Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Panas


__ADS_3

"Arka, hmmh."


"Aaah."


"Ssshhh."


"Enak?" tanya Arka.


"Hmmh?"


Pria itu terus menghujam-hujamkan miliknya dengan penuh keperkasaan.


"Iya, Ka. Hmmh, en, naaak. Hmmh."


Amanda makin membuka lebar kedua kakinya, seakan tak ingin melewatkan Arka sedikit pun.


"Enak?" tanya Arka lagi.


"Hmmh, Ka. En, naaak. Hmmh."


"Ah, sayang. Perut kamu agak buncit, ini pasti yang aku masukin waktu itu kan?"


Arka mengelus perut Amanda sambil terus memompa miliknya.


"Iya, ini karena kamu Ka."


"Aku isi lagi ya sayang, hmmh."


"Iyaaah, aaah, ssshhh."


"Isi lagi sayang."


"Iya, ini mau aku isi." ujar Arka.


Amanda melingkarkan kedua kakinya di pinggul pria itu. Sementara kedua tangannya meremas seprai tempat tidur.


"Ngerasa nggak kalau makin besar di dalam, sayang?. Hmmh?" Arka kembali bertanya di sela-sela aktivitasnya.


"Iyaaah, ngeganjel banget hmmh. Tapi enak ah, ah, ah."


"Makin panjang kan sayang?"


"Iya, mentok sampai perut Ka. Mentok banget ah, ah."


Arka mencabut miliknya yang masih sangat tegang tersebut. Ia mencium bibir Amanda lalu menarik wanitanya itu ke sofa. Arka duduk, wanita itu kini berada di atas tubuhnya.


Setelah milik sang suami masuk sampai dalam, ia mulai membuat gerakan naik turun. Arka jadi belingsatan dan tampak menikmati goyangan sang istri yang begitu panas.


"Ah, sayang. Aaaaah."


"Kamu cantik, sayang. Kamu cantik."


Arka berkata dengan mata yang begitu sayu, namun tangannya meremas dua gundukan yang berisi makanan kedua anaknya.


"Ka, hmmh."


Keduanya kembali berciuman. Posisi terus berganti lagi dan lagi. Hingga kemudian,

__ADS_1


"Sayang aku mau ngisi perut kamu."


Arka mempercepat tempo gerakan. Amanda yang sudah kembali terlentang kini semakin membuka lebar kedua kakinya.


"Iya sayang semburkan semuanya di dalam, biar enaaak."


"Aaaaaaah."


Gelombang kenikmatan itu akhirnya datang. Seperti sebuah serangan yang membuat tubuh keduanya bergetar hebat.


Rasa nikmat menjalar di mana-mana. Hingga menyebabkan nafas keduanya tersengal-sengal. Keringat membanjir dimana-mana dan jantung berpacu dengan sangat cepat.


"Ka, aku kangen."


Amanda menangis dan memeluk Arka.


"Aku juga sama sayang, kita udahin aja semua ini ya. Aku nggak sanggup lebih lama lagi jauh dari kamu dan anak-anak." ujar Arka.


Amanda mengangguk, lalu lanjut menangis sesenggukan di dada sang suami. Arka mencoba menenangkan wanita itu dengan cara mencium kening serta bibirnya dengan lembut.


"Besok kita jemput anak-anak." ujar Arka.


"Aku udah nggak mau bebas lagi, Ka. Karena rasanya ternyata beda. Kita tuh udah nggak kayak dulu lagi. Banyak hal yang harus di pikirkan." ujar Amanda.


"Iya sayang, aku juga ngerasa gitu. Udah nggak bisa sebebas dulu lagi, walau keadaannya sangat memungkinkan. Jujur anak-anak tuh yang selalu menghantui pikiran aku." tukas Arka.


Ia kini mengambil tissue di meja samping tempat tidur dan menghapus air mata Amanda.


"Kita tidur ya sayang." ujarnya.


***


Pagi hari Elina terbangun di kamar hotel. Ia mencari Arka namun Arka tak ada disana. Ia juga mencoba menelpon pria itu, namun handphone Arka mati.


Saat ini Arka masih tertidur nyenyak, sambil memeluk istrinya yang sudah ia garap semalam.


Elina beranjak, ia pergi ke kamar mandi dan mencuci muka. Usai melakukan itu semua ia berkaca di wastafel.


