Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Menjelang


__ADS_3

Arka mendengar suara kresek-kresek di sambungan telpon, yang ia tujukan pada Amanda. Tak lama kemudian muncul wajah yang sangat besar di depan layar, saat panggilan tersebut sudah diangkat.


Arka memperhatikan dan ternyata itu adalah wajah salah satu dari anak kembarnya, yakni Azka.


"Lah, muka kamu gede banget dek." ujar Arka.


"Papapa?"


Azka menilik ke layar handphone tersebut sambil tertawa. Namun posisinya seperti merangkak lalu kepalanya menunduk. Arka bingung kenapa Amanda tidak menegakkan dan menyandarkan saja handphonenya ke suatu tempat. Seperti dinding misalnya.


"Man, hp nya koq nggak kamu sandarkan ke dinding?" tanya Arka.


Tak ada jawaban.


"Mama." ujar Azka.


"Eheee."


Anak itu malah tertawa.


"Hey, kenapa itu handphone mama di lantai?"


Amanda muncul dan ia kaget melihat panggilan dari Arka. Terlebih lagi panggilan tersebut sudah tersambung.


"Loh, Ka. Kamu video call." tanya nya heran.


"Lah, tadi bukannya kamu yang ngangkat?" Arka balik bertanya.


"Nggak, orang aku di toilet." jawab Amanda.


"Ini handphone aku tarok di atas meja." lanjutnya lagi.


"Eheee." Azka kembali tertawa.


"Hmm, nih anak nih." ujar Amanda.


Arka kini malah tertawa.


"Koq bisa dek, kamu pencet tombolnya?" tanya pemuda itu pada sang anak.


"Eheee, cet." ujar Azka.


"Pinter ya anak papa." ujar Arka lagi.


"Eheee."


"Pinter sama nakal beda tipis." ujar Amanda sambil tertawa.


"Afka kemana, Man?" Arka menanyakan anaknya yang satu lagi.


"Itu guling-guling depan TV." ujar Amanda.


"Koq yang satu ini nggak ikut?"


"Tadi dia disana, berdua. Dengar suara handphone mungkin." jawab Amanda.


"Eheee."


"Popon."

__ADS_1


Azka berujar lalu menjauh.


"Dek, ini papa mau ngomong loh." ujar Amanda.


"Ton." jawab Azka.


Ia ingin menonton kembali bersama kembarannya. Maka Amanda pun membiarkan anak itu kembali ke depan televisi. Sementara ia lanjut berbincang dengan Arka.


"Kamu gimana disana, Ka?" tanya Amanda.


"Sekitar 4 hari lagi syuting disini selesai, Man. Lanjut di Jakarta." ujar Arka.


"Oh ya?. Bagus dong kalau gitu." Amanda senang mendengarnya.


"Iya." jawab Arka sambil tertawa.


"Tapi kamu nggak ada rencana aneh lagi kan bareng Rio?"


"Nggak." jawab Arka.


"Kalaupun ada, aku udah pasti nggak mau. Kalau rencananya naik gunung lagi kayak tempo hari."


Amanda tertawa kali ini.


"Emang hidung babi itu si Rio." ujar Arka. Lalu keduanya kembali sama-sama tertawa.


"Rio juga selesai barengan sama kamu nanti?"


"Iya, barengan. Kelar satu, kelar semua." jawab Arka.


"Oh iya, aku mau bilang. Untung sih kamu cepat mau pulang. Itu Ansel udah nyuruh fitting baju lagi." ujar Amanda.


"Ya udah ntar aku bareng aja sama kamu dan anak-anak."


"Iya, tunggu aku pulang." ujar Arka.


"Mereka lalu lanjut berbincang hingga beberapa saat ke depan.


***


Sementara di sisi lain, Elina terlihat resah. Sebab sebentar lagi kebersamaan dirinya dan Arka akan berakhir di tempat ini. Memang di Jakarta nanti mereka akan kembali melakukan proses syuting.


Tetapi disana Arka jadi pulang pergi dari rumah dan akan selalu melihat istri serta anaknya setiap hari. Akan susah menahan pemuda itu lebih lama di lokasi apabila take adegan telah selesai.


Elina pasti akan sulit mencari waktu, agar Arka bisa berduaan dengannya. Sedang disini kadang selesai syuting, semua masih berkumpul di lokasi.


