
"Sayang."
Amanda yang sudah melewati hari pertama dan kedua periode menstruasi, kini telah berangsur kembali seperti sediakala.
Ia masuk ke dalam kamar si kembar dan menyapa mereka dengan ramah. Tapi si kembar hanya tersenyum lalu saling menatap satu sama lain.
Sama sekali mereka tak excited seperti biasanya dalam menyambut kedatangan sang ibu.
"Kalian kenapa sih?. Koq gitu sama mama."
Amanda bingung dan baper sendiri. Tak lama Arka ikut masuk dan reaksi si kembar benar-benar berbeda. Mereka sangat antusias dan langsung minta digendong.
"Papaka."
"Papaka."
Mereka mengulurkan tangan dan keduanya langsung disambut oleh Arka. Sementara wajah Amanda berubah sangat sewot.
"Kamu kenapa Man?. Roh kamu di sedot Dementor?"
Arka menyebut salah satu pelahap maut atau penghisap roh di dalam serial Harry Potter. Amanda menekuk bibirnya.
"Mereka nggak excited ketemu aku. Tapi pas ketemu kamu malah minta gendong." ujarnya kemudian.
"Ya kamu sih. Beberapa hari ini marah-marah melulu. Gimana mereka nggak takut coba." ujar Arka.
Amanda ngambek dan berlalu. Tak lama ia terlihat menangis di kursi ruang tengah. Agaknya sisa-sisa hormon PMS masih ada. dalam otak wanita itu. Sehingga ia bertingkah seperti remaja yang berusia belasan tahun.
"Mamanda?"
Azka melihat Amanda dan seperti bertanya pada ayahnya, diikuti tatapan Afka. Kedua anak itu kini masih berada dalam gendongan Arka.
"Iya, mama sedih. Karena kalian cuekin." ujar Arka.
"Eheee."
Si kembar yang tidak mengerti malah tertawa, sementara ibu mereka terus menangis seperti anak kecil. Arka mencoba menahan senyum.
"Ayo sana, bilang mama jangan nangis lagi."
Arka menurunkan kedua anaknya, lalu memberikan beberapa helai tissue pada masing-masing dari mereka."
Si kembar celingak-celinguk, lalu memasukkan tissue itu ke dalam mulut. Arka menghentikan mereka sambil berusaha keras menahan tawa.
"Tissue nya kasih nama, bukan di makan. Mama lagi nangis tuh." ujarnya lagi.
"Mamanda?" tukas Afka dengan nada seperri bertanya.
"Iya, sana!" Arka memerintahkan.
Maka kedua anak itu lalu mendekat ke arah Amanda.
"Mama."
Mereka memperhatikan wajah Amanda dari arah bawah. Sejatinya Amanda sudah sangat ingin tertawa menyaksikan hal tersebut.
__ADS_1
Namun ia masih ngambek dan masih baper dengan keadaan. Sehingga ia terus saja menangis seperti gadis remaja.
Azka dan Afka menoleh pada Arka. Pria itu kemudian mendekat lalu duduk di sisi sang istri.
"Kasih mama tissue-nya nak. Bilang mama jangan nangis lagi." tukasnya kemudian.
"Mama didi-didi."
Azka malah mengeluarkan kata-kata yang membuat Amanda nyaris tertawa.
"Mama cantik, jangan nangis lagi."
Arka kembali membimbing anaknya meski mereka belum akan bisa mengikuti."
"Mantik didi-gugi." ujar Afka menimpali.
Arka tak dapat menahan tawa, sementara Amanda antara ingin menyerah namun masih berada dalam mode merajuk.
Azka kemudian berusaha menyeka air mata Amanda, begitupula dengan Afka. Amanda jadi harus menundukkan sedikit kepalanya, agar anak itu bisa melakukan apa yang ingin mereka lakukan.
"Sayang mama ya." ujar Arka pada keduanya.
"Eheee."
Mereka berdua tertawa. Namun tiba-tiba mereka memasukan tissue yang mereka genggam ke mulut sang ibu.
"Koq dimasukin ke mulut mama?" tanya Arka dan Amanda secara serentak.
"Eheee."
"Ini bukan makanan."
