Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Paket


__ADS_3

"Paket."


Seorang kurir berteriak di depan rumah ayah Rio. Rio yang saat ini tengah menjaga rumah sendirian, mendengar hal tersebut.


"Paket."


Kurir itu berteriak sekali lagi. Maka telinga Rio memastikan apakah benar suara tersebut berasal dari depan rumah atau tetangga.


"Paket."


Rio merasa dirinya tak ada membeli barang apapun dari online market place. Tetapi kemudian ia berpikir, jangan-jangan ini adalah pesanan ayahnya.


Rio pun lalu keluar dan mendekati pintu pagar. Benar saja, ada seorang kurir dari salah satu ekspedisi di tempat tersebut. Rio segera saja menghampiri.


"Iya mas." ujarnya kemudian.


Kurir tersebut adalah kurir yang biasa mengantar di wilayah perumahan ayah Rio.


"Mas Rio, ini ada paket nih buat mas Rio." ujar si kurir


"Paket buat gue?" tanya Rio heran.


"Iya nih, dari Nino Andhika." jawab si kurir itu lagi.


Rio baru ngeh pada beberapa detik berikutnya, kalau itu adalah paket dari Nino.


"Nino ngirim gue paket apaan dan dalam rangka apa?" tanya Rio lagi.


"Ini isinya kayaknya jam tangan deh mas." ujar kurir itu.


Rio kemudian menerima paket tersebut dan berterima kasih. Tak lama si kurir pun berpamitan untuk pulang. Rio masuk ke dalam dan membuka paket itu.


Benar kata si kurir, isi dari paket itu memang benar adalah jam tangan. Dan harganya cukup lumayan. Untung saja si kurir adalah kurir yang terbilang jujur, padahal isi dari paket itu cukup menggiurkan.


"Nin, lo beliin gue jam ini?"


Rio mengirim chat pada Nino, yang saat ini masih di kantor.


"Iya, anggap aja permintaan maaf dari gue. Karena gue kemaren udah merusak acara ulang tahun lo." balas Nino.


"Yaelah lu, pake ngerasa bersalah segala. Gue mah kagak apa-apa anjay." ucap Rio kemudian.


"Tetap aja gue nggak enak." ujar Nino lagi.


"Ya uda deh. Btw ini bagus loh, gue suka."


"Keren kan?" tanya Nino.


"Yoi, thanks ya Nin."


"Sip, bro." jawab Nino kemudian.


Rio menyudahi percakapan tersebut lalu pergi ke tempat terang dan mengambil foto dari jam yang ia pakai tersebut. Tentu saja untuk keperluan flexing alias keriyaan duniawi di sosial media.


"Cekrek."


"Cekrek."


"Cekrek."


Kemudian di upload lah foto tersebut ke laman Instagram dengan sebuah caption bijak yang menginspirasi. Padahal sejatinya tujuan yang ia miliki, hanya ingin memamerkan jam mahal itu saja.

__ADS_1


***


"Gini nih nggak enaknya kalau ada hari yang mata kuliahnya cuma satu doang. Mau pulang mager anjir."


Salah satu dari dua teman kampus Rianti, berujar pada gadis itu.


"Iya sih, di rumah juga ngapain gue. Palingan tidur sama scroll tiktok." jawab Rianti.


"Kita ke kopi pandangan pertama aja yuk!"


Salah satu temannya memberi ide.


"Wah boleh juga tuh." jawab Rianti semangat.


"Yuk!" ajak kedua temannya.


Mereka lalu beranjak meninggalkan pelataran kampus. Mereka menaiki taksi biru dan menempuh perjalanan selama beberapa menit. Karena memang letak tempat tersebut agak lumayan jauh.


"Gue pengen es coklat."


Rianti berujar, setibanya mereka di tempat tersebut.


"Sama, gue juga."


Rekan Rianti berkata seraya membuka pintu masuk.


"Degh."


Tiba-tiba jantung Rianti berdetak lebih cepat. Tatkala dirinya menatap Gareth ada di tempat yang sama dan tengah memesan kopi.


"Kenapa, Ti?" tanya teman Rianti heran. Mereka sama-sama mengikuti arah pandangan mata gadis itu.


Gareth selesai, lalu berbalik. Namun ia tak melihat Rianti dan berlalu begitu saja. Rianti terus memperhatikan pria itu hingga dirinya masuk ke dalam mobil yang terparkir di luar.


