
"Papapa."
"Mama."
Si kembar terbangun di malam hari, dan tiba-tiba saja langsung duduk serta menyebut nama kedua orang tua mereka.
Ibu dan ayah tiri Arka yang kebetulan tidur dengan kedua cucu mereka itupun ikut terbangun.
"Papapa."
"Mama."
Kedua anak itu berkata dengan nada bingung, seperti hendak menangis namun masih tertahan.
"Kenapa sayang, ingat papa mama?" tanya ayah tiri Arka pada keduanya.
"Papapa."
"Mama."
"Ya udah besok kita telpon papa sama mama ya." ujar ibu Arka.
Keduanya mengangguk.
"Pon."
"Iya besok, kalau sekarang papa sama mama udah tidur." ujar ayah tiri Arka lagi.
"Kalian bobo ya." tambah pria itu.
Si kembar lagi-lagi mengangguk lalu kembali merebahkan kepala ke atas bantal.
Ibu Arka bangun dan menyiapkan ASI untuk keduanya. Tak lama setelah menerima botol berisi ASI. Mereka mulai minum dan perlahan kembali tertidur.
***
Malam itu Gareth tiba di depan penthouse, dan langsung di sambut oleh dua orang sekuriti.
"Ada apa pak?" tanya sekuriti tersebut.
Gareth memberitahu perihal Amanda. Mereka lalu membantu Gareth mengakses lift, dengan menggunakan card yang dimiliki oleh Amanda. Sekuriti menemani hingga atas, sebab takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Usai Amanda di papah Gareth ke sofa dan diberi air mineral serta susu steril yang didapat dari dalam kulkas. Amanda berbaring, Gareth dan sekuriti meninggalkan penthouse tersebut.
Lift akan tertutup otomatis tanpa card. Dan tidak akan ada yang bisa naik kembali ke atas, kecuali dibukakan oleh Amanda sendiri. Gareth pulang, sementara Amanda kini tertidur nyenyak.
Beberapa saat berlalu, Rio mengantar Arka ke rumahnya. Tak lama teman Arka itu pulang dengan menggunakan taksi. Setelah memastikan Arka setengah sadar dari mabuknya dan bisa mengunci pintu.
Arka lalu tidur karena saat ini kepalanya masih terasa pusing dan perutnya pun masih mual.
***
Arka dan Amanda terbangun agak siang. Sebab mereka pulang ketika waktu telah mencapai dini hari.
Mereka tidur selama beberapa jam, sebelum akhirnya kembali membuka mata.
Kini mereka merasakan tubuh mereka sangat lemah, tulang-belulang dan sendi rasanya nyeri semua.
Mereka masih terbaring di atas tempat tidur. Hingga setelah beberapa saat berlalu, mereka sama-sama beranjak dan mencuci muka serta menggosok gigi.
Keduanya kembali ke kamar, mencharge dan menghidupkan handphone yang ternyata mati.
Arka dan Amanda kembali merebahkan diri ke atas tempat tidur. Sejatinya bila diingat, semalam itu menyenangkan. Namun entah mengapa rasanya tetap hampa.
"Dert."
"Dert."
"Ting."
"Ting."
"Ting."
Banyak notifikasi masuk ke WhatsApp. Seseorang telah mencoba menghubungi keduanya. Mereka mengecek semua itu, ternyata panggilan dari handphone ibu dan ayah tiri Arka.
Keduanya bergegas menghubungi, sebab takut terjadi apa-apa pada anak mereka disana. Dan untungnya telpon tersambung serta langsung diangkat. Arka menelpon sang ayah, sementara Amanda menelpon ibu Arka.
"Hallo bu."
"Hallo, pa."
"Kemana aja kalian?" tanya ayah tiri Arka.
"Anak-anak dari semalam mencari kalian."
Sang ibu menimpali. Handphone kedua orang tua itu kini di dekatkan.
__ADS_1
"Amanda ketiduran, bu." ucap Amanda.
"Sama, Arka juga." timpal Arka.
"Mereka mana?" tanya Amanda lagi.
"Sebentar, ibu panggil Rianti."
Sang ibu pergi ke depan.
"Ti, si kembar bawa sini. Papa-mamanya nelpon." teriak wanita itu.
"Oh iya, bu."
Rianti yang tengah berada di teras tersebut mendorong stroller kembali ke dalam. Ia membawa si kembar ke dekat handphone yang kini tersambung dengan Arka dan juga Amanda.
"Nih mama sama papa." ujar ayah tiri Arka.
Si kembar memperhatikan layar.
"Mama."
"Papapa." ujar keduanya antusias.
Mendadak Arka dan Amanda jadi dilanda rasa bersalah yang begitu besar.
