Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Flu


__ADS_3

"Huacim."


"Huacim."


Ansel keluar dari mobil, setelah Min Ji dan ayahnya pulang. Namun ia bersin-bersin dan tampak oleng di halaman rumah Ryan.


"Huacim."


"Kamu kenapa?"


Ryan mendekat, diikuti tatapan mata Nino. Ansel menahan Ryan dengan tangan, Ryan pun menghentikan langkah. Ansel bersin hingga lima kali lalu memakai masker dan mendekat.


"Kurang istirahat itu." ucap Nino seraya menyapu teras.


"Iya, udah beberapa hari ini gue tidur cuma tiga jam." jawab Ansel.


"Bokap lo noh, menjajah gue dengan kerjaan. Mana gue mikirin soal lamaran ke Intan." Ansel menyinggung Ryan hingga menyebabkan Nino tertawa.


"Sana istirahat di atas!" ujar Ryan kemudian.


"Si kembar mana?" tanya Ansel.


"Di bawah meja makan." jawab Nino.


"Ngapain disitu?" tanya Ansel lagi.


"Lo liat aja noh!"


Nino melirik ke arah dalam. Maka Ansel pun masuk dan mencari si kembar. Namun ia tak bisa terlalu mendekat, sebab saat ini sedang flu.


"Hei ngapain kalian disitu?" Ansel menegur kedua keponakannya.


Azka dan Afka pun menoleh.


"Wew." ujar mereka di waktu yang nyaris bersamaan.


Mereka tak bisa mengucapkan "Ansel" atau "Sel." Yang keluar dari mulut mereka adalah kata "Wew."


"Kangen nggak sama Ansel?" tanya paman mereka itu kemudian.


"Hoayaa."


Mereka menggelengkan kepala. Dari depan Nino tertawa melihat semua itu. Sementara hati Ansel keki setengah mati.


"Masa nggak kangen, kan udah lama nggak ketemu."


Kedua anak itu fokus menatap lantai dan mencari semut.


"Oh gitu ya sama Ansel. Ya udah Ansel mau ke atas aja."


Ansel membuat gerakan seolah hendak menuju ke lantai dua.


"Wew."


Tiba-tiba Azka memanggil dan menyusul dengan cara merayap, Afka pun demikian.


"Kangen kan sama Ansel?"


"Wew."


"Nggak bisa gendong ya, Ansel lagi sakit." tukas Ansel pada mereka.


Kedua anak itu tampak mengharap.


"Jangan kayak lemur Madagaskar..Ansel nggak bisa, lagi sakit soalnya."


Mereka masih mengharap, Ansel pun jadi tak tega dibuatnya.


"Bentar." ujar Ansel kemudian.


Pria itu lalu menambah masker hingga menjadi double, lalu mencuci tangan sampai bersih. Kemudian ia menggendong keduanya sejenak, setelah itu barulah ia beristirahat.

__ADS_1


***


"Amanda."


Gareth menemui Amanda pada keesokan harinya. Tepat sesaat kantor Amanda bubar dan seluruh karyawan bergegas untuk pulang.


"Iya Gar, kenapa?" tanya Amanda heran.


"Aku mau minta maaf soal kemarin." ucap Gareth pada wanita itu.


Amanda mengerutkan kening, karena ia tak mengerti soal apa yang dimaksud oleh Gareth.


"Mengenai omongan aku soal resepsionis baru kamu itu." lanjut Gareth.


"Oh, Rianti." Amanda baru mengerti.


"Iya." jawab Gareth lagi.


"Aku minta maaf soal itu." lanjutnya kemudian.


Amanda menghela nafas.


"Kalau kamu ada masalah sama dia, ya kamu selesaikan sama orangnya. Jangan sangkut pautkan dengan pekerjaan. Itu kekanak-kanakan namanya." ujar Amanda.


Gareth mengangguk.


"Tapi kamu nggak masalah kan?" Lagi-lagi pria itu bertanya.


"Kalau aku sih terus terang nggak ada masalah. Cuma ya balik lagi, jangan paksa aku buat keputusan yang nggak ada sangkut pautnya dengan aku ataupun pekerjaan."


"Oke." jawab Gareth.


"Kamu sengaja kesini buat ngomong soal ini doang?" tanya Amanda.


Gareth mengangguk.


"Aku kepikiran, takut kamu marah." jawab pria itu.


Amanda lalu tertawa. Gareth sedikit menunduk dan tertawa pula.


Amanda yang memang memiliki rencana ngopi sejak tadi itu pun berpikir.


"Oke deh." jawabnya kemudian.


Seperti mendapat durian runtuh, Gareth pun jadi gembira hatinya. Namun ia bersikap biasa saja dan tak menunjukkan hal tersebut secara berlebihan.


"Ayo, naik mobil aku aja." ujar Gareth.


