
Elina terus berpikir apa yang terjadi malam itu. Di saat Arka membawanya ke hotel.
Fakta dan bukti di lapangan mengatakan jika Arka sama sekali tak melakukan perbuatan tak senonoh terhadap dirinya. Tetapi entah mengapa Elina justru malah berharap demikian.
"Ah, perasaan macam apa ini?"
Elina berusaha menepis itu semua, namun gagal. Alam bawah sadarnya benar-benar telah menginginkan untuk bisa berskandal dengan Arka.
Siapa yang bisa menolak pemuda itu. Ia tampan, kini mapan, dan perlahan menjadi artis yang terdepan.
Tubuhnya yang menggoda membuat siapapun kaum hawa akan menjerit-jerit minta di jamah.
Sayang dulu ia terjerat dan terjebak dalam cinta Maureen. Elina sendiri saat itu masih berkonsentrasi untuk kemajuan karirnya, di bidang entertainment.
Sehingga ia menganggap jika mengejar cinta akan menghambat segala upayanya.
Maka ia membiarkan Arka begitu saja dalam ikatan Maureen yang sangat erat. Dan secara mengejutkan tiba-tiba publik heboh dengan Arka yang tiba-tiba sudah mempunyai anak.
Lalu di susul lagi dengan konferensi pers, yang menyatakan jika dirinya sudah menikah dengan seorang wanita bernama Amanda.
Saat itu Elina betul-betul terkejut. Ia syok sekaligus kecewa di waktu yang nyaris bersamaan. Mengapa ia melewatkan Arka begitu saja saat masih bersama Maureen.
Ia lebih cantik dari Maureen dan harusnya saat itu ia bisa mengambil hati Arka, sebelum akhirnya Arka berlabuh kepada Amanda.
Namun nasi telah menjadi bubur. Tak ada yang bisa dikembalikan ke belakang, terlebih waktu.
***
"Dert."
"Dert."
"Dert."
Handphone Gareth berbunyi, di saat pria itu baru kembali dari toilet.
"Dert."
"Dert."
"Dert."
Buru-buru ia mengangkat panggilan tersebut, dan ternyata dari Amanda.
"Hallo?"
"Hai, Gar."
"Iya Amanda, Kenapa?" tanya Gareth.
Amanda lalu menyampaikan beberapa pertanyaan, mengenai kerjasama yang telah mereka jalin sebelumnya.
Dengan jelas Gareth pun kemudian menjawab pertanyaan wanita itu satu persatu. Hingga kemudian akhirnya Amanda mengerti.
"Ya udah, Gar. Thanks ya, akhirnya aku ngerti." ujar Amanda.
"Sama-sama." jawab Gareth.
Amanda lalu berpamitan dan menutup telpon. Gareth senyum-senyum sendiri di tempatnya.
"Udah dapat calon istri?"
__ADS_1
Seseorang masuk ke ruangan pria itu.
"Om Hans?" Gareth kaget.
Hans adalah adik mendiang ayah Gareth yang telah membesarkan Gareth selama ini. Ia menetap di luar negri dan tak memberitahu jika akan kemari.
"Surprise." ujar Hans lalu membuka kedua tangannya. Gareth langsung memeluk pamannya itu dengan erat.
"I Miss you." ujar Gareth.
Hans tersenyum dan menepuk bahu sang keponakan kesayangan.
"Mana calon istrimu?" tanya Hans lagi.
"Belum ada, om." jawab Gareth sambil tertawa kecil.
"Bohong kamu. Tadi om lihat kamu senyum-senyum sendiri saat telponan."
"Itu teman om, dan kami membicarakan bisnis lalu sedikit hal lucu." ujar Gareth.
"Ah masa?" Goda Hans sambil tersenyum.
"Bener, om." Gareth berusaha meyakinkan.
"Oh, oke." Hans mengakhiri rasa penasarannya, karena itu ranah pribadi Gareth.
"Oh ya, om mau kita ngobrol disini atau di kafe bawah." tanya Gareth.
"Disini boleh, yang penting ada kopi." jawab Hans.
"Oke."
Maka Gareth pun memesankan kopi untuk sang paman, kemudian mereka terlibat sebuah perbincangan.
***
Salah satu teman artis yang tak cukup terkenal, bertanya pada Elina dengan penuh keterkejutan.
