
Lusa pagi semua orang bersiap. Ada Rio, Pamela, kedua orang tua Arka, Jordan, Rianti dan juga beberapa maid yang bekerja pada Amanda. Mereka semua datang membantu, untuk prosesi lamaran yang akan segera di langsungkan.
Sementara di kediaman Intan sudah berkumpul beberapa karyawan Amanda yang dekat dengannya, seperti Satya dan juga Deni. Ada Pia dan beberapa karyawan lain yang perempuan. Juga tak ketinggalan Nadine serta mahasiswa Amanda yang dikenal oleh Intan.
"Ansel mana?" tanya Arka pada Nino, ketika mereka telah selesai berpakaian.
"Tau, lama banget."
Nino segera menilik ke kamar Ansel, disusul oleh Arka.
"Sel."
Ia membuka pintu, tampak Ansel tengah makan dengan lahapnya di kamar.
"Astaga si Bambang." seloroh Nino kemudian.
"Gue kalau nggak makan, grogi bro." ujar Ansel.
Nino tertawa kecil, begitupula dengan Arka.
"Ya udah, abis ini lo sikat gigi. Masa mau menghadap calon mertua mulut lo bau ikan." ujar Nino.
Arka terkekeh.
"Iya." jawab Ansel.
"Emang lo berdua udah pada makan?" tanya nya kemudian.
"Udah dong, gue sama Arka bangun jam 3 pagi. Elu masih molor jam segitu." tukas Nino.
"Bentar ya, gue makan dulu." ujar Ansel.
"Ya udah, ditunggu di depan. Biar nanti kita nggak telat sampai." tukas Nino lagi.
"Iya."
Tak lama ia dan Arka pun turun ke bawah.
"Mana Ansel?" tanya Ryan pada Nino dan juga Arka.
"Lagi makan, dad." jawab Arka.
"Dasar, bukannya bangun dari tadi." ucap Ryan.
"Kayak nggak tau Ansel aja." Nino menimpali.
"Untung acaranya masih cukup lama." selorohnya kemudian.
***
"Lo cantik banget."
__ADS_1
Nadine memuji hasil make up Intan, yang menggunakan jasa seorang makeup artist. Tak begitu mahal, namun hasilnya memuaskan.
"Nggak ada yang crack kan?" tanya Intan pada temannya itu.
"Nggak, nggak ada. Emang lo pikir pake foundation yang cebanan." seloroh Nadine. Keduanya pun lalu sama-sama tertawa.
"Intan, udah belum?" Tiba-tiba Pia sekretaris Amanda masuk.
"Udah nih, mbak." jawab Intan seraya menoleh.
"Waw, cantik sekali." ujar Pia mengagumi hasil makeup yang kini ada di depan matanya.
"Cantik kan, walaupun murce?" Nadine meminta persetujuan.
"Iya ih. Ntar kalau misalkan gue nikah, gue mau pake makeup artist yang ini aja." ujar Pia lagi.
"Tapi gue cari calonnya dulu." selorohnya kemudian.
"Cus di cari." tukas Intan.
"Ntar, download aplikasi dulu." ucap Pia.
"Di kantor kan banyak yang nganggur. Satya sama Deni noh." ujar Intan.
"Hahaha, nggak mau gue. Udah ngeliat muka mereka tiap hari." seloroh Pia.
"Enek ya mbak, hahaha." Intan berkata seraya tertawa, diikuti tawa Pia dan juga Nadine.
"Gue sebagai teman mereka juga kadang sama enek koq."
Intan kembali berujar dan mereka bertiga kembali tertawa-tawa.
***
Rombongan dari pihak calon mempelai laki-laki mulai berangkat. Ansel ada di mobil Ryan bersama sang ayah dan juga Pamela. Sedang Arka, Amanda dan anak-anak ada di mobil kedua.
Nino beserta kedua orang tua Arka berada di mobil Nino sendiri. Sedang Rio dan Rianti serta Jordan ada di mobil belakang sambil membawa sebagian hantaran.
Sisanya dibawa oleh pak Darwis dan juga para maid di mobil Amanda yang satunya. Maureen tidak ikut sebab Joanna masih terlalu kecil untuk keluar rumah. Sedang ia belum mendapat pengasuh hingga hari ini.
