Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Kiriman


__ADS_3

"Bu Amanda, ini ada kiriman."


Pia sang sekretaris masuk ke ruangan Amanda pagi itu dan menyerahkan sebuah paper bag yang entah isinya apa.


"Kiriman dari siapa?" tanya Amanda heran.


"Dari pak Gareth." jawab Pia.


"Gareth?"


"Iya, itu ada namanya bu." ucap Pia lagi.


Amanda menilik ke sebuah catatan kecil yang di tempel di paper bag tersebut. Dan ternyata benar pengirimnya adalah Gareth.


"Oh, ok. Makasih ya." tukas Amanda.


"Sama-sama, bu." Pia kemudian berlalu.


Amanda membuka paper bag tersebut dan mengambil sebuah kotak kado persegi panjang dan mengeluarkannya dari dalam sana. Di kotak tersebut tertera sebuah brand, yakni "Elanor de fleur."


Amanda membuka kotak tersebut, dan isinya merupakan bunga mawar berlapis emas. Bukan seperti yang di jual di online shop, yang ini memiliki sertifikat dan tampaknya cukup mahal.


"Gareth, thank you hadiahnya." ucap Amanda pada pria itu melalui pesan singkat di WhatsApp.


Amanda tak begitu kaget. Sebab di dunia bisnis, saling mengirim hadiah antar klien maupun kolega itu bukanlah hal tabu.


Ada banyak maksud yang terkandung didalamnya. Seperti menjaga hubungan dua perusahaan, melancarkan kerjasama, atau sebagai sistem suap-menyuap agar bisa mendapatkan project.


Dan Amanda pikir Gareth hanya ingin menjaga hubungan baik mereka dalam hal kerjasama. Sama sekali ia tak terpikir, jika Gareth memberikan semua itu dari hati yang paling dalam.


"Sama-sama Amanda, aku harap kamu suka dengan design-nya." jawab Gareth.


"Aku suka koq." tukas Amanda kemudian.


"Good." ucap Gareth.


Lalu obrolan mereka berakhir disana. Amanda tersenyum melihat bunga emas yang kini ada di depan matanya. Bukan karena memikirkan si pemberi. Melainkan ia memang mengagumi bunga tersebut.


Ia selalu menyukai bunga baik segar, kering, maupun yang sudah di modifikasi dan dijadikan pernik tertentu. Ia lalu memajang bunga itu di sebuah lemari kaca yang tak jauh dari meja kerjanya.


***


"Kamu menghancurkan apa yang sudah susah payah kita bangun selama ini. Kamu pengkhianat, Alisha."


Arka berteriak pada lawan mainnya di depan sebuah set yang dipenuhi kamera.


"Ini semua gara-gara kamu terlalu sibuk sama dunia kamu dan lupa kalau kamu punya istri."


Tokoh peran bernama Alisha itu tak kalah berteriak kepada Arka. Mereka bertengkar layaknya sepasang suami-istri di dunia nyata.

__ADS_1


"Aku sibuk itu buat kamu, buat kita. Buat masa depan anak-anak. Kamu pikir aku nggak mau diem dirumah aja?. Mau, paham kamu?"


Arka melanjutkan dialog tersebut, dan masih dengan nada yang sama.


"Siapa yang bakal memenuhi semua kebutuhan kita kalau aku cuma dirumah?. Hah?. Berani-beraninya kamu selingkuh dengan musuh aku sendiri. Orang yang sudah mengkhianati persahabatan yang dulu pernah kami punya."


"Itu akibatnya kalau kamu mengabaikan aku. Ada laki-laki lain yang siap memberi aku perhatian."


"Perempuan nggak tau diri, kamu."


"Plaaak." Arka mendaratkan sebuah tamparan. di pipi lawan mainnya.


"Cut."


Sang sutradara berteriak memotong adegan tersebut. Para kru bertepuk tangan dan Arka serta artis perempuan yang jadi lawan mainnya itu, kembali ke backstage.


"Gimana, Ka. Masih on?" tanya sang asisten sutradara padanya.


Saat ini Arka tengah mengambil air mineral dingin, lalu meminumnya hingga setengah.


"Masih." jawab Arka.


"Masih jam segini juga." lanjutnya lagi.


Sang asisten sutradara kemudian tertawa.


"Good." ujarnya kemudian.


