
"Eh, awas jatuh."
Intan mencegah kedua anak Arka dan Amanda, yang tengah berjalan dengan berpegang pada sofa ruang tengah. Hari ini sepulang kerja, ia kembali menyambangi kediaman Ryan untuk menemui Ansel.
"Biarin aja." ujar Ansel pada Intan.
"Emang udah bisa jalan?" tanya Intan pada calon suaminya itu.
"Udah, dilepas pegangannya pun udah bisa sih sebenarnya." ujar Ansel lagi.
"Tapi koq setiap ketemu mereka, aku liat mereka merayap mulu." tukas Intan.
"Emang hobinya merayap. Lebih gampang kali bagi mereka." Ansel berseloroh.
Intan memperhatikan. Tampak kedua anak itu memang sudah bisa berjalan, namun lagi-lagi mereka saling mengejar dengan merayap.
"Tuh kan merayap lagi." Ansel kembali berkata sambil tertawa.
"Iya ya." tukas Intan seraya ikut melakukan hal serupa.
"Wah bu Amanda sama Arka kalau dikampung, udah jadi bahan pergunjingan tetangga nih. Anaknya belum lancar jalan." lanjut perempuan itu.
"Maksudnya semacam gosip gitu?" tanya Ansel tak mengerti.
"Iya, dikata-katain lah pasti. Dibilang nggak rajin ngajarin anak jalan. Anak lebih lancar merayap ketimbang jalan." Intan kembali berujar.
"Hobi ibu-ibu disini aneh, suka ngatain orang." ucap Ansel.
"Lah iya, sangat." tukas Intan seraya terus tertawa.
"Padahal terlalu memaksa anak berjalan itu nggak boleh loh." ucap Ansel lagi.
"Oh ya?" Intan menatap sang kekasih.
"Iya, nggak boleh. Struktur kaki anak bisa terganggu. Sama kayak maksa anak untuk duduk padahal belum waktunya. Tulang punggungnya juga akan sangat terganggu strukturnya." jelas Ansel.
"Oh, aku pikir nggak apa-apa." ujar Intan.
"Soalnya sering lihat emak-emak atau nenek-nenek yang maksa gitu ke anak dan cucu mereka." lanjutnya lagi.
"Nggak apa-apa gimana, makanya jangan bergaul sama generasi yang menolak di edukasi. Cari mereka yang mau menerima pengetahuan dan tidak nyeyel." ucap Ansel.
"Ngeyel." Intan membenarkan perkataan kekasihnya itu.
"Nah iya, itu." ujar Ansel.
Intan kemudian tertawa.
"Karena rata-rata hal seperti itu diperbuat oleh orang jaman dulu yang menolak di edukasi. Ya kan?" tanya Ansel lagi.
__ADS_1
"Iya sih." jawab Intan.
"Kemampuan anak itu berbeda-beda, ada yang usia berapa bulan udah bisa ini dan itu. Ada juga yang belum bisa apa-apa dan anak itu nggak bisa disamakan." Ansel makin mengeluarkan hal-hal yang ia ketahui.
"Wah kalau disini mah anak dijadikan bahan perbandingan. Misalkan nih ada ibu-ibu yang anaknya umur sekian udah bisa ini. Dia akan membandingkan sama anak tetangga yang belum bisa apa-apa. Bilangnya, ih anak saya mah umur segini udah bisa begini, begitu." ucap Intan.
"Itu nggak boleh tau, sama aja kita memaksa orang lain mesti sama. Kemampuan motorik anak itu nggak bisa kita buat seragam." Ansel kembali berujar.
Intan tertegun dengan pengetahuan pria yang terbiasa slengean tersebut.
"Ternyata kamu banyak tau juga ya soal anak." ujarnya kemudian.
"Kan aku belajar." jawab Ansel.
"Pokoknya kalau nanti kita punya anak, nggak usah dipaksain terlalu banyak. Liat Arka sama Amanda, nggak pernah aku liat mereka maksa Azka sama Afka untuk jalan dan lain-lain." lanjutnya lagi.
"Sesekali ada mereka ajarkan. Tapi selagi anak-anak ini nyaman dengan cara mereka ya udah. Nanti lama-lama juga nanti mereka akan jalan." Ia menambahkan.
"Iya sih, lagian juga kaki mereka normal. Jadi nggak perlu di paksa juga." ujar Intan.
Tiba-tiba Azka dan Afka kembali berdiri dan berjalan.
"Tuh lihat, bisa kan mereka." tukas Ansel seraya memperhatikan.
"Iya bisa." jawab Intan.
Lalu kedua anak itu kembali merayap seusai di puji. Membuat Ansel dan Intan kini jadi tertawa-tawa.
"Hoaya ayo pulang, kangen nih mama."
Amanda video call ke kediaman Ryan melalui sambungan di handphone Intan. Tadi di kantor Intan ada memberitahu jika ia akan mampir ke kediaman Ryan.
"Hoayaa."
Azka dan Afka menggelengkan kepala, lalu mereka berlalu begitu saja. Seliweran ke sana-kemari sambil sesekali berceloteh.
"Kalian nggak kerepotan kan?" tanya Amanda pada Ansel dan juga Intan.
"Nggak koq, mereka anak baik." celetuk Ansel.
"Dari tadi juga nggak ada nangis." Intan menambahi.
"Iya, tapi aku nggak enak. Pengen jemput mereka pulang." ujar Amanda lagi.
"Udah nggak apa-apa. Lagian nunggu persetujuan daddy dulu kalau mau ajak mereka pulang. Ntar daddy ngamuk loh, pulang-pulang cucunya nggak ada." ucap Ansel sambil tertawa.
Amanda pun ikut tertawa, sama halnya dengan Intan. Amanda coba kembali memanggil kedua puteranya tersebut, namun lagi-lagi mereka mengabaikan.
"Oh gitu ya sama mama."
__ADS_1
Amanda mulai menggunakan senjatanya, yakni ngambek. Kedua anak itu kemudian mendekat ke arah handphone Intan.
"Mama."
"Mama."
"Eheeee."
Seakan mengerti mereka lalu bersikap manis di hadapan sang ibu.
"Kangen nggak sama mama?" tanya Amanda kemudian.
"Ndak" jawab mereka serentak.
"Masa nggak kangen?"
"Dadak" jawab mereka lagi.
"Baru mau seneng, udah di jatuhkan lagi emaknya ke dalam got." Amanda berujar diikuti tawa Ansel dan juga Intan.
"Otan." Azka berujar sambil menarik lengan baju Intan.
"Apa?"
Amanda dan Intan bertanya di waktu yang nyaris bersamaan.
"Siapa nak?" lanjut Amanda lagi.
"Otan." jawab Azka.
"Intan, tante Intan." Amanda mengajari anaknya.
"Tatan." tukas Afka menimpali.
"Kayak aplikasi jodoh." seloroh Intan lalu kembali tertawa.
"Intan nak, tante Intan." Lagi-lagi Amanda coba membenarkan.
"Otan."
"Tatan."
"Intan." Kali ini Intan yang mengajari.
"Otan." ujar Azka.
"Tatan." Afka menimpali.
"Intan."
__ADS_1
"Titan."
Amanda dan Intan akhirnya hanya bisa tertawa-tawa. Begitupula dengan Ansel. Sementara kedua anak itu kembali terlihat merayap kesana-kemari.