
"Nanti disini jangan nakal ya, ngerti?"
Amanda dan Ryan meletakkan si kembar ke atas karpet bulu, yang ada di ruang tamu. Tentu saja Ryan sangat antusias dan bersemangat pagi ini. Sebab kedua cucu yang ia nantikan tersebut akhirnya datang.
"Daddy yakin nggak kerepotan ngurus mereka sendirian?" tanya Amanda pada ayah mertuanya tersebut.
"Nanti ada Pamela kesini." jawab Ryan.
"Oh, dia udah pulang." seloroh Amanda sambil tertawa.
Ryan pun balas tertawa.
"Iya." jawabnya kemudian.
"Nanti malam Ansel juga menginap disini sama Nino. Jadi ada lagi yang akan bantu daddy mengurus mereka." ujar Ryan lagi.
"Oh ya udah, kalau gitu Amanda pamit ya dad. Soalnya bentar lagi masuk. Nggak enak sama karyawan lain kalau Amanda telat terus."
"Iya, sana berangkat!. Sebagai atasan kamu harus mencontohkan yang baik. Gimana bawahan nggak pada telat, kalau pimpinannya ngaret terus."
Amanda tertawa, Ryan pun demikian. Tak lama Amanda beranjak dan berpamitan pada sang mertua.
"Kalau ada apa-apa, hubungin Amanda ya dad."
"Iya beres." jawab Ryan.
"Oh ya, ASI mereka?" tanya nya kemudian.
"Itu di dalam cooler bag, dad. Kalau nggak Amanda pindahin dulu deh ke freezer."
"Nggak usah, biar daddy aja." ujar Ryan.
"Nggak apa-apa, dad?" tanya Amanda.
"It's ok." jawab pria itu.
"Makasih ya dad."
"Sama-sama."
Amanda lalu masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mesin. Tak lama kemudian ia pun tancap gas meninggalkan tempat itu.
***
Sebelum Amanda tiba di kediaman Ryan. Rianti mematut diri di depan kaca dan mengamati tampilannya disana.
"Bu, ini bagus nggak sih?"
Ia keluar dan bertanya pada ibu Arka yang tengah sibuk di dapur.
"Bagus koq." jawab ibu Arka seraya memperhatikan sang keponakan.
"Nggak keliatan norak kan bu?"
"Nggak, bagus kalau ibu liat."
__ADS_1
"Rianti deg-degan bu, ini hari pertama kerja soalnya." tukas gadis itu lagi. Ibu Arka pun tertawa.
Beberapa hari lalu Amanda ada menawarinya untuk bekerja. Awalnya Rianti ragu, namun Amanda meyakinkan gadis itu. Bahwa tak ada salahnya mulai mencari pengalaman kerja, sedari kita masih kuliah. Supaya saat lulus nanti, kita sudah memiliki pengalaman yang cukup.
"Kamu harus tenang, sebab kalau tidak tenang nanti pekerjaan kamu jadi berantakan. Santai saja, anggap kalau kamu sudah terbiasa dengan semua itu." ucap ibu Arka.
"Gimana caranya bu, supaya Rianti tenang?"
"Caranya stop berpikir yang macam-macam."
Gadis itu diam, dan mencoba meresapi ucapan ibu Arka.
"Oke deh bu." jawabnya kemudian.
"Ya sudah, bereskan dulu sana apa yang mau dibawa. Abis itu kita sarapan."
"Oke bu."
Rianti pun kembali ke kamarnya dan lanjut berdandan, serta membereskan barang-barang yang hendak ia bawa nanti.
Selang beberapa saat mereka semua berkumpul di meja makan. Ibu dan ayah tiri Arka menyampaikan pesan-pesan terhadap Rianti.
Ibu Arka mengatakan jika Rianti tak boleh bersikap seenaknya di kantor, meski ia merupakan adik ipar dari bos yang memimpin di kantor tersebut.
"Jangan bikin malu mbak Amanda mu. ucap ibu Arka pada Rianti.
"Bekerjalah seolah kamu nggak kenal sama siapapun di kantor itu. Jadi kamu akan melakukan tugas kamu dengan baik." lanjutnya kemudian.
Rianti pun paham dan berjanji akan bekerja sebaik mungkin serta profesional. Usai sarapan ia segera pamit, ia berangkat dengan menggunakan jasa ojek online.