Saat ini dirinya telah tiba di apartemen Elina, sebab mereka janjian untuk bertemu.
Elina menceritakan jika ia ada sempat pergi dengan Arka dan berakhir di hotel.
"Iya, tau-tau pas lagi gue udah di kamar hotel." ujar Elina.
"Bareng dia?" tanya temannya lagi.
"Mmm, nggak sih. Si Arka-nya udah pulang pas gue sadar itu." jawab Elina.
"Tapi kan kita nggak tau apa yang udah dia perbuat ke gue selama gue tertidur. Orang gue bener-bener mabok dan nggak sadar koq." ucap wanita itu lagi.
"Wah, kalau emang kejadian parah nih si Arka. Lo juga parah, sama laki orang beb." ujar temanya sambil tertawa.
"Ya gimana, gue juga masih ada rasa sama dia." Elina berkata jujur.
"Lo masih punya rasa sama Arka?" Temannya kaget untuk yang kedua kali. Lalu Elina mengangguk secara pasti.
"Iya." jawabnya kemudian.
"Wah gila sih lo." ujar temannya lagi. Kali ini tak dibarengi senyum atau tawa, lebih kepada perasaan miris.
"Ya mau gimana, namanya juga cinta. Akan sulit lo menebak dia akan kemana."
__ADS_1
"Iya sih, tapi nggak gitu juga."
Elina nyengir.
"Pokoknya Arka, gue tunggu dudanya." lanjut perempuan itu.
Sementara sang teman hanya mengelus dada sambil menggeleng-gelengkan kepala.
***
"So, kapan om bisa mendampingi kamu untuk meminang calon istri.
Hans kembali menggoda Gareth, ketika telah beberapa saat berlalu dan obrolan mereka telah panjang lebar.
"Kenapa dikembalikan ke situ lagi?" tanya Gareth heran.
"Ya, karena itu pertanyaan yang bagus dan terus terngiang di benak om." ucap Hans lalu tertawa.
Gareth pun ikut-ikutan tertawa.
"Maybe tomorrow." jawab Gareth.
"Tapi nggak tau tomorrow yang mana dan kapan." lanjutnya lagi.
"Kamu sama Hana sama aja."
Hans menyinggung soal anak perempuannya, yakni sepupu Gareth yang saat ini juga menetap di luar negri bersama suaminya.
"Om tanya kapan mau kasih om cucu. Dia bilang maybe tomorrow."
"Harusnya om jangan bilang gitu. Nanti Hana stress loh. Biarin aja mengalir, biar dia hamil secara alami."
"Iya sih, teman om juga bilang gitu. Om sudah berhenti merongrong Hana, dan sekarang om merongrong kamu." ujarnya.
Lagi-lagi keduanya tertawa.
"Masih sulit, om." ujar Gareth.
"Loh, kenapa masih sulit?. Bukankah yang tadi bikin kamu jadi tersenyum."
Hans masih menyinggung soal Amanda yang tadi mengobrol dengan sang keponakan di telpon.
"Dia istri orang, om." jawab Gareth.
"Tapi kamu suka kan?" Hans terus mengajukan pertanyaan.
Gareth mendadak diam.
"Nggak." jawabnya kemudian.
"Nggak-nya kamu itu nadanya janggal." ucap Hans.
Gareth lalu tertawa untuk yang kesekian kalinya. Namun ia sambil menunduk kali ini, seolah menyembunyikan sesuatu.
"Iya kan?" Hans menatap sang keponakan, sementara yang ditatap kini mengangguk perlahan.
"Kalau kamu mau, itu perkara gampang. Siapa dia, tinggal dimana, apa pekerjaan suaminya?" tanya Hans lagi.
Gareth menarik nafas panjang. Sejatinya ia enggan menceritakan semua ini. Namun Hans adalah ayah baginya dan tempat dimana ia mencurahkan segala isi hati dan perasaan.
Maka Gareth pun akhirnya mau berkata yang sejujur-jujurnya. Bahwa ia sudah jatuh cinta pada Amanda sejak lama.
__ADS_1
Namun karena ambisinya yang ingin mencapai puncak tertinggi. Ia menunda mengungkapkan perasaan pada wanita itu.
Hingga kemudian tiba-tiba ia bertemu lagi dengan Amanda, saat Amanda telah mengandung.