Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Obsesi


__ADS_3

Meski telah di larang oleh orang terdekatnya. Namun Elina kali ini telah memantapkan hati. Bahwa ia akan tetap berada di jalur yang setia mencintai Arka.


Ia tak peduli pada status Arka yang sudah merupakan suami orang dan juga bapak dari dua anak. Yang ia ketahui adalah, dirinya sangat menggilai pria itu.


"Ri, kalian masih di lokasi syuting nggak?"


Elina bertanya pada Rio melalui pesan singkat di WhatsApp. Setelah tadi pesan yang ia kirim kepada Arka belum juga dibaca, apalagi mendapat balasan.


"Masih, kenap El?" tanya Rio pada perempuan itu.


"Arka mana?" tanya nya kemudian.


"Oh, lagi take adegan." ucap Rio.


"Kirain kemana. Soalnya dia gue chat nggak bales." ujar Elina lagi.


"Nggak, ada koq dia." ucap Rio.


"Syukur deh kalau gitu."


Rio mengerutkan kening. Sepertinya Elina menaruh rasa khawatir berlebihan terhadap sahabatnya itu. Bahkan tampak seperti Amanda yang tengah mengkhawatirkan Arka.


"Kenapa emangnya?"


Rio lagi-lagi bertanya dan Elina tak membalas. Rio pun lanjut membaca script, sedang kini Elina bergegas menuju ke lokasi syuting.


***


Sama halnya dengan Elina. Gareth pun kini semakin memantapkan diri untuk tenggelam dalam obsesinya terhadap Amanda.


Berbekal dukungan dari sang paman, Gareth kini makin percaya diri bahwa ia bisa merebut pujaan hatinya tersebut.


"Amanda lagi dimana?" tanya nya kemudian. Ia juga sama menggunakan WhatsApp untuk tujuannya tersebut.


"Di rumah sakit." balas Amanda.


"Degh."


Batin Gareth berdetak. Ia ingat pada laki-laki yang memeluk Amanda di rumah sakit tempo hari. Ia kini mulai berpikir apakah benar Amanda telah berselingkuh dengan pria itu dan saat ini pria itu tengah sakit.


"Siapa yang sakit?" tanya Gareth penasaran.


"Papa ku." jawab Amanda.


"Degh."


"Kalau yang di sambangi adalah orang tua Amanda. Berarti selingkuhan Amanda telah di kenalkan dengan keluarga dari wanita itu."


Isi pikiran Gareth kian menjadi-jadi.


"Kamu disana sama siapa?" tanya Gareth lagi.


"Kakakku, Nino."


Gareth terdiam, kemudian ia tertawa. Bagaimana mungkin otaknya menduga jika Amanda telah berselingkuh. Tapi itu artinya, Amanda memang setia pada Arka.


Kembali batin Gareth pun terasa tidak enak. Sebab ternyata wanita yang ia cintai itu bukan tipikal perempuan yang suka menyeleweng.

__ADS_1


Itu artinya ia akan sangat sulit mendapatkan Amanda. Akan lebih mudah jika Nino adalah benar selingkuhannya.


"Kenapa, Gar?" Amanda balik bertanya.


"Ah nggak apa-apa koq. Aku tadinya cuma mau ajak kamu makan siang bareng." tukas Gareth.


"Nggak bisa hari ini, kapan-kapan aja ya." Amanda kembali membalas.


"Oh ya udah, oke deh." ucap Gareth.


Ia tak begitu kecewa, sebab artinya ia telah mendapat lampu hijau. Meski tak bisa diwujudkan hari ini.


Gareth menyudahi percakapannya dengan perempuan itu, sambil senyum-senyum sendiri.


***


Elina tiba di lokasi syuting dengan membawa banyak makanan. Ia langsung meminta izin sutradara untuk menemui Arka dan ia pun diizinkan.


"Hai, Ka." ujarnya mengagetkan pria itu.


"Hai, El. Lo ada take adegan lagi?" Arka menebak-nebak.


Sebab sangat tumben Elina kembali lagi ke lokasi syuting. Setelah beberapa hari ini ia tak terlihat. Lagipula ia mengatakan tempo hari, jika dirinya hanyalah cameo di dalam projek tersebut.


