Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Sikap Yang Berlebihan


__ADS_3

Cintara turun untuk makan siang, secara tiba-tiba ia melihat seseorang yang tengah menunggu di sofa loby.


"Itu siapa?" tanya nya kepada resepsionis.


Cintara curiga jika perempuan itu adalah selingkuhan Putra, ayahnya. Sebab belakangan Putra sering bertingkah aneh menurut versi penilaiannya.


"Itu bu, nungguin pak Arka." jawab resepsionis tersebut.


"Nungguin Arka?. Emang dia siapanya Arka?" tanya Cintara heran.


"Katanya teman pak Arka, bu." jawab si resepsionis lagi.


Cintara memperhatikan perempuan itu, kemudian balik menoleh kepada resepsionis.


"Udah bilang ke Arka?" tanya nya kemudian.


"Belum bu. Mbak itu tadi bilang biar nunggu pak Arka turun aja, biar surprise."


"Surprise?. Emang si Arka ulang tahun?" tanya Cintara lagi.


"Waduh, kalau itu saya kurang tau bu." ucap si resepsionis.


Cintara kembali melihat ke arah perempuan itu. Tampak ia tengah bermain handphone.


"Iya kalau Arka-nya turun makan siang, lah kalau dibawain bekal sama bininya?. Mau nunggu sampe jam pulang tuh cewek?" Lagi-lagi ia bertanya dan lagi-lagi si resepsionis memberikan jawaban yang sama.


"Ya, mana saya tau bu." ujarnya.


Cintara menghela nafas lalu mengambil handphone. Ia kini mencoba menghubungi Arka dan telpon tersebut akhirnya tersambung.


"Hallo, Ka."


"Iya, kenapa Cin?" jawab Arka.


"Di lobi ada cewek yang nungguin lo nih." tukasnya kemudian.


"Cewek?. Nungguin gue?. Siapa?"


"Mana gue tau, tapi kata resepsionis itu cewek emang nungguin elo dari tadi."


"Koq resepsionis nggak ngasih tau gue?" tanya Arka.


"Dilarang sama itu cewek, biar surprise katanya."


Arka mengerutkan dahi.


"Surprise?. Emang gue ulang tahun." tukasnya heran.


"Ya mana gue tau. Makanya lo turun dulu, kenal apa nggak lo sama ini cewek. Apa jangan-jangan ini cewek selingkuhan bokap gue, terus disuruh bohong pura-pura nungguin lo gitu?"


"Coba lo fotoin ceweknya." pinta Arka.

__ADS_1


Cintara lalu mengambil foto perempuan itu diam-diam dan mengirimnya pada Arka.


"Elina?" gumam Arka dalam hati.


Ia ingat jika perempuan itu disuruh tinggal oleh sutradara karena ia masih ada scene yang perlu di selesaikan. Tetapi kenapa tiba-tiba ia ada di sini.


"Kenal nggak?. Apa lo kongkalikong dulu sama bokap gue?" tanya Cintara.


"Kenal, dia itu artis. Temen gue syuting juga." jawab Arka.


"Ah masa sih?. Koq gue nggak kenal, kan gue penikmat sinetron juga." ucap Cintara.


"Lo cari aja Elina Febiola di google. Atau lo tanya Robert" ujar Arka seraya beranjak.


Ia hendak turun ke bawah dan menemui Elina. Sekaligus menanyakan apa maksud kedatangannya ke tempat ini.


"Au ah ntar-ntaran aja gue cari infonya. Yang jelas dia bukan selingkuhan bokap gue kan?" Cintara memastikan.


Arka tertawa kali ini.


"Kenapa sih lo, ngomongin itu mulu. Emang terbukti kalau bokap lo begitu?" tanya nya kemudian.


"Belum sih. Tapi kata nyokap akhir-akhir ini bokap tuh sering kayak menyembunyikan sesuatu. Dan kita curiga aja sam tingkahnya dia."


Arka makin tertawa.


"Jangan berprasangka buruk dulu, siapa tau nggak." ucap Arka lagi. Ia kini telah berada di dalam lift.


"Gimana kalau ada?.Lebih baik gue curiga dulu kan. Daripada percaya 100% tau-tau bener."


"Iya deh, gue percaya." ucap Cintara.


Arka menyudahi telpon tersebut, karena kini dirinya sudah berada di muka resepsionis. Cintara langsung menoleh pada Elina. Dan Elina yang semula memakai headphone serta mendengarkan musik tersebut, kini juga menoleh ke arah Arka.


