Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Dimarahi Ibu


__ADS_3

"Aku dapat tawaran iklan, hari ini mau di casting dulu."


Arka memberitahu Amanda. Meski tengah pisah rumah dan menjalani kehidupan single berjangka, mereka tetaplah sepasang suami istri yang harus saling mengabari. Walau tak se-intens saat mereka belum menjalani semua ini.


"Wah, congrats ya papa. Semangat." ujar Amanda.


"Kamu juga semangat ya, Man."


"Iya, makasih banyak." balas Amanda.


"Ini kamu lagi mau ke kantor?" tanya Arka.


"Iya."


"Kangen nganterin kamu."


"Kangen dianterin kamu."


Keduanya mengirimkan pesan tersebut kepada masing-masing, di waktu yang nyaris bersamaan.


Arka mengungkapkan kerinduannya dalam mengantar Amanda, dan Amanda juga rindu diantar oleh Arka.


"Good, kita udah mulai sering saling merindukan sekarang." ucap Arka.


"Ya, aku rasa itu hal bagus."


Amanda menimpali.


"Semoga apa yang kita jalani sekarang semakin menumbuhkan cinta dan kerinduan di hati kita." ujarnya lagi.


"Aku berharap seperti itu." balas Arka.


"Tadi ada telpon anak-anak, Ka?"


"Udah, tadi pagi. Aku tuh udah pengen banget ke rumah ibu, pengen gendong mereka. Tapi aku tahan dulu, biar bertumpuk dulu kangennya." ujar Arka.


"Apalagi aku yang ibunya, Ka. Kangen banget aku sama mereka. Tapi kayak kata kamu, mending ditumpuk dulu rindunya."


"Iya, biar nggak ada rasa dongkol hati pas lagi ngurus mereka. Nggak baik ngurus anak tapi kita ngedumel di belakang. Ngerasa bosan karena kerjaan itu-itu aja. Padahal jelas-jelas kita yang pengen punya anak." ujar Arka.


"Jangan kayak generasi jaman dulu. Kalau lagi bosan pasti teriak ke anak. Mama ini atau papa ini capek ngurus kalian, capek cari duit buat kalian. Yang pengen hamil sama punya anak kan emak bapaknya, koq ngeluh ketika ngurus dan membiayai. Kayak kita belakangan ini, kita ngeluh mengeluarkan tenaga untuk rumah tangga, untuk anak. Padahal kita yang mau menjalani dari awal." Lanjut pria itu kemudian.


"Iya, Ka. Aku udah semakin menyadari banyak hal saat ini." ucap Amanda.


Mereka terus berbincang cukup lama. Sampai akhirnya Arka pamit karena harus menyetir mobil, dan kebetulan Amanda juga sudah sampai di lobi kantornya.


***


"Azkaaa."


"Afkaaa."


Rianti berteriak pagi itu. Ketika ia kembali dari mengambil cemilan dan mendapati jus di dalam cup miliknya, sudah diminum oleh si kembar.

__ADS_1


Sebagian tumpah karena penutup dari cup jus tersebut bukan seal, melainkan tutup yang bisa di buka.


"Ada apa?"


Ibu Arka yang tengah berada di dapur tergopoh-gopoh menghampiri. Ia mengira telah terjadi hal buruk pada kedua cucunya tersebut.


"Itu bu, liat." ujar Rianti.


"Astaga." Ibu Arka kaget.


Kedua cucunya tampak hijau kecoklatan. Akibat jus alpukat susu coklat milik Rianti, yang mereka minum secara bergantian.


"Eheee."


"Itu jus punya Titi." ujar Rianti sewot.


"Dus." Afka berkata seraya minum, lalu ia menyerahkan cup tersebut pada kembarannya.


Ibu Arka lalu tertawa dan merekam itu semua.


"Bagus sih berbagi." ujarnya kemudian.


"Berbagi sih berbagi." gerutu Rianti.


"Ini Titi harus ngepel lagi gara-gara kalian."


"Eheee."


Mereka terus saja minum. Seketika Rianti dan ibu Arka teringat akan sesuatu.


"Oh iya."


