
BACALAH KEMBALI DARI EPISODE PERTAMA. SEBAB ISI BAB 85% TELAH DIGANTI DENGAN VERSI TERBARU. (Hanya untuk yang berkenan mengikuti cerita ini saja, yang tidak suka silahkan skip.?
***
"Elo mah emang bener-bener ya, Ri. Sumpah rasa pengen gue maki tau nggak lo."
Rio tampak cengar-cengir berjalan di sisi Arka dan juga para kru YouTube miliknya yang sengaja di datangkan, serta seorang pemandu jalan.
Arka sejatinya tadi ingin memaki Rio dengan kata-kata yang kasar. Namun berhubung saat ini mereka tengah berada di hutan, akhirnya Arka pun menjaga untuk tidak berbuat demikian.
"Yaelah, Ka. Kan lo anak Mapala. Masa diajak naik gunung malah ngomel."
"Ya Mapala sih Mapala. Tapi ini di luar keinginan gue pribadi, Bambang. Diluar kesepakatan, lo nggak ada ngasih kesepakatan sebelum ini." Lagi-lagi Arka menggerutu.
"Kenapa lo nggak protes dari masih dijalan atau pas kita baru sampe tadi coba?. Kalau emang keberatan."
"Ya gimana gue mau protes, orang gue nggak ngeh kalau tadi kita jalan menuju ke sini. Lo cuma bilang mau ke candi Cetho doang kan. Dan lagi tadi di camp bawah, lo registrasi seenak jidat dan nggak ada ngasih gue kesempatan buat ngomong."
"Elah lu mah. Gue tuh belum pernah mendaki gunung Lawu, Ka. Gue penasaran, pengen review makanan di warungnya mbok Yem." Rio membela diri.
Mbok Yem sendiri adalah seorang wanita yang berjualan pada ketinggian 3.150 meter di atas permukaan laut. Atau selisih sekitar 115 meter di atas permukaan laut, menuju puncak gunung Lawu. Mbok Yem terkenal di kalangan para pendaki yang pernah menjajakan kakinya di gunung tersebut.
Rio telah memiliki rencana terhitung sejak mbak Arni memberitahu perihal peninjauan lokasi syuting di luar kota. Ia memang telah berniat jika break syuting, akan menyambangi gunung itu dan membuat konten.
Sementara Arka hanya mengetahui jika Rio hendak mengajaknya ke suatu tempat. Dan disepanjang perjalanan tadi ia tertidur. Ketika tiba pun ia belum ngeh jika mereka semua hendak mendaki gunung. Seluruh peralatan dan carrier ternyata telah disiapkan oleh Rio.
"Asal lo tau ya, di warung mbok Yem itu makanannya nasi pecel sama telor ceplok doang. Nggak perlu jauh-jauh sampe naik gunung segala, kalau cuma mau review. Mbah-mbah pinggir jalan juga banyak yang jualan."
Arka masih menggerutu, sementara kaki mereka terus melangkah menanjak mengikuti pemandu arah.
"Kalau cuma ngereview mbah-mbah yang jual pecel di pinggir jalan doang mah, udah biasa Ka. YouTuber lain juga udah pernah." Rio membela diri.
"Gue tuh pengen yang lebih menantang, biar viewersnya banyak." tukasnya lagi.
Arka menghela nafas dalam-dalam. Jujur ia sangat kesal sekali. Sebab ia sedang tak ada niat untuk mendaki gunung. Tapi bukan sahabat namanya jika tidak menyusahkan satu sama lain. Maka Arka pun kini berjalan dengan pasrah.
"Lo marah sama gue, Ka?"
Rio bertanya sambil nyengir pada Arka.
"Ya iyalah gue marah, gila tau nggak lo. Kalau nanti ada apa-apa sama gue gimana?. Lo mah enak kagak punya anak bini, lah gue?"'
"Jangan mikir macem-macem makanya." Rio mengingatkan dengan nada agak ngegas.
__ADS_1
"Lo yang bikin masalah, lo yang marah sekarang." ucap Arka.
"Ya elah, Ka. Lo mah gitu."
Suara Rio melemah dan kini ia memposisikan dirinya sebagai orang yang teraniaya. Arka menyudahi saja perdebatan itu, karena ia tidak akan menang sama sekali melawan Rio.
