Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Kaktus


__ADS_3

Nino dan Arka malah tertawa, ketika mendengar bagaimana sikap Intan dalam menanggapi Ansel.


"Makanya jangan sok sok mau membatalkan pernikahan." Nino berseloroh.


"Cewek Asia jaman sekarang udah nggak kayak dulu. Jaman dulu cewek, apalagi udah di apa-apain sama cowok. Mereka bakalan takut kalau ditinggalin sama cowoknya. Jaman sekarang mah beda." Arka menimpali ucapan Nino.


"Cewek Asia sekarang udah banyak yang berani, bro. Kalau cowoknya udah nggak mau, ya mereka juga pantang ngemis. Walau udah lo apa-apain nih, cewek sekarang pada berani ditinggalin. Karena Kenapa?. Diluar sana banyak cowok yang mau menampung." lanjut Nino.


"Koq lo berdua jadi mojokin gue sih?" tanya Ansel gusar.


"Bukannya belain kek saudara lagi dalam keadaan genting begini." lanjutnya lagi.


Arka dan Nino malah makin tertawa-tawa.


"Eh, Saparudin. Yang bikin masalah kan lu sendiri." seloroh Arka.


"Tau, lo sendiri yang ragu, lo sendiri juga yang ngomong sama Intan. Setelah tau jawaban Intan, lo sendiri juga yang kebakaran bulu ketek." Nino menimpali.


"Tapi kan gue ngomong ke dia atas saran lo berdua wahai pangeran William, pangeran Harry."


Ansel sewot sementara dua saudaranya terus saja tertawa-tawa.


"Emang nggak bener lo berdua." gerutu Ansel lagi.


"Gini ya, sekarang kan lo udah ngomong nih sama Intan. Lo udah tau juga reaksinya


gimana. Ya udah, lo tanya bener-bener sama diri lo. Masih mau dilanjut nggak ini pernikahan." ujar Nino kemudian.


"Masih, mau cepet-cepet gue buntingi itu si Intan. Dia kayaknya santai banget dengar gue ragu, kayak nggak takut kehilangan gue." tukas Ansel.


Maka Arka dan Nino saling lirik satu sama lain dan sama-sama tersenyum. Tak lama Ansel pergi ke dapur untuk mengambil minum, Arka dan Nino bergosip soal saudara mereka tersebut.


"Ketar-ketir sendiri si Jumali." ujar Arka sambil tertawa kecil.


"Lagian, orang udah repot ngurusin lamaran dia yang ribet. Eh, dia seenaknya bilang ragu dan mau membatalkan. Kenapa nggak dari sebelum itu aja, kalau emang ragu." ujar Nino.


"Makanya." Arka menimpali.


Tak lama Ansel kembali.


"Ngomongin gue ya lo berdua?" tuduhnya kemudian.


"Emang." jawab Arka dan dan juga Nino di waktu yang nyaris bersamaan.


"Dosa tau nggak."


Ansel berkata lalu berlalu dan menaiki tangga. Sementara Arka dan Nino mengambil sebatang rokok sambil masih saja tertawa.


***


"Tante-tante gatel yang ga ingat umur."


Pia sekretaris Amanda, menunjukkan sebuah akun tiktok yang sengaja membuat video untuk menjelekkan Amanda.


Terlihat jelas dalam video slide tersebut, ada foto Amanda dan juga Arka. Seketika batin Amanda pun bergemuruh, karena diliputi kemarahan. Tetapi ia masih berusaha untuk menahan semua itu.

__ADS_1


Ia hanya melihat username pengguna akun tersebut dan mencarinya melalui akun tiktok miliknya. Tak lama ia pun menemukan akun tersebut.


Amanda melihat ada sebanyak lima video yang ditujukan padanya dan akun itu tampak baru saja dibuat.


Amanda lalu menilik komentar yang masuk. Para netizen kompak menghujat si pemilik akun.


"Waw, terdeteksi iri dengki." ujar salah seorang netizen.


"Wkwkwkwk, mungkin ini cewek yang suka sama si Arka. Hey mbak, ngaca!. Elu siapa anjay." timpal pemilik akun yang lainnya lagi.


"Kalaupun Arka nggak menikah sama Amanda, belum tentu juga mau sama elu."


"Anjay, iri. Wkwkwkwk."


