
Gareth mengantar Rianti pulang. Sebab pak Darwis sedikit terlambat dan ia telah melaporkan semua itu pada Amanda.
Amanda sendiri kemudian bertanya pada Rianti melalui WhatsApp. Ia menanyakan gadis itu diantar oleh siapa. Rianti membalas chat sang kakak ipar, dengan mengatakan jika ia diantar oleh Gareth.
Amanda tak masalah dengan semua itu dan malah berterima kasih. Gareth lalu berpamitan setelah memastikan Rianti tiba di muka rumah.
"Baik juga tuh orang ternyata, sampe rela masuk jalan sempit kayak gini. Gue kira cuma bisa ngeselin doang." ucap Rianti, ketika mobil Gareth telah jauh.
Hari itu ibu dan ayah tiri Arka sudah berangkat. Rianti pun tak ada memberitahu, Karen takut keduanya menjadi khawatir. Ia lalu masuk ke dalam rumah dan memilih beristirahat.
Sore harinya setelah selesai bekerja, Amanda langsung menjenguk iparnya tersebut. Disitulah kedua orang tua Arka baru mengetahui kejadian yang menimpa sang keponakan.
"Kamu koq nggak ngabarin tadi siang?" tanya ibu Arka.
"Iya, harusnya kamu kasih tau kamu kalau ada apa-apa." Ayah tiri Arka menimpali.
"Rianti nggak enak, pak, bu. Takut kalian khawatir." jawabnya.
"Tadi itu gimana kejadiannya?" tanya Amanda.
"Rianti tuh terjebak, mbak. Soalnya kan dari jalan ke arah titik lokasi itu tikungan. Nggak keliatan kalau misalkan jalan di tutup dan ada petugas yang jaga. Setelah tikungan baru tau. Nah di situ masanya rame, deket banget sama polisi yang memblokade jalan." ucap Rianti.
Amanda akhirnya mengerti. Ia terus bertanya bagaimana keadaan saudara sepupu Arka tersebut dan memintanya untuk bicara saja, jika membutuhkan sesuatu.
Sebab apapun yang terjadi di jam kantor, merupakan tanggung jawab kantor perihal biayanya.
***
Dilain pihak Arka serta Rio telah menyelesaikan syuting sesi pertama mereka. Setelah berkutat selama beberapa hari di depan kamera, akhirnya hari ini mereka semua akan kembali diliburkan.
Sebab sutradara dan para kru harus menunggu beberapa set yang belum rampung, untuk adegan-adegan berikutnya. Kebetulan Arka juga akan pulang ke Jakarta bersama Rio. Guna menghadiri acara lamaran Ansel kepada Intan.
"Arka."
Elina yang saat itu juga telah menyelesaikan take adegan tersebut, kini berlarian mendekati Arka. Kebetulan tadi mereka berada di satu set lokasi.
"Iya, El." jawab Arka.
"Ini kan nanti libur, jalan yuk kemana." ajak Elina.
"Nggak bisa, El. Gue harus pulang ke Jakarta, soalnya saudara gue mau lamaran." jawab Arka.
"Oh gitu."
Nada bicara Elina agak sedikit kecewa, meski berusaha keras ia tutupi.
"Iya." ujar Arka lagi.
"Oh ya udah deh, gue kayaknya mau balik dulu juga ke Jakarta." ucap Elina.
Ia pikir kemanapun itu asal berada dekat dengan Arka, maka itu tak akan jadi masalah besar.
"Elina."
Tiba-tiba sang sutradara muncul.
"Iya mas." jawab Elina kemudian.
"Sorry banget, kamu nggak libur. Karena ada beberapa adegan yang mesti ditambah dan ada juga yang diganti. Khusus bagian kamu aja." ucap sang sutradara.
"Oh."
Elina kaget dan makin kecewa lagi. Sebab itu artinya ia harus tinggal di kota tersebut, sementara Arka tak ada disana.
"Berarti saya harus tetap syuting besok mas?" tanya Elina.
__ADS_1
"Di mulai lusa." ucap sang sutradara lagi.
"Mmm, oke deh." ujarnya agak terbata-bata.
Sutradara tersebut berlalu, kemudian Arka serta Rio pun bersiap untuk pulang. Sementara Elina masih terpaku ditempatnya.
***
Beberapa jam berlalu, Amanda telah kembali ke penthouse.
"Papapa."
"Papapa."
Azka dan Afka menyebut nama ayah mereka. Keduanya tampak sedang bermain mobil-mobilan. Dari tempatnya berdiri Amanda memperhatikan saja kedua anak itu.