***
Amanda terjebak sebuah kemacetan yang cukup parah, usai mengantar kedua anaknya untuk menginap di tempat Ryan.
"Waduh, ini sih nggak jalan ya pak."
Amanda berkata setelah beberapa waktu stuck dan hanya bergeser beberapa meter setelah menunggu sekian lama.
"Nggak tau nih bu, apa ada kecelakaan ya di depan sana." ucap pak Darwis yang saat ini tengah mengemudikan mobil.
Amanda kemudian mencari info dan ternyata di depan sana ada perbaikan jalan.
"Ada-ada aja deh. Kenapa nggak malem aja sih kalau benerin jalan. Kayak gini kan mengganggu orang yang lalu-lalang." Perempuan itu menggerutu.
"Emang benerin jalan, bu?" tanya pak Darwis.
"Info yang saya baca sih begitu pak." ujar Amanda lagi.
Mereka terus menunggu, tak lama mobil pun terus bergeser. Posisi mobil mereka berada di dekat sekat pembatas dengan jalur lain. Sambil menunggu, Amanda melihat ke sisi kanan jalan. Tepat pada mobil-mobil yang juga terjebak kemacetan di jalur yang berlawanan arah.
Amanda memperhatikan mobil-mobil itu, hingga kemudian matanya tertuju pada sebuah mobil mewah, dengan orang yang ia kenal di dalamnya.
"Vera?"
Lagi-lagi ia melihat Vera dengan pria yang sama, dengan apa yang waktu itu ia dan Arka lihat di kebun binatang.
__ADS_1
"Degh."
Batin Amanda bergemuruh. Sejatinya Vera memang berhak bahagia. Sebab Amman sudah lanjut usia dan tak tau kapan bisa keluar dari penjara.
Tapi, apakah Vera sudah membicarakan hal tersebut dengan Amman?. Ia masih berstatus istri Amman saat ini, dan rasanya tak pantas seorang istri yang suaminya tengah menjalani hukuman berjalan dengan pria lain.
Harusnya kalau memang sudah tak sanggup lagi mendampingi Amman, ia bicarakan hal tersebut terlebih dahulu kepada yang bersangkutan. Bukan malah melakukan perbuatan seperti ini.
Ia akan mengecewakan Amman jika tak jujur pada perasaannya sendiri. Ia tak boleh memberi harapan pada dua hati dan harusnya ia memilih.
***
Sementara di jalan lain.
"Duh macet banget ya pak."
Rianti berujar pada driver ojek online yang ditumpanginya. Ia juga sama terjebak seperti Amanda. Bahkan lebih parah, sebab motor pun stuck dibuatnya.
"Iya nih mbak, ada apa ya di depan sana. Nggak biasa-biasanya jalan ini semacet ini." ucap driver tersebut.
"Bener pak, biasanya macet paling bentar." ujar Rianti.
"Ini lama banget loh." lanjutnya lagi.
Kemudian mereka sama-sama diam, sebab para pengemudi mulai kembali bergerak. Mereka membuat kemajuan meski itu sangatlah sedikit.
"Kecelakaan atau pembangunan jalan ya." ujar Rianti lagi.
"Nggak tau saya mbak. Belum cek info lalu lintas pagi ini." jawab driver itu.
Mereka kembali berjalan namun tiba-tiba,
"Braaak."
Spakbor motor ojol yang ditumpangi Rianti ditabrak oleh pengemudi mobil yang ada di belakang mereka.
Seketika Driver ojol dan Rianti pun menoleh dengan kesal. Namun belum sempat mereka berkata apa-apa, si driver mobil mewah itu sudah menongolkan kepala dan berkata dengan nada ngegas.
"Maju makanya, bodoh!"
Rianti dan driver ojol tersebut emosi. Rianti kemurian turun dan menggebrak mobil pria itu.
"Braaak."
"Turun lo kalau berani, bangsat. Nggak usah gaya-gayaan mentang-mentang lo kaya." tukas gadis itu dengan lantang.
"Heh, kalian yang menghalangi jalan saya." ucap si pria bermobil tersebut tak kalah marah.
"Tiiiiin."
"Tiiiiin."
Mobil dan motor-motor yang ada di belakang membunyikan klakson, karena kemacetan agaknya sudah mereda.
"Mbak, mbak udah mbak. Ayo buruan!"
__ADS_1
Driver ojol memanggil Rianti, dan gadis itu pun kembali naik ke atas motor dengan penuh kekesalan.