"Mmm, nggak." ujar Rianti.


"Hmm, dasar. Nggak bisa ngeliat yang bening dikit." ledek temannya lagi.


Kemudian mereka sama-sama tertawa lalu memesan minuman dan mencari tempat duduk.


***


Siang itu mendadak Chanti dan Widya mengunjungi Maureen. Tentu saja Maureen kaget, karena keduanya tak ada pemberitahuan terlebih dahulu sebelumnya.


"Koq nggak bilang sih mau kesini. Kan gue minimal bisa siapin apa gitu." ujar Maureen pada kedua temannya itu seraya meletakkan dua gelas minuman dingin ke atas meja.


"Elah lu, orang gue berdua kesini mau nengokin Joanna. Bukan mau ngerepotin elu."


Chanti berseloroh sambil menyiapkan apa yang ia bawa.


"Nih buat anak lo."


Ia menyerahkan apa yang ia dan Widya bawa untuk Joanna.


"Tuh kan, pada repot-repot banget deh." ujar Maureen lagi.


"Kan gue jadi enak." selorohnya sambil tertawa.


"Udah, itu rejeki anak lo." ucap Chanti.


"Thank you ya." tukas Maureen.

__ADS_1


"Joanna tidur, Ren?" tanya Widya.


"Udah bangun kayaknya. Liat aja noh di kamarnya!" Maureen menunjuk kamar sang anak.


"Gue liat boleh ya?' Widya meminta


izin.


"Ya udah sana!"


Maka Widya pun bergerak dan masuk ke dalam kamar Joanna. Tak lama kemudian ia keluar dengan membawa bayi perempuan lucu itu.


"Ini mah bapaknya banget mukanya." ujar Widya seraya tersenyum dan memandangi Joanna.


"Banget." jawab Maureen.


"Mana-mana lihat." Chanti turut mendekat dan melihat wajah Joanna.


"Asli ini mah plek-ketiplek Jordan banget." ujar Chanti.


"Waktu baru lahir nggak terlalu." lanjutnya kemudian.


Lalu Joanna tampak tersenyum.


"Dih udah senyum, emang ngerti apa yang mommy Chanti bilang?" tanya Chanti kemudian. Dan lagi-lagi bayi Joanna tersenyum.


"Gemes banget sih kamu." ujar Widya.


"Hoaaa."


"Lah, ada suaranya."


Chanti dan Widya begitu antusias. Mereka terus bermain dengan Joanna sambil berbincang.


***


Sore hari sepulang kerja.


Amanda masuk ke dalam mobil yang menjemputnya. Seperti biasa mobil tersebut di kemudikan oleh Arka. Namun kemudian ia terkejut ketika melihat Arka memberikan sebuah buket bunga warna merah.


"Dalam rangka apa nih?" tanya Amanda sambil tersenyum lalu mengambil bunga tersebut.


"Rangka atap baja." jawab Arka.


Amanda tertawa, lalu mereka berciuman sejenak.


"Dinner yuk!" ajak Arka kemudian.


"Oke." jawab Amanda antusias.


Arka lalu menginjak pedal gas mobilnya. Sehingga mobil tersebut mulai merayap meninggalkan pelataran parkir.


"Kita mau dinner dimana, Ka?" tanya Amanda pada Arka ketika mereka telah jauh.


"Blitz tower park." jawab Arka.


Ia menyebutkan sebuah tempat di ketinggian yang memiliki view yang sangat indah bila malam hari. Kebetulan hari ini mereka berdua keluar dari kantor saat hari telah gelap.


"Tumben-tumbenan kamu ngajak mendadak kayak gini. Pasti ada maunya nih." Amanda curiga.


Arka hanya tertawa kecil dan terus mengemudi. Sesampainya di tempat, ia langsung mengajak Amanda pada tempat yang telah di reservasi terlebih dahulu. Mereka makan bersama sambil berbicara banyak hal.

__ADS_1


Mereka memandang ke sekitar. Dimana gedung-gedung dan lampu-lampu di seluruh kota tampak menerangi dan begitu indah dipandang mata.


Terakhir Arka mengajak Amanda turun ke sebuah kamar hotel di gedung tersebut. Yang juga telah di booking terlebih dahulu. Kemudian mereka memadu cinta hingga kepuasan yang menjadi titik puncaknya.


__ADS_2