Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Mencari Papa


__ADS_3

"Papapa."


"Papapa."


Si kembar mulai mencari keberadaan Arka. Sebab sejak tadi sore mereka hanya melihat Amanda yang lalu lalang atau berinteraksi dengan mereka.


Ada Lastri dan Anita yang menginap untuk membantu Amanda dalam menghandle anak tersebut.


Tapi saat ini keduanya tengah tidur akibat lelah menjaga si kembar dari pagi. Amanda membiarkan saja hal itu terjadi. Toh ini giliran ia bersama si kembar.


"Papa kan pergi nak. Pulang masih beberapa hari lagi." ucap Amanda.


"Papapa?" tanya Azka.


"Iya, papa naik pesawat tadi pagi. Kan kalian ikut nganter." tambahnya.


"Owat?" Kali ini Afka yang bertanya.


"Iya, papa di Surabaya. Nanti kita telpon ya. Kita tanya dulu papa kalian sibuk nggak. Takutnya dia sibuk atau tidur." ucap Amanda.


"Aaaa, papapa."


Azka menunjuk pintu. Ia mengira Arka ada di luar sana.


"Bentar, mama tanya papa dulu."


Amanda lalu mengirim pesan singkat pada sang suami.


"Ka, dimana?. Boleh video call nggak. Anak-anak nanyain kamu ini." ucap Amanda.


Tak lama Arka pun menelpon dari sambungan video call. 


"Nah ini papa nih." tukas Amanda pada kedua anaknya sambil memperlihatkan layar handphone kepada mereka. Saat itu sinyal sedang stabil.


"Papapa?" tanya Azka.


"Papapa?" Afka menimpali.


"Iya, papa ini nak." Arka berujar sambil tertawa.


"Papapa."


"Iya ini papa. Papa lagi di Surabaya sekarang. Kalian nakal nggak?" tanya Arka.


Kedua anak itu menunjuk ke arah pintu.


"Papapa."


"Papapa."


"Nggak ada di balik pintu itu, ini papa."


Amanda kembali menunjukkan Arka yang berada di layar handphone.


"Mereka ngira aku di luar ya, Man?" tanya Arka.


"Iya." jawab Amanda sambil tertawa.


"Eheee."


Azka tertawa melihat sang ayah.


"Eheee."


Afka juga turut tertawa.


"Ngapain aja seharian ini nak?" tanya Arka pada mereka berdua.


"Tuh ditanyain papa tuh. Ngapain aja katanya kalian?" ucap Amanda pada mereka.


"Hoaya."


"Hoaya." jawab keduanya serentak.


"Mereka banyakan tidur seharian ini, pa. Pas bangun nyariin papa ya." ucap Amanda.


Arka tertawa.


"Sabar ya, papa kerja soalnya." ucap Arka kemudian.


"Joja?"


"Iya kerja."


"Tadi nangis Man, nyariin aku?" Arka bertanya pada Amanda.


"Nggak sih, biasa aja. Tapi nyari papapa, papapa. Karena biasa kamu samperin kalau pulang kerja." jawab Amanda.

__ADS_1


"Jangan nangis ya kalian dan jangan nakal disana."


"Hoaya."


"Eheee."


Keduanya sama-sama bersuara dan tertawa. Cukup lama Arka berbicara pada Amanda. Sementara si kembar kadang datang dan pergi dari depan layar. Tak lama Arka berpamitan dan menutup sambungan telpon.


"Papapa?"


Azka bengong, begitupula dengan saudara kembarnya Afka. Mereka mendapati Arka yang mendadak hilang dari pandangan mata.


"Papapa."


Mereka menunjuk ke arah pintu.


"Nggak ada, papanya di luar kota nak." ucap Amanda.


"Papapa."


"Papapa."


"Iya, papanya pergi."


"Aaaa, papapa."


Azka mulai merengek dan disusul kembarannya. Amanda mengajak mereka keluar kamar dan berkeliling mencari Arka.


"Udah mama bilang, papa tuh di luar kota." ucap Amanda.


"Hek, hekheee."


Mereka menangis. Tak lama pengasuh mereka bangun dan Amanda bersama pengasuh tersebut sama-sama coba menghandle kedua anak itu.


Mereka di ajak berkeliling penthouse hingga turun ke bawah melihat mobil yang lalu-lalang di jalan raya. Sampai akhirnya tangis mereka pun mereda.


***


Pagi menjelang, si kembar kembali mencari keberadaan Arka. Mereka terus berkata papapa, papapa. Namun Arka tak jua muncul dalam tangkapan mata mereka.


Arka kembali video call.


"Hallo sayang papa." ujarnya pada kedua anak itu.


"Papapa."


"Iya, ini papa. Udah pada mandi belum?" tanya Arka.


