Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Bergegas


__ADS_3

"Pulang nak, kasihan Grandpa."


Amanda yang menjemput anaknya di tolak mentah-mentah oleh si kembar. Mereka terus menggelengkan kepala sambil merayap menjauh.


"Ayo Azka, Afka. Pulang yuk?" ujar Amanda lagi.


"Hoayaa."


"Grandpa mau kerja, nanti kalian ngerepotin." lagi-lagi Amanda berujar dan tetap mendapat penolakan."


"Sudah Amanda, biarkan aja dulu mereka disini. Toh daddy lagi pengen istirahat dan kerja dari rumah. Jadi biarkan dulu mereka menemani daddy." tukas Ryan.


"Amanda tuh takut ngerepotin daddy." ucap Amanda lagi.


"Nggak, daddy senang mereka disini. Ansel sama Nino jadi mau pulang kesini terus.kalau ada mereka."


Amanda menghela nafas.


"Ya udah dad, kalau memang daddy nggak keberatan. Tapi misalkan ada apa-apa, daddy kasih tau Amanda ya dad."


"Iya, kamu tenang aja." jawab Ryan.


Amanda lalu pergi ke kamar yang biasa ia gunakan dengan Arka, apabila tengah menginap disana. Ia kemudian melakukan pumping ASI, guna memenuhi kebutuhan ASI si kembar. Setelah ASI tersebut didapat, Amanda meletakkannya ke dalam freezer.


"Udah ah, mama mau pulang." ujar Amanda pada kedua anaknya.


"Da-da." ucap Azka sambil melambaikan tangan.


"Lah, nggak apa-apa gitu mama pulang?" Amanda menjadi sewot setengah mati.


"Eheeee."


Kedua anak itu tertawa lalu pergi menjauh. Amanda makin keki di buatnya.


"Ya udah dad, Amanda pamit dulu." ucap Amanda kemudian.


"Kamu hati-hati di jalan ya." ujar Ryan.


"Iya dad."


Amanda lalu beranjak.


"Dek beneran nggak mau ikut mama pulang?" Ia bertanya sekali lagi.


"Hoayaa."


Kedua anak itu sama-sama menggeleng sambil melambaikan tangan. Amanda serasa hendak menangis dibuatnya.


Namun semua itu juga terlihat begitu lucu. Sehingga ia menjadi sedih dan gemas di waktu yang nyaris bersamaan.


"Bye dad." ucap Amanda ketika telah berada di dalam mobil. Ryan yang menggendong Afka itu pun melambaikan tangan.


"Da-da." ucap Afka.


"Nggak mau mama sama kamu, kalian jahat sama mama."

__ADS_1


"Eheeee."


Amanda kemudian menekan pedal gas mobilnya, lalu berlalu meninggalkan tempat itu.


***


"Udah jemput anak-anak, Man?" tanya Arka di telpon, ketika Amanda sudah berada di jalan.


"Udah, tapi pada nggak mau pulang. Aku di cuekin." gerutu Amanda.


Arka pun tertawa di seberang sana.


"Pada nggak inget apa, pernah di dalam perut emaknya." lanjut wanita itu lagi.


Arka kembali tertawa.


"Ntar juga mereka nyariin koq kalau udah bosen di tempat Grandpa nya."


"Iya kalau bosen. Perasaan selama ini betah-betah aja disana. Dirumah ibu juga gitu."


Arka terus saja terkekeh kali ini.


"Ya udah, kan lumayan bisa me time." ujarnya kemudian.


"Iya sih, pengen nyalon deh Ka." Amanda tiba-tiba memiliki ide.


"Ya udah sana ke salon." ucap Arka.


"Ini kamu masih di lokasi syuting apa udah pulang?"


"Masih dong, baru juga sampe. Hari ini take adegan dari sore sampai malem." jawab Arka.


"Iya."


Mereka pun lanjut berbincang. Sampai kemudian Arka menyudahi percakapan lantaran harus kembali syuting. Amanda sendiri pergi ke salon, sesuai tujuan sebelumnya.


***


Amman dilarikan ke rumah sakit, sebab kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk hanya di rawat di dalam penjara. Entah apa yang di alami pria itu. Yang jelas pihak rumah tahanan tak ingin mengambil resiko, jika terjadi apa-apa.


Mereka tidak ingin akhirnya disalahkan atas tuduhan kelalaian, apabila terlambat memberi pertolongan.


