
Min Ji berdandan cantik sekali hari itu. Tak seperti hari-hari biasanya yang super cuek. Ia mengenakan dress dan juga memakai makeup.
"Cantik sekali kamu."
Sang ayah memuji dirinya, sehingga pipi gadis itu kini bersemu merah.
"Ah, appa." ujarnya kemudian.
Ia lalu menarik kursi meja makan dan mereka pun mulai sarapan.
"Pasti kamu semangat mau ketemu Nino kan?"
Ibunya menanyakan hal tersebut dalam bahasa Korea. Lalu Min Ji pun menjawab dalam bahasa Korea pula.
"Ah, eomma. Aku tidak seperti itu." ujarnya.
Kedua orang tua Min Ji saling bersitatap sambil tersenyum satu sama lain.
"Menurut appa, Nino itu laki-laki yang baik dan sepertinya dia bertanggung jawab."
Ayah Min Ji kembali berujar, sementara pipi Min Ji kembali bersemu merah. Ia benar-benar tersipu dan tak kuasa menahan senyum.
"Eomma baru kali ini melihat Min Ji sangat senang." ujar ibu dari gadis itu.
"Ah, eomma."
Kedua orang tuanya kembali tersenyum satu sama lain. Sementara di lain pihak, Nino dan Ansel tampak tengah menggoreng nasi di dapur. Sebab Ryan tengah pergi berlibur ke Bali bersama Pamela, untuk seminggu ke depan.
Jadilah dia saudara itu membuat sarapan mereka sendiri. Di hari-hari sebelumnya ketika menginap di kediaman Ryan, pasti Ryan yang menyediakan makanan untuk mereka.
"Micin-nya Sel." ujar Nino pada Ansel.
Segera Ansel pun mengambil penyedap rasa dan membubuhkannya ke atas nasi goreng, yang saat ini tengah di aduk oleh Nino di atas kompor.
"Kurang, tambah lagi." Nino memerintahkan.
Ansel pun kembali membubuhkan penyedap tersebut agak banyak.
"Udah cukup!" ujar Nino kemudian.
Ansel lalu meletakkan penyedap rasa itu ke tempat semula. Nino kini menambahkan saos tiram, sambal yang mereka buat kemarin, plus kecap manis.
Setelah dirasa enak, ia pun mengaduk sekali lagi dan mematikan kompor. Sajian tersebut telah siap di hidangkan.
"Udah nih, ayo makan!" ajak Nino pada saudaranya itu.
"Yuk!"
Ansel mengambil piring. Mereka berdua bergantian menyendok nasi goreng tersebut, lalu melangkah menuju meja makan.
"Hmmm, enak."
Ansel memuji masakan Nino, usai mendapat suapan pertama. Ia juga mengambil kerupuk yang ada di dalam toples dan menjadikannya sebagai teman makan.
"Dert."
Handphone Ansel berbunyi. Ia mendapat pemberitahuan tentang undangan pernikahan salah satu sahabat baiknya di Jerman.
"Si Ludwig mau nikah." ucap Ansel pada Nino.
__ADS_1
"Ludwig temen lo yang keturunan bangsawan itu?" tanya Nino.
"Iya, di jodohkan sama sesama bangsawan juga." ucap Ansel.
Nino tertawa kecil sambil menyuap makanannya.
"Bisa ya, orang menikah lewat perjodohan gitu. Apa nggak muak saat tinggal serumah dengan orangnya. Kalau lo gimana Nin?" tanya Ansel Kemudian.
"Kalau gue sih emang nggak mau di jodohkan. Tapi kalaupun terpaksa ya lihat-lihat dulu aja orangnya. Kalau oke ya, kenapa nggak." Nino berseloroh.
"Kalau Min Ji gimana?" kan dia cantik tuh." Goda Ansel.
Nino agak terdiam dan mengingat kelakuan Min Ji.
"Oh kalau itu skip, nyebelin banget soalnya. Pengen banget gue kirim ke planet lain." tukasnya lagi.
"Tapi pipi lo merah, Nin. Like bo'ol monyet." tukas Ansel.
"Babi." Nino berujar sambil menahan tawa.
"Apa sebenarnya lo udah jatuh cinta sama si saranghae?" Ansel bertanya sekali lagi.
"Enak aja, amit-amit jabang bayi." ujar Nino kemudian.
Ansel tetap tak percaya dengan apa yang dikatakan Nino. Ia terus saja menganggap jika saudaranya itu kini telah jatuh cinta. Tiba-tiba handphone Nino berbunyi, dan itu ternyata dari Ryan.