Yang ia pikirkan saat ini adalah istri serta anak-anaknya. Ia hanya berharap perjalanan ini akan aman sampai pulang kembali.
***
"Nomor yang anda tuju sedang berada di luar service area."
Nino telah berkali-kali menghubungi Arka. Namun sejak tadi jawaban yang ia terima selalu sama. Akhirnya ia pun menelpon Amanda.
"Hallo, Man?"
"Iya Nin, kenapa?" tanya Amanda kemudian.
"Arka kemana ya?. Koq nggak bisa dihubungi?"
"Nggak tau, aku barusan nelpon juga nggak bisa. Sinyal kali, Nin. Soalnya Arka bilang lagi jalan-jalan sama Rio. Mereka lagi break syuting untuk beberapa hari." jelas Amanda.
"Oh gitu. Aku cuma mau nanya, dia bisa pulang kapan. Soalnya daddy bilang lamaran Ansel akan dipercepat."
"Mau dipercepat lagi kalau bisa. Takut anak orang bunting." seloroh Nino.
Amanda tertawa.
"Kan daddy bule. Biasanya bule nggak masalah liat anak atau menantu tekdung duluan."
"Kayaknya daddy nggak enakan sama orang tuanya Intan deh. Soalnya orang tua Intan udah wanti-wanti ke dia. Jangan sampai si Intan dibikin melendung sama si Ansel."
Lagi-lagi Amanda tertawa.
"Daddy udah melokal." lanjutnya lagi.
"Bentar lagi juga makin melokal sama si Pamela." tukas Nino.
"Oh iya, bakal banyak kondangan nih nanti kita." ujar Amanda lagi.
Mereka berdua tertawa-tawa.
"Ya udah kalau gitu, nanti sampaikan aja sama Arka ya Man. Atau aku telpon lagi deh nanti, kalau udah bisa."
__ADS_1
"Oke." jawab Amanda.
Nino lalu berpamitan dan menyudahi telpon.
***
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa saat. Akhirnya Arka, Rio dan rombongan tiba di pos atau shelter satu.
Arka yang masih sengit dan belum memaafkan Rio sepenuhnya itu kini beristirahat dan meminum air yang ia bawa dalam carrier-nya.
Rio sendiri tak begitu peduli. Sebab ia mengenal Arka selama bertahun-tahun. Arka marah paling hanya bertahan beberapa saat, kemudian mereka sudah akan berbaikan kembali.
Dan lagi dalam ruang lingkup persahabatan mereka. Bukan cuma Rio yang kadang tingkahnya mengesalkan hati. Arka pun sama demikian.
Ia pernah mendaftarkan Rio ikut paskibraka, padahal Rio tidak pernah tertarik untuk ikut. Kemudian mereka dilatih oleh tentara dan kulit Rio yang putih terpaksa harus tanning secara alamiah. Bahkan sangat lama baginya untuk mengembalikan ke warna semula.
Lain halnya lagi, Arka juga pernah mengajak Rio menaiki kayak dan menjelajah sebuah danau yang konon terdapat buaya didalamnya.
Soal kesal dan mengesalkan, kedua sahabat itu memiliki porsi yang sama. Hanya saja kadang mereka tak ingat perbuatan mereka masing-masing.
"Yuk lanjut!"
Rio mengajak Arka dan yang lainnya untuk lanjut. Ketika istirahat dirasa telah cukup. Mereka telah memperhitungkan jam berapa mereka akan tiba di puncak. Maka dari itu mereka harus benar-benar memanfaatkan waktu.
***
"Papapa."
Azka menunjuk handphone ketika sore hari telah menjelang. Begitupula dengan kembarannya Afka. Sebab di sore hari mereka mulai terbiasa menerima video call dari Arka.
"Papapa." ujar Azka sekali lagi.
"Sabar ya nak, kita tunggu dulu." ujar Amanda.
"Mungkin papa sibuk." lanjutnya lagi.
Si kembar kembali merayap dan bermain. Selang beberapa saat kemudian mereka kembali ke dekat Amanda dan menunjuk handphone ibu mereka tersebut.
"Papapa." ujar keduanya serentak.
"Iya, ditunggu dulu ya papanya. Nanti dia juga telpon koq." ucap Amanda.
Kedua anak itu kemudian kembali merayap kesana-kemari.
__ADS_1