
Rianti tiba tepat waktu. Meski tadi sempat harus menghadapi drama kemacetan lalu lintas, dan juga bertemu dengan orang kaya gila yang sombongnya sungguh terlalu.
Ia langsung menuju ke meja resepsionis dan menyapa resepsionis lain yang satu shift dengannya pagi itu. Tak lama Amanda datang. Keduanya lalu berdiri menyapa perempuan itu.
"Pagi bu." ucap mereka serentak.
"Pagi." jawab Amanda seraya berlalu begitu saja.
Ia bersikap layaknya seorang atasan terhadap karyawan. Dan Rianti pun merasa jika ia tak butuh terbawa perasaan. Sebab ini adalah dunia kerja.
Amanda juga tak ingin terkesan melebih-lebihkan sikap terhadap saudara dari suaminya tersebut. Ia ingin seluruh pekerja mendapat perlakuan yang sama.
***
"Hoayaa."
Azka dan Afka merayap kesana kemari. Ryan membiarkan saja kedua cucunya tersebut bermain, sembari ia mengerjakan tugas kantor.
"Hoayaa."
"Eheeee."
Terdengar suara keduanya tertawa dan tampak seperti tengah berkejar-kejaran. Ryan menoleh sejenak, lalu kembali fokus pada laptop serta pekerjaan.
"Buuuk."
Sebuah benturan terdengar. Ternyata Afka yang menabrak salah satu tiang meja makan. Ryan yang terkejut itu pun mendadak memperhatikan. Ia menuggu apakah bayi itu akan menangis atau tidak.
Terlihat Afka hanya mengusap-usap kepalanya yang terbentur, dengan usapan ala bayi yang tak teratur dan lucu. Kemudian ia kembali bermain.
Ryan tertawa saja melihat semua itu. Ia membandingkan dalam ingatan dengan Ansel kecil yang begitu cengeng.Malah kadang sangat cari perhatian.
Ketika kepalanya terbentur dan tak ada siapapun. Maka Ansel akan diam saja dan lanjut bermain. Tapi ketika ada orang di dekatnya atau muncul setelah ia mengalami kejadian, maka ia akan menangis kencang.
Saat itu rasanya ingin Ryan membungkus Ansel dengan plastik wrap lalu memasukkannya ke dalam bola salju.
Tapi satu hal yang menjadi daya tarik Ansel adalah wajahnya yang lucu dan menggemaskan kala itu.
Sehingga Ryan tak bisa berlaku kejam ataupun kasar padanya. Meski ia adalah bayi yang begitu drama.
***
"Orang yang harusnya lo hadapi itu adalah gue."
Arka berkata di telpon, dengan mimik muka serius. Namun tiba-tiba Rio muncul lalu berjoget-joget di depan mukanya.
Arka berusaha keras menahan tawa. Namun Rio bergoyang semakin barbar, layaknya kaktus dancing yang kesurupan cacing kremi.
"Cut."
__ADS_1
Sutradara menyudahi semua itu karena baik dirinya maupun semua kru juga turut tertawa melihat tingkah Rio.
"Lo emang bangsat ya, Ri. Itu tadi tuh udah bagus banget anjir. Ngulang lagi deh gue."
"Yaelah, Ka. Sepanjang syuting hari ini lo bener mulu, salah dong sekali-kali. Kan manusia itu nggak ada yang sempurna." ucap Rio.
"Ya terus?. Mentang-mentang manusia itu nggak ada yang sempurna, harus lo bikin kacau gitu?"
Arka berujar sambil menahan tawa dan melempar sendal ke arah Rio. Rio menghindar sambil cekikikan.
"Biar lo nggak menjadi manusia sombong, Ka. Ntar kalau hari-hari lo terlalu sempurna, lo bisa aja lupa diri dan mengaku sebagai Tuhan."
Arka makin kesal, namun terus tertawa.
"Nggak ada hubungannya, Bambang." ujarnya sewot.
"Ini soal pekerjaan, bukan pengkultusan diri." lanjutnya lagi.
"Ye, pekerjaan juga nggak boleh perfect banget. Harus ada salahnya, biar hidup banyak warna."
Rio terus saja membuat Arka ingin melempar sendal yang satunya. Namun kini pemuda itu mendekat ke arah kulkas yang disediakan di lokasi syuting, untuk mengambil minuman ringan.
