
"Ini bukan akal-akalan lo sama Firman doang kan, Ka?"
Rio bertanya pada Arka ketika akhirnya dua sahabat itu bertemu lagi di suatu sore. Arka yang baru pulang dari kantor mengajak Rio makan bersama.
"Akal-akalan gimana?" tanya Arka tak mengerti.
"Ya bisa aja kan, sebenarnya lo sama Firman itu beneran mau pisah ranjang secara jahat. Cuma lo mengarang cerita aja ke gue, biar kesannya lagi healing dari masalah rumah tangga."
"Koq lo berpikiran gitu?" Lagi-lagi Arka melontarkan pertanyaan.
"Ya ini kan gue baru dengar sepihak doang dari lo. Gue belum nanya sama Firman-nya langsung." ujar Rio lagi.
"Ya lo tanya aja sama dia, pasti jawabannya sama. Orang emang kita bukan pisah ranjang karena mau cerai, cuma mau memperbaiki apa yang sedang di hadapi aja." ujar Arka.
Rio menatap mata sahabatnya itu dalam-dalam. Bahkan tak berkedip sama sekali.
"Mau lo menatap gue sampe tembus ke belakang, jawaban gue masih sama Ri." ujar Arka dengan nada sewot.
"Gue masih curiga sama lo." tukas Rio lagi.
Kali ini Arka tertawa.
"Kapan sih gue pernah bohong sama lo soal sesuatu?" tanya pemuda itu.
"Ya mungkin ini perdana." ucap Rio.
Arka menghela nafas panjang, rasanya ingin menggetok kepala Rio dengan palu Thor.
"Gue udah jujur, sejujur-jujurnya sama lo. Emang kita pisah ini buat memperbaiki hubungan, bukan buat bercerai."
"Gue akan tanyakan hal ini sama Firman."
"Ya tanya aja, gue dihadapkan ke dianya langsung pun oke. Karena kita udah sepakat melakukan ini berdua."
"Oke." ujar Rio.
"Awas lo cerai." ujarnya lagi.
"Kagak." jawab Arka kemudian.
***
Flashback.
Kembali ke saat Amanda bertemu dengan Gareth. Saat itu rencana awal Amanda adalah pulang dengan membawa kopi yang ia beli.
Namun kemudian Gareth menawarinya untuk duduk barangkali untuk beberapa saat.
"Udah mau pulang banget?" tanya Gareth saat itu.
"Mmm, nggak terlalu sih." jawab Amanda.
"Cuma tadi aku pikir ngapain duduk sendirian disini, nggak ada teman ngobrol. Jadi mending pulang."
"Nah sekarang kamu ada temannya. Nggak apa-apa dong duduk sebentar." ujar Gareth.
"Mmm, oke." jawab Amanda kemudian.
Usai memesan kopi, mereka duduk pada salah satu meja yang berada di pojokan. Saat itu diluar tiba-tiba gerimis.
Namun Amanda tetap meneruskan untuk meminum kopinya yang dicampur es. Baginya itulah tak terlalu masalah.
__ADS_1
Gareth mulai membuka percakapan dengan berbasa-basi. Menanyakan kabar Amanda dan sebagainya. Tak lama mereka pun membahas hal lain. Apalagi kalau bukan seputar bisnis dan pekerjaan.
Obrolan berlangsung menyenangkan dan terjadi cukup lama. Sampai akhirnya mereka berpisah di parkiran.
***
"Ri, gue disuruh mbak Arni ke management. Lo juga nggak?" tanya Arka ketika weekend tiba.
"Iya sama, tapi gue lagi di Garut Ka." jawab Rio.
"Ngapain lo di Garut?. Mau bikin dodol?" tanya Arka.
"Gue di suruh bokap gue, ngawasin empang buat bakal dia ternak lele."
"Jauh amat." ucap Arka.
"Nggak sekalian ternak lele di lombok noh." lanjutnya lagi.
"Nggak tau, bokap gue katanya mau buka ternak disini. Kerjasama dengan teman SMP nya dulu, mang Ujang." ujar Rio.
