Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Pulang Ke Rumah


__ADS_3

"Plok, plok, plok"


Bunyi penyatuan yang dihentak-hentakkan penuh gairah tersebut, terdengar jelas di telinga Arka dan juga amanda.


Entah orang-orang di bagian luar kamar seperti Nino, Ansel, maupun Rio turut mendengar juga atau tidak.


Yang jelas kini Amanda meremas seprai tempat tidur, sambil mengeluarkan suara yang mengindikasikan jika ia tengah diserang kenikmatan.


"Aku kangen sama kamu." bisik Arka di telinga Amanda.


Sementara Amanda kian melayang tubuhnya di udara. Mata wanita itu naik ke atas dan sesekali terbuka lalu tertutup.


"Arka, hmmh."


Ia menyebut nama sang suami. Sementara Arka terus bergerak menuntaskan hasratnya yang terpendam selama beberapa hari belakangan.


"Aaaaaaah."


Amanda berteriak sambil memeluk dan memegang punggung sang suami. Ketika beberapa saat telah berlalu, dan akhirnya mereka mencapai puncak.


Rahim wanita itu terasa begitu hangat, sebab telah dipenuhi oleh cinta. Arka yang juga tadi ikut berteriak kini mencium kening sang istri, lalu tersenyum.


"Makasih ya." ujarnya kemudian.


Amanda mengangguk lalu mereka kembali berpelukan. Usai beristirahat dan merengkuh sisa-sisa kenikmatan, keduanya pergi mandi.


Mereka sama-sama berganti pakaian lalu kembali ke peraduan. Mereka kini duduk di atas tempat tidur sambil video call ibu Arka dan menanyakan kabar si kembar.


"Bu, anak-anak mana?" tanya Arka pada sang ibu.


"Tuh."


Ibu Arka mengarahkan kamera handphone, ke dekat si kembar yang tengah bermain mobil-mobilan.


"Azka, Afka. Ini mama sama papa nih." ujar ibu Arka pada kedua cucunya tersebut.


Anak-anak itu pun menoleh ke arah, lalu mendekat dan menatap ke layar handphone.


"Papapa."


"Mama."


Mereka berujar seraya menunjuk Arka serta Amanda yang kini melambaikan tangan.


"Hai sayang." ujar keduanya serentak.


"Papapa."


"Mama."


"Iya, papa sama mama kangen." ujar Arka lagi.


"Papapa."


"Mama."


"Tadi nggak nakal kan kalian.?" Amanda kini melontarkan pertanyaan.


"Dadak." jawab Azka.

__ADS_1


Sementara Afka tampak menggelengkan kepala.


"Hoaya." ujarnya sambil tersenyum.


"Mereka nggak nakal dan makannya juga banyak." ujar ibu Arka.


"Anak pinter." tukas Amanda kemudian.


"Eheee."


Mereka tertawa, dan seperti biasa kemudian mereka merayap kesana kemari. Ibu Arka yang telah mengetahui perkara sebelumnya itu kini bertanya untuk memperjelas. Tentang kemana dan dimana Arka serta Rio berada kemarin.


Arka pun lalu menceritakan kronologi kejadian, ibunya lalu sedikit memberi nasehat. Terutama menekankan pentingnya mengabari keluarga, mau kemanapun itu.


"Arka minta maaf, bu. Arka janji nggak akan kayak gini lagi." ujarnya kemudian.


"Untung kamu nggak di lempar panci sama istri kamu." ibu Arka bercanda.


"Tadi sih udah mau, bu. Udah menyiapkan panci item satu pickup." seloroh Amanda.


Mereka pun akhirnya tertawa-tawa. Selama waktu yang masih tersisa Arka terus berduaan dan menempel pada istrinya itu. Bahkan mereka ada melakukan hal serupa sekali lagi.


Kali itu menjelang pagi dan Rio tengah bangun hendak ke toilet. Ia mendengar suara penyatuan dan juga rintihan dari dalam kamar yang ditempati sang sahabat dan juga istrinya.


Rio melebarkan bibir, karena ia tak bisa melakukan hal tersebut. Sebab pasangannya tengah tak berada di depan mata.


"Ka, penuh Ka."


Amanda berkata pada suaminya ketika lagi-lagi rahimnya diisi dengan cinta. Arka tersenyum lalu mencium bibir istrinya itu dengan lembut.