Ia memasukkan tangan dari bawah dan meraba bagian sensitifnya sendiri. Ia ingin memeriksa apakah Arka ada menggoyang dirinya atau tidak semalam.


Namun sepertinya tak ada tanda-tanda apapun. Meski Elina sejatinya berharap demikian. Jika tidak jadi pasangan, jadi teman tapi bobo pun tak masalah pikirnya.


***


"Pagi sayang."


Amanda baru membuka mata ketika matahari mulai meninggi. Ia langsung mendapati Arka yang tersenyum padanya.


"Pagi." ucap Arka seraya mengelus dan menekan-nekan bagian bawah perut sang istri.


"Hasil garapan semalam." ujar Arka.


Amanda tersenyum.


"Ingat dulu ya Ka, waktu hamil si kembar. Pasti tiap pagi kamu bangun duluan, terus elusin perut aku kayak gini." ujar Amanda.


"Nggak tau bawaannya pengen gitu terus." ujar Arka.

__ADS_1


Ia lalu mencium bibir Amanda.


"Mau di peluk, Ka."


Amanda merengek manja. Arka lalu memeluk wanita itu barang sejenak.


"Kita mandi, sarapan, belanja, abis itu ke tempat ibu." ujar Arka.


"Iya." jawab Amanda sambil tersenyum.


Tak lama mereka pun mulai beranjak dari tempat tidur. Pertama-tama keduanya pergi mandi. Kemudian mengganti seprai tempat tidur dan juga bed cover.


Mereka membersihkan rumah bersama-sama. Kemudian Arka mencharge handphone dan Amanda membuat sarapan.


Baru seminggu lebih berlalu, namun rasanya seperti sudah berpisah selama setahun.


Arka sangat merindukan pemandangan di dapur seperti ini. Dimana istrinya sibuk menyiapkan sarapan untuknya dan biasanya ia akan bantu mengurus anak-anak.


Ternyata kebebasan yang mereka inginkan tak lebih baik dari semua ini. Bebas pun ternyata ada saatnya kita senang, tapi ada saatnya pula kita merasa hampa.


Seperti yang Arka dan Amanda alami selama beberapa hari belakangan. Keduanya sangat bahagia bisa bebas kembali. Tapi terasa seperti ada yang kurang dalam diri mereka.


Dan pada akhirnya berempat memang jauh lebih baik ketimbang sendirian. Meski harus mengulang kegiatan yang sama setiap hari.


"Nih Ka, sarapannya." ujar Amanda seraya meletakkan satu mangkuk mie instan plus telur yang diberi potongan daging slice, dumpling, sayuran serta daun bawang."


"Mau bikin roti ternyata abis. Dan beras juga belum beli. Ini aja dulu ya, Ka. Aku juga makan yang sama koq." ucap Amanda.


"Iya sayang, nggak apa-apa." tukas Arka.


Ini masih lebih baik, ketimbang makan mie instan yang dimasak sendiri di rumah yang sepi. Hanya ada kebebasan disana tapi tak ada kehangatan. Kecuali hangat dari kuah mie instan itu sendiri.


"Waktu di rumah sana kamu makan gimana, Ka?" tanya Amanda.


"Ya makan mie kayak gini kalau pagi."


"Yah, maaf. Balik kesini kamu malah makan mie lagi." Amanda begitu merasa bersalah.


"Nggak apa-apa koq. Masih lebih baik daripada masak mie sendiri, makan sendiri,dan nggak ada teman ngobrol." ujar Arka sambil tertawa.


"Kamu mah enak di rumah itu. Aku diem di penthouse ini, kenangannya banyak. Tiap hari aku kayak denger suara kamu sama anak-anak." ujar Amanda.


"Jangan salah, walaupun kita cuma sesekali ke rumah itu. Kita juga pernah ajak anak-anak ke sana. Aku juga kayak selalu dengar suara mereka setiap pagi." Arka menimpali.


"Berarti emang kita tuh nggak bisa jauh sebenarnya. Cuma karena ego aja."


Lagi-lagi Amanda berujar.


"Namanya juga masih muda." ujar Arka.


"Yang udah tua masih egois juga ada."


"Nyindir nih." tukas Amanda.


"Iya." jawab Arka.


Maka keduanya pun sama-sama tertawa dan lanjut makan.

__ADS_1


__ADS_2