"Nggak, gue emang sengaja mampir aja buat ngeliat kalian syuting. Siapa tau ada adegan yang perlu bantuan gue." Elina beralasan.


Arka tertawa lalu memberikan kursi untuk perempuan itu. Biar bagaimanapun mereka berteman akrab dulunya. Sehingga Arka tak canggung di datangi meski itu secara mendadak.


"Rio mana?" tanya Elina pada Arka.


"Lagi take di belakang sana." jawab pemuda itu.


"Wah, makasih banyak loh." ujar Arka.


"Sama-sama."


Tiba-tiba Arka mengambil handphone, lalu menghubungi Amanda.


"Hallo, Man."


"Ka, kenapa sayang?" tanya Amanda di seberang.


Elina memang tak bisa mendengar suara Amanda, namun ia tau jika saat ini Arka tengah menelpon istrinya tersebut.


Elina jadi terganggu hati dan perasaannya. Sementara Arka menganggap itu adalah hal biasa. Baginya Elina adalah teman dan saat ini ia tengah ingin menelpon sang istri.


Tak ada salahnya menelpon pasangan di dekat seorang teman. Setidaknya itulah yang Arka pikirkan.


"Kamu di rumah sakit?" Arka menebak dimana Amanda kini berada.


"Iya, Ka. Tapi aku ngantor koq. Ini lagi jam makan siang aja, makanya aku kesini." tukas Amanda.


"Papa gimana keadaannya?"


"Baik, itu lagi di temenin makan sama Nino. Aku lagi di kantin ini, udah gemetar banget pengen makan."


"Oh, oke deh. Makan yang banyak ya." ucap Arka.

__ADS_1


"Kamu udah break?" Amanda kini bertanya.


"Iya, ini lagi mau makan juga."


"Ya udah makan dulu gih!" ucap Amanda.


"Oke, aku makan koq abis ini. Cuma nggak tenang aja kalau belum dengar suara kamu."


"Degh."


Batin Elina bergemuruh. Ada rasa sakit dan tak rela ketika ia mendengar Arka berkata demikian.


"Sama sih, aku juga gitu." jawab Amanda.


"Tapi kamu nggak Perez kan, Ka?" tanya nya sambil tertawa.


"Ya nggak dong, ngapain perez tapi niat. Sampe nelpon segala, ngabisin pulsa."


"Hehehe."


Amanda terkekeh, sementara Arka pun sama tertawa. Elina mendadak iri dengan kemesraan pasangan itu.


"Ya udah, makan sana!" perintah Arka.


"Iya sayang, kamu juga jangan lupa makan." tukas Amanda.


"Iya, ini mau makan koq. Salam sama papa ya."


"Iya."


"Bye Amanda."


"Bye papapa."


Arka tertawa, lalu menyudahi telpon tersebut. Tak lama Rio datang, lalu nimbrung diantara dirinya dan juga Elina. Arka menawari Rio makanan yang dibawa oleh Elina. Tentu saja Rio tak melewatkan sedikitpun.


Tanpa rasa bersalah ia dan Arka makan dihadapan orang yang membawa. Tanpa Arka tau perasaan Elina yang kini remuk redam.


***


"Pa, Nino udah dapat izin untuk bawa anak-anak kesini."


Nino berujar ketika sore hari ia kembali tiba bersama Amanda. Tentu Amman sangat gembira mendengar hal tersebut. Bahkan pria tua itu nyaris menitikkan air mata saking senangnya.


"Ya sudah, besok bawa mereka semua kesini. Papa sudah nggak sabar mau ketemu mereka." ucap Amman antusias.


Amanda dan Nino tersenyum.


"Iya, besok kita bawa mereka kesini." tukas Amanda pada ayahnya itu.


"Anaknya Rani juga jangan lupa."


"Iya, pa. Besok semuanya akan datang koq, tenang aja." ujar Amanda lagi.


"Makasih ya, sudah mengusahakan ini untuk papa."


"Iya pa." jawab Nino.

__ADS_1


Amman lalu tersenyum, begitupula dengan kedua anaknya tersebut.


__ADS_2