
Happy Reading... 😊
Dengan perlahan tapi pasti, Cahya mengendap-ngendap mengecup bibir Agnia tanpa sepengetahuan Agnia. Agnia merasa kesal karena perbuatan Cahya yang tiba-tiba bersikap seperti itu, bagaimana jika ibu mertuanya melihat, kan bisa malu.
"Ish, mas Cahya!" pekik Agnia yang merasa geram dan langsung berlari mengejar Cahya dan memukuli Cahya.
"Yeay, akhirnya kena juga," sorak Cahya yang merasa senang karena mendapatkan bibir Agnia dan berhasil membuat Agnia kesal.
Cahya berlari untuk menghindari amukan Agnia. Mereka berlari bagaikan anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran. Cahya terus berlari dan menjatuhkan benda-benda seperti wajan dan panci. Sontak saja terdengar suara gaduh dari arah dapur.
"Loh apa yang terjadi?" tanya Bu Sinta yang mengintip karena terkejut mendengar suara perabotan yang terjatuh di dapur.
"Itu bu mas Cahyanya," lirih Agnia yang mengadu layaknya anak kecil.
"Bukan aku bu tapi Agnia," timpal Cahya.
"Kalian ini ya seperti anak kecil saja," ujar Bu Sinta yang terkekeh melihat tingkah mereka berdua.
Hal seperti ini yang sangat dirindukan Agnia. Ada canda, tawa yang terjalin diantara mereka berdua. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak bercanda seperti itu. Walau kesannya seperti anak kecil, tapi sikap itulah yang dirindukan Agnia pada Cahya. Untuk sesaat Agnia melupakan jika Cahya telah mengkhianatinya.
Tak berapa lama terdengar suara ponsel yang berdering diatas meja ruang tamu.
"Cahya ini ponselnya berdering," pekik Bu Sinta dari arah ruang tamu.
"Iya bu," timpal Cahya yang langsung berlari menghampiri ibunya.
Karena penasaran, Bu Sinta melihat nama yang memanggil Cahya. Di depan layar itu terlihat jelas jika Zoya memanggil.
"Siapa Zoya?" gumamnya bermonolog.
Cahya langsung mengambil dan merebut ponsel yang dipegang ibunya. Cahya merasa cemas jika yang menelpon itu adalah Zoya, dan benar saja firasatnya jika yang menghubungi itu adalah Zoya.
"Aku permisi dulu mau angkat telpon," pamit Cahya yang langsung mencari tempat yang paling aman karena takut ketahuan oleh ibunya.
__ADS_1
"Agnia itu siapa yang menelpon?" tanya Bu Sinta yang berbisik pada Agnia.
"Agnia kurang tahu bu," jawab Agnia.
Setelah menerima telponnya, Cahya kembali menghampiri Agnia dan ibunya diruang tamu.
"Siapa yang menelpon nak?" tanya Bu Sinta yang mulai curiga.
"Itu bu, bos Cahya. Besok aku disuruh ke kantor pagi- pagi," dusta Cahya yang membohongi ibunya.
"Maafkan Cahya bu, Cahya terpaksa berbohong pada ibu," gumam batin Cahya.
Keesokan harinya, seperti biasa Agnia melakukan pekerjaan rutinnya.
"Kemana Cahya tidak sarapan dulu nak?" tanya Bu Sinta yang sedang duduk di meja makan menikmati teh hangat dan kue biskuit.
"Mas Cahya tadi pergi pagi-pagi sekali bu, katanya bosnya nelponin terus," jawab Agnia sambil menghidangkan makanan diatas meja.
Setelah beres mengerjakan pekerjaan rumah, aktifitas Agnia dilanjutkan dengan memasak. Hari ini Agnia memasak rendang dan kerupuk udang kesukaan ibu mertuanya.
"Silahkan bu, makan dulu," tawar Agnia.
"Ayo kamu juga makan temenin ibu, nanti keburu Rehan bangun," ajak Bu Sinta.
"Iya bu," jawab Agnia.
Agnia dan Bu Sinta pun makan bersama dengan lahapnya. Hal ini yang membuat Agnia senang karena disaat hatinya hancur ada ibu mertuanya yang menemani Agnia. Setidaknya dengan kehadiran Bu Sinta, hati Agnia menjadi lebih tenang.