Buru-buru mereka menyingkirkan jus tersebut dan Azka serta Afka jadi melongo. Mereka hendak menangis namun dihibur Rianti dengan kue dadar gulung yang ia ambil di dapur. Kebetulan ibu Arka selalu membuat kue di setiap hari.


"Rianti bersihin mereka dulu deh." ujar Rianti.


"Ya sudah biar nanti ibu saja yang membersihkan lantai." ujar ibu Arka kemudian.


***


"Gar, bisa kita bicara soal kerjasama kita besok."


Amanda mengirim pesan singkat pada Gareth. Setelah ia berdiskusi panjang dengan para petinggi di kantornya. Mengenai kerjasama yang di tawarkan pria itu.


Awalnya sempat terjadi sedikit perdebatan antara yang mendukung dengan beberapa orang yang tak setuju. Namun akhirnya didapatlah kesepakatan, bahwa mereka akan bekerjasama dengan Gareth.


"Kamu tertarik?" tanya Gareth.


"Ya." jawab Amanda.


"Dan semua yang ada disini sudah setuju." lanjutnya lagi.


"Bagaimana kalau besok." ujar Gareth.

__ADS_1


"Oke." jawab Amanda.


Mereka kemudian berbasa-basi sejenak. Gareth sangat senang sekali, akhirnya mereka menjalin kerjasama lebih lanjut.


***


"Kalian ini, cobalah sekali-kali datang."


Ibu Arka menegur dan memarahi anak serta menantunya melalui panggilan zoom.


Arka dan Amanda yang baru saja selesai ngantor tersebut terdiam di kamar masing-masing. Sebab mereka pun telah sampai di rumah.


"Kita tuh sebenarnya udah kangen banget, bu. Tapi Arka bilang tahan dulu. Sampe rasa rindu kami benar-benar besar dan nggak bisa ditahan lagi. Biar nantinya ke depan kami nggak ngedumel lagi dalam hal mengurus anak."


Amanda menjelaskan. Ibu Arka menghela nafas.


"Kalian tuh tega tau nggak. Demi kepentingan pribadi rela mengorbankan anak-anak." ujar ibu Arka lagi.


"Dari pada kami semakin bosan dan ujungnya bercerai, bu."


Arka membuat sang ibu terdiam.


"Lagian ini juga belum sampe seminggu." lanjutnya lagi.


"Ya udah terserah kamu deh, ibu ini hanya mencoba mengingatkan dan menasehati kalian. Jangan sampai cara atau prinsip-prinsip yang kalian pegang itu malah mengorbankan anak-anak." ujar ibu Arka.


***


"Gue makin curiga deh man, sama si Arka."


Nindya lagi-lagi mengemukakan pendapatnya ketika ia kembali terhubung dengan Amanda. Amanda ada bercerita soal dimarahi ibu Arka pada sahabatnya itu.


"Gue yakin banget si Arka udah punya wanita idaman lain. Mungkin saat ini dia ada misi buat menjauhkan lo dari anak-anak lo." ujarnya lagi.


Kata-kata Nindya itu berhasil masuk ke benak dan hati Amanda.


"Kalau anak lo jauh dari lo dia gampang masukin pengaruh perempuan baru. Apalagi kata lo, anak-anak lo itu gampangan banget kalau sama orang."


Amanda kini menjadi takut.


"Jangan buat gue kepikiran lah, Nind. Masa Arka sejahat itu sama gue." ujarnya kemudian.


"Setelah sejauh ini yang kami bangun dan jalani" tukasnya lagi.


"Yang ditemani dari nol selama belasan tahun aja bisa meninggalkan pernikahan demi pelakor. Apalagi lo yang baru seumur jagung, Man. Udah gue bilang curiga itu perlu. Lo harus menyelidiki Arka mulai hari ini. Masa iya suami semangat banget ngasih ide pisah sama istri."


Amanda kian bercampur aduk perasan di hatinya. Kini ia mulai berprasangka buruk pada Arka.


"Ingat, Man. Waspada lebih baik." ujar Nindya.


"Terus gue harus gimana, Nind?. Gue harus apa?"


"Lo harus menyelidiki suami lo. Itu harus." ucap Nindya lagi.

__ADS_1


"Oke, gue akan selidiki Arka mulai hari ini." ucap Amanda pada sahabatnya itu.


__ADS_2