
Happy Reading... 😊
"Tunggu, mau kemana bung? Urusan kita belum selesai!" pekik Rizal yang langsung datang menghampiri Cahya.
"Apa maumu?" tanya Cahya yang langsung berbalik ke arah Rizal dan mendorongnya.
"Aku mau kau meninggalkan Zoya!" pekik Rizal sambil meraih tangan Zoya.
"Lepaskan aku, aku tidak mau ikut denganmu," jelas Zoya yang mencoba melepaskan pegangan tangan Rizal.
"Apa? Tidak! Hal itu tidak akan terjadi," ujar Cahya yang langsung merebut Zoya dan menghajar Rizal.
Perkelahian antara Rizal dan Cahya pun tak terelakan. Mereka saling beradu jotos ditempat itu. Seorang satpam yang mencoba melerai mereka pun justru malah terkena pukulan Rizal. Beberapa kali Zoya mencoba melerai Cahya dan Rizal. Namun hasilnya tetap saja nihil. Mereka tetap saja berkelahi.
Beberapa penggunjung pun malah asyik menyaksikan pertengkaran mereka. Tidak sedikit yang mengeluarkan ponselnya hanya untuk mengambil foto bahkan merekam perkelahian yang terjadi diantara Rizal dan Cahya. Sebagian lagi hanya membisikan kata-kata yang membuat Zoya tersinggung.
"Eh itu liat, pasti dia ketahuan selingkuh!" bisik seseorang kepada temannya yang terdengar ditengah-tengah pertengkaran mereka.
"Iya tuh pasti cewek ga bener tuh! Makanya jadi kaya gitu," timpal seseorang lainnya.
"Sudah-sudah hentikan!" pekik Zoya yang langsung menghentikan perkelahian itu.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan dia!" tegas Rizal yang menunjuk ke arah Cahya dan mencoba memukulnya beberapa kali.
Perkelahian mereka terus terjadi hingga kini mereka berpindah tempat ke arah luar restoran tepatnya dipinggir jalan. Mereka saling memukul dan meninju. Meski Rizal sudah terjatuh beberapa kali namun ia tetap mencoba berdiri lagi untuk mengalahkan Cahya.
Rizal yang keras dan sangat tempramen begitu geram melihat Cahya. Begitupun dengan Cahya yang tak kalah emosi ketika mengingat Zoya yang sudah ditinggalkan begitu lamanya oleh Rizal. Kemarahan mereka seolah reda hanya dengan pertengkaran dan perkelahian.
"Cukup mas hentikan!" ujar Zoya lagi yang mencoba menghentikan Rizal yang begitu marah pada Cahya.
__ADS_1
"Jangan hentikan aku Zoya, lepaskan aku!" pekik Rizal yang mencoba melepaskan tangan Zoya.
Namun naas saat Zoya mencoba melerai, Rizal justru malah mendorongnya hingga ke jalan dan Zoya akhirnya tertabrak mobil yang sedang melintas.
"Zoya.." teriak Rizal saat melihat Zoya tertabrak mobil.
Seketika Rizal berlari ke arah Zoya dan membaringkan kepala Zoya dipahanya.
"Zoya bangun Zoya," lirih Cahya yang mengguncang-guncangkan tubuh Zoya.
Zoya yang bersimbah darah hanya diam tidak sadarkan diri. Sementara Rizal yang merasa menyesali perbuatannya karena telah mendorong Zoya hanya terdiam dan menangis melihat Zoya tergeletak.
"Cepat telpon ambulan!" titah Cahya.
Rizal yang mendengar itu cepat-cepat mengeluarkan benda pipihnya dari dalam saku celananya. Tidak berapa lama akhirnya terdengar suara sirine yang datang. Cahya masih saja menangisi Zoya yang masih tidak sadarkan diri dan bersimbah darah.
Zoya langsung dimasukan kedalam ambulan dan dilarikan ke rumah sakit. Cahya duduk disebelah kanan Zoya, sedangkan Rizal duduk disebelah kiri Zoya.
"Zoya bangun Zoya," lirih Cahya yang masih memegangi tangan Zoya dan menangisinya.
"Zoya bangun Zoya, ini semua gara-gara aku. Jika aku tidak mendorongmu, kamu pasti tidak akan seperti ini," lirih Rizal disamping kiri Zoya dan menyesali semua perbuatannya.
Rizal pun menangis disepanjang perjalanan. Antara menyesal dan bersedih yang Rizal rasakan. Meski Rizal sangat cemburu melihat Cahya yang memegang tangan Zoya sejak tadi, akan tetapi Rizal tetap diam saja.