Mereka bergerak, sementara kediaman Intan telah dipadati oleh sanak famili. Juga host acara yang di daulat untuk membantu perhelatan tersebut pun telah hadir beberapa menit yang lalu.
"Hoaya."
Azka bersuara dari arah car seat belakang. Seperti biasa kembarannya pun ikut berceloteh.
"Hoaya."
"Mau kemana kita dek?" tanya Amanda seraya menoleh.
"Mamam." jawab Azka.
__ADS_1
"Mau mamam?" tanya Amanda lagi.
"Mam." Afka menimpali.
"Baju udah cakep, mau mam." tukas Amanda.
"Untung udah dipakein celemek." lanjutnya kemudian.
"Orang laper ya nak ya?. Nggak bisa ditunda." seloroh Arka.
"Eheee."
Amanda memberikan botol susu berisi ASI kepada masing-masing anak itu. Kemudian mereka pun minum dengan tenang.
Beberapa saat kemudian mereka tiba. Mereka disambut oleh keluarga Intan dengan hangat.
"Nin, gue panas dingin."
Bisik Ansel pada Nino.
"Udah lo santai aja." jawab Nino.
"Sono ke depan." lanjutnya lagi.
Ansel pun melangkah ke depan, ia berdiri di tengah-tengah Ryan dan juga Pamela. Di baris kedua ada ibu dan ayah tiri Arka serta Nino. Di baris ketiga ada Arka, Amanda, dan si kembar.
Di susul Rio, Jordan, dan juga Rianti serta para maid. Masing-masing dari mereka membawa hantaran. Saat ini mereka tengah menanti instruksi dari host acara.
Selang beberapa saat mereka di arah kan untuk segera melangkah dan memasuki ruangan. Sesampainya disana Ryan selaku orang tua Ansel menyampaikan maksud untuk melamar Intan, kepada kedua orang tua perempuan itu. Tak lama Ansel juga menyampaikan maksud yang sama.
Pihak keluarga Intan menerima. Tak lama Intan pun dibawa oleh Nadine, Pia, dan beberapa karyawan kantor Amanda lainnya.
Ansel senyum-senyum sendiri melihat Intan yang tampak begitu cantik. Sedang Intan tampak tersipu malu.
Nadine tampil tak kalah cantik hari itu. Ia sempat melihat Nino dan Nino juga tak bisa untuk tak melihatnya. Sebab Nadine berada persis di depan matanya.
Amanda menyaksikan hal tersebut. Jujur ia tak terlalu senang dan tak berharap Nino kembali pada Nadine. Namun sebagai orang yang mengenal keduanya, Amanda masih menahan diri untuk tidak ikut campur. Ia masih bersikap baik pada Nadine.
Nadine terus memperhatikan Nino. Meski kini Nino agak membuang pandangannya ke suatu arah.
"Cie yang lihat-lihatan." goda Pia. Nadine tersipu, namun tiba-tiba...
"Maaf aku terlambat."
Seseorang muncul dan langsung masuk ke dalam barisan, tepatnya di sisi Nino. Perempuan itu adalah Min Ji. Nino kaget melihat wanita Korea itu, sebab ia tampil lebih cantik ketimbang Nadine.
Sehari sebelumnya Min Ji memang diajak langsung oleh Ryan dan Nino setuju-setuju saja. Tetapi tadi di jalan Min Ji terjebak kemacetan.
Saat tiba di kediaman Ryan, semua sudah berangkat. Lalu ia langsung menyusul saja ketempat ini. Kebetulan Ryan ada memberitahukan via WhatsApp dimana alamat rumah Intan.
Nadine tentu saja mendadak kecewa demi menyaksikan semua itu. Apalagi kemudian Min Ji menggandeng lengan Nino dan Nino membiarkan tanpa menepisnya sedikitpun.
__ADS_1
Prosesi lamaran di lanjutkan, Ansel dan Intan saling memasangkan cincin di jari pasangan mereka. Semua orang tampak bahagia hari itu, tapi tidak dengan Nadine sendiri. Sepanjang acara berlangsung ia tampak tidak begitu nyaman, melihat kedekatan Nino dan juga Min Ji.