Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Food Court


__ADS_3

Amanda dan Arka pergi nonton. Saat ini mereka sedang menunggu pintu teater dibuka. Amanda dan Arka memesan satu popcorn ukuran large serta dua minuman. Arka memesan kopi, dan Amanda sendiri memesan choco milkshake.


Sedang Rio yang menjadi obat nyamuk, kini terlihat membawa popcorn, minuman manis, air mineral serta beberapa cemilan lainnya.


"Diajakin, dibayarin, tapi nggak tau diri."


Arka berkata di dekat Rio sambil tersenyum dan tertawa kecil.


"Gue mah bodo amat Ka, lo mau ngomong apa. Mau nyinyir kayak emak-emak di gang sempit juga, gue nggak peduli."


Rio berkata seraya memakan pop corn.


"Kriuk."


Sementara Amanda kini tertawa-tawa.


"Malah ini gue rencana mau nambah kentang goreng lagi." tukas Rio.


"Bener-bener lu ya." ujar Arka kian tertawa.


"Ya udah sana, nambah Ri. Mumpung belum masuk, masih ada sebentar lagi tuh." ucap Amanda.


Rio menjulurkan lidahnya pada Arka, lalu pergi memesan kentang goreng. Kebetulan kartu kredit Amanda ada padanya. Tadi Amanda memberikan itu untuk membeli makanan.


"Emang babi." ujar Arka masih terus tertawa.


Rio memesan tiga kentang ukuran medium. Karena mustahil Arka dan Amanda tidak mau kalau sudah di sodorkan di dalam sana.


Selang beberapa saat pintu teater akhirnya di buka dan mereka bertiga masuk ke dalam. Mereka lalu duduk sesuai dengan nomor yang tertera di tiket.


Cukup lama mereka disuguhi intro dan iklan, sampai kemudian film tersebut pun di mulai. Awalnya masih biasa saja, namun masuk ke pertengahan Rio mulai merapatkan diri pada Arka. Kebetulan pemuda itu duduk di sisi kanan Arka, sedang Amanda berada di sisi kiri.


"Huaaaaa."


Beberapa adegan mengejutkan, membuat Rio lebih banyak bersembunyi di balik punggung Arka. Bahkan ia lebih lebay dari Amanda yang perempuan.


"Di samping lo." bisik Arka.


Rio ketakutan lalu sewot. Sebab di sampingnya dan beberapa ke sana semua bangkunya kosong. Mereka nonton sampai habis, Rio tampak stress setelah film selesai. Sementara Arka dan Amanda tertawa-tawa melihat keadaan teman mereka itu.


"Lo rusuh banget Ri, diajak nonton film horor. Padahal kalau lagi bikin konten, di kuburan pun lo jabanin perasaan."


"Beda lah, Ka. Kalau lagi buat konten kan ada banyak orang, kamera, lighting. Lah ini ruangannya gelap. Kalau tuh setan duduk di samping gue gimana coba tadi?"


"Ya ajak ngobrol." seloroh Arka santai.


"Ngemeng lo." tukas Rio makin sewot.


"Lagian sama setan lain gue biasa aja. Tapi kalau sama poci, pikiran gue tuh jadi kemana-mana. Takut ntar malem bantal guling gue berubah jadi dia." lanjutnya lagi.

__ADS_1


Arka dan Amanda diam sejenak, lalu mereka berdua memiliki pikiran yang sama.


"Hayolo, ntar pas lo peluk gitu gulingnya langsung ada muka item." ujar Amanda menjahili.


"Iya, ntar dia melayang-layang di kamar lo bro." Arka menimpali.


"Ini suami-istri bener-bener ya. Gue sumpahin lo berdua yang ketemu, liat aja."


Rio kian sewot kemudian berlalu, sementara Arka dan Amanda kini tampak tertawa-tawa.


"Ketakutan tapi makan lanjut sampai habis." ujar Arka.


"Namanya juga Rio." Amanda menimpali.


Mereka lalu berjalan keluar dari bioskop, kemudian terlihat hendak masuk ke sebuah food court setelah beberapa saat berlalu.


"Amanda."


Seseorang menyapa dan menghampiri Amanda. Tepat ketika ia, Arka dan Rio sudah tiba di bibir food court tersebut.