Setidaknya Elina bisa duduk bersama dalam satu meja, ketika Arka tengah makan atau beristirahat. Sehingga Elina bis lebih banyak memasukkan pengaruhnya ke benak pemuda itu.


"Apa sebelum pulang, gue ajak jalan aja ya si Arka."


Elina berpikir.


"Tapi, gimana caranya supaya Rio nggak ikut?" gumamnya lagi.


"Itu anak selalu aja ngintil kemana Arka pergi. Udah kayak bini muda."


"Hhhh."


"Braaak."

__ADS_1


Elina menghela nafas panjang seraya merebahkan diri ke atas tempat tidur. Matanya kini menatap langit-langit kamar apartemen.


Kemudian saya khayalnya membawa ia ke suatu tempat. Dimana ia dan Arka berjalan di sebuah taman bunga sambil bergandengan tangan. Elina jadi senyum-senyum sendiri seperti orang gila, demi membayangkan hal tersebut.


***


Esok hari.


"Nin, nanti siang aku ikut papa meeting di kantor kliennya. Kantornya dekat dengan kantor kamu. Boleh kita ketemu dan makan siang?. Soalnya aku perkirakan papa sepertinya akan lama sama kliennya itu. Aku takut bosan nunggu."


Min Ji mengetik kata-kata tersebut di handphone miliknya. Tentu saja ia berniat mengirim hal tersebut pada Nino. Namun ia masih ragu dan juga takut. Takut kalau Nino menolak permintaannya dan ia menjadi malu.


Min Ji hendak mengklik tombol send di handphone tersebut. Namun kemudian ia kembali ragu lalu menggigit ujung kuku, dengan wajah yang terlihat resah.


"Anakmu kenapa?"


Ayah Min Ji yang kebetulan tak sengaja memperhatikan sang anak, kini bertanya pada istrinya yang tengah menyiapkan sarapan. Istrinya lalu tersenyum sambil ikut memperhatikan Min Ji.


"Sepertinya Min Ji jatuh cinta dengan anak teman appa." ujar sang istri.


"Nino?" tebak ayah Min Ji.


Lalu sang istri tersenyum, tak lama ayah Min Ji pun demikian. Lalu ia menarik kursi dan duduk untuk mendapatkan sarapan. Sementara Min Ji terus berpikir keras apakah ia akan mengirim pesan itu atau tidak kepada Nino.


"Kirim, nggak, kirim, nggak."


"Klik."


Tanpa sengaja jarinya latah dan pesan tersebut terkirim.


"Oh my God."


Min Ji panik dan kini hendak menghapus pesan tersebut, namun sudah keburu di read oleh Nino. Sebab saat itu Nino tengah memegang handphone.


"Aduh, bodoh, bodoh."


Min Ji mengumpat akan dirinya sendiri. Kini gadis itu membalikkan handphone dan meletakkannya di atas sofa.


"Ting."


Terdengar sebuah notifikasi. Min Ji berharap-harap cemas dan kembali membalikkan handphone. Tampak ada jawaban dari Nino tertera di layar.


"Ok."


"Hah?"


Min Ji kaget dan mendadak sumringah. Detik berikutnya ia pun bersorak-sorai sambil meloncat.


"Yeay, dia mau." ujarnya dengan suara cukup besar.


Namun kemudian ia kembali menjaga sikap, lantaran malu karena dilihat oleh kedua orang tuanya. Min Ji mendadak salah tingkah, lalu buru-buru pergi ke kamar. Sementara kedua orang tuanya kini tampak tersenyum bahkan tertawa kecil.


Di lain pihak Nadine yang belum juga sadar jika Nino sudah tidak mau peduli lagi terhadap dirinya, kini menilik ke arah handphone.


"Pak, kita makan siang bareng yuk!"


Ia mengetik kata-kata tersebut lalu memperhatikannya sekali lagi. Tiba-tiba ada sejumput keraguan menyeruak di dalam benak dan batinnya.


Ia takut Nino menolak, dan bayangan akan kesalahan yang sudah ia lakukan terhadap Nino, kini seakan kembali berputar dalam ingatan. Akhirnya Nadine pun membatalkan hal tersebut.

__ADS_1


__ADS_2