Amanda jadi gemas sendiri. Ia kemudian menggelitik kedua anak itu, karena sudah tidak tahan tidak berinteraksi lebih intens dengan mereka. Keduanya lalu tertawa-tawa.
Tak lama handphone Arka berbunyi, ternyata dari Rio. Maka ia pun mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Bambang. Gue dibawah nih."
"Ya udah lo naik aja ke atas, nggak usah manja." seloroh Arka.
"Ayang beb suka gitu deh." ujar Rio dengan nada yang minta ditelan megalodon.
"Gue gampar lu ya." tukas Arka kemudian, sementara Rio tertawa-tawa.
Ia lalu naik ke atas, sebab mereka ada janji latihan baca script bersama hari ini.
"Halo anak-anak."
Rio dengan ramahnya menyapa si kembar, ketika telah keluar dari lift.
"Wiwi."
Azka dan Afka berseru seraya mendekat. Rio melihat ada sesuatu yang janggal dengan Amanda.
"Lo kenapa Man?. Kayak habis nangis itu?. Abis berantem lo berdua ya?"
__ADS_1
Rio menanyakan hal tersebut bukan karena kepo. Melainkan ia merasa tak enak datang, jika suasananya sedang tidak tepat.
"Nggak, Ri." jawab Amanda sambil tersenyum.
"Lah terus itu mata lo?. Gue bukan apa-apa, nggak enak soalnya. Kalau masih ada yang perlu kalian selesaikan, gue mau pulang dulu." ujar Rio.
"Kagak ege, si Firman lagi baper aja sama anak-anak." jawab Arka.
"Baper kenapa?" tanya Rio heran.
"Mereka cuekin gue, padahal gue udah excited datang ke mereka." jawab Amanda.
"Lah?”
Rio tertawa.
“Ini beneran?” tanya nya lagi.
Ia pikir mungkin Arka dan Amanda hanya mencari-cari alasan saja, agar pertengkaran diantara mereka bisa di tutupi.
“Bener, Ri.” jawab Arka.
“Karena dari kemarin-kemarin itu dia marah-marah mulu sama anak-anak. Sekarang di cuekin malah baper sendiri.” lanjutnya kemudian.
Amanda tertawa, Rio sendiri jadi ikut-ikutan.
“Kayak remaja lo anjir.” ujarnya kemudian.
“Nyesek tau Ri, dicuekin gitu. Gue yang hamil, mual, begah, gue yang setengah mati ngeluarin mereka. Eh udah bisa cuekin gue sekarang. Sedihnya tuh sampe dalem tau nggak.” jawab Amanda.
Rio agak sedikit berpikir.
“Jangan-jangan nyokap gue juga gitu ya, waktu gue cuekin tempo hari.” ujar Rio.
“Kenapa nyokap lo?“ tanya Arka kemudian.
“Pokoknya gue ada berantem deh sama dia beberapa hari yang lalu. Terus dia minta maaf tapi gue cuekin.” jawab Rio.
“Durhaka lo, jadi batu ntar.” seloroh Arka.
“Gue telpon nyokap gue dulu deh.”
Rio agak menjauh dan menelpon ibunya. Namun kemudian ia malah kaget dan menjauhkan handphone.
Tak lama mereka kembali bertengkar. Arka, Amanda dan si kembar kompak memperhatikan.
“Heran gue, padahal gue mau baik. Malah di bentak-bentak. Nyesel gue mau minta maaf.”
Rio menyudahi telpon tersebut, sementara Arka dan Amanda kini saling bersitatap satu sama lain, antara menahan tawa tapi juga kasihan pada Rio.
Penyakit orang tua dimana-mana selalu sama. Saat anaknya marah, mereka terluka. Tapi saat anak ingin meminta maaf, mereka malah ngoceh-ngoceh tak karuan.
Cukup lama mereka semua terdiam, karena Rio mendadak bad mood lantaran ulah ibunya. Tetapi kemudian si kembar saling menatap lalu sama-sama tertawa.
“Eheee.”
__ADS_1
Akhirnya drama itu pun selesai. Arka dan Rio berlatih dialog di sebuah ruangan. Sedang si kembar bermain di dekat sang ibu yang kini tampak membuat kue di dapur. Sesekali Amanda menjahili mereka, dan mereka hanya tertawa-tawa.