"Hey, Gar."


Amanda balas menyapa Gareth dengan ramah. Gareth menggerakkan kepalanya tanda menyapa Arka dan juga Rio. Kedua pemuda itu pun membalas dengan cara yang sama.


"Kamu dari mana?" tanya Gareth pada Amanda.


"Dari nonton tadi, sama Arka dan Rio." jawab Amanda sambil tersenyum.


"Baru selesai." jawab Amanda lagi.


Gareth menganggukkan kepala sambil menyembunyikan kekecewaan. Padahal tadi ia sudah sumringah sekali bisa bertemu dengan Amanda.


Ia mendekat lantaran mengira Arka dan Rio adalah pelangan food court yang juga sama-sama mengantri. Sebab yang terlihat oleh Gareth tadi hanyalah bagian punggung masing-masing. Ia cukup kaget ternyata Amanda tidak datang sendirian sesuai dugaannya.


"Kamu dimana tadi?" tanya Amanda pada Gareth.


"Di restoran itu, mau gabung?" tanya nya kemudian.


Gareth menunjuk sebuah restoran kelas atas yang mewah dan terkenal mahal.


"Mmm, nggak deh. Aku lagi pengen makan disini." jawab Amanda.


"Yakin kamu mau makan di tempat kayak gini?" ujar Gareth lagi.


"Loh kenapa?. Orang ini tempat makan, bukan kuburan." seloroh Amanda sambil tertawa.


"Oh, ok. Aku nggak bisa gabung disini, karena ada om ku di restoran itu." ucap Gareth.


"Oke, nggak apa-apa koq." jawab Amanda.

__ADS_1


Tak lama Gareth pun berpamitan. Arka, Amanda, dan Rio masuk ke dalam food court dan mencari tempat duduk.


"Aku ke toilet dulu, ya." ujar Amanda setelah mereka mendapatkannya.


"Oke." jawab Arka.


Tak lama kemudian Amanda beranjak, sedang Arka dan Rio telah duduk.


"Lo ngerasa nggak sih, Ka. Si karet gelang itu kayak ngeremehin kita." ujar Rio pada Arka kemudian.


Arka diam sejenak, jujur ia memang merasa sedikit tak dianggap dalam percakapan tadi. Namun ia pikir, dirinya hanya sekedar berprasangka.


"Dia tuh cuma ngajak ngomong Amanda doang tau nggak. Padahal kan sekelas CEO kayak dia harusnya bisa lebih punya attitude terhadap orang lain. Terlebih lo adalah suami sah-nya Amanda dan gue teman kalian" lanjut Rio lagi.


"Diemin aja, mungkin kurang didikan emaknya." ucap Arka seraya menyalakan sebatang rokok.


"Ya gue heran aja, udah umur segitu, sukses pula. Masa iya sikap kayak bocil epep." Rio kembali berujar.


"Inget nggak tadi dia ngomongin soal tempat ini, nada ngomongnya kayak jijik gitu." imbuhnya.


Arka menghela nafas.


"Orang kayak gitu nggak pernah ngerasain makan makanan kayak gini, makanya sok mengunderestimate." ucap Arka.


"Coba aja cekokin sekali, kalau nggak minta mulu ujungnya." Tambah pemuda itu.


"Iya, pokoknya gue kesel aja sama gayanya." tukas Rio.


"Sama." Arka menimpali.


Tak lama kemudian Amanda pun kembali.


"Ka, udah dapat inspirasi mau makan apaan?" tanya Amanda.


"Belum, tapi kayaknya aku pengen coto Makasar." ujar Arka.


"Aku kepengen masakan Manado."


Amanda melihat ke stand masakan Manado yang ada di dalam food court tersebut.


"Tapi halal kan itu, Man?" tanya Rio kemudian.


"Tuh ada tulisannya halal." ujar Amanda menunjuk plank bagian atas stand tersebut.


"Nggak ada ular sama kelelawarnya." lanjut wanita itu sambil tertawa.


"Gue pengen sate kambing aja ah." jawab Rio.


Tak lama mereka pun memesan makanan, dan menunggu sambil mengobrol.

__ADS_1


***


__ADS_2