Tidak banyak kata-kata yang keluar dari mulutnya. Rizal hanya bisa menangis sejadi-jadinya melihat istrinya terbaring lemah tidak sadarkan diri.
Satu jam kemudian akhirnya ambulan itu tiba dirumah sakit. Zoya yang baru saja turun dari ambulan langsung dilarikan ke IGD. Sementara Rizal dan Cahya hanya diperbolehkan menunggu diluar ruangan. Untuk beberapa menit Zoya masih sedang diperiksa dan ditangani oleh dokter. Beberapa perawat pun ikut membantu dokter yang sedang berada didalam ruangan.
Cahya dan Rizal terlihat begitu cemas dan khawatir.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara kamu ya!" tunjuk Rizal.
"Kamu lah, kamu sendiri yang membuat Zoya seperti itu," pekik Cahya yang tidak mau kalah.
Mereka hampir saja akan melanjutkan perkelahian mereka dirumah sakit. Namun akhirnya mereka menyadari jika dengan berkelahi tidak akan membuat keadaan seperti sedia kala.
Satu jam, dua jam dokter yang memeriksa Zoya masih juga belum keluar. Rizal yang sedari duduk didepan ruangan Zoya terlihat begitu sedih. Pikirannya seolah melayang dan mengingat hal-hal buruk yang pernah ia lakukan dulu kepada Zoya. Kata-katanya dan tindakan kasarnya mungkin tidak akan pernah termaafkan. Wanita mana yang akan sanggup bertahan hidup dengan laki-laki yang seperti itu.
"Maafkan aku Zoya. Aku tahu, aku sudah banyak melakukan kesalahan kepadamu. Cepatlah sadar dan cepat sembuh. Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku janji kali ini aku akan berubah. Dan aku akan mencintaimu dan menyanyangimu Zoya," lirih Rizal yang tanpa terasa bulir bening itu jatuh dipipinya. Rizal menangis sejadi-jadinya, menangisi semua perbuatannya kepada Zoya.
Rizal mengepal tangannya dan meninjukan tangannya ke arah tembok. Dia tidak merasakan sakit ditangannya, karena lebih sakit lagi jika Zoya tidak bisa diselamatkan.
Sama halnya dengan Cahya, dia pun mondar-mandir didepan ruangan Zoya. Cahya ingat betul saat pertama kali dia bertemu dengan Zoya.
Masa-masa saat sekolah dulu, hingga mereka kuliah ditempat yang sama dan menjalin cinta yang begitu lamanya membuat Cahya tidak bisa melupakan Zoya begitu saja. Setelah beberapa tahun berpisah akhirnya mereka dipertemukan kembali. Takdir menyatukan cinta mereka kembali.
"Cepatlah sadar Zoya. Aku sangat mencintaimu dan aku tidak ingin kehilanganmu," lirih Cahya yang meneteskan air mata.
Beberapa jam kemudian akhirnya seorang dokter keluar dari dalam ruangan. Dengan APD (Alat Pelindung Diri) yang lengkap, seorang dokter itu berkata, "maaf kami tidak bisa menyelamatkan pasien karena dia begitu banyak kehilangan darah sebab benturan dikepalanya."
Cahya dan Rizal yang mendengar hal itu spontan berlari kedalam ruangan untuk melihat kondisi Zoya yang sebenarnya. Mereka berdua begitu terpukul melihat jenazah Zoya yang sudah ditutup kain.
"Zoya jangan tinggalkan aku," lirih Cahya yang histeris disamping Zoya.
"Zoya maafkan aku. Aku akan memperbaiki semua kesalahannku. Aku mohon bangunlah Zoya bangun," lirih Rizal yang tak kuasa karena kehilangan Zoya.
Mereka berdua merasakan hal yang sama. Mereka sama-sama merasakan rasanya kehilangan orang yang sangat mereka cintai.
Tak lama akhirnya Zoya dimandikan dan dikafani dirumah sakit. Acara pemakaman pun segera dilaksanakan. Ayah Zoya yang sebelumnya ditelpon tak berapa lama akhirnya datang juga.
__ADS_1
Ayah Zoya sangat kehilangan putrinya. Sepeninggalan istrinya, kini ia harua mengalami kembali sakitnya ditinggalkan sang putri.
Karena hari semakin sore, akhirnya pemakaman itu segera dilaksanakan. Zoya yang sudah masuk ke dalam liang kubur kini ia bisa beristirahat dengan tenang.