Berbagi Cinta : Ternyata Aku Dikhianati

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Dikhianati
54. Apa Yang Kita Tanam Itulah Yang Kita Tuai


__ADS_3

Happy Reading... 😊


Beberapa bulan berlalu, keuangan Nadia pun mulai menipis. Sejak memiliki harta yang banyak setelah perpisahannya dengan Cahya membuat Nadia menjadi kalap. Nadia membeli semua yang dia inginkan. Mulai dari barang-barang mewah, serta makanan yang dia inginkan semua dia beli. Semua harta yang dimilikinya ia habiskan dalam waktu yang singkat.


Mungkin karena kali ini Nadia memiliki harta yang begitu banyak. Untuk itu Nadia menggunakannya dengan semena-mena tanpa berfikir bagaimana kedepannya. Namun sebanyak apapun harta yang kita miliki, tidak akan cukup jika digunakan untuk memenuhi gaya hidup. Tapi berapapun harta yang kita miliki, jika kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kita pandai mengaturnya, maka semua itu akan cukup. Semua tergantung bagaimana kita yang mengaturnya. Belum lagi masalah keuangan yang menimpanya Nadia harus menerima hukuman atas apa yang diperbuatnya dulu.


Tidak lama Nadia ditangkap polisi karena perbuatannya yang mencemarkan nama baik Cahya. Setelah sekian lama, Pak Arga baru menyadari kesalahannya. Pak Arga menyuruh orang kepercayaannya untuk menyelidiki tentang semua yang terjadi pada anaknya. Beberapa hari kemudian akhirnya terjawab sudah jika Cahya anaknya sudah dijebak oleh Nadia. Merasa kesal dengan perbuatan Nadia, Pak Arga langsung melaporkannya ke pihak berwajib.


Tok... tok...


"Pemisi, dengan ibu Nadia?" tanya seseorang yang mendatangi rumahnya.


"Iya saya sendiri," jawab Nadia dengan ragu-ragu. Nadia merasa tidak enak hati karena ia tidak mengenal orang itu.


"Kami anda tahan karena kasus penipuan dan pencemaran nama baik. Saya adalah seorang polisi," ujar polisi itu yang menyamar seperti orang biasa, serta langsung menangkap Nadia dan langsung memborgol tangannya.


"Tapi apa salah saya pak?" tanya Nadia yang masih pura-pura tidak bersalah.


"Silahkan anda jelaskan dikantor polisi," ujar polisi itu yang langsung membawa Nadia ke kantor polisi.


Menyadari kesalahannya karena menjebak Cahya, Nadia pun tidak berkutik saat ditangkap polisi. Nadia menuruti semua arahan polisi.


Apa yang kita tanam itulah yang kita tuai. Itu pula yang Nadia dapatkan karena keserakahannya. Kebahagiaan Nadia tidaklah lama, kini ia harus mendapatkan ganjaran atas apa yang dilakukannya dulu.


Sepandai-pandainya bangkai dikubur pasti baunya akan tercium juga. Begitupun dengan perbuatan Nadia yang disembunyikan serapat apapun, akhirnya ketahuan juga.

__ADS_1


Sementara Pak Arga mulai mencari keberadaan anaknya. Pak Arga sangat menyesal karena dulu ia percaya begitu saja pada Nadia tanpa mencari tahu kejadian yang sebenarnya. Pak Arga mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Cahya. Pak Arga juga tidak tega melihat istrinya yang sering sakit-sakitan setelah mengusir Cahya.


"Cepet cari Cahya yah, ibu sangat merindukan dia," ujar Bu Sinta yang sangat merindukan anaknya. Entah sudah berapa lama Cahya pergi dari rumah, semenjak kejadian itu Pak Arga langsung mengusirnya.


Bu Sinta yang mengetahui kejadian itu selalu merasakan kesedihan salam kesehariannya. Ibu mana yang tidak akan merasa sedih jika anaknya berada jauh darinya. Terlebih Cahya diusir oleh ayahnya sendiri, hanya karena fitnah yang diterima Cahya.


"Iya bu, tolong sabar. Ayah sudah menyuruh orang untuk mencari keberadaan Cahya," ujar Pak Arga yang mencoba menenangkan istrinya.


