
Arka dan Amanda terdiam bengong, setelah telpon dengan kedua anak mereka di sudahi. Mereka kini sama-sama menatap ke langit-langit kamar.
Amanda ingin menghubungi Arka, begitupula sebaliknya. Namun tiba-tiba mereka sama-sama tak jadi melakukan hal tersebut.
Mereka kembali bertekad untuk menyelesaikan dua atau tiga minggu bahkan satu bulan. Dari status single berjangka yang tengah mereka jalani.
Mereka harus sepuas-puasnya menjalani semua ini. Agar kelak mereka tak lagi ingin melakukan hal serupa.
Amanda pergi mandi, sementara Arka memakan bolen pisang yang diberikan sang istri. Tak lama ia pun turut pergi ke kamar mandi, untuk membersihkan diri.
Keduanya sama-sama berangkat ke kantor. Dengan kepala yang masih sedikit pusing, serta keadaan perut yang belum begitu baik.
***
"Ada-ada aja mereka berdua."
Jordan anak kandung dari ayah tiri Arka berujar sambil tertawa. Ketika ia mengunjungi ayah dan juga ibu tirinya, dan diceritakan perihal mengapa si kembar ada disana.
"Ibu tuh mau bilang ke mereka, jangan kayak anak kecil. Tapi ya kembali lagi, itu maunya mereka. Jalan penyelesaian yang mereka ambil seperti itu. Jadi ibu juga nggak bisa menghalangi." ujar ibu Arka.
"Lucu aja sih, bu. Tapi aku pikir itu akan efektif. Sama aja kayak kita pengen makan sesuatu, ya udah makan aja sampe kekenyangan. Nanti juga bosan sendiri." ujar Jordan.
"Iya, mereka juga bilang begitu. Ibu mah iyain aja, nggak begitu mengerti sama konsepnya." ujar ibu Arka.
"Selagi mereka bisa mempertanggung jawabkan itu semua, bisa tetap berinteraksi dengan anak-anak. Ya sudah jalani saja." lanjut wanita itu kemudian.
Jordan pun mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Odan."
"Odan."
Si kembar yang kini diajak Rianti pulang tampak antusias melihat Jordan.
"Sini, sama Odan." ujar Jordan seraya mengulurkan tangan.
Karena memang super gampang diajak oleh siapa saja, si kembar pun balas minta disambut. Rianti lalu membantu Jordan meraih keduanya. Kini anak itu duduk di sofa, tepat disisi Jordan.
"Odan." ujar Afka.
"Iya Odan." ujar Jordan sambil tertawa.
"Manggil om Jordan, Odan. Tante Rianti, Titi. Panggil om Nino, Nono. Om Ansel, Wew. Nggak ada om sama tantenya dibelakang." ujar Rianti.
Jordan makin tertawa, begitupula dengan sang ayah dan ibu Arka.
"Coba, om Jordan." ujar Rianti lagi.
"Odan."
"Odan."
__ADS_1
"Tante Rianti." ujar Jordan.
"Titi."
Mereka semua kembali tertawa, dan melanjutkan perbincangan. Di sela-sela percakapan, ibu Arka menyiapkan ASI untuk kedua cucunya.
Mereka memperhatikan orang-orang yang mengobrol, sambil mengenyot botol susu.
Sesekali keduanya tampak tertawa, ketika mendengar sesuatu yang menurut mereka lucu. Padahal tak lucu sama sekali di telinga orang dewasa.
"Eheee."
"Eheee."
Lalu para orang dewasa disekitar mereka ikut tertawa, lantaran melihat dan mendengar mereka tertawa.
***
"Man, lo dimana?"
Josephine mengirim pesan singkat pada Amanda.
"Di kantor." jawab Amanda.
"Lo baik-baik aja kan?. Semalam lo gue suruh tunggu di parkiran. Gue lagi mau beli susu steril buat lo. Tapi pas gue balik, lo udah nggak ada di lokasi." ujar Josephine panjang lebar.
