Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Isi Hati


__ADS_3

"Man."


"Iya, Ka."


Amanda dan Arka berbicara di telpon.


"Kamu udah di rumah?" tanya Arka.


"Udah." jawab Amanda.


"Tadi ditempat Daddy sampai jam berapa?" tanya Arka lagi.


Sebelumnya ia ada diberitahu oleh Amanda, mengenai undangan makan malam yang dibuat oleh Ryan.


"Barusan aja pulang." jawab Amanda.


"Anak-anak mana?"


"Lagi di kamar, minum susu."


"Tadi di rumah daddy, ngapain aja mereka?"


"Ya main, makan, nyusahin Wew sama Nono." jawab Amanda.


"Koq nyusahin?" tanya Arka heran.


"Iya, pada mau pup. Tapi satunya mau sama Nono, satunya lagi mau sama Wew."


Amanda berkata sambil tertawa.


"Koq bisa?. Emangnya mereka minta supaya ditemenin gitu?"


"Iya, pas udah keliatan mau pup gitu kan aku gendong. Sekalian ke kamar mandi aja aku pikir. Tapi si Azka ribut panggil Nono-Nono, terus Afka ngamuk mau sama Wew. Jadi ya udah, dua orang itu yang ngurusin mereka."


"Hahaha." Arka tertawa.


"Kasihan dong Nono sama Wew." ujarnya lagi.


"Iya, abis mau gimana. Kalau nggak diturutin pasti bumi gonjang-ganjing." tukas Amanda.


Lagi-lagi Arka tertawa.


"Kelakuan anak-anak kamu tuh, bener-bener." ujar Amanda lagi.


Arka masih saja terus tertawa.


"Tadi jadi Ka, kulineran sama Rio?" Amanda bertanya pada sang suami.


"Jadi." jawab Arka.


Tiba-tiba ia diam lantaran teringat akan sesuatu.


"Ka?"


"Ah, iya Man."

__ADS_1


"Kenapa diem?" tanya Amanda heran.


"Nggak, cuma inget kejadian tadi aja." jawab Arka.


"Kejadian apa?" lagi-lagi Amanda bertanya karena penasaran.


"Tadi aku sama Rio ketemu istrinya pak Jeremy, Man." jawab Arka.


"Istrinya pak Jeremy?"


"Iya, dia lagi jalan sama selingkuhannya."


"Oh ya?"


"Iya, dia juga makan di tempat aku sama Rio makan. Selingkuhannya itu kan orang sini, katanya." ujar Arka lagi.


"Oh."


Amanda menanggapi dengan sedikit kebingungan. Sebab sudah pasti kejadian itu sangat miris sekali, mengingat saat ini pak Jeremy masih terluka akibat perbuatan istrinya tersebut.


"Tapi istrinya itu ngeliat kalian?" tanya Amanda.


"Dia kenal nggak sih sama kalian berdua?" lanjutnya lagi.


"Kenal sih kenal, tapi tadi dia nggak ngeh kalau ada aku sama Rio. Pokoknya mesra banget deh, masih bisa ketawa-ketawa." ujar Arka.


Amanda menarik nafas agak dalam.


"Kita nggak pernah tau apa yang terjadi sih, Ka. Jadi nggak bisa asal menjudge juga." ujarnya kemudian.


"Mungkin dia ada salah juga, sampai istrinya bisa selingkuh. Tapi kan segala sesuatu harusnya bisa dibicarakan baik-baik. Jangan asal main serong dulu." lanjutnya lagi.


"Iya sih, harusnya selesaikan dulu baik-baik. Kalau emang udah nggak bisa, ya mending pisah dulu. Baru cari pasangan lain lagi." tukas Amanda.


"Makanya." Arka kembali berujar.


Lalu mereka sama-sama diam sejenak.


"Kamu jangan gitu ya, Man." ucap Arka dengan nada seperti penuh harap.


"Kalau udah nggak mau sama aku ya, ngomong aja. Jangan selingkuh kayak gitu, sakit banget kalau di gituin." lanjutnya lagi.


Amanda tertawa.


"Koq kamu ketawa?" tanya Arka heran.


"Aku bukan ngetawain permintaan kamu ataupun keadaannya pak Jeremy saat ini. Aku cuma seneng aja, akhirnya ada cowok yang bisa menilai bahwa perselingkuhan itu merupakan sesuatu hal yang menyakitkan." ujar Amanda.


