Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Persiapan Berangkat


__ADS_3

"Papa lusa pergi loh ke Surabaya." ucap Amanda pada kedua anaknya yang tampak mondar-mandir merayap dan tak menghiraukan Arka yang hendak mengajak mereka bermain.


"Hoaya."


"Hoaya." ucap mereka berdua serentak lalu melengos kesana-kemari.


"Biarin aja, ntar papa pergi pada kangen pasti." ucap Arka menimpali perkataan sang istri.


"Papapa?"


Azka menoleh. Caranya menyebut Arka terdengar seperti bertanya.


"Iya, papa mau pergi. Ntar liburan lama, liat aja." ujar Arka.


"Papapa."


Kedua anak itu mendekat. Entah mengerti atau tidak pada apa yang diucapkan oleh kedua orang tua mereka tersebut. Yang jelas keduanya kini bersedia diajak bermain.


Amanda turut menemani, sebab Afka memintanya dengan memanggil mama-mama. Maka wanita itu pun tak dapat menghindar.


Mereka bermain berempat, bercanda, tertawa. Amanda membuatkan makanan untuk mereka, lalu Arka pura-pura memakannya.


Kedua anak itu mengamuk dan nyaris menangis. Sepanjang hari berlangsung seru sampai akhirnya mereka semua tertidur.


Esok harinya Arka masuk kantor dulu untuk izin pada pihak kantor. Sementara Amanda juga masih bekerja seperti biasa.


"Hai Amanda."


Gareth mengirim pesan singkat di WhatsApp.


Amanda mengabaikan pesan tersebut karena memang ia tengah sibuk sekali kali ini.


"Dert."


"Dert."


Terdengar lagi notifikasi, namun kali ini nadanya berbeda. Nada khusus yang ia buat untuk kontak Arka.


"Sayang, boleh pinjam koper kamu yang gede itu nggak?" tanya Arka


"Ya boleh dong sayang. Tapi buat apa kamu bawa-bawa koper gede. Katanya beberapa hari doang." jawab Amanda.


"Bukan aku, tapi si Bambang Rio yang mau." jawab Arka.


"Mau bawa lemari sama tempat tidur kali dia." ucap pemuda itu kemudian.


"Wkwkwkwk."


Amanda balas dengan tertawa.


"Ya udah bawa aja nanti." ucap wanita itu kemudian.


***


Sore hari Amanda dan Gareth bertemu. Sebab ada beberapa hal yang harus mereka bahas, mengenai kerjasama dan pekerjaan tentunya.


"Tadi siang kamu sepertinya sibuk banget ya." ucap Gareth.


"Sampai-sampai aku chat nggak dibalas, padahal kamu sedang online."


"Iya, aku emang sibuk banget." ucap Amanda kemudian.


"Aku online itu juga karena Arka yang ngechat. Masa suami chat di abaikan juga." jawab Amanda sambil tersenyum.


Gareth balas tersenyum tipis dengan hati yang makjleb. Ia benar-benar panas mendengar itu semua.

__ADS_1


Namun ia juga tak bisa berbuat lebih banyak kecuali merelakan terlebih dahulu. Sebelum akhirnya ia mendapat celah kesempatan.


***


"Papapa."


"Hoaya."


"Hoaya."


Si kembar antusias saat Arka dan Amanda akhirnya pulang dari kantor.


"Koq cuma papa aja yang disebut. Mama nggak dek?" tanya Amanda pada kedua anak itu.


"Hoaya." Keduanya sama-sama menggelengkan kepala.


"Jahat." ucap Amanda antara ingin tertawa namun miris. Sementara Arka kini terkekeh.


"Hoaya."


"Hoaya."


Kedua anak itu kini berada dalam gendongan Arka.


Sementara Amanda kini membereskan apa yang bisa dibereskan, kemudian ia pergi mandi.


Tak lama Arka pun mandi bersama si kembar. Sebab mereka memang belum mandi sore.


Tadi Arka ada berpesan pada mbak pengasuh, untuk jangan dulu memandikan kedua anak itu. Sebab Arka akan mandi bersama mereka.


