Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Tanya


__ADS_3

"Apa kabar?"


Tiba-tiba muncul pesan singkat dari Nadine di handphone Nino. Mendadak luka di hati pria itu seperti kembali berdarah. Lama ia menatap perangkat tersebut, sampai kemudian Azka memukul layarnya.


"Plaaak."


Nino tersadar jika sang keponakan ada bersamanya. Sedang Afka sudah tidur bersama Ryan sejak tadi di kamar bawah. Nino lalu meletakkan handphone dan mengajak Azka untuk tidur.


"Bobok ya, nanti besok kita main lagi." ujarnya kemudian.


Azka berbaring sambil mengenyot botol susu.


"Bubu." ujarnya kemudian.


Nino tau mengenai bubu. Itu artinya Azka minta dibacakan sebuah dongeng. Berhubung tak ada buku dongeng yang dibawa, ia pun mencari dongeng untuk anak di internet. Ia lalu mendekat kepada Azka dan mulai membacakan dongeng tersebut.


"Bubu." ujar Azka lagi.


"Iya, ini kan uncle baca bubu nya."


"Bubu." Azka seperti hendak menangis.


Nino diam dan mencoba mencerna arti kata yang dimaksud oleh keponakannya itu.


"Bubu, hekhee. Bubuuu."


Nino lalu mengambil sebuah buku yang ada di dekat sana. Lalu ia meletakkan handphone ke dalam buku tersebut dan mulai membaca. Azka kembali berbaring sambil meminum susu. Ternyata ia harus diperlihatkan sebuah buku secara fisik.


Sebab ia dikenalkan dongeng melalui buku. Maka selanjutnya yang ia inginkan adalah buku. Tentu saja sebab ia belum mengerti jika saat ini ada buku yang berbentuk digital. Arka dan Amanda hanya menggunakan gadget sesekali kepada anak-anak mereka.


Beberapa saat berlalu, susu hampir habis. Dongeng pun hampir selesai dibacakan. Mata Azka mulai meredup, ketika tiba-tiba Arka video call ke handphone Nino.


"Ka."


"Nin, apa kabar lo?" tanya Arka.


"Baik, lo sendiri?" Nino balik bertanya.


"Baik, gue lagi nungguin Amanda mandi. Mau nelpon dia. Tiba-tiba gue inget lo." ujar Arka.


"Oh, emang lo udah balik?" tanya Nino.


"Udah, udah kelar semua hari ini." jawab Arka.


"Lo lagi dimana ini?" tanya nya kemudian.


Nino tertawa kecil lalu mengarahkan kamera pada Azka yang sudah lima Watt.


"Papapa." ujar Azka dengan nada super lemah, karena ia sudah sangat mengantuk.


"Loh, kamu tidur sama uncle?" tanya Arka.


"Hoahm."


Azka masih hendak melihat Arka, namun kalah oleh rasa kantuk yang ia miliki. Ekspresi wajahnya begitu lucu hingga menyebabkan Arka dan Nino pun tertawa.

__ADS_1


"Tadi minta dongengin sama gue. Karena buku dongengnya nggak di bawa sama Amanda, gue carilah dongeng online." tukas Nino.


"Terus dia protes pas gue bacain, sambil ngomong bubu-bubu. Udah mau nangis mukanya. Akhirnya itu handphone gue tarok dalam bukunya Ansel, baru diem."


Arka tertawa.


"Karena dia kenal dongeng dari buku. Jadi dia pikir dongeng itu ya pakai buku." ujarnya kemudian.


"Iya sih, kayaknya gitu." ucap Nino.


"Ansel nggak kesitu?" tanya Arka.


"Oh ya, lupa gue kalau itu makhluk ada disini."


Nino berseloroh lalu menyeruput susu hangatnya yang mulai dingin. Tadi ia membuatnya berbarengan dengan menyiapkan ASI untuk Azka.


"Sakit dia di sebelah." lanjutnya lagi.


"Sakit apaan Ansel?. Bengkak biji?" seloroh Arka.


Ia dan Nino terkekeh-kekeh.


"Kena flu, bersin-bersin mulu. Tadi ada gue kasih obat flu, eh molor abis itu."


"Iya kan rata-rata obat flu bikin ngantuk. Oh ya, si Afka tidur dimana?" Arka kembali bertanya.


"Ada sama daddy di bawah." jawab Nino.


