
"Lagian lo kenapa sih, Nad. Main percaya-percaya aja sama tuh cowok."
Intan yang baru kembali dari dapur, kini meletakkan minuman ke atas meja makan. Tepatnya di hadapan Nadine yang baru datang beberapa saat yang lalu.
Nadine masih diam, seolah ada penyesalan terbesar yang ia rasakan saat ini.
"Dia bilang dia single, Tan. Nggak punya pacar, udah putus dari lama gara-gara mantannya nyebelin."
"Terus lo percaya aja gitu?" tanya Intan kemudian.
Nadine mengangguk dengan polosnya. Antara lugu dan bodoh jadi satu.
"Nad, Nad. Hari gini kalau ada cowok ngaku single, lo kudu selidiki dulu bener-bener. Karena rata-rata pasti bokis alias ngibul."
Nadine menghela nafas dan tertunduk. Ia tampak semakin menyadari keteledorannya dalam beberapa waktu belakangan.
"Lo ngilang gitu aja, sampe gue juga lo hide dari insta story. Gue pikir ini anak kenapa ya?. Apa gue ada salah, pikir gue."
Intan menarik nafas.
"Sekarang gue tanya, lo kenapa selingkuh dari Nino?" tanya perempuan itu kemudian.
Ia menatap Nadine, sementara yang di tatap seperti tak bisa berkata apa-apa.
"Alasannya apa coba?. Bukannya Nino baik, pengertian dan serius sama lo." lanjut Intan lagi.
"Dia itu terlalu kaku, Tan. Dia nggak bisa mengimbangi kebutuhan gue sebagai cewek."
"Maksudnya?" Intan tak mengerti.
"Ya kaku, gimana sih?. Sedangkan gue tuh pengennya yang kayak anak muda pada umumnya. Romantis, selalu ada buat gue, selalu balas chat gue kalau lagi online. Kasih gue pujian, ajak gue jalan sering-sering. Gue nggak bisa sama cowok dingin kayak gitu."
__ADS_1
"Kan yang ngejar dia pada awalnya itu, elo. Kenapa jadi lo yang menyerah ujungnya?" Intan balik menyerang Nadine.
"Ya gue pikir pada awalnya, gue bisa menaklukan dia. Tapi ternyata gue salah, gue nggak bisa bikin dia jadi seperti apa yang gue mau."
Untuk kesekian kalinya, Intan kembali menarik nafas dalam-dalam.
"Nad, yang namanya hubungan itu. Jangan sekali-kali bertujuan untuk merubah karakter seseorang. Nggak akan pernah bisa, karena karakter itu sudah terbentuk sejak kecil. Mending dari awal lo cari pasangan yang memang sesuai kebutuhan lo."
Nadine menatap Intan.
"Lo butuh cowok yang kriterianya kayak yang lo sebut tadi. Ya lo cari cowok yang karakternya kayak gitu. Jangan maksa pacaran sama cowok yang nggak romantis, terus maksa dia jadi romantis. Ngotot pacaran sama cowok dingin, terus berharap dia jadi hangat kayak karakter di drama Korea. Itu mah sama aja lo menyusahkan diri sendiri. Bahasa awamnya bego."
Intan berkata dengan panjang lebar. Nadine kini kembali terdiam, lalu menjatuhkan pandangan matanya ke lantai.
"Sama dengan cowok-cowok yang menginginkan pasangan cewek baik-baik, tapi nyarinya yang blangsak. Terus maksa-maksain cewek itu jadi baik dalam waktu yang singkat, dalam waktu seminggu. Ya mana bisa, anjay." ucap Intan.
"Ada juga cewek yang pengen punya cowok baik-baik, tapi maksa pacaran sama cowok brengsek dan berharap itu cowok akan berubah kalau udah nikah dan punya anak nanti. Kan itu sesuatu yang melelahkan sekaligus buang-buang waktu." lanjutnya lagi.
"Ada cewek good looking, kerja kantoran, nggak bisa masak. Dipaksa sama cowoknya supaya berhenti kerja dan kudu bisa masak. Sementara banyak cewek-cewek pengangguran yang nggak kerja, tapi bisa masak. Walaupun mukanya nggak good looking. Dalam kasus kayak gini kan kita nggak bisa maruk, karena setiap manusia itu pasti ada aja kurangnya."
Lagi-lagi Intan menghisap pod Vape.