Pengasuh mereka juga sudah kembali ke rumah satunya, sebab Arka mengatakan dirinya akan pulang. Tapi persis sampainya jam berapa, Amanda tidak tau. Sedari tadi Arka belum mengabari kapan ia dan Rio akan berangkat.
"Papapa."
"Papaka."
"Apa nak?" Amanda menoleh.
"Papaka?" tanya nya pada Afka.
"Papapa." jawab Afka.
"Tadi kamu bilang papaka?" tanya Amanda lagi.
"Artinya papa Arka apa papanya Afka?"
"Eheee."
"Papapa." ujar Afka lagi.
"Yeay, papa pulang." seru Amanda.
"Papapa."
"Papapa."
Si kembar antusias lalu mendekat. Arka Langsung membiarkan kopernya begitu saja, kemudian memeluk, lalu menggendong mereka berdua.
"Eheee."
Azka dan Afka tampak begitu gembira.
"Kangen nggak sama papa?" tanya Arka kemudian.
"Nanen." jawab Azka.
"Kangen, iya?" tanya Arka lagi.
"Nanen."
Arka tertawa kemudian mencium Azka, lalu beralih mencium Afka. Sementara Amanda kini tampak membereskan koper sang suami.
"Mau minum apa, Ka?" tanya nya kemudian.
"Air putih aja, Man. Tadi udah ngopi dan makan juga di jalan." jawab Arka.
"Nggak mau makan lagi gitu?" Lagi Amanda bertanya.
"Ntar aja, belum laper." jawab Arka.
__ADS_1
"Oh, oke deh."
Amanda lalu mengambilkan air putih untuk suaminya itu. Arka melepaskan gendongan kedua anaknya, kemudian minum.
"Papa mandi dulu, terus kita main ya." ujarnya.
"Papapa."
"Iya, papa mandi dulu." tukasnya lagi.
Tak lama kemudian Arka pun pergi mandi, lalu berganti pakaian. Setelah itu ia mengajak main si kembar di dalam kamar, hingga mereka bertiga tertidur lelap.
Beberapa saat berlalu Amanda menilik mereka. Ia tersenyum melihat pemandangan tersebut. Ia tak membangunkan Arka dan hanya mengambil selimut untuk kemudian menutupi tubuh ketiganya.
***
"Nin, gue kedinginan."
Ansel mengadu pada Nino di waktu yang sama.
"Kayaknya gue beneran makin demam ini." ucapnya lagi.
Nino yang sudah hampir tertidur itu kemudian bangun, lalu mengecek kondisi Ansel.
"Panas badan lo." ujarnya seraya meraba kening Ansel, dengan suara yang masih begitu mengantuk.
"Minum paracetamol, Sel." ujarnya kemudian.
"Udah, gue khawatir kalau nanti pas hari lamaran malah beneran parah sakitnya."
"Jangan mikir macem-macem, mending lo istirahat sekarang. Besok nggak usah kerja dulu. Mau gue bikinin susu?" tanya Nino.
"Kan gue habis minum obat." ujar Ansel lagi.
"Ya udah lo tidur gih!" perintah Nino.
Ansel mengangguk lalu coba memejamkan matanya. Saat pagi menjelang Nino terbangun duluan dan kembali mengecek kondisi saudaranya itu. Ternyata panasnya sudah lumayan turun. Segera ia bangun, lalu membuatkan sarapan untuk Ansel.
"Mau dibawa kemana, Nin?"
Ryan bertanya pada sang anak, ketika melihat ia membawa sarapan menuju ke tangga.
"Ansel, dad. Dia sakit dari semalam." ucap Nino.
"Sakit?"
"Iya demam, badannya panas. Grogi kali mau lamaran." selorohnya kemudian.
Ryan pun tertawa.
"Nanti daddy liat dia ke atas." ucap pria itu.
Nino mengangguk, kemudian ia meniti anak tangga. Kebetulan di atas, Ansel baru saja terbangun.
"Nih, gue bikinin sarapan." ujar Nino.
"Makan dulu, abis itu minum obat." lanjutnya lagi.
"Thanks." ucap Ansel lalu berusaha untuk bangun.
"Pusing nggak kepala lo?" tanya Nino.
"Nggak sih, cuma masih kurang nyaman aja rasanya."
"Ya udah, lo sarapan. Gue sarapan di bawah sama daddy."
__ADS_1
"Oke."
Nino kemudian beranjak meninggalkan kamar tersebut. Sementara kini Ansel menuju kamar mandi, untuk menggosok gigi dan mencuci muka. Tak lama kemudian ia pun sarapan.