Sebab ia ingin beristirahat sejenak sambil melihat apakah ada pesan penting yang masuk di WhatsApp miliknya.


Arka duduk di sebuah tempat yang cukup sejuk. Tepatnya di sebuah gazebo besar yang terdapat di bagian belakang rumah. Lokasi syuting mereka kali ini berupa rumah warga yang sengaja di sewa.


Ditempat itu cukup banyak angin, karena dikelilingi pepohonan yang rindang. Tak lama Arka mendapat telpon dari pak Putra, bosnya di kantor.


"Iya pak." ujar Arka mengawali pembicaraan.


"Ka, kerjaan yang kamu kirim semalam ada yang mesti di revisi. Sedikit doang sih, di bagian akhir. Tapi itu penting, sebab kamu ada salah menginput data." tukas pak Putra padanya.


"Oh, ok-ok. Segera saya periksa pak." ucap Arka.


"Saya tunggu ya, Ka." tukas pak Putra lagi.


"Baik, pak. Segera saya kerjakan." jawab Arka.


Pak putra menyudahi telpon tersebut. Sementara Arka kini buru-buru beranjak ke sebuah ruangan dan mengambil laptop dari dalam tas yang ia bawa.


Selama syuting ia tetap bekerja di kantor via online. Semalam saja ia baru mengerjakan tugas, dan telah mengumpulkannya. Tetapi ternyata ada sedikit hal yang perlu ia perbaiki sekarang juga.


Maka Arka pun bergegas. Ia memeriksa apa yang dimaksud oleh pak Putra dan ternyata benar, ia memang melakukan sebuah kekeliruan.

__ADS_1


Segera saja ia memperbaiki semua itu, kemudian mengirimkannya kembali melalui email yang sama dengan sebelumnya.


"Ka."


Elina muncul disaat Arka baru saja menonaktifkan laptop. Ketika ia telah selesai membereskan pekerjaan kantor yang diminta.


"Hei, El." ucap Arka pada perempuan itu.


"Gue dipanggil sutradara lagi, katanya peran gue yang tempo hari bakal dibuat sebagai peran tambahan dan bakal ada cukup banyak scene."


Elina berkata seraya menarik sebuah kursi di dekat Arka, kemudian duduk. Ia pun lalu meletakkan sebuah bungkusan cukup besar ke atas meja yang ada di hadapan mereka.


"Oh ya, bagus dong." ujar Arka kemudian.


"Iya, lumayanlah buah cuan." tukas Elina lagi.


"Oh ya, Ka. Ini gue bawain makanan. Kali aja bosen sama makanan lokasi syuting." Lagi-lagi perempuan itu berucap.


"Thank you." ujar Arka.


Tak lama keduanya terlihat sudah makan bersama. Tak ada Rio di hari itu, sebab ia sedang menjalani syuting di set lokasi yang berada cukup jauh dari tempat tersebut.


Arka dan Elina makan sambil memperbincangkan banyak hal. Elina terlihat sangat senang, sebab akhirnya ia bisa berdua saja dengan Arka. Setelah sebelum-sebelumnya selalu di recoki oleh kehadiran Rio.


"Ka, kalau break syuting kita jalan-jalan yuk."


Elina melontarkan sebuah perkataan yang lebih mirip ajakan. Maksud hatinya memang ingin mengajak Arka. Namun belum sempat Arka. menjawab tiba-tiba Amanda menelpon pemuda itu.


"Hallo, iya sayang."


Arka berkata pada sang istri.


"Degh."


Mendadak hati Elina serasa di pukul. Jantung perempuan itu kini berdetak kencang. Menandakan ia tak menyukai apa yang barusan ia dengar.


"Udah break, Ka?" tanya Amanda kemudian.


"Udah, ini baru selesai makan." ucap Arka.


"Oh, makan apa?"


"Makan nasi sama kari ayam dan sambel udang. Dibawain teman aku."


"Degh." lagi-lagi batin Elina bergemuruh demi mendengar kata "Teman" tersebut.


Sebab itu artinya Arka hanya menganggap dirinya sebagai teman.


Arka dan Amanda terus berbincang, sementara Elina pura-pura membereskan bekas makan dan kini agak menjauh. Ia tak kuasa sekaligus kesal mendengar kemesraan diantara keduanya.

__ADS_1


***


__ADS_2