Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Paqui


__ADS_3

“Ka, ngonten.”


Sebuah pesan horor kembali di terima Arka di handphone miliknya. Entah mengapa vibes pesan dari Rio tersebut selalu bersifat dark. Meski kadang Rio tak mengajak dirinya untuk makan makanan pedas.


“Ngonten apaan lagi bangsat?” tanya Arka kemudian.


“Makan Paqui sama keripik Ghost paper cocol sambal samyang.”


Rio menyebutkan beberapa makanan yang populer di kalangan YouTuber. Makanan tersebut merupakan makanan pendongkrak viewers paling populer saat ini.


Dengan makan makanan tersebut biasanya akan ada banyak penonton yang menonton konten kita.


“Nggak sekalian abis itu ngemil Carolina Reaper.”


Arka menyebut salah satu varian cabai terpedas di dunia, yang juga sering dipakai para YouTuber untuk tujuan serupa.


“Ayo kalau mau mah.” ujar Rio


“Kagak, ngapain gue menyusahkan diri. Lo mah enak, mati juga kagak ada yang bakal nangisin. Liana dan bokap-nyokap lo juga nggak bakal sedih-sedih amat kehilangan lo. Lah gua punya anak dua, bini gua cakep. Kalau gue meninggoy mereka gimana?” tanya Arka.


“Ah lu mah berlebihan, Ka. Noh para YouTuber aja banyak pada makan, masih pada hidup dan sehat mereka.” ujar Rio lagi.


“Iya mereka, kalau sialnya di gue gimana?” tanya Arka.


“Ya, gue yang akan bantu biaya kehidupan dan pendidikan anak-anak lo.”


Arka antara kesal dan terharu campur jadi satu. Namun lebih banyak rasa kesalnya.


“Lo tuh emang bangsat ya, Ri. Antara baik tapi tuh setan tau nggak.” ujar Arka.


“Hehehe.” balas Rio.


Arka kemudian mengirimkan stiker menendang pada temannya itu.


“Ya udah deh Ka kalau lo nggak mau. Tapi paling nggak lo temenin gue, supaya viewers gue stabil. Kan fans lo banyak tuh, biar pada nontonin gue.”


“Iya.” ujar Arka.


“Alasan lo template, anjay. Tiap minta tolong ke gue pasti ngomongin soal itu.” seloroh Arka.


“Ya udah besok ya.” balas Rio.


“Oke.” jawab Arka.


Maka mereka pun sepakat mengenai hal tersebut. Rio lalu mengambil dan membuka paket yang datang semalam, namun belum ia sentuh sama sekali.


Isi di dalam paket itu adalah berbagai jenis makanan pedas yang sudah ia sebutkan tadi di atas. Besok ia akan membuat konten dengan memakan semua itu. Walau resikonya ia akan mengeluarkan api lewat mulut dan juga kentut.

__ADS_1


***


Amanda tengah sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Secara serta merta sebuah pesan dari nomor baru tak dikenal masuk ke WhatsApp miliknya.


“Mbak-mbak gatel, nikahin bocah. Ntar juga kalau udah tua pasti ditinggalin sama suaminya.”


Amanda membaca pesan tersebut. Si pengirim memasang foto profil bertuliskan, menuju sah bersamamu.


Sebuah tulisan yang bermakna baik tapi tak sesuai dengan perilaku si pemilik akun serta nomor.


“Maaf, ini siapa ya?” tanya Amanda kemudian.


“Halah sok formal lagi lo. Dasar tante-tante gatel.” balas orang itu lagi.


Amanda tak ada waktu untuk meladeni orang semacam itu, maka ia pun lalu memblokir nomor tersebut dan melanjutkan pekerjaan.


Sore hari ia memperlihatkan pesan tersebut pada Arka. Ketika suaminya itu menjemput di kantor, untuk kemudian mereka pulang bersama.


“Orang yang suka sama kamu kali, Ka.” ucap Amanda pada pemuda itu.


Arka menghapus pesan tertera dan menggembalakan handphone tersebut pada sang istri.


“Orang nggak jelas, ngapain dipikirkan.” ujarnya kemudian menghidupkan mesin mobil.