"Ayah janji, ayah akan membawa Cahya kembali kerumah ini," ujar Pak Arga yang menggenggam erat tangah Bu Sinta dan memeluknya. Sementara Bu Sinta hanya menangis mendengar kata-kata Pak Arga.


Flashback off


Begini Agnia, apa kamu masih ingat dengan pertemuan kita yang terakhir saat dicafe itu?" tanyan Cahya seolah mengingatkan.


"Iya mas aku masih ingat, saat itu aku pergi meninggalkan kamu," ujar Agnia.


Mendengar cerita Cahya membuat Agnia sangat prihatin. Agnia merasa kasihan dengan apa yang terjadi pada Cahya. Agnia juga sempat berfikir jika semua yang terjadi pada Cahya mungkin karena perbuatannya dimasa lalu. Agnia memang sudah memaafkan semua kesalahan Cahya, tapi sampai kapanpun Agnia tidak akan pernah bisa melupakannya.


"Maafkan aku Agnia," ujar Cahya lagi yang menyesali semua perbuatannya sampai ia berlutut dihadapan Agnia.


"Jangan seperti ini mas, sudah cukup. Hentikan! Aku sudah memaafkanmu sejak dulu," ujar Agnia yang membangunkan Cahya.


"Tapi aku sangat bodoh karena sudah menyia-nyiakan hidupmu," lirih Cahya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sudahlah mas, yang sudah terjadi sudahlah. Yang terpenting saat ini kamu menyadari semua kesalahanmu mas, dan sejak dulu aku sudah memaafkanmu," ujar Agnia.

__ADS_1


"Cahya!" teriak seseorang ditengah-tengah obrolan mereka.


"Ayah," ujar Cahya yang langsung melihat ke sisi kanan tempat ayahnya berdiri.


"Cahya, maafkan ayah nak. Kamu sampai seperti ini, maafkan ayah. Ayah sudah mengetahui semuanya," ujar Pak Arga yang langsung memeluk anaknya.


"Jadi ayah sudah tahu yang sebenarnya?" tanya Cahya yang langsung memeluk ayahnya dan masih tidak percaya dengan semua yang terjadi saat ini.


"Iya nak, maafkan ayah. Dulu ayah tidak mendengarkanmu," lirih Pak Arga yang mempererat pelukannya.


Agnia merasa terharu melihat kejadian yang ada dihadapannya. Agnia mulai berkaca-kaca karena akhirnya kesalahpahaman yang terjadi diantara Cahya dan ayahnya dapat dapat diselesaikan.


"Sekarang mari kita pulang nak, ibumu sudah menunggumu dan sangat merindukanmu," ujar Pak Arga.


"Baik yah, maafkan aku Agnia. Aku pamit," ujar Cahya sebelum ia pergi.


"Maafkan anak ayah Agnia, maaf juga jika ayah ada salah sama kamu," ujar Pak Arga yang menyapa Agnia.


"Tidak apa-apa yah," ucap Agnia yang langsung memeluk bekas ayah mertuanya dulu.


"Tolong jaga Agnia baik-baik, jangan pernah sia-siakan Agnia karena Agnia adalah wanita yang baik," ujar Cahya pada Ihsan.


"Pasti! Karena aku sangat mencintainya. Aku tidak akan pernah mengkhianati Agnia," ujar Ihsan yang langsung memegang erat tangan Agnia.


Agnia hanya tersenyum mendengar perkataan mereka. Kini Cahya dan ayahnya pergi jauh meninggalkan kota ini. Agnia merasa lega karena Cahya kini baik-baik saja. Meskipun Cahya pernah begitu menyakiti Agnia, akan tetapi Agnia tidak tega melihat Cahya seperti itu.

__ADS_1


Walau bagaimanapun Cahya pernah menjadi bagian dalam hidupnya. Dulu Agnia juga pernah sangat mencintainya, namun saat ini ia hanya menjadikan Cahya sebagai masa lalunya. Seburuk apapun Cahya, ia tetaplah seorang ayah bagi anaknya Rehan.


Setelah kepergian Cahya, Agnia dan Ihsan pun bergegas pulang. Jika tidak ada aral melintang pernikahan mereka pun akan segera dilangsungkan. Ihsan sudah tidak sabar untuk menjadikan Agnia sebagai pendamping hidupnya. Semua sudah ia miliki, apa lagi yang Ihsan harapkan selain Agnia yang akan menjadi teman hidupnya.


__ADS_2