"Loh, ngamuk kenapa?" tanya Arka heran.


"Kan biasa mandi sama papa. Jadi ribut mau sama papa terus." jawab Amanda lagi.


"Nggak boleh gitu ya nak. Kasihan mbak yang jagain kalian. Kalau papa lagi nggak ada, ya mandi dulu sama mama, atau sama mbak."


"Eheee."


"Jangan ehe, ehe doang kamu." Amanda mencubit pipi salah satu anaknya yang tertawa, namun tidak kuat. Hanya cubitan gemas seorang ibu terhadap anaknya.


"Eheee."


Keduanya sama-sama tertawa. Amanda mencium mereka satu persatu.


"Udah sarapan belum?" tanya Arka.


"Baru aja selesai, ini udah ganti baju lagi." ucap Amanda.


"Pasti e'ek." Arka menebak.


"Iya, udah mandi udah cakep. Udah makan juga. Eh, berodol." Amanda membuat ia dan Arka tertawa.


"Kamu jadinya gimana Ka, disana?"


"Udah langsung ngambil beberapa adegan, Man."


"Loh, katanya pengenalan lokasi dulu sama latihan."


"Nggak tau, sutradaranya yakin banget mau langsung." jawab Arka.


"Jadi disana nanti sesuai jadwal apa di perpanjang?" tanya Amanda.


"Belum tau, makanya ini mau ditanyakan dulu." jawab Arka.


"Ini kamu udah mau berangkat?"


"Iya, bentar lagi paling."


"Udah sarapan?" tanya Amanda lagi.

__ADS_1


"Ini baru minum susu doang." jawab Arka.


"Tumben nggak ngopi."


"Lagi nggak kepengen."


"Nggak ada makanan?. Roti atau apa gitu?"


"Mana ada, belum sempat beli apa-apa. Nemenin si Rio ngonten kemaren. Ngonten mulu, udah kayak apaan tau."


Amanda tertawa.


"Apa motto hidupnya Rio, bekerjalah sampai bekerja itu..."


"Bekerjalah sampai pekerjaan itu insecure terhadap dirimu."


Arka melengkapi perkataan Amanda dan lagi-lagi Amanda tertawa.


"Insecure kagak, tipes iya."


Pemuda itu kembali nyeletuk dan Amanda makin terbahak.


"Ini dia dimana sekarang, biasanya udah nongol kalau lagi di dekat kamu."


"Ada di kamarnya, masih tidur mungkin." ucap Arka.


"Paling ntar bangun, langsung ngajak bikin konten." Lanjutnya lagi.


"Kalian di hotel nggak dapat breakfast?" tanya Amanda.


"Dapat, cuma mager aja ke bawah sendirian."


"Tok, tok, tok."


Terdengar suara ketukan pintu.


"Pasti si kutu air." ucap Arka.


Ia pun berjalan ke arah pintu dan membukanya. Benar saja, Rio sudah tampak di depan mata.


"Bro, laper. Breakfast yuk!" ajaknya masih dengan suara malas dan muka bantal.


"Ya udah, ayok. Cuci muka dulu kek lo. Kayak abis kena bencana alam."


Rio masuk ke kamar hotel Arka dan menuju kamar mandi.


"Ya udah sana, sarapan dulu Ka." Amanda kembali berujar di telpon.


"Iya, anak-anak mana?" tanya Arka.


"Itu." jawab Amanda seraya memperlihatkan anak-anaknya yang telah menjauh.


"Dek sini, papa mau sarapan. Telponnya mau ditutup." ucap wanita itu.


"Papapa?"


"Papapa?"


"Iya sini!" tukas Amanda lagi.


Kedua anak itu pun lalu mendekat.


"Nak, papa sarapan dulu. Habis itu mau ke lokasi, ya. Kalian jangan nakal."


"Buuuk."


Baru saja Arka memperingatkan. Azka sudah tampak memukul saudara kembarnya dan dibalas.


"Buuuk."


"Nggak boleh gitu, baru dibilangin sama papa."


Amanda menegur keduanya. Mereka pun lalu sama-sama tertawa.


"Eheee."


"Eheee."


Arka dan Amanda jadi ikut-ikutan tertawa. Tak lama Rio keluar dari dalam kamar mandi.


"Tuh, om Riri udah selesai. Papa pergi dulu ya." ucap Arka.


"Iya, da-da papa." Amanda berujar.


Si kembar melambaikan tangan dan dibalas oleh Arka.


"Papa sayang kalian semua."

__ADS_1


"Kami sayang papa."


Telpon tersebut akhirnya di sudahi. Kini Arka dan Rio bergerak keluar dan menuju kebawah, untuk mencari sarapan.


__ADS_2