***


"Hallo."


Nino menerima telpon dari orang tak dikenal. Saat dirinya masih berada di kantor. Sebab kantor pria itu belum bubaran dan ada rencana lembur hingga menyentuh tengah malam nanti.


"Selamat sore dengan bapak Nino?"


"Iya, saya sendiri. Dengan siapa ya?" tanya nya kemudian.


Orang tersebut menjawab dan menjelaskan. Seketika Nino pun terkejut, sebab apa yang ia dengar kali ini merupakan sebuah berita yang kurang mengenakkan.


"Oke baik, saya segera kesana." ucap pria itu.

__ADS_1


Nino bergegas dan mengatakan pada karyawannya untuk pulang saja. Sementara pekerjaan akan dilanjutkan besok. Sebab ia tak enak bila memerintahkan karyawan untuk bekerja keras, sedang ia sendiri pergi dari tanggung jawab.


***


Amanda tiba di salon langganannya. Ia segera memilih serangkaian perawatan yang ia inginkan. Tak lama ia pun mengaktifkan mode silent pada handphone, agar ketenangannya tak ada yang mengganggu.


Ia mulai menjalani berbagai perawatan yang menyenangkan dan memanjakan diri. Ada untungnya juga memiliki anak yang suka ikut orang lain.


Meskipun itu sebenarnya berbahaya, sebab resiko penculikan bisa menjadi semakin besar. Mengingat Azka dan Afka sangat gampang menempel pada orang lain .


Amanda di layani dengan baik di salon tersebut. Bahkan sampai ia akhirnya seperti hendak tertidur, saking nyamannya tempat itu.


***


Di sebuah rumah sakit, Nino tiba. Ia langsung menghampiri petugas kemanan dan sipir penjara yang bertugas membawa Amman..


Tentu saja pria itu diletakkan di rumah sakit khusus, yang masih ada hubungan dengan instansi terkait. Ia juga dijaga ketat, sebab ia merupakan seorang tahanan.


"Apa yang terjadi pak." tanya Nino pada salah satu petugas yang ada di hadapannya kini.


Petugas tersebut lalu menjelaskan kronologi kejadian. Namun ia belum bisa memastikan Amman kenapa. Sebab dari pihak dokter pun belum ada penjelasan lebih lanjut.


Nino diam, namun jelas hatinya kini tak menentu. Meski tak begitu dekat dengan sosok ayah biologisnya itu. Tetap saja belakangan ini hubungan diantara mereka mulai membaik.


Nino masih belum bisa menerima, jika harus kehilangan pria itu sekarang. Masih banyak waktu yang hilang dan belum terbayar diantara mereka.


***


Kembali ke salon.


Sebuah panggilan tertera di handphone Amanda. Ketika seluruh prosesi perawatan telah selesai. Saat ia hendak mengangkat panggilan tersebut, tiba-tiba panggilan itu disudahi.


Amanda meraih handphone dan melihat panggilan itu dari siapa. Ternyata Nino, dan sudah ada bahkan sepuluh panggilan tak terjawab lainnya. Maka segera saja Amanda menghubungi saudara laki-lakinya tersebut.


"Nin."


"Amanda kamu kemana aja?" ujar Nino kemudian. Nada bicara pria itu terdengar seperti tengah tertekan sekaligus cemas.


"Aku tadi dari salon, handphone aku silent. Ada apa sih?" tanya Amanda pada Nino.


"Papa, dia masuk rumah sakit." ujar Nino..


"Hah, masa sih?" tanya Amanda tak percaya.


"Aku barusan dari rumah daddy dan ngawasin anak-anak. Orang dia baik-baik aja koq." lanjut wanita itu.


"Bukan daddy man, tapi papa. Papa, bapak kamu sama aku."


"Hah?"


Amanda baru mengerti jika yang dimaksud oleh Nino tersebut adalah Amman.


"Maksud kamu, dia sakit?" Amanda masih tak percaya.


"Iya, sekarang ada di rumah sakit. Aku disini nunggu di luar. Dokter masih mengobservasi dan mencari tau penyakitnya."

__ADS_1


"Oke, oke. Kamu dirumah sakit mana?. Aku mau kesana sekarang." ujar Amanda.


Maka Nino pun memberitahu dimana kini dirinya dan Amman berada. Dan usai membayar administrasi di salon, Amanda segera meninggalkan tempat itu.


__ADS_2