Amanda mendapat pesan dari pak Darwis jika saat ini dirinya masih terjebak macet. Maka ia pun menyetujui ajakan Gareth. Toh ia menganggap Gareth sama dengan karyawannya yang laki-laki, seperti Satya dan juga Deni.


Plus Amanda memang tak mudah menyadari perasaan cinta seseorang. Arka saja dulu sempat menyimpan rapi perasaannya terhadap wanita itu dan Amanda tak peka akan hal tersebut. Begitupula dengan Gareth saat ini.


Satu-satunya cinta yang mampu membuat Amanda peka hanyalah cinta Nino. Itupun dikarenakan mereka memiliki hubungan darah.


Setelah Arka menyatakan cintanya, barulah Amanda menyadari hal tersebut dan itu bertahan sampai saat ini.


***


"Kamera, rolling and action."


Sang sutradara berujar dengan nada setengah berteriak melalui sebuah pengeras suara. Dalam sekejap perkelahian di depan kamera pun tak dapat dihindari.


Arka berkelahi dengan kelompok Rio, yang menjadi musuhnya dalam film yang saat ini tengah digarap.


"Bak, buk, bak, buk."


Mereka bergerak sesuai koreografi yang telah diajarkan oleh seorang perancang adegan. Namun meskipun telah terkonsep kerapkali keduanya jadi terkena pukulan sungguhan.


Sebab sedikit banyak mereka mengeluarkan power, agar tak kelihatan fake. Dan agar ekspresi sakit yang di keluarkan terkesan alamiah.


"Bak, buk, bak, buk."

__ADS_1


"Duaaar."


"Praaang."


Beberapa barang di set lokasi pecah. Meja terbalik, barang dibanting dan lain sebagainya. Adegan kali ini adalah adegan paling panjang yang pernah dilakoni oleh Arka maupun Rio.


"Gila Ri, sakit semua badan gue."


Arka berujar ketika syuting telah selesai dan mereka bersiap untuk pulang.


"Ya udah balik yuk!" ajak Rio.


"Ini juga badan gue pengen di pijet mbak-mbak rasanya." lanjutnya lagi.


"Itu mah pegel nggak pegel juga, emang lo cari." seloroh Arka.


Rio tertawa


"Ya udah buruan!" ujarnya kemudian.


"Bentar, gue chat Amanda dulu. Mau ngajak dia telponan kalau kita udah sampe nanti."


"Ya udah sambil jalan aja ke mobil." ujar Rio lagi.


Maka mereka pun kini melangkah.


"Man, aku nanti mau telpon ya. Syuting hari ini udah kelar."


Arka mengirim pesan singkat di laman WhatsApp dan itu langsung dibaca oleh Amanda yang tengah ngopi bersama Gareth.


"Oh ya udah, aku jalan balik dulu ya." balas Amanda.


"Emangnya kamu lagi dimana?" tanya Arka.


"Ngopi, Ka."


"Tapi kalau kamu masih mau disana nggak apa-apa. Nanti malem aja aku nelponnya." ujar Arka lagi.


"Nggak apa-apa koq, emang aku udah mau balik juga."


"Ya udah hati-hati di jalan ya, Man."


"Iya, kamu juga sayang."


Amanda tersenyum, sementara Gareth memperhatikan Amanda. Ia tau pastilah Amanda tengah chat dengan suaminya.


"Gar, aku pulang dulu ya. Aku mau telponan sama Arka nanti." ujarnya kemudian.


"Oh, masih suka telpon-telponan gitu ya. Kayak ABG." ujar Gareth lalu menyeruput sisa kopi terakhirnya.


"Ya gitu deh." ujar Amanda sambil tersenyum.


Terlihat jika ia sangat bahagia sekali, ketika membicarakan hal tersebut. Sebab ia sangat menyukai saat sedang berada jauh dari Arka, namun tetap terhubung dengan suaminya tersebut.


"Emang kamu nggak risih, nikah tapi ala-ala ABG lagi pacaran gitu?" Gareth kembali bertanya.


"Nggak dong, asik malah." jawab Amanda lalu beranjak.


"Aku jalan ya, thank you atas waktunya." tukas wanita itu lagi.


"Aku anterin." ucap Gareth.


"Nggak usah, pak Darwis tuh udah datang dari lima belas menit yang lalu. Dia nunggu di parkiran." ujar Amanda.


"Oh, gitu?"


Gareth sejatinya agak kecewa, sebab ia berharap masih bisa bersama Amanda. Namun ia tak bisa berbuat banyak dan berusaha menyembunyikan kekecewaannya tersebut. Jika ia menunjukkan, ia takut Amanda tak akan lagi merasa nyaman jika diajak jalan olehnya.


"Oke, hati-hati di jalan." ujarnya kemudian.


"Iya."

__ADS_1


Tak lama Amanda pun pamit.


***


__ADS_2