"Iya dad?"
"Nin, nanti ayah Min Ji mau datang mengambil file yang warna biru di kamar daddy." Ryan menjelaskan.
Nino terdiam. Biasanya jika ada ayah Min Ji, maka gadis itu juga akan ada dibelakang. Mengintil mengikuti kemana sang ayah pergi.
"Ah iya dad." ucap Nino kemudian.
"Dengar nggak yang daddy bilang?"
"Iya dad, dengar." ucap Nino sekali lagi.
"Ya sudah, daddy minta tolong ya."
"Iya dad." jawab Nino.
Tak lama Ryan pun menyudahi telpon tersebut.
"Daddy kenapa, Nin?" tanya Ansel pada saudaranya itu.
Nino menarik nafas lalu menjawab.
"Daddy minta tolong file yang ada di kamarnya. Nanti mau diambil sama bokapnya Min Ji."
Ansel tersenyum dengan sumringah.
"Cie yang mau ketemu calon mertua." ujarnya.
"Bisa-bisanya bule Eropa tau soal cie." tukas Nino sewot. Ansel makin tertawa-tawa.
"Biasanya Min Ji suka ikut tuh." Goda Ansel lagi.
"Bodo amat." tukas Nino, lalu melanjutkan makan.
__ADS_1
Selang beberapa saat, setelah mandi dan berganti pakaian. Terdengar suara bel pintu depan yang berbunyi. Nino menuju ke sana dan membukanya. Tampak ayah Min Ji sudah berada di depan mata.
Nino tak begitu terkejut, sebab yang membuatnya terkejut adalah Min Ji dengan penampilan barunya yang full berdandan.
Nino tertegun beberapa saat. Sebab ternyata bila berdandan, Min Ji bisa secantik Idol K-Pop. Namun ia buru-buru menyudahi pandangan tersebut lantaran masih mengingat perselisihan sengitnya dengan gadis itu.
"Masuk dulu, om."
Nino berbasa-basi pada ayah Min Ji.
"Tidak udah, Nino. Om sudah mau berangkat kerja." ujarnya kemudian.
"Oke, tunggu sebentar."
Nino segera ke dalam dan mengambil file yang diminta oleh Ryan. Kemudian ia menyerahkan file tersebut kepada ayah Min Ji.
"Terima kasih ya." ucap ayah Min Ji.
"Sama-sama." jawab Nino.
Ayah Min Ji pun berpamitan. Min Ji sendiri diam saja dan mengekor dibelakang sang ayah. Nino sempat melihat ke arah gadis itu sekali lagi, sebelum ia masuk ke dalam mobil.
"Cie pandangannya gitu banget."
Ansel tiba-tiba muncul bagai debt colector yang telah lama mengintai nasabah.
"Apaan sih lo?"
Nino meletakkan lima jarinya di wajah Ansel, kemudian ia masuk ke dalam. Ansel kini terkekeh-kekeh.
"Oppa." Ansel berkata dengan nada bicara perempuan Korea yang manja.
"Gue gedik pala lo." ucap Nino.
"Saranghae, oppa." tukasnya lagi.
Nino makin sewot namun ia menahan senyum.
"Eh, lo mah udah ahjussi hitungannya Nin."
"Enak aja. Emang gue setua itu." ucap Nino lagi.
"Muka boleh muda, Nin. Tetap aja lo ahjussi."
"Tau ah."
Nino kemudian mengambil tas kerjanya. Ia dan Ansel sama-sama bersiap hendak berangkat ke kantor.
"Kreeek."
Nino membuka pintu depan. Namun seketika ia terdiam. Kedua matanya kini menangkap Nadine yang berdiri di muka pintu.
Tak lama Ansel tiba dan langkah pria itu pun turut terhenti. Ia juga kaget dengan kehadiran perempuan yang telah menyakiti hati adiknya tersebut.
"Pak Zio, aku mau bicara." ucap Nadine seraya menatap mata Nino.
Maka hati Nino yang lemah itu pun menggerakkan tangannya untuk memberi kode. Akhirnya Nadine masuk ke dalam.
Sementara Ansel sudah sangat ingin memaki saat itu juga. Namun ia tetap menahan diri, mengingat Nadine adalah perempuan. Dan lagi urusan asmara sang adik, bukanlah ranahnya untuk ikut campur. Kecuali dimintai pendapat.
__ADS_1