
"Bro."
Arka dan Nino akhirnya kini bisa bertatap muka langsung dengan Ansel. Terlihat jelas wajah pria bule itu yang lesu dan seperti banyak beban.
"Lo kenapa sih?"
Nino langsung melontarkan pertanyaan sambil menarik kursi dan duduk dihadapan saudaranya tersebut.
"Gue ragu sama pernikahan ini, pengen gue batalin aja. Gue akan bicara sama Intan." jawab Ansel kemudian.
Arka dan Nino kaget, keduanya saling bersitatap satu sama lain.
"Ya nggak bisa gitu, Bambang. Lo nggak kasihan sama Intan?"
Nino agak marah namun masih menahan semua itu, sementara Arka tak habis pikir.
"Ya gue akan jelaskan sama Intan." ujar Ansel lagi.
"Oke gini, taroklah Intan ngerti dan menerima. Terus keluarganya gimana?. Lo akan mempermalukan keluarga Intan nantinya dan nggak enak juga sama daddy. Daddy pasti di cap sebagai ayah yang nggak becus mendidik anak." ucap Nino.
"Ya kan yang mau menikah itu gue sama Intan. Yang berhak membuat keputusan mengenai hal tersebut, ya kami berdua." lagi-lagi Ansel berujar.
Nino menarik nafas panjang karena ia sangat kesal.
"Sel, ini bukan negara barat. Bukan negara Amerika atau Eropa. Di luar sana yang menikah dua orang, yang membuat keputusan juga dua orang. Kalaupun batal nggak masalah, nggak ada tetangga yang ikut campur." ujar pria itu panjang lebar.
"Disini lo nggak bisa bersikap kayak gitu. Di negara ini ada budaya dan kebiasaan. Lo akan membuat keluarga Intan jadi omongan dan gunjingan kalau pernikahan anak perempuan mereka dibatalkan." lanjutnya lagi.
"Apa yang dibilang Nino itu bener, Sel. Lo akan mencoreng nama baik keluarganya Intan. Mereka akan jadi bahan ejekan tetangga dan diomongin seumur hidup."-
Arka yang sejak tadi diam, kini ikut bersuara.
"Ada beberapa budaya barat yang gue sukai. Tapi nggak semuanya juga bisa kita terapkan disini. Ada nilai-nilai luhur yang harus kita jaga." imbuhnya lagi.
__ADS_1
Ansel diam dan menjatuhkan pandangan jauh ke depan. Ia benar-benar dilanda keraguan yang besar saat ini.
“Gue takut rumah tangga itu nanti malah mengekang dan mengubah gue menjadi orang lain. Seperti kebanyakan rumah tangga lainnya.” ujar Ansel.
“Gue nggak.” tukas Arka.
“Kuncinya itu ya komunikasi. Lo berdua sama Intan itu ngobrol. Omongin apa maunya lo dan apa maunya dia, cari titik temu. Bukan cari bagaimana caranya keinginan lo dipenuhi terus.” lanjutnya lagi.
Ansel makin diam.
“Gue takut.” ujarnya kemudian.
“Coba lo ajak Intan ketemu dan bicarakan hal ini. Sebelum nikah itu emang segala sesuatu harus dibicarakan biar jelas." ujar Nino.
"Omongin apa yang jadi uneg-uneg lo, keinginan lo. Tapi ingat, lo juga harus mendengarkan isi hati dan keinginan dia juga. Menikah itu bukan tentang lo sendiri, tapi berdua.” lanjutnya kemudian.
Ansel lagi-lagi menghela nafas panjang, dan kali ini ia hanya bisa menganggukkan kepala.
“Ya udah, gue pesan kopi dulu deh.”
“Lo apa, Ka?” tanya Nino pada Arka.
“Gue Americano pake es.” jawab Arka.
“Lo, Bambang?” Nino bertanya pada Ansel.
“Gue pengen cappucino.” jawab Ansel.
Maka Nino pun mengklik pesanan dua saudaranya itu, lalu mengklik pula apa yang ia inginkan. Tak lama kopi-kopi tersebut pun ia order.
“Udah, nggak usah mikir macam-macam lagi.” ujar Nino.
“Iya, santai dulu dikit.” Arka menimpali.
__ADS_1
Dan lagi-lagi Ansel hanya mengangguk.
***
“Jadi si Ansel lagi diserang keraguan?”
Amanda bertanya pada Arka ketika Arka akhirnya pulang dan menceritakan kondisi saudara bulenya tersebut.
“Iya.” jawab Arka.
“Gara-gara dia ada cerita ke temannya yang di Jerman, dan temannya itu mengingatkan Ansel soal pernikahan. Makanya si Kurnianto jadi labil jiwanya.” lanjut pemuda itu kemudian.
Amanda antara mau tertawa, namun juga sedih mendengar hal tersebut.
“Kadang yang kayak gitu tuh emang sering terjadi karena berbagai alasan sih.” ujarnya memahami.
“Ya aku pribadi silahkan aja kalau dia mau membatalkan. Asal alasannya tepat, kayak misalkan si Intan selingkuh atau hamil anak cowok lain. Ya wajar kalau kayak gitu, lah ini kagak ada alasan apa-apa cuma ragu doang. Kan kasihan si Intan.” Lagi-lagi Arka berujar.
“Emang si Wew minta di sleding kepalanya.” ucap Amanda.
Arka pun sedikit terkekeh.
“Tapi udah clear kan masalahnya?” tanya Amanda lagi.
“Ya, baru reda dikit lah. Masih perlu di tatar lagi tuh anak.” jawab Arka.
Amanda mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.
“Semoga semuanya baik-baik aja.” ujar wanita itu.
“Ya, semoga aja.” Arka menimpali.
Mereka memang berharap yang terbaik untuk Ansel dan Intan saat ini. Sebab pasangan itu hanya tinggal melangkah satu step lagi, kemudian akan sah menjadi suami-istri.
__ADS_1
Jangan sampai semuanya menjadi kacau, hanya karena ego yang sesaat. Sudah pasti orang tua masing-masing akan malu, jika hal tersebut sampai terjadi.
Karena jika hal tersebut sampai tidak bisa dielakkan, Ryan sebagai ayah akan jadi bahan gunjingan. Ia akan di cap sebagai ayah yang tak bisa mendidik puteranya.