Amanda tersenyum membaca komentar demi komentar tersebut. Itu artinya ia tak perlu memusingkan satu atau dua haters yang menyinggung dirinya.


Sebab ada banyak netizen lain yang akan siap membela, tanpa ia harus turun tangan. Amanda lalu keluar dari akun sosial media tersebut kemudian melanjutkan pekerjaan.


Karena mencari uang adalah hal yang lebih penting daripada mengurusi orang yang hatinya berbau busuk.


***


"Mamanda."


Salah satu dari si kembar berujar ketika Arka dan Amanda telah kembali ke rumah dan mengajak mereka bermain bermain bersama.


"Apa dek?. Coba ulangi!" pinta Amanda sambil tertawa.


Arka pun ikut tertawa mendengar hal tersebut.


"Manda." ujar Azka.


"Mama." Afka ikut-ikutan berkata.


"Yang tadi coba ulangi!" ujar Amanda.


Si kembar kemudian cengar-cengir lalu fokus mereka teralihkan ke arah lain. Mereka memang belum bisa diminta mengulang sesuatu. Mereka lanjut bermain dan di tengah-tengah permainan tiba-tiba keduanya berujar.


"Mamanda." ujar Azka.


"Papaka." Afka menimpali.


Arka dan Amanda saling menatap satu sama lain sambil tertawa kecil.


"Siapa?. Siapa?" tanya mereka kemudian.


"Mamanda." Azka menunjuk Amanda.


"Papaka." Afka menunjuk Arka.


"Mamanda."


"Papaka."


Mereka mengulangi lagi. Namun kemudian jadi terbolak-balik. Arka dibilang mamanda dan Amanda dibilang papaka.

__ADS_1


"Koq kebalik?" tanya Amanda dan Arka diwaktu yang nyaris bersamaan.


Tak lama si kembar pun lalu tertawa-tawa dan pergi kesana-kemari. Saat bosan bermain mereka tampak berusaha berdiri dengan mencari pegangan di sana-sini. Lalu mereka coba untuk berjalan, meski sesekali mereka terjatuh dan tertawa.


Tak jarang pula menangi jika jatuhnya ke. tempat yang keras. Namun Arka dan Amanda tak begitu mempermasalahkan. Toh kedua anak itu memang tengah belajar berjalan.


***


Esok sore.


"Ka, kita ke Karen's dinner yuk!"


Rio berkata pada Arka setelah mereka selesai syuting. Seperti diketahui proses pengambilan gambar kini telah berpindah set lokasi dan tak lagi di luar kota.


"Apaan gue lihat pada cringe anjir. Marahnya dibuat-buat banget, malah enek gue." jawab Arka.


"Justru itu, kita tanding sama mereka. Kita yang kalah, atau mereka yang salting." ujar Rio.


Arka berpikir.


"Oke, tapi ajak Nino sama Ansel juga." ujar pemuda itu.


"Lah si Firman nggak diajak?" tanya Rio.


"Firman lagi PMS. Lo mau itu para Karen's nya dilempar ulekan sambel sama dia?. Ingat nggak lo waktu dia hamil dulu, si Maureen aja di cariin sampe kampus." jawab Arka.


"Kan itu waktu hamil."


"Hormon cewek lagi PMS sama lagi hamil tuh sama aja. Mau itu pegawainya botak semua, karena dijambak sampe lepas rambut mereka sama si Firman?"


Rio tertawa kali ini.


"Firman ternyata lebih serem dari yang gue duga ya." ujarnya kemudian.


"Jangan main-main sama Firman, kalau dia lagi PMS. Gue aja pernah diminta jawab, seandainya dia jadi kaktus gue bakalan masih sayang apa nggak."


"Hahaha."


"Hahaha."


Rio terbahak-bahak.


"Serius bro?" tanya nya kemudian.


"Serius gue, sampe bingung gue nih cewek kenapa."


"Terus lo jawab apaan?" tanya Rio.


"Ya gue jawab aja masih bakalan sayang."


"Terus tanggapan dia gimana?" tanya Rio lagi.


"Malah ngambek, terus ngomong sambil kayak marah gitu. Katanya selama ini berarti gue menganggap dia itu adalah kaktus. Pusing nggak lo?"


"Hahaha."

__ADS_1


"Hahaha."


Lagi-lagi Rio tertawa, kali ini lebih geli dari yang sebelumnya.


__ADS_2