yang cantik," gumam batin Ihsan sambil tersenyum.
Entah mengapa bayangan Agnia saat sedang mengobati Ihsan selalu menghantui perasaannya. Bayangannya seolah selalu muncul dimana-mana. Ihsan tidak mengerti dengan apa yang sudah terjadi. Yang jelas Ihsan tidak bisa melupakan wajah Agnia begitu saja.
Sementara Agnia bergegas pergi sebab sudah sangat terlambat pergi ke kantor. Dengan kecepatan yang tinggi Agnia melajukan mobilnya. Tak berapa lama akhirnya Agnia pun tiba dikantor. Agnia segera memarkirkan mobilnya, dan segera turun dari mobil.
"Agnia!" teriak Bayu yang sudah menunggunya dari tadi.
"Bapak sedang apa disini?" tanya Agnia formal saat berada dikantor.
"Saya sejak tadi nungguin kamu, kenapa kamu lama sekali untuk bisa sampai disini?" tanya Bayu mengintrogasi.
"Tadi ada kecelakaan sedikit," jawab Agnia sambil melangkahkan kakinya.
"Apa? Tapi kamu tidak apa-apa kan?" tanya Bayu lagi yang langsung meraih tangan kanan Agnia dan berusaha mengecek keadaannya.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Kamu bisa liat sendiri kan aku baik-baik saja," jawab Agnia dan berusaha melepaskan pegangan tangan Bayu.
"Tapi Gi, tunggu aku," teriak Bayu sedikit berlari mengejar Agnia.
"Apa lagi sih? Aku sudah sangat telat dan pekerjaannku sudah menunggu," ujar Agnia yang malah mempercepat langkahnya.
"Ada apa dengan Agnia ya? Kok aku merasa jika Agnia sedang menghindariku saat ini," gumam batin Bayu yang mulai menyadari jika Agnia memang sedang menghindarinya.
Untuk sesaat Bayu merenungi yang terjadi, tapi Bayu berusaha untuk mencari tahu tentang yang sebenarnya.
"Agnia tunggu!" pekik Bayu yang memanggil Agnia dan segera bergegas mengejar Agnia.
Sesampainya didalam ruangan Agnia segera mengerjakan pekerjaannya. Akan tetapi Agnia tidak bisa untuk berkonsentrasi karena Bayu selalu mengganggunya.
"Agnia aku ingin bicara denganmu!" ujar Bayu saat memasuki ruangan Agnia.
"Maaf aku sedang sibuk, bisakah kita bicara nanti," jawab Agnia yang tidak memperhatikan keberadaan Bayu.
"Tapi Agnia, hanya sebentar saja," Bayu masih tetap memohon agar Agnia mau berbicara kepadanya.
"Ya sudah apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Agnia yang terpaksa harus mengikuti perintah Bayu karena sejak tadi Bayu selalu mengganggunya.
"Begini Agnia, kenapa ya aku merasa jika kamu selalu mengindariku akhir-akhir ini?" tanya Bayu to the point.
"Ah tidak, itu hanya perasaanmu saja," jawab Agnia yang merasa bingung harus menjawab apa.
Sebenarnya Agnia memang sengaja menghindar dari Bayu. Agnia mengurungkan niatnya untuk terus melanjutkan hubungannya bersama Bayu meski kini Agnia sudah mendapatkan lampu hijau dari ibunya. Akan tetapi itu semua tidaklah cukup. Agnia sangat takut jika Bu Ester akan ikut campur dalam hubungannya. Tak berapa lama terdengar suara ponsel yang berdering. Dan Agnia segera mengangkat benda pipih itu dan langsung meletakannya ditelinganya.
__ADS_1
📲 "Iya bi ada apa?" tanya Agnia yang langsung bertanya pada Bi Sumi karena sudah mengetahui yang menelpon dari rumah.
📲"Ini non, Rehan badannya panas. Dari tadi sudah bibi kompres tapi panasnya belum turun-turun," jelas Bi Sumi disebrang sana yang merasa khawatir karena keadaan Rehan.
📲"Ya sudah kalau begitu bi, saya akan pulang sekarang ya,"
📲"Iya non"
Panggilan pun terputus dan Agnia segera bergegas pulang ke rumah untuk membawa Rehan ke rumah sakit.
"Maaf, aku harus segera pulang karena Rehan sakit," ujar Agnia.
"Tapi, ya sudah biar aku yang mengantarmu," tawar Bayu.
"Tapi aku bawa mobil sendiri," tolak Agnia.
