
Semenjak mengetahui Zoya memiliki penyakit yang cukup serius, perhatian Cahya semakin bertambah. Setiap hari, bahkan setiap saat Cahya selalu memperhatikan kesehatan Zoya. Untuk itu selama Zoya sakit, Cahya akan tidur dirumah Zoya. Cahya menemui Agnia hanya satu minggu sekali, bahkan satu bulan sekali hanya untuk menemui anaknya.
"Jadi mas tiap hari akan pulang ke rumah Zoya?" tanya Agnia dengan nada sinis.
"Iya Agnia mungkin untuk beberapa hari mas harus menemani Zoya, karena dia sedang sakit," jawab Cahya yang terlihat begitu lelah sepulang dari kantor.
Walau Agnia tahu Cahya terlihat begitu letih dengan wajahnya yang tampak kusut, akan tetapi Agnia tidak bisa menahan rasa sesak didadanya. Setelah mengetahui jika Cahya akan tinggal beberapa saat dengan Zoya, hal itu membuat hati Agnia semakin hancur berkeping-keping.
Niat hati ingin mencegah, namun perasaan yang sakit tidak ingin mencegahnya.
"Terserah apa yang akan kamu lakukan mas, aku tidak perduli," gumam batin Agnia yang mulai berkaca-kaca dan meneteskan bulir bening dipipinya.
Cahya mulai mengemas beberapa pakaiannya yang ia masukan ke dalam sebuah koper kecil. Agnia tidak menghampiri atau membantu Cahya, bahkan untuk menatap wajahnya saja Agnia tidak sudi.
Eaa... eaa...
Terdengar suara tangisan Rehan. Agnia seketika berlari menghampiri anaknya yang menangis. Entah kenapa saat ia menggendong anaknya rasanya seperti ingin menangis sejadi-jadinya.
"Cup, cup, anak ibu.. kenapa sayang," ujar Agnia ditengah-tengah kesedihannya.
Rehan masih saja menangis, tidak biasanya ia begitu. Setelah tertidur biasanya Rehan tidak akan terbangun lagi hingga esok pagi. Akan tetapi entah kenapa malam ini Rehan begitu rewel. Mungkin karena ia tahu ayahnya akan meninggalkan dia untuk beberapa hari.
"Kenapa Rehan? Kok gak berhenti nangis? Sini biar ayah yang gendong," timpal Cahya yang tiba-tiba datang menghampiri Agnia.
"Cup, cup.. kenapa anak ayah nangis?" tanya Cahya yang memperhatikan wajah anaknya.
__ADS_1
Beberapa saat setelah Cahya menggendongnya, seketika itu juga tangisan Rehan berhenti. Perlahan tapi pasti Rehan segera menutup matanya dan mulai tertidur kembali. Melihat anaknya yang sudah tertidur, Cahya menidurkan kembali anaknya di atas kasur dengan sangat hati-hati.
Agnia yang sejak tadi memperhatikan Cahya cukup senang karena akhirnya Rehan tertidur.
"Aku harus segera pergi," pamit Cahya tanpa mencium kening Agnia terlebih dahulu.
Tidak ada jawaban. Agnia hanya terdiam, dan menangis melihat Cahya yang pergi ke rumah madunya. Agnia merasa jika Cahya mulai berubah. Tidak ada perhatian yang ia lakukan seperti dulu. Tidak ada hal romantis seperti yang Cahya lakukan seperti dulu.
"Apa salahku mas? Apa? Hingga kamu tega melakukan semua ini padaku," lirih Agnia yang memandangi foto pernikahan mereka berdua.
Agnia masih saja terisak, dadanya seakan sesak merasakan semua yang terjadi akhir-akhir ini. Hingga akhirnya Agnia tertidur sambil memeluk foto pernikahannya bersama Cahya.
Sementara di rumah sakit Cahya masih menemai Zoya yang terbaring lemah.
Sudah beberapa hari Zoya tidak sadarkan diri. Bebarapa selang menghiasi tangan dan wajahnya. Melihat Zoya yang seperti itu membuat hati Cahya merasa pilu. Cahya tidak tega melihat Zoya seperti itu.
"Cahya.." lirih Zoya.
"Zoya, kamu sudah sadar?" tanya Cahya yang merasa senang melihat Zoya mulai siuman.
Cahya langsung memijit tombol untuk memanggil dokter. Tak berapa lama setelah memijit tombol seorang dokter datang memasuki ruangan dan memeriksa keadaan Zoya. Beberapa detik dokter memeriksa keadaan Zoya yang mulai membaik.
Beberapa hari berlalu, kini keadaan Zoya sudah semakin membaik dan tampak lebih sehat. Hari ini Zoya sudah diperbolehkan pulang.
"Terima kasih karena kamu selalu menemaniku," lirih Zoya.
__ADS_1
"Ini sudah kewajibanku menjagamu dan memperhatikanmu Zoya," jawab Cahya.
Zoya seketika berkaca-kaca karena terharu mendengar kata-kata Cahya.
"Ayo kita pulang, aku sudah bosan berada disini," ajak Zoya.
"Iya hayu," jawab Cahya.
Mereka pun segera bergegas pulang. Dengan kecepatan sedang, Cahya mengendarai mobilnya. Dalam perjalanan Zoya meminta berhenti disalah satu restoran, karena perutnya keroncongan. Selain itu, Zoya juga sudah merasa bosan dengan makanan rumah sakit. Zoya ingin menikmati makanan yang enak-enak.
Di tempat lain Agnia masih disibukan dengan pekerjaan rumahnya. Meski ada asisten rumah tangga, akan tetapi hal itu tidak membuatnya bermalas- malasan. Setelah beres mengerjakan pekerjaan rumahnya, Agnia segera menemui Rehan dikamarnya.
"Assalamualaikum," sapa seseorang yang memasuki kamar Rehan.
"Waalaikumsalam, ibu? Kok ke sini ga ngasih kabar?" tanya Agnia yang merasa terkejut dengan kedatangan Bu Sinta mertuanya.
"Ibu memang sengaja tidak memberi tahu, karena ibu sangat merindukan cucu ibu," jawab Bu Sinta yang langsung menghampiri Rehan dan langsung menggendongnya dan menciuminya.
Ada perasaan senang pada diri Agnia karena kedatangan mertuanya, namun ada juga perasaan bingung.
"Bagaimana jika ibu menanyakan mas Cahya? Apa yang harus aku katakan? Bagaimana jika ibu tahu jika putranya tidak pulang sudah berhari-hari," gumam batin Agnia.
"Kamu kenapa nak? Kok malah melamun?" tanya Bu Sinta yang sejak tadi memperhatikan Agnia terdiam.
"Anu bu, ibu makan dulu terus istirahat. Emangnya ibu ga cape langsung gendong Rehan?" dustanya, yang langsung mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Ibu tidak cape nak, ibu sudah kangen sekali sama cucu ibu ini," jawab Bu Sinta yang terlihat begitu bahagia melihat cucunya.