"Oiya ibu ingin jalan-jalan Gi, bosen diem dirumah terus," ajak Bu Sinta setelah menyantap habis makanannya.
"Boleh bu, ibu mau kemana?" tanya Agnia yang sedang membereskan piring yang kotor diatas meja.
"Kemana aja Gi, misalnya ke taman atau kemana aja deh. Lihat-lihat pemandangan yang indah gitu," jawab Bu Sinta secara detail.
__ADS_1
"Baik bu, nanti sebentar lagi kita pergi ya," ujar Agnia yang sangat menghormati mertuanya dan sangat menyanyangi mertuanya.
Setelah membereskan pekerjaan didapur, Agnia segera memandikan anaknya. Bu Sinta dan Agnia sudah bersiap akan jalan-jalan hari ini.
"Itu mobilnya bu," tunjuk Agnia yang sebelumnya sudah memesan taksi online.
"Dengan bu Agnia? Ke taman x ya bu?" sapa supir itu dan memastikan kembali tujuan kami.
Tak lama mereka bergegas pergi ke sebuah taman yang cukup ramai di kota itu. Sepanjang perjalanan Bu Sinta melihat-lihat pemandangan dari jendela mobil. Satu jam kemudian, akhirnya mereka tiba disebuah taman yang cukup indah. Di taman itu cukup ramai orang-orang yang berlalu lalang. Ditaman itu terhampar tanaman berwarna-warni. Disana pula terdapat air terjun yang tidak begitu tinggi, sejuk rasanya berada di tempat ini.
"Tempatnya indah sekali nak, ibu baru sekarang tau tempat ini. Tolong ambilkan foto ibu ya," pinta Bu Sinta yang tak kalah dari anak muda yang selalu ingin mengambil gambar setiap mendatangi tempat yang baru. Usia Bu Sinta belum terlalu tua, maka karena itulah jiwa mudanya masih terasa hingga saat ini.
Tidak hanya Bu Sinta, Agnia pun diajaknya untuk difoto bersama. Beberapa pose dan beberapa jepretan saja sangat membuat ibu senang. Ternyata bahagia itu sederhana. Bahagia itu kita yang ciptakan. Tidak lupa foto-foto yang barusan diambil Bu Sinta jadikan status diwhatsappnya agar teman-temannya melihat jika ia sedang berada di tempat yang indah.
Agnia saja kalah dengan tingkah Bu Sinta. Agnia yang masih muda justru tidak melakukan hal itu karena ia terlalu sibuk dengan pekerjaan rumah tangganya dan sibuk memomong putranya. Bagi seorang wanita, setelah menjadi seorang ibu anaknyalah yang selalu menjadi prioritas. Bahkan mereka sampai lupa mengurusi dirinya dan kurang memperhatikan penampilannya sendiri.
Sejauh mata memandang, hanya keindahan yang Bu Sinta lihat. Akan tetapi, pandangannya terhenti pada seseorang yang sedang duduk di sisi kanan Bu Sinta.
"Bukannya itu Cahya?" tunjuk Bu Sinta yang menanyakan untuk memastikan dugaannya.
"Mana bu?Agi tidak lihat," tanya Agnia yang memang tidak begitu memperhatikan.
"Itu yang pake kemeja biru, tapi sama siapa?" tanya Bu Sinta dan mulai mempercepat langkahnya menghampiri seseorang itu.
Plak...
Satu tamparan keras mendarat dipipi Cahya.
"Ibu? Sedang apa ibu disini?" tanya Cahya yang merasa terkejut dengan kedatangan Bu Sinta.
"Harusnya ibu yang tanya, kamu sedang apa disini? Dan ini siapa? Bukannya kamu sudah mempunyai seorang istri dan anak!" pekik Bu Sinta yang sudah menampar anaknya dengan keras karena melihat Cahya duduk dan memegang tangan wanita lain.
"Bu Cahya bisa jelaskan dirumah," lirih Cahya yang mulai terbongkar mengenai perilakunya.
__ADS_1
Sedalam-dalamnya bangkai dikubur pasti akan tercium juga. Sekeras apapun Cahya menyembunyikan wanita lain, cepat atau lambat pasti akan ketahuan juga.