"Karena selama ini kamu tau sendiri kan, yang selingkuh itu rata-rata kaum cowok. Di mulai dari aplikasi dating lah, atau dari tempat karaoke dan lain-lain." tukasnya lagi.


Arka masih mendengarkan.


"Nggak banyak cowok yang menyadari kalau perselingkuhan itu bikin pasangan jadi terluka." lanjut Amanda.


Kali ini Arka yang menarik nafas dalam-dalam.

__ADS_1


"Aku sayang kamu. Aku masih muda dan belum sesukses cowok-cowok di circle dunia bisnis kamu. Aku takut banget mereka mengacaukan rumah tangga kita. Aku sayang sama kamu, Man."


Amanda tersenyum penuh haru, meski Arka tak mengetahui hal tersebut.


"Sebisa mungkin aku akan jaga rumah tangga kita, Ka. Aku sih tergantung suami. Kalau suami bertingkah duluan, ya awas aja." ujar wanita itu kemudian.


"Iya, tenang aja kalau sama aku. Emang pernah aku macem-macem selama kita nikah?" tanya Arka pada sang istri.


"Belum pernah sih. Dan jangan pernah kalau bisa. Amit-amit jabang bayi, kasihan anak-anak kalau mesti cerai. Jadi anak broken home itu nggak enak." tukas Amanda.


Arka kembali menarik nafas, kali ini sambil memejamkan matanya sejenak. Ia hanya berharap semoga apa yang mereka bicarakan barusan benar-benar bisa mereka pertanggung-jawabkan pelaksanannya.


Sebab ia sangat mencintai wanita itu. Ia tak ingin rumah tangganya hancur, seperti rumah tangga pak Jeremy.


***


Esok hari.


Rianti berangkat pagi-pagi, sebab menurut informasi lalu lintas yang ia dapat di sebuah akun sosial media. Hari ini akan ada unjuk rasa di titik yang ia lalui.


Sebelum masa berkumpul lebih banyak. Rianti pikir tak ada salahnya ia berangkat lebih awal. Ia pun seperti biasa menggunakan jasa ojek online.


"Masanya belum pada ngumpul kan pak ya?"


Rianti bertanya pada sang driver ojol.


"Kayaknya belum deh mbak, tadi saya lewat masih aman-aman aja." jawab driver tersebut.


"Oh ya udah, bagus deh." tukas Rianti.


Mereka kemudian menyusuri jalan demi jalan. Namun tiba di sebuah tikungan, mereka pun terjebak. Ternyata masa pengunjuk rasa sudah berkumpul dan mereka dihimbau oleh aparat untuk putar balik arah, mencari alternatif lain.


Suasana berubah jadi mendadak macet, mengingat semua yang terjebak disuruh putar balik belakang. Sedang pengemudi yang baru tiba harus mengerem kendaraan terlebih dahulu, baru bisa berbalik arah dan memberi jalan pada mereka.


Akhirnya mereka harus merayap perlahan, sementara masa di belakang kini mulai ricuh dan melempari mereka dengan ini dan itu.


"Pak, buruan pak!. Saya takut sama mereka" ucap Rianti panik.


Para aparat gabungan kini mencoba mengamankan pengunjuk rasa tersebut, namun tetap saja kecolongan. Ada saja benda yang terlempar ke arah Rianti dan pengendara lain yang tengah putar balik arah.


"Buuuk!"


"Awww."


Pelipis Rianti terkena lemparan batu. Tak lama ia merasa ada sesuatu yang mengalir, ternyata darah. Pengendara lain juga banyak yang terluka.


"Pak, pak, saya dilempar pak." ujar Rianti.


Driver yang membawanya itu langsung mencari celah agar bisa terus menjauh dan akhirnya pun mereka lolos. Mereka kini menepi terlebih dahulu untuk melihat keadaan Rianti. Namun tiba-tiba Rianti pingsan, sebab darah yang ia keluarkan cukup banyak.


Si driver panik dan menyetop mobil random. Mobil itu berhenti dan dari dalamnya keluar seorang pria yang tiada lain adalah Gareth.


"Pak, pak, pak. Tolong pak, ini tadi kena lemparan pengunjuk rasa pak." ujar driver tersebut.


Gareth menilik dan mengenali gadis yang menjadi korban itu, sebagai resepsionis di kantor Amanda. Kemudian ia langsung saja membawanya menuju ke klinik terdekat.

__ADS_1


***


__ADS_2