Tak lama Amanda mengirim chat pada Arka.


"Nin, Amanda udah kelar tuh. Gue telpon dia dulu ya."


"Oke sip." jawab Nino.


Lalu Arka pun berpamitan dan menyudahi telpon tersebut. Setelah itu ia beralih menelpon Amanda.


***


"Ka."


Amanda menyapa Arka di layar handphone miliknya.


"Hai sayang, udah mandinya?" tanya Arka.


"Udah dong, ini udah seger kan aku. Udah cantik." jawab Amanda.


"Kamu udah makan, Ka?" tanya wanita itu pada sang suami.


"Udah tadi, pas pulang langsung makan sama Rio.


"Gimana tadi di lokasi?"


"Baik, semuanya lancar. Kerjaan kamu gimana di kantor?" tanya Arka.


"Lancar juga, sejauh ini nggak ada masalah serius." jawab Amanda.

__ADS_1


"Suara kamu capek banget itu, Man. Istirahat gih!"


"Ntar lah, kan baru nelpon. Masih kangen tau sama kamu." Amanda menekuk bibirnya.


"Kamu kalau ngambek lucu deh, rasa pengen lempar granat." seloroh Arka.


Amanda pun tertawa.


"Aku tadi tuh mau telpon daddy, mau liat anak-anak. Tapi nggak diangkat, tidur kali ya."


"Iya daddy udah tidur sama Afka. Tadi aku ada telpon Nino. Azka lagi sama dia, redup banget matanya kayak abis ngeronda."


"Oh ya?"


"Iya, pas aku panggil jawabnya lemes banget."


Amanda tertawa.


"Tapi masih tiga suku kata?" tanya nya kemudian.


"Masih, itu mah nggak dikurangi. Masih papapa."


Keduanya lalu tertawa.


"Syutingnya itu masih lama ya, Ka?"


"Lumayan, banyak adegan pengulangan juga. Sutradaranya perfeksionis banget soalnya. Ntar nih kita udah capek banget di adegan satu, misalkan dia rasa kurang pas. Bakalan di take ulang itu sama dia."


"Ya bagus, bias hasilnya maksimal."


"Bagus sih bagus, aktornya klenger." ucap Arka.


Lagi-lagi Amanda tertawa.


"Sabar, Ka. Setiap kerjaan itu pasti capek. Rebahan aja capek, apalagi membanting tulang."


"Iya sih, patokan aku ya cuma kamu sama anak-anak. Kalau lagi bosen banget sama rutinitas pekerjaan, aku pasti inget kalian berdua. Inget biaya sekolah Azka sama Afka nanti yang nggak sedikit."


"Hahaha."


Mereka kembali tertawa.


"Untuk anak-anak mah kita saling bantu aja, Ka. Jangan kamu semua. Kan aku juga orang tua mereka. Kebetulan aku juga ada penghasilan. Kecuali kalau aku emak-emak rumah tangga, pasti semuanya aku bebankan sama kamu."


"Tapi kan tetap aja, Man. Aku kepala keluarga, aku bapak mereka. Meskipun kamu mau bantu ya, tetap itu jadi kewajiban aku. Kamu nggak ada kewajiban untuk menafkahi keluarga ini. Tapi terima kasih kalau mau bantu, cuma aku nggak maksa ya."


"Iya, aku juga melakukannya atas dasar kerelaan koq. Masa iya aku kerja capek-capek, buat keluarga sendiri pelit. Mau mati di uruk duit aku?" tukas Amanda.


"Hahaha."


Tawa mereka begitu renyah memecah kebisuan malam yang hening, lantaran diluar kini turun hujan cukup deras.


Di kediaman Ryan semua orang tertidur nyenyak. Kepala Afka ada di pinggir tempat tidur, sementara kakinya berada di dada pria itu. Azka sendiri masih kalem dan masih memeluk Nino.


Nun jauh di dalam lembaga pemasyarakatan, tubuh Amman menggigil. Ia terserang demam dan tampaknya butuh pertolongan. Seorang petugas sipir penjara mendengar pria itu mengigau. Lalu ia pun membuka kunci sel tahanan dan memeriksa.

__ADS_1


Ternyata benar, Amman mengalami panas tinggi yang bahkan sudah terbilang cukup berbahaya. Maka malam itu mereka pun melakukan sebuah tindakan.


__ADS_2