"Biar enaknya lama." bisik Arka nakal.


"Dah ya, nggak usah aneh-aneh dan jangan ngadi-ngadi abis ini." ucap Nino ada mereka berdua.


"Kalau mau kemana-mana itu ngomong dulu." lanjutnya lagi.


"Iya, bukan apa-apa. Kasihan bini lo, kasihan bokap lo juga Ri." Ansel menimpali dan berkata pada keduanya.


"Iya." jawab mereka berdua secara serentak.


Lalu mereka pun bersiap, Arka dan Rio mengantar mereka ke bandara.


***


"Saya cinta sama kamu."


Seorang pria berbicara kepada Vera dengan nada yang begitu serius. Vera jadi gelagapan sendiri dibuatnya.


"Steve, saya...."


"Ver."


Pria bernama Steve itu mendekat lalu menggenggam tangan Vera dengan erat.


"Aku akan jaga kamu dan juga Amara." ucapnya kemudian.


"Tapi, Steve."


"Kamu juga cinta kan sama aku?"

__ADS_1


Steve menatap mata Vera, sementara yang di tatap mendadak jadi serba salah. Ia tak mengakui namun juga tak menampik akan hal tersebut.


"Steve, aku masih bersuami." ujar Vera dengan nada seperti orang yang cukup ketakutan.


"Aku akan tunggu. Lagipula kalau dia mencintai kamu, harusnya dia merelakan kamu. Dia sudah berumur dan saat ini tengah menjalani hukuman di penjara. Dia harusnya memikirkan kebahagiaan kamu dan juga Amara."


Steve kembali berujar dan suaranya terdengar sangat sungguh-sungguh. Sehingga Vera pun tak dapat berkutik di buatnya.


"Ini salah, Steve." ujarnya lagi.


"Tanya ke hati kamu. Karena cuma hati yang tau jawabannya."


Vera benar-benar terdiam dan Steve pun mendekat. Kemudian ia mencium bibir istri orang tersebut dengan penuh kasih sayang.


***


"Aku udah sampe ya, Ka."


Amanda mengirim pesan singkat pada Arka di WhatsApp. Ketika pesawat telah landing kembali di Jakarta.


"Iya sayang, nanti kamu langsung pulang apa jemput anak-anak dulu?"


"Mau jemput anak-anak dulu. Ntar sekalian jalan pulang bareng mereka."


"Oh ya udah." ucap Arka.


"Hati-hati di jalan." lanjutnya lagi.


"Iya, jangan bikin ulah lagi ya Ka."


"Iya, kan yang bikin ulah si Bambang bukan aku."


"Hahaha, love you Ka."


"Love you, sayang."


Amanda lalu naik ke mobil jemputan pak Darwis. Sedang Nino dan Ansel naik ke mobil Nino yang memang di parkir di bandara. Sebelum itu mereka ada sempat berpamitan satu sama lain.


Amanda menjemput si kembar terlebih dahulu. Agak lama, karena keduanya menolak untuk diajak pulang. Beruntung akhirnya mereka mau menurut dan kini mereka telah berada di penthouse.


"Ka, aku sam anak-anak udah pulang."


Amanda kembali mengirim pesan singkat kepada sang suami.


"Iya, Man. Nanti aku telpon kalau udah nggak sibuk. Ini aku ada mau reading dulu sama Rio."


"Oke." jawab Amanda.


Kemudian mereka pun sibuk oleh urusan masing-masing.


***


"Tak."


Gareth meletakkan sebuah kotak hadiah hitam kecil, namun agak panjang ukurannya. Gareth lalu membuka sejenak kotak itu, tampak didalamnya terdapat bunga mawar kering yang telah dilapisi emas 24K.


Di dekat kotak tersebut ada sebuah foto yang tak lain adalah foto Amanda. Gareth memperhatikan pula foto itu. Sebab mawar berlapis emas tersebut hendak ia berikan pada Amanda.


Ia akan memulai peperangan sesegera mungkin. Ia akan berusaha merebut wanita itu mati-matian, dari tangan Arka.

__ADS_1


Ia tak ingin Amanda hanya sebatas khayalan belaka. Ia ingin mewujudkan khayalan itu. Sebagaimana ia telah mewujudkan mimpi-mimpi dan obsesinya selama ini.


__ADS_2