“Udah aku blokir sih, tapi kepikiran aja soal omongan dia. Takut kalau aku udah tua, kamu malah beneran ninggalin aku sama anak-anak. Iya kalau cerai, okelah. Nanti selingkuh di belakang aku, menghamili cewek lain.” tukas Amanda panjang lebar.


“Kalau hal kayak gitu terus mengganggu pikiran kamu, lama-lama jadi asumsi loh. Asumsi semakin diyakini, akan jadi doa. Janganlah berdoa yang jelek-jelek.” ujar Arka.


“Masalahnya sekarang aku tuh cinta dan sayang sama kamu, Ka.” ujar Amanda.


“Apa?” tanya Arka seraya tertawa.


Pipi Amanda kini bersemu merah.


“Bilang apa tadi?” tanya Arka lagi.


“Ih, malu kan jadinya.” ucap Amanda kemudian.


“Ayo bilang, Arka suamiku yang tercinta. Aku cinta sama kamu.”


“Ih, nggak mau!. Geli tau nggak.”


“Kalau nggak mau bilang, hukumannya hamil lagi nih.” Arka memberikan ancaman nikmat.


“Ih nggak mau Arka, apaan sih kamu.”


“Ya udah, ntar malam siap-siap kamu.” seloroh Arka.

__ADS_1


Amanda lalu memukul lengan suaminya itu.


“Makan pasta yuk di tempat Matt.”


Arka menyebut kafe sahabatnya, tempat yang biasa ia datangi bersama Amanda.


“Ayo, mau!” ujar Amanda bersemangat.


“Ya udah kita kesana ya.” ucap Arka.


Amanda mengangguk lalu tersenyum. Maka pemuda itu kemudian mengarahkan mobilnya ke jalan yang menuju ke tempat tersebut.


Sesampainya disana mereka memesan pasta yang dimaksud dan juga minuman favorit masing-masing.


***


“Ya udah kalau emang kamu masih ragu. Kita tunda dulu aja. Kalau misalkan nanti nggak ada titik temu, ya udah kita bubar.”


Ansel kaget mendengar pernyataan terebut dari Intan. Ia pikir perempuan itu akan menahannya dengan tangis dan tak rela jika pernikahan mereka semisal dibatalkan.


“Koq kamu ngomong gitu sih?” tanya Ansel heran.


“Kayak nggak takut gitu loh kehilangan aku.” lanjutnya kemudian.


“Ya mau gimana, kamu berharapnya apa?” tanya Intan pada pria itu.


“Maunya aku nangis-nangis dan mohon-mohon?. Sujud di kaki kamu gitu dan minta supaya pernikahan ini nggak dibatalkan?. Biar keluarga aku nggak malu?” lanjut perempuan itu.


Ansel diam.


“Of course, keluarga aku akan malu. Aku bakal jadi bahan omongan tetangga. Tapi itu masih jauh lebih baik ketimbang aku maksain seseorang yang ragu untuk menikah sama aku." ujar Intan.


"Paling aku jadi omongan katakanlah sekitar tiga bulan paling lama. Habis itu orang bosan ngomongin aku, karena tergerus oleh gosip baru yang lebih rame.” lanjutnya kemudian.


“Aku tuh cuma lagi ragu aja, makanya aku ngomong ke kamu. Bukan maksud mau membatalkan juga.” ujar Ansel.


Intan kini menarik nafas dan membuang tatapannya ke suatu sudut.


“Kamu pikirin lagi deh benar-benar.” ujar Intan.


“Jangan ntar pas udah nikah, malah mau cerai. Bukan apa-apa, aku males menghadiri sidangnya itu loh. Repot tau nggak.” tambahnya lagi.


“Maafin aku, aku akan berusaha supaya rasa ragu aku ini hilang.” tukas Ansel dan lagi-lagi Intan menghela nafas panjang.


Ini adalah ujian mereka dalam menghadapi pernikahan. Intan tak mau ada pertengkaran apapun. Sebab saat ini dirinya pun tengah disibukkan mengenai masalah pekerjaan.


Ia hanya berharap masalah ini akan terlewati dengan baik dan mendapatkan penyelesaian yang memuaskan masing-masing pihak.

__ADS_1


***


__ADS_2