"Pilih pasangan yang sesuai kebutuhan. Butuhnya cewek yang bisa masak dan diem aja dirumah. Ya cari lah yang bisa masak dan pengangguran. Nggak good looking pun nggak apa-apa, kan intinya bisa masak dan diem di rumah." tukas Intan.
"Atau cari yang good looking, pengangguran, dan bisa masak. Kalau ada sih ya, biasanya manusia ada aja kurangnya. Sama halnya kayak lo nyari cowok. Butuh yang romantis, ya dari awal carilah yang romantis. Biar kata mukanya ancur juga nggak apa-apa, lo pengennya romantis kan?. Ya udah, terima kekurangannya." lanjut perempuan itu.
"Lo mau maksa Nino jadi sempurna, ya nggak bisa. Dia kelebihannya ganteng, mapan, single. Kurangnya dia ya itu tadi yang lo sebutkan. Manusia yang sempurna tuh nggak ada Nad, kecuali nabi. Ansel aja kadang kelakuannya kayak cacing kremi." tambahnya lagi.
Nadine menahan tawanya kali ini, namun gagal.
"Iya kan?" ujar Intan sambil tertawa.
__ADS_1
"Kadang malu-maluin banget tingkahnya. Tapi ya, itulah letak kekurangan dia. Kelebihan dia ada banyak di lain sisi."
Intan mereguk minumannya diikuti oleh Nadine. Terasa kopi tersebut sudah lumayan dingin akibat banyaknya hal yang mereka bicarakan.
"Kalau kita ngaca diri juga, kekurangan kita sebagai manusia itu banyak. Kalau hanya sibuk mencari-cari kesalahan pasangan kita, nggak akan ada habisnya."
Lagi-lagi Intan menghisap pod Vape. Kali ini asap yang ia hembuskan lebih banyak dari yang tadi.
"Ntar nih lo misalkan udah dapat cowok yang romantis. Sesuai dengan apa yang lo inginkan. Pasti ada aja kekurangannya. Entahlah jempol kakinya busuk, atau lobang hidungnya kegedean. Atau dia suka marah nggak jelas, suka makan batu bata rumah tetangga dan lain-lain."
Nadine kembali tertawa, diikuti tawa Intan.
"Intinya setiap orang itu akan ada aja plus-minusnya. Dan lo harus menerima kekurangan dana kelebihan itu." Lagi-lagi Intan berujar.
"Gue nggak maksa lo balikan sama Nino. Kalau lo mau cari yang romantis, yang sesuai kriteria lo silahkan. Malah harusnya ya gitu, cari pasangan yang sesuai kebutuhan kita."lanjutnya lagi..
"Tapi ingat, kalau ada kekurangan dibalik itu ya terima. Tapi nggak berlaku untuk kekurangan suka selingkuh ya. Itu bukan kekurangan, itu hobi, tabiat. Selingkuh, narkoba, judi itu tabiat. Sama satu lagi, yang punya penyimpangan seksual. Dalam agama sendiri, penyimpangan seksual itu nggak boleh kan. Kayak menggauli istri harusnya di bolongan yang mana, dia pake bolongan yang mana."
Nadine menahan senyuman kali ini.
"Nah kalau udah perkaranya itu, nggak usah terima lagi kekurangannya. Langsung aja tinggalin." ucap Intan.
"Sama yang males cari duit juga." Nadine bersuara lagi setelah tadi ia lebih banyak diam.
"Nah, itu juga satu. Hindari cowok-cowok mokondo. Yang malas cari duit, maunya di empanin doang sambil rebahan. Kalau kekurangannya itu, nggak usah di terima juga. Nyusahin say." tukas Intan.
Kedua perempuan itu kemudian tertawa-tawa. Mereka lanjut berbincang dan menghabiskan minuman. Intan lega sebab pada akhirnya ia tau mengapa Nadine berselingkuh dari Nino. Meskipun itu merupakan sebuah alasan yang cukup receh bila benar-benar di renungkan.
Nadine yang masih muda dan masih terkontaminasi gaya pacaran ala ABG. Yang apa-apa mesti romantis, chat, perhatian dan lain sebagainya.
Bertemu Nino yang sudah lelah menggombal pada wanita dan menginginkan hubungan dewasa yang serius. Maka begitulah jadinya. Intinya mereka hanya kurang berkomunikasi dan diskusi.
__ADS_1