Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Rencana Riri


__ADS_3

"Cut."


Sutradara memotong adegan terakhir Arka dan juga Rio di set lokasi. Tepuk tangan pun mengiringi berakhirnya proses syuting yang mereka jalani. Mereka semua saling berterima kasih atas kerjasama yang terjalin dalam beberapa waktu belakangan ini.


"Ka."


Elina buru-buru menghampiri Arka ketika semua telah selesai. Dari jarak tak begitu jauh, tapi agak sedikit tersembunyi. Rio memperhatikan keduanya.


"Kenapa, El?" tanya Arka pada Elina.


"Abis ini ke bar yuk. Gue pengen banget santai malam ini. Penat gue syuting mulu non stop selama beberapa hari."


"Lo bilang aja ke Rio. Kalau Rio mau, gue mau." ujar Arka.


Tak lama sutradara memanggil Arka entah untuk keperluan apa, lalu Arka pun mendekat.


"Kenapa setiap apa-apa mesti ada Rio sih." gerutu Elina seraya berlalu meninggalkan tempat itu. Tanpa ia sadari jika Rio mendengar perkataannya.


***


"Ka, gimana?"


Amanda menelpon Arka, saat Arka dan Rio sudah kembali ke apartemen.


"Udah selesai, Man. Ini aku sama Rio lagi packing, biar besok langsung pulang." jawab Arka.


"Yeay dek, papa mau pulang."


Amanda berbicara kepada si kembar yang kini ada di dekatnya.


"Papapa?" ujar mereka serentak.


"Iya, papa mau pulang besok. Kita bisa main sama papa lagi, kalian bisa bobo bareng papa juga." ujar Amanda.


"Eheee."


"Papapa."


Arka tertawa mendengar semua itu, besok hidupnya akan kembali normal seperti sediakala. Walaupun mungkin akan lebih capek karena jadwal syuting akan terus berjalan.


"Bro, beli oleh-oleh dulu ya ntar." ujar Rio pada Arka.


"Oh iya, lupa gue. Buat nyokap-bokap gue." ujar Arka.


"Gue juga mau beli buat bokap sama Liana." timpal Rio.


"Kamu mau apa sayang?" Arka bertanya pada istrinya.


"Apa aja sih, nggak dibawain juga nggak apa-apa. Sekarang kan makanan semua daerah bisa di pesan di ojek online." ujar Amanda.


"Iya juga sih."


Arka berkata sambil tertawa.


Dilain pihak Elina mencoba menghubungi Arka. Tetapi Arka tengah berada di panggilan lain.


"Ka, gimana mau nggak?"


Elina mengirim pesan singkat. Tetapi tidak dibaca oleh Arka, sebab ia masih sibuk ditelpon. Ketika Amanda menyudahi obrolan tersebut, ia pun belum langsung mengecek notifikasi. Melainkan kembali fokus untuk packing.


Elina menunggu cukup lama, sampai akhirnya perempuan itu jadi tertidur. Saat pagi menjelang Arka dan Rio bergegas menuju bandara.


Tadinya mereka ingin berangkat agak siang tapi kemudian berubah pikiran. Sebab mbak Arni bilang mereka di tunggu Philip di kantor management.


Setibanya di Jakarta Arka membereskan dulu beberapa urusannya. Dan setelah semuanya rampung, barulah ia pulang ke rumah dan bercengkrama bersama anak-anak.


Bahkan kini ia sampai tertidur lelap di depan televisi. Tapi tidak dengan Azka dan juga Afka. Ketika Amanda kembali dari kantor, wanita itu melihat Azka dan Afka yang menyusun mainan di tubuh Arka yang tengah terbaring.

__ADS_1


"Eh, dek. Itu papa diapain?" tanya Amanda pada keduanya.


"Papapa."


"Eheee."


Mereka malah tertawa, mendadak Arka pun terbangun.


"Tuh kan." ujar Amanda pada si kembar.


"Eheee."


Arka tersenyum, pemuda itu mengusap kepala si kembar lalu seperti hendak tertidur kembali. Setelah sebelumnya sempat ia memberikan lirikan pada Amanda.


"Kamu udah pulang, Man?" tanya nya dengan mata yang kembali terpejam.


"Iya, sayang." jawab Amanda.


"Aku tidur dulu bentar ya." ujar Arka lagi.


"Iya, nanti aku masakin makan malam buat kita." tukas Amanda.


Arka mengangguk lalu kembali lenyap. Sementara Amanda kini berusaha membuat anak-anaknya bermain agak jauh, agar tidak mengganggu ayah mereka.