"Arka."


Ia begitu sumringah dan langsung berdiri seraya melepas headphone yang menempel di kedua telinganya. Ia lalu menghampiri Arka, sementara Cintara dan resepsionis kini memperhatikan. Mata Cintara sangat julid terhadap Elina.


"Lo koq ada di sini, El?. Bukannya kata sutradara lo mesti syuting." tanya Arka.


"Iya, tapi gue pengen balik bentar aja. Nggak tau pengen aja ketemu sama lo."


Arka agak terdiam sejenak, sebab sikap Elina sudah agak berlebihan baginya.


"Maksudnya?" tanya Arka memastikan.


"Ya pengen ketemu lo aja, kebetulan gue lagi pulang." jawab Elina lagi.


Arka masih bingung, Cintara terus dengan mata lambe turahnya.


"Ah, udah ah. Makan yuk!"

__ADS_1


Elina secara serta merta menarik lengan Arka. Sementara Arka masih bingung dan juga terpaksa. Cintara sendiri mengekor dibelakang.


"El, lo jangan gandeng gue begini. Ntar orang salah paham." ujar Arka.


"Oh."


Elina seperti menyadari sesuatu. Bukan menyadari jika orang yang ia gandeng telah memiliki seorang istri. Hanya kecewa saja sebab Arka memberikan respon penolakan terhadap sikapnya yang berlebihan.


"Sorry, gue lupa." ujarnya sambil memaksakan sebuah senyuman, namun dengan hati yang berantakan.


Mereka terus berjalan. Elina ada menoleh sejenak karena merasa diikuti. Dan benar saja ia langsung bertemu muka dengan Cintara. Tetapi Cintara malah menatapnya dalam-dalam.


Elina mencoba tak peduli, ia pikir Cintara hanya mengiring hingga tangga lobi. Tapi ternyata perempuan itu masih terus mengekor hingga ke kantin.


Bahkan ketika Arka dan Elina telah mendapatkan makanan lalu duduk di sebuah meja, Cintara duduk persis di samping keduanya.


"Ka, kita pindah aja yuk!" ajak Elina kemudian.


Tampaknya ia sangat tidak nyaman dengan tatapan mata Cintara.


"Mau pindah kemana lagi, orang ini aja udah penuh semua koq." tukas Arka.


Memang keadaan sekitar telah penuh sesak oleh karyawan yang juga hendak mendapatkan makan siang. Maka Elina pun gagal untuk berlaku manis pada Arka. Sebab ia terus menerus diperhat oleh Cintara.


"Itu cewek tadi siapa sih, Ka?"


Cintara bertanya ketika akhirnya jam istirahat usai dan Elina pamit pulang.


"Temen gue, sesama artis juga. Kita lagi ada proyek bareng." jawab Arka.


"Bukan selingkuhan lo kan?" tanya perempuan itu lagi.


Arka tertawa.


"Kalau gue mau selingkuh, ngapain gue bawa kesini. Bokap lo aja kenal sama bini gue. Kan gawat kalau diliat sama bokap lo, terus bokap lo ngomong ke bini gue." tukasnya kemudian.


"Tapi kenapa tuh cewek kayaknya gembira banget kalau di dekat lo?"


Arka agak terdiam, ia ingat sikap Elina yang sejatinya agak berlebihan. Sengaja pulang dari Surabaya hanya untuk bertemu dirinya.


"Ya mungkin gue menyenangkan kali bagi dia, kayak stand up komedi." ucap Arka.


"Ah masa?. Cinta kali dia sama lo."


Cintara menebak-nebak, dan lagi-lagi Arka terdiam. Ia tau dulu Cintara sempat menaruh hati padanya saat ia masih bersama Maureen.


"Hati-hati, Ka. Ntar tumbuh cinta karena biasa loh. Gue bisa ngeliat sikap dia, karena dulu juga gue kayak gitu sama lo. Gue kan dulu tergila-gila sama lo, jadi gue hafal ekspresi mukanya dia." ujar Cintara lagi.


Arka menghela nafas kali ini.


"Gue nggak ada perasaan apa-apa sama dia, Cin. Gue nggak bisa menolak terlalu banyak ajakan dia, karena gue nggak enak."

__ADS_1


"Nah itu, sifat nggak enakan lo itu nantinya bakal jadi Boomerang buat lo sendiri. Makanya lo harus hati-hati." ucap Cintara lagi.


Arka kembali menghela nafas dan mengangguk. Tak lama kemudian mereka pun kembali ke atas.


__ADS_2