"Jadi lo sekarang lagi di depan empang?" tanya Arka.
"Di atasnya malah, lagi berak gue soalnya."
"Anj..." Arka mengumpat.
"Anak setan lo dasar." lanjut pemuda itu sambil menahan tawa sekaligus kesal.
"Ya lo nelpon, pas gue lagi berak. Salah sendiri." ujar Rio.
"Di caplok lele baru tau rasa lo." ujar Arka.
"Mana ada, orang bibitnya belum di sebar." tukas Rio.
"Biasanya kalau ada eceng gondok, suka ada anaconda di dalamnya." ujar Arka.
"Bangsat, lo bikin e'ek gue insecure anjir. Nggak mau keluar."
Rio menggerutu pada Arka, sementara kini Arka terkekeh.
"Gue lagi sakit perut, rese banget sih lo."
"Hahaha." lagi-lagi Arka tertawa.
"Badjingan lo emang." Rio terus saja mengoceh. Arka melirik arloji.
"Udah ah, gue mau jalan dulu." ujar pemuda itu.
"Tanggung jawab lo, Ka. Ini tokai gue nggak mau keluar lagi."
"Lah tokai-tokai elo, tanggung jawab lo lah."
"Sialan lu, Ka."
"Elu yang sial. Gue nelpon, malah ngobrolin berak."
"Hahaha." Kali ini Rio yang tertawa.
"Udah ah, bye." ujar Arka.
"Bilangin sama mbak Arni ya, Ka."
__ADS_1
"Iya."
Arka lalu menutup sambungan telpon tersebut. Kemudian ia fokus menyetir mobil, untuk menuju ke management Peace Production.
Setibanya di kantor management tersebut. Arka menemui Jeremy dan juga Philip. Sebab tadi mbak Arni mengatakan dua pengurus management itu ingin bertemu dengannya.
Mereka membicarakan seputar bayaran dari project baru, yang akan segera di jalani oleh Arka dan juga Rio.
Di hari yang sama Arka mulai tanda tangan kontrak dengan Production House yang memproduksi film tersebut. Semua sudah deal, dan tinggal hanya menunggu tanda tangan dari Rio.
Saat Philip bertanya dimana Rio dan Arka menjawab tengah mengurus empang. Saat itulah semua orang jadi tertawa.
Ketika semua urusan selesai, Arka berpamitan pulang. Namun tiba-tiba ia mendapat pesan dari seseorang.
"Ka, lagi dimana?"
Pesan tersebut dari Elina.
"Di kantor manajemen gue, El. Kenapa?" tanya Arka.
"Eh kebetulan, gue baru keluar dari salon yang dekat kantor management lo."
"Yang dimana?"
"Sekitar 300 meter ke kanan dari sana." ucap Elina.
"Oh disitu?" tanya Arka.
"Iya, eh ngopi yuk!" ajak Elina kemudian.
Berhubung tak sedang terikat dengan rumah, dan memang telah lama tak berjumpa dan jalan bersama. Arka pun menyetujui ajakan Elina. Toh ia menganggap gadis itu hanya sebatas teman saja.
"Oke." jawab Arka.
"Gue samperin ya." lanjutnya lagi.
"Oke, ntar gue suruh supir gue balik." ujar Elina.
Maka Arka pun menyambangi tempat dimana gadis itu berada dan mengajaknya untuk berada di satu mobil.
"Nyaman banget Ka, mobil lo." ujar Elina.
"Mobil bini gue." jawab Arka.
Seketika Elina terdiam.
"Oh iya, lo udah nikah ya. Baru inget gue." ucap Elina.
Arka setengah tertawa lalu menghidupkan mesin mobil dan mulai menginjak pedal gas.
"Mau ke kafe mana nih?" tanya Arka.
"Mmm, bentar dulu."
Elina mencari-cari tempat terdekat di google.
"Nih disini aja nih." ujarnya kemudian.
Arka membaca nama tempat tersebut dan ia mengetahuinya.
"Ok kesana, oke deh." ujar Arka.
__ADS_1
Maka ia pun menaikkan kecepatan agar bisa cepat sampai di tempat tersebut.