Malam harinya mereka makan bersama, kemudian di tengah-tengah acara makan tiba-tiba ibu Arka menelpon.


"Iya bu." jawab Arka.


"Ka, terima kasih ya oleh-olehnya. Ibu sudah terima dengan baik."


"Iya bu, sama-sama." jawab Arka.


"Kamu lagi apa sekarang?" tanya ibunya.


"Lagi makan sama Amanda dan anak-anak."


"Oh ya sudah, ibu cuma mau bilang itu saja tadi. Sana, kamu makan dulu!"


"Iya bu."


"Iya bu."


Maka ibu Arka pun berpamitan pada sang anak, kemudian menutup sambungan telpon. Arka kini kembali melanjutkan makan.


***


Pagi hari sebelum itu. Saat Arka dan Rio baru saja berangkat ke bandara.


"Ri, lo sama Arka dimana sih?. Koq gue ketok-ketok di apartemen nggak ada?"


Elina mengirim pesan singkat pada Rio. Lantaran ia mengirim pada Arka, namun belum di read. Bahkan pesan sebelumnya saja seperti diabaikan oleh pemuda itu.


"Gue udah balik ke Jakarta sama Arka. Kenapa emangnya?"


Rio balas melontarkan pertanyaan, dan Elina pun terkejut membaca semua itu.


"Koq nggak ada yang pada ngasih tau gue sih?. Biar bareng gitu pulangnya." ujar Elina lagi.


"Sorry, El. Bener-bener nggak kepikiran gue." ujar Rio.


"Oh ya udah kalau gitu." balas Elina lagi.


Kali ini ia menghentikan chat tersebut dan duduk di ujung tempat tidurnya. Lagi-lagi ia gagal ingin berduaan dengan Arka. Selalu saja ada yang menghalangi. Padahal benak Elina sudah menyusun rencana sedemikian rupa.


***


"Papapa."

__ADS_1


Azka dan Afka berada di pangkuan sang ayah. Arka dan Amanda telah selesai makan malam, begitupula dengan kedua anak itu.


"Kangen ya sama apa?" tanya Arka pada keduanya.


"Nanen." jawab Azka.


"Nen." Afka menimpali.


"Kita jalan-jalan yuk minggu ini." ucap Arka lagi.


"Mau kemana, pa?" tanya Amanda yang baru saja keluar dari kamar.


"Kemana aja boleh." jawab Arka.


"Eheee." si kembar tampak tertawa-tawa.


"Hmm, kalau kalian mah kemana aja juga seneng. Iya kan?"


Amanda meledek kedua anaknya, dan kedua anak itu kembali tertawa.


"Eheee."


Tak lama Rio menelpon Arka.


"Halo, kenapa Ri?" tanya Arka pada temannya itu.


"Ka, lusa jalan yuk. Ajak anak-anak sama bini lo juga. Ntar gue ngajak Liana."


"Kemana?" tanya Arka.


"Pokoknya tempat gue yang menentukan. Kan gue ulang tahun tuh." ujar Rio.


"Oh iya, lupa gue lo ulang tahun."


"Makanya gue ingetin, biar lo kasih gue hadiah." seloroh Rio.


"Dasar Junaedi Wicaksono." Arka berkata sambil tertawa.


"Pokoknya hadiah buat gue harus yang mahal dan branded."


"Gaya lo, haji Malih. Ntar gue beliin parfum Condet mau lo?" tanya Arka.


"Pokoknya awas kalau hadiah ke gue nggak ekslusif." ujar Rio lagi.


"Dih, merampok anjay. Orang tuh dimana-mana yang namanya hadiah, ya terima aja. Namanya juga dikasih." ujar Arka.


"Nggak mau gue, pokoknya awas aja lo."


Arka kembali tertawa.


"Lo rencana mau kemana sih?" lagi-lagi Arka bertanya.


"Ada deh, pokoknya ini akan mengingatkan gue sama lo ke masa childhood kita Ka."


"Apaan, manjat pohon palem?" tanya Arka.


Dulu saat kecil mereka suka saling menchallenge dengan memanjat pohon palem.


"Nongkrong dekat septic tank orang." ujar Rio sewot.


Sementara Arka kini terkekeh.


"Puas lo?" ujarnya lagi.


Arka makin tertawa geli.


"Ya abisnya lo nggak jelas mau kemana."

__ADS_1


"Pokoknya lo tenang aja, ini bakal jadi jalan-jalan seru." ujar Rio.


"Ya udah, lo atur aj." balas Arka.


__ADS_2