***
Siang itu di waktu yang sama.
Seseorang berbicara di muka meja resepsionis. Segera saja Rianti dan rekannya berdiri.
"Selamat si, ang." ujarnya terputus-putus.
Ia kaget melihat siapa yang kini ada di depan matanya. Begitupula dengan orang tersebut. Pasalnya orang itu merupakan pengemudi mobil mewah yang tadi sempat menabrak ojol yang ditumpangi Rianti.
"Ngapain kamus disini?" tanya pria itu dengan kening berkerut. Nada bicaranya sangat sinis dan menyebalkan.
"Justru saya yang mau tanya. Ngapain orang nggak tau sopan santun kayak anda, ada di kantor ini?"
"Rianti."
Rekan sesama resepsionis menegur dirinya.
"Ini pak Gareth, rekan bisnis bu Amanda." ujar rekannya itu kemudian.
Seketika Rianti pun terkejut sekaligus tak percaya. Sementara Gareth kini menatapnya dengan tajam.
"Harusnya Amanda tidak mempekerjakan gadis yang nggak tau tata Krama kayak gini."
Gareth berujar pada rekan Rianti. Sementara wajah Rianti sendiri memerah padam saking kesalnya.
"Eee, pak. Saya antar ke ibu Amanda ya."
__ADS_1
Rekan kerja Rianti itu segera menjauhkan Gareth dari meja resepsionis. Seketika Rianti terlihat makin kesal dan rasanya ingin melempar kepala Gareth dengan vas bunga.
Gareth tiba di atas dengan wajah yang tak begitu enak dilihat. Hal tersebut mengundang pertanyaan Amanda selaku pemimpin rapat. Kebetulan yang tiba di ruang rapat itu baru mereka berdua saja.
"Ada apa Gar?" tanya Amanda heran.
"Itu resepsionis kamu yang baru, apa nggak bisa diganti sama yang lain?" tanya nya kemudian.
Amanda mengerutkan dahi.
"Maksud kamu Rianti?" tanya nya kemudian.
Gareth sendiri baru tau jika gadis itu bernama Rianti.
"Whatever lah, pokoknya aku kurang suka." ujar Gareth lagi.
"Loh, kenapa?" tanya Amanda heran.
"Dia itu nggak sopan orangnya."
"Nggak sopan gimana?"
Amanda benar-benar penasaran, dan ia berniat menegur Rianti jika gadis itu memang terbukti bersalah.
Gareth kemudian menceritakan kronologi pertemuannya dengan Rianti saat mereka di jalan tadi. Amanda kemudian menghela nafas.
"Itu kan kejadian diluar kantor, Gar. Aku nggak bisa menegur dia soal itu." tukas Amanda.
"Mungkin kamu juga bersikap kurang sopan menurut dia. Sebab mustahil perempuan akan bersikap tidak sopan, kalau laki-lakinya sopan." lanjutnya lagi.
Gareth benar-benar memerah pipinya mendengar semua itu. Ia kini ada di posisi yang salah. Harusnya ia tak menceritakan hal tersebut pada Amanda.
"Lagipula selama dia menjadi saudara ipar aku, dia sangat baik."
Amanda mengeluarkan pernyataan yang membuat Gareth kian terkejut. Ia baru tau jika Rianti adalah saudara Arka.
Tak lama para peserta rapat kemudian hadir memenuhi ruangan. Maka rapat lanjutan mengenai proyek baru mereka pun akhirnya digelar.
***
Sore hari.
Gareth keluar dari kantor Amanda tepat pada jam pulang dari kantor tersebut. Sebab tadi rapat dimulai setelah makan siang dan cukup banyak hal yang mereka bahas, mengenai kerjasama yang mereka jalin.
ia sejatinya hendak mengajak Amanda dan mengantarnya pulang. Namun Amanda mengatakan jika dirinya telah dijemput oleh supir.
Gareth kecewa, namun tak dapat menunjukkan kekecewaannya tersebut terlalu jauh. Sebab saat ini ia tak memiliki hubungan apa-apa dengan Amanda.
Mustahil untuk menunjukkan rasa kecewa maupun cemburu. Sebab itu merupakan sesuatu hal yang aneh bagi seorang partner bisnis. Akhirnya Gareth pun memutuskan untuk pulang saja sendiri.
__ADS_1