Amanda diam, ia baru ingat jika semalam ia diantar seseorang. Ya, Gareth. Ia mengingatnya dengan sangat jelas sekarang.
"Gue ada ketemu seorang rekan bisnis dan dia bantu gue untuk balik ke rumah." lanjutnya lagi.
"Syukur, deh. Gue semalam tuh udah khawatir banget sama lo Man. Gue pikir lo di culik orang. Mana handphone lo nggak bisa dihubungi abis itu."
"Iya, maafin gue ya Pin. Soalnya pas pulang itu gue udah ngantuk berat. Udah nggak peduli handphone mau aktif atau nggak aktif." ujar Amanda lagi.
"Ya udah deh, Man. Yang penting sekarang gue tau kabar lo." ucap Josephine.
"Iya, tenang aja gue aman koq." tukas Amanda.
"Gue balik kerja dulu ya, ntar kita chat lagi."
"Oke." jawab Amanda.
Percakapan tersebut diakhiri. Amanda kini membuka kontak dan mencari nomor Gareth.
Sesama rekan bisnis mereka memang saling memiliki kontak masing-masing. Dan hanya berbicara seputar bisnis saja.
Tetapi kali ini, Amanda ingin berterima kasih perihal semalam. Sebab Gareth sudah menolong dan mengantarnya pulang ke rumah.
"Gar, thanks buat semalam." ucap Amanda pada pria itu.
Pesan terkirim, Amanda meletakkan kembali handphone ke atas meja dan kembali bekerja.
__ADS_1
"Ting."
Terdengar sebuah notifikasi balasan, di beberapa detik berikutnya.
"Iya, sama-sama. Kebetulan kita ketemu semalam, makanya bisa menolong. Kalau nggak ketemu, nggak mungkin bisa." balas Gareth.
Amanda tersenyum.
"Pokoknya terima kasih banyak ya." ujarnya lagi.
"Iya, sama-sama." jawab Gareth.
"Oh iya, soal bisnis kamu gimana?"
Amanda jadi mengalihkan topik kepada pekerjaan. Gareth dengan antusias membalas. Karena memang ia sangat senang membicarakan hal tersebut.
Amanda bertanya-tanya mengenai bisnis baru dan project-project Gareth yang akan datang. Gareth kemudian ada menawarinya kerjasama.
"Nanti, aku pikirkan dulu dan kita bicarakan lagi." ucap Amanda.
"Oke, yang pasti jangan sia-siakan kesempatan." ucap Gareth.
"Ini peluang bagus banget soalnya. Kayak yang aku bicarakan tadi." lanjut pria itu lagi.
"Iya, nanti aku kabari." jawab Amanda.
Mereka pun lanjut mengobrol hingga beberapa saat ke depan. Dan akhirnya mereka dipisahkan oleh jam makan siang.
***
"Ka, ntar sore main bilyard yuk!"
Salah satu teman kantor Arka mengajak pria itu untuk bermain bilyard. Meski setiap kali mengajak ini itu, Arka lebih sering menolak lantaran harus pulang ke rumah.
Namun ketika ada rencana, teman satu kantornya selalu mengajak. Entah itu hanya sekedar berbasa-basi atau memang ingin Arka ikut serta.
"Boleh." jawab Arka.
"Beneran lo mau ikut?" temannya itu tampak antusias.
"Iya beneran." ujar Arka.
"Yes, akhirnya lo mau juga ikut kita nongkrong." ujar temannya itu lagi.
Arka tertawa.
"Selama ini gue nggak mau tuh bukan apa-apa, berat di anak gue." ujar Arka.
"Ini mereka lagi pada nginep di rumah nenek mereka untuk beberapa hari ke depan. Jadinya gue bebas." Lanjut pemuda itu lagi.
Teman-teman kantor Arka kini senang, akhirnya mereka ada agenda pergi bersama.
__ADS_1