
"Nad."
Intan memanggil Nadine sekali lagi. Namun perempuan itu tak bergeming. Malah pada detik berikutnya sambungan telpon diantara mereka mendadak berakhir.
"Tuuuuuut."
Intan melihat handphonenya dan mencoba menghubungi Nadine kembali. Namun ternyata tak diangkat.
Nadine masih terpaku di tempat dimana kini ia berdiri. Sambil menatap ke arah Nino dan juga Min Ji yang telah larut dalam obrolan.
"Kamu ternyata bisa asik juga ya." ucap Min Ji pada Nino.
Sementara pria itu hanya menarik sudut bibir dan tersenyum sangat tipis. Sesuai dengan karakternya yang memang cukup dingin, namun memiliki kepedulian.
"Pak Zio."
Tiba-tiba Nadine muncul. Nino tentu saja sangat terkejut sekaligus tak percaya. Namun perempuan itu benar-benar ada di depan matanya.
Sedangkan Min Ji teringat pada Nadine. Sebab gadis itulah yang mempertemukan dirinya dengan Nino tempo hari di supermarket. Karena gadis itu pula lah, Nino menarik Min Ji dan mendaulatnya menjadi pacar dadakan yang dibayar.
"Eee, kalian mau saya tinggalkan sendirian?" tanya Min Ji pada Nino.
Namun pemuda tampan tersebut tak menjawab. Ia terus saja bersitatap dengan Nadine dalam diam. Tak lama Min Ji pun beranjak, ia melangkah menjauh dari keduanya.
Jujur ada rasa tak enak yang muncul secara mendadak di dalam hati. Namun Min Ji mengalihkan semua itu dengan mengatakan jika apa yang terjadi diantara Nino dan gadis yang baru datang tersebut, bukanlah urusannya.
Ia tak ada hak melarang mereka untuk bertemu. Sementara Nino kini terpaku di hadapan Nadine.
"Apa kabar pak?" tanya Nadine pada mantan kekasihnya itu.
"Good." jawab Nino seraya mempersilahkan Nadine untuk duduk. Nadine lalu menarik kursi dan duduk di hadapan pria itu.
"Kita nggak sengaja ketemu disini." ucap Nadine berbasa-basi.
Nino mengangguk, namun dengan pandangan mata yang tertuju pada gelas kopi. Tak lama ia pun meminum kopi tersebut.
"Kamu selalu muncul di waktu yang tidak tepat." ucap Nino seraya menatap mata Nadine.
"Maksud bapak, bapak lagi nggak mau ketemu saya?" tanya nya dengan nada gemetar.
"Ya." jawab Nino tegas.
"Kamu liat kan tadi saya sedang sama siapa?" lanjut pria itu.
Air mata Nadine merebak di pelupuk mata. Bahkan kini sudah nyaris terjatuh membasahi pipi. Namun Nino yang menyaksikan semua itu seakan tak peduli.
"Saya..."
Nadine agak terisak.
"Saya cuma mau hubungan kita baik-baik aja, pak." tukasnya kemudian.
__ADS_1
"Kita sudah tidak ada masalah, Nad. Saya nggak dendam sama kamu." Nino kembali menatap gadis itu.
"Yang jadi masalah itu adalah, kamu mau saya kembali sama kamu. Sehingga kamu menganggap kalau masih ada yang perlu diselesaikan, perlu dibuat clear. Padahal tidak ada sama sekali."
Nadine hampir membeku di tempatnya. Tak lama kemudian Nino pun beranjak. Air mata Nadine benar-benar menetes, Nino lalu melangkah meninggalkan kafe. Ia keluar dan melihat Min Ji yang tengah menunggu di dekat halaman parkir.
"Kita pindah ketempat lain nggak masalah kan?" tanya nya pada gadis itu.
Maka Min Ji pun mengangguk, lalu mereka sama-sama masuk ke dalam mobil. Nadine ada sempat menyusul keluar, namun Nino sudah keburu menjauh bahkan keluar dari pekarangan.
***
Esok hari.
"Amanda, kita harus menemui calon investor yang mau bekerja sama dengan kita."
Gareth mengirim pesan singkat pada Amanda.
"Iya, tadi aku udah dikasih tau sama sekretaris aku. Orang kamu ada menghubungi ke kantor." balas Amanda.
"Oke, sekedar mengingatkan saja." tukas Gareth.
"Nanti aku jemput." ujarnya lagi.
"Oke." jawab Amanda kemudian.
Beberapa waktu pun akhirnya berlalu. Setelah merampungkan pekerjaan, Amanda bersiap dan beranjak.