"Kangen ya sama mama?" tanya Amanda kemudian.
"Papa disini sayang." Arka menimpali.
Si kembar tersenyum sejenak, lalu kembali pada kue dadar gulung yang tengah mereka makan. Mereka lalu cuek pada Arka dan juga Amanda.
"Makan apa itu nak?" tanya Arka.
"Makan dadar gulung." jawab ibu Arka.
"Cake yang dikirim Amanda kemarin masih ada, udah ibu kasih. Tapi maunya dadar gulung."
Amanda tertawa.
"Kamu ada kirim cake buat mereka?" tanya Arka.
"Ada, kan aku kirim bolen pisang juga ke kamu."
"Oh ya?. Koq nggak ada ojol yang nelpon?"
Arka bergegas kesana, dan ternyata memang ada. Arka mengambil bungkusan tersebut lalu membawanya ke dalam. Bagus semalam tidak hujan, hingga makanan tersebut tidak basah.
"Dek, ini mama. Koq di cuekin."
Amanda kembali bicara pada si kembar, sementara Arka terus memperhatikan.
"Udah fokus sama makanan." ujar ayah tiri Arka.
"Semalam tuh mereka bangun dan langsung duduk. Bilang papa-mama kayak orang bingung." Ibu Arka kembali berkata.
"Oh ya?"
Arka dan Amanda bertanya diwaktu yang nyaris bersamaan. Mungkin si kembar merasakan kerinduan. Jika hari tengah terang seperti ini sudah pasti mereka akan terhibur oleh banyak hal.
Sehingga kerinduan tersebut bisa saja terlupakan, dan baru teringat ketika malam mulai beranjak naik.
Arka dan Amanda berpikir, apa semuanya disudahi saja sekarang. Tapi takutnya perasaan ingin bebas itu akan muncul lagi, sebab mereka belum puas.
"Hhhhh."
Keduanya sama-sama menghela nafas. Pikiran mereka satu meski berada di tempat yang berbeda.
"Papapa."
"Mama."
"Iya sayang ini papa, Azka mau apa?" tanya Arka.
"Mama disini nak, Afka mau mama gendong?" Amanda menimpali.
Kedua anak itu menyodorkan kue dadar gulung yang tengah mereka makan.
"Apa itu?. Dadar gulung ya." tanya Arka.
"Wuwung."
"Apa?" Arka dan Amanda bertanya sambil setengah tertawa.
"Wuwung."
"Wuwung."
__ADS_1
Mereka berujar secara bergantian.
"Dadar gulung." Amanda mengajari.
"Wuwung."
Semua orang yang ada di sana tertawa.
"Dadar." ujar Arka.
"Baba." tukas Azka.
"Bada." Afka menimpali.
"Dadar." Arka kembali berujar.
"Baba."
"Bada."
"Dadar, nak." ujar Amanda.
"Eheee." Kedua anak itu sama-sama tertawa.
"Dadar."
"Baba."
"Bada."
"Gulung."
"Wung."
"Wung."
"Dadar gulung."
"Babawung."
"Badawung."
Arka dan Amanda tertawa. Begitupula dengan ibu, ayah tiri, dan juga Rianti.
"Ada gitu makanan badawung sama babawung?" tany Rianti pada keduanya. Dan lagi-lagi anak kembar itu hanya bisa tertawa.
"Eheee."
"Azkaaa."
"Afkaaa."
Terdengar suara panggilan dari luar.
"Aaaaa, Wawaw." ujar keduanya kompak. Mereka mendadak resah, seperti hendak dibawa keluar.
"Azkaaa."
"Afkaaa."
"Siapa bu?" tanya Arka dan Amanda di waktu yang nyaris bersamaan.
"Bu mawar sama teman-temannya." jawab ibu Arka.
"Wawaw."
Azka berujar dan melihat pada Rianti. Begitupula dengan Afka. Mereka seperti itu karena Rianti yang suka mendorong stroller mereka ke depan.
"Ngobrol dulu sama mama-papa." ujar ayah tiri Arka.
"Wawaw."
"Wawaw."
Mereka setengah menangis. Sebab ingin segera keluar bertemu bu mawar.
"Ya sudah bu, kalau mereka mau keluar. Amanda juga udah mau berangkat kerja, udah siang." ujar Amanda.
"Sama, Arka juga bu." Arka menimpali.
"Ya sudah kalau begitu. Kalian kerja dulu sana!" ujar ibu Arka.
"Kalau ada apa-apa kasih tau kami." tukas Arka lagi.
"Iya pasti, yang jelas handphone hidupkan." ujar ibu Arka.
"Iya bu." jawab keduanya serentak.
__ADS_1
Merek pun lalu berpamitan dan menyudahi sambungan telpon tersebut.