Usai mandi Arka dan Amanda mengajak keduanya turun ke bawah dan berkeliling di sekitar penthouse.


Tentu saja keduanya sangat senang. Apalagi melihat mobil-mobil yang berjalan.


***


Amanda bertanya pada Arka, tentang pakaian mana ada saja yang hendak ia bawa keluar kota nanti.


"Kaos aja Man, sama celana pendek, baju tidur. Sama underwear juga. Nggak usah banyak-banyak, orang bentar doang. Dan lagian aku bukan Rio, yang kemana-mana mesti bawa lemari." ucap Arka sambil tertawa kecil.


Amanda pun jadi ikut-ikutan tertawa. Lalu ia mengambil semua barang yang di ucapkan Arka tadi dan memasukkannya ke dalam koper kecil.


Tak lupa ia memasukkan sikat gigi baru berikut pasta gigi yang ia ambil dari dalam kamar mandi.


"Oh iya, parfum." ucap Arka lalu turut memasukkan parfum ke dalam koper tersebut.


"Papapa."


"Mama."


Terdengar suara Azka dan Afka dari kamar sebelah.


"Iya tunggu ya." jawab Arka kemudian.


"Papapa.


"Mama."


Lagi-lagi keduanya berucap.


"Kamu duluan aja Ka, kesana." tukas Amanda.


"Tadi belum dikasih ASI kan mereka?" tanya Arka pada istrinya itu.


"Belum, baru mau aku kasih." jawab Amanda kemudian.

__ADS_1


"Ya udah biar aku aja." ujar Arka.


Tak lama Arka pun keluar kamar dan mengambil ASI di kulkas. Tak lama ia memanaskan ASI tersebut lalu pergi menuju ke kamar si kembar.


"Papapa."


"Nih susu kalian."


Arka memberikan kedua anak itu dua botol susu. Mereka lalu berbaring di dalam box bayi kemudian meminum susu tersebut.


"Papa ke depan ya." ucap Arka.


"Haaa, papapa."


Kedua anak itu seperti tak membiarkan sang ayah pergi. Padahal sejatinya memang Arka hanya berbohong saja. Ia dan Amanda berniat tidur di kamar anak itu malam ini.


"Hai sayang."


Amanda masuk.


"Mama."


"Mama."


"Mama mau bobok disini." ucap Amanda lalu duduk di karpet bulu.


Arka tiduran di kaki istrinya tersebut. Kemudian Azka dan Afka bereaksi minta di keluarkan dari dalam box. Mereka kemudian di keluarkan. Tak lama mereka beserta Arka sudah berguling di kaki Amanda.


"Azka, tau nggak. Di sini ada adek."


Arka menunjuk perut Amanda, sementara Amanda hanya tertawa.


"Dek?" tanya Azka kemudian.


"Iya adek. Mau nggak punya adek." tanya Arka lagi.


Azka diam lalu,


"Buuuk."


Ia memukul perut sang ibu dengan tangannya. Amanda dan Arka kaget lalu tertawa. Afka ikut-ikutan memukul perut ibu mereka tersebut.


"Nggak boleh kayak gitu ya." Amanda mengingatkan.


"Kayak gini nggak bisa jadi abang." ucap Amanda sambil tertawa.


"Iya, masih barbar banget." timpal Arka.


"Kalau sama adek Joanna mau ya." ucap Amanda.


"Mona?" ucap Afka dengan penekanan agak lebih di huruf N.


"Iya, nanti kita jenguk adek Joanna ya." Arka menimpali.


"Ona." tukas Azka.


"Apa jadinya ya mereka nanti kalau ngeliat Joana?"


Amanda bertanya pada sang suami.


"Lucu kali ya." ujarnya lagi.


"Kalau nggak di gaplok." ucap Amanda.


"Ya mudah-mudahan nggak." tukas Amanda.

__ADS_1


"Hoahm."


Asi telah habis. Kedua anak itu tampak mengantuk kini. Terhitung sudah tiga kali mereka menguap sejak tadi. Tak lama kemudian keduanya benar-benar telah terlelap. Arka dan Amanda sama-sama memindahkan mereka ke dalam box.


__ADS_2