"Pia, nanti kamu handle beberapa hal yang tadi saya perintahkan melalui WhatsApp." ujar wanita itu.
Tak lama Amanda berlalu, ia tampak melewati Rianti dan rekannya di bagian penerimaan.
"Dert."
"Dert."
Handphone Amanda bergetar dan itu adalah panggilan dari Gareth.
"Iya, Gar."
"Aku sudah di depan loby ya."
"Oh oke, oke."
Amanda bergegas. Dari meja resepsionis Rianti bisa melihat, jika Amanda pergi bersama
***
"Pokoknya Ri, nggak ada ngevlog-ngevlog dulu. Kita acaranya makan, oke?"
Arka mewanti-wanti Rio, ketika mereka akhirnya satu frame lagi dalam proses syuting. Saat ini keduanya tengah beristirahat dan berencana untuk makan di luar. Arka mengingatkan sahabatnya itu untuk tidak menjadikan acara makan kali ini sebagai konten.
__ADS_1
"Iya beres, tenang aja." ujar Rio.
Tak lama keduanya pun berangkat. Mereka menuju ke tempat makan yang pernah di kunjungi oleh beberapa YouTuber makan. Di tempat tersebut mereka tentu saja memesan menu andalan yang best seller.
Mereka makan, sambil berbincang satu sama lain. Tak ada masalah apapun yang terjadi. Sampai kemudian mata Rio menatap ke suatu arah. Arka jadi mengikuti arah pandangan mata sahabatnya tersebut.
Tampak istri pak Jeremy tengah berjalan bersama dengan seorang laki-laki, dan keduanya tampak mesra. Menurut desas-desus yang beredar, selingkuhan istri pak Jeremy merupakan pengusaha kaya yang berasal dari kota ini.
"Anjrit, itu istrinya pak Jeremy kan?" ujar Rio masih dengan ekspresi yang terkejut. Arka tak menjawab, sebab ia juga sama kagetnya dengan Rio.
"Bisa-bisanya ya dia." Lagi-lagi Rio berujar.
"Pak Jeremy di rumah sakit, dia leha-leha dong sama selingkuhan." lanjutnya kemudian.
"Sakit nih orang." tukas Arka mengomentari.
"Semoga gue dijauhkan dari bini yang kayak gitu." ucapnya lagi.
"Amit-amit jabang bayi, Ka. Semoga si Firman selalu setia sama lo." tukas Rio.
Mereka terus memperhatikan istri dari petinggi manajemen yang menaungi mereka tersebut. Tampak wanita itu mendekat ke arah tempat pemesanan dan memesan makanan serta minuman.
Kemudian mereka mencari tempat duduk di area yang semi private. Namun dari kejauhan Arka serta Rio masih bisa melihat mereka berdua.
"Cekrek."
Naluri lambe turah Rio menggerakkan tangannya untuk mengambil foto dua orang tersebut. Kemudian ia mengirimkannya pada mbak Arni secara personal, bukan di grup management.
Karena kalau di grup, semuanya akan menjadi heboh dan cepat sekali menyebar kemana-mana.
"Lo ngeliat dimana ini?" tanya mbak Arni pada Rio.
"Saat ini ada di depan mata gue sama Arka, mbak." jawab Rio.
"Dia ada di kota ini." lanjutnya lagi.
"Astaga, serius?" tanya mbak Arni kemudian.
"Serius, mbak." jawab Rio.
"Wah, gawat tuh perempuannya. Padahal pak Jeremy masih sakit loh, gara-gara dia." lanjut mbak Arni.
"Parah emang, ketawa-ketawa tau dia disini." tukas Rio.
"Semoga kena batunya."
Mbak Ani menyumpahi. Lalu mereka lanjut bergosip, sambil Rio dan Arka terus memperhatikan tingkah istri dari pak Jeremy tersebut.
***
PENTING DAN HARUS DIBACA.
__ADS_1
UDAH DIPERINGATKAN DARI EPISODE 87 YA. Jadi kalau ada yang bilang "ARKA KOQ NGGAK BELAJAR DARI EPISODE SEBELUMNYA, KAN PERNAH DI JEBAK SAMA ELINA." EPISODE ITU SUDAH TIDAK ADA, SEMUA ISI SEKUEL KEDUA INI SUDAH DI UBAH/ DI GANTI JALAN CERITANYA. Makanya ada himbauan untuk MEMBACA ULANG DARI EPISODE PERTAMA. BUDAYAKAN MEMBACA PERINGATAN!.