"Biar aku yang menyetir," ucap Bayu.
Tanpa berbicara apa-apa lagi, Agnia tidak bisa menolak Bayu. Walaupun Agnia keberatan, tapi Agnia merasa tidak enak jika harus berkata tidak. Akhirnya mereka pergi dengan menggunakan mobil Agnia, dan Bayulah yang menyetir.
"Cepat Bayu," titah Agnia.
"Sabar Agnia, kita tidak boleh ngebut-ngebut nanti celaka," ucap Bayu.
"Kalau kamu tidak mau cepat, biar aku yang menyetir!" ancam Agnia.
Sementara Agnia hanya terdiam mengerucutkan bibirnya kedepan sambil melipat tangannya. Dengan kecepatan tinggi Bayu segera melajukan kendaraannya. Tidak memakan waktu yang cukup lama, akhirnya Agnia dan Bayu tiba dirumah.
Mereka langsung membawa Rehan ke dalam mobil. Bayu menyetir, sedangkan Agnia berada dibelakang dengan Rehan yang terbaring dipaha Agnia.
"Kuat ya sayang, kita akan ke dokter," ujar Agnia sambil mengusap kepala Rehan.
"Iya bu," lirih Rehan yang lemas karena sejak tadi belum memakan apa-apa.
Dengan kecepatan yang tinggi Bayu segera melajukan kendaraannya. Bayu bergegas mencari rumah sakit terdekat dari rumahnya. Tak berapa lama akhirnya Bayu tiba dirumah sakit umum.
Dengan sigap Bayu segera membopong Rehan kedalam rumah sakit. Sementara Agnia segera melakukan pendaftaran di tempat registrasi. Tak berapa lama akhirnya Rehan segera dipanggil.
"Rehan Purnama," panggil seorang perawat.
"Iya saya," ujar Agnia yang segera membawa Rehan kedalam ruangan untuk diperiksa.
"Biar aku yang membopong Rehan," tawar Bayu.
Agnia menganggukan kepala sebagai tanda setuju.
__ADS_1
"Loh, Ihsan? Jadi kamu seorang dokter?" sapa Agnia saat baru memasuki ruangannya.
"Kamu kenal sama dokter ini?" tanya Bayu yang berbisik kesal dan merasa cemburu.
"Iya baru kemarin kami kenal," jawab Agnia dengan suara yang sangat pelan.
"Eh Agnia? Ini anak kamu? Sini biar om periksa ya," ujar Ihsan ramah dan segera memeriksa keadaan Rehan.
"Jadi kamu sudah menikah dan memiliki seorang anak? Aku kira kamu belum menikah," gumam batin Ihsan.
Dengan sangat hati-hati Ihsan segera memeriksa Rehan menggunakan stetoskop.
"Tidak apa-apa, Rehan hanya panas biasa," ujar Ihsan ramah. Dan berusaha menutupi kekecewaannya.
"Syukurlah," Agnia merasa tenang saat Ihsan berkata seperti itu.
"Nanti obatnya diminum ya sayang," ujar Ihsan yang terlihat begitu ramah. Ihsan sepertinya sangat menyukai anak kecil.
"Makasih om," ucap Rehan yang merasa senang setelah diperiksa oleh Ihsan.
"Terima kasih Ihsan, maaf aku sudah merepotkanmu," ujar Agnia.
"Tidak, ini sudah kewajibanku sebagai seorang dokter," tegas Ihsan.
"Bagaimana lukamu? Sudah sembuh?" tanya Agnia.
"Alhamdulillah seperti yang kamu lihat, lukanya kini sudah kering," jawab Ihsan ramah.
"Terima kasih ya," ucap Ihsan.
"Kenapa harus terima kasih juga sih?" ucap Agnia yang merasa tidak enak karena Ihsan selalu mengatakan terima kasih.
Bayu yang sedang menemani Rehan tiba-tiba datang diantara Agnia dan Ihsan. Bayu sengaja melakukan hal itu agar Agnia dan Ihsan tidak terlalu dekat.
"Hellow, disini juga ada aku loh," ujar Bayu malas dan merasa tidak nyaman karena ia dianggap seperti tidak ada.
🍁🍁🍁
Hai semua, terima kasih sudah mengikuti cerita author yang remahan ini... 😅
Jangan lupa dukung karya author yang ini juga ya, ceritanya lagi ikut event Merubah Takdir.
Mohon bantu like dan komen juga untuk karya aku yang baru ini... 😊
Terima kasih... 🤗😊
__ADS_1