Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Wew Aneh


__ADS_3

"Kamu kenapa sih, dari tadi diem melulu?"


Intan bertanya pada Ansel yang menurutnya hari ini, terlihat lain dari biasanya. Ia bersikap seperti orang yang capek terhadap sesuatu dan banyak sekali melamun sejak tadi.


"Aku baik-baik aja koq." jawab Ansel.


Namun bagi Intan, itu tetaplah dingin. Ansel yang biasanya penuh kehangatan, kini lebih mirip ponsel yang nyaris kehabisan daya.


"Kamu sakit?" tanya Intan lagi.


"Nggak." jawab Ansel.


"Ada masalah?"


"Nggak."


"Tapi kamu aneh deh."


Intan terus memperhatikan wajah kekasihnya tersebut. Seperti kebanyakan wanita, ia tak bisa begitu saja dibohongi.


Namun sebagai pria, Ansel pun terbilang keras kepala. Ia tak mau mengatakan apapun pada Intan, selain pernyataan jika saat ini dirinya tengah baik-baik saja.


***


"Lo kenapa lagi, Tan?"


Satya bertanya pada Intan, ketika rekan kerjanya itu dicurhati oleh Intan mengenai tingkah laku Ansel yang tak biasa.


Mereka berdua kini berada dalam panggilan zoom, bersama Deni yang kini baru bergabung. Intan sendiri telah pulang ke rumah, begitupula dengan Ansel.


"Kenapa lu?" Deni ikut-ikutan bertanya.


"Si Ansel aneh, tiba-tiba aja dia kayak badmood gitu sama gue. Tadi kan kita ketemuan." ujar Intan kemudian.


"Nggak lu kasih jatah kali." Deni berseloroh, diikuti tawa Satya.


"Gue udah sepakat sama dia. Kita nggak mau begituan dulu sampai nikah nanti. Takut bunting sebelum hari H. Ntar jadi masalah dan omongan tetangga lagi." ujar Intan.


"Iya sih, dan kalau emang udah sepakat harusnya dia nggak ngambek soal itu." Satya memberikan pendapatnya.


"Kayaknya juga bukan karena hal tersebut deh." ujar Intan.


"Gue curiga dia mendadak bosan sama gue dan selingkuh sam cewek lain." lanjutnya lagi.


"Bisa jadi sih."


Deni mengeluarkan pernyataan yang agak mengejutkan. Baik bagi Satya maupun Intan sendiri. Padahal tadi Intan telah menyatakan hal tersebut.


Namun dirinya cukup kaget mendengar Deni seakan menyetujui pendapat yang ia kemukakan. Seperti ada rasa sesak yang tiba-tiba melanda di dada Intan.


"Koq lo ngomong gitu sih?" tanya Satya heran.


"Ya, pengalaman aja sih. Abang gue waktu itu pas mau nikah, dia mendadak bosan sama calon istrinya dan selingkuh. Eh akhirnya malah nikah sama selingkuhannya itu."

__ADS_1


Intan terdiam. Buru-buru Satya mengirim pesan singkat melalui WhatsApp pada Deni, dengan menggunakan handphone yang satunya lagi.


"Eh Fir'aun Tutankhamun. Napa lu ngomong gitu dah?. Nggak kasihan lo sama Intan?"


Begitulah bunyi pesan tersebut, yang kemudian dibalas oleh Deni.


"Gue cuma pengen supaya Intan siap menghadapi segala kemungkinan. Biar pada saat hal tersebut benar-benar terjadi, dia nggak terlalu kaget dan lukanya nggak terlalu dalam. Kita nggak pernah tau rencana Tuhan, bro." tulis Deni panjang lebar.


"Tapi kan dia jadi sedih, anjir."


"Gue tau, tapi mending sedihnya dia di kredit dari sekarang. Daripada nanti pas dia tau baru meledak, lebih kasihan lagi. Bisa gila tuh anak kalau taunya mendadak."


"Ada-ada aja lu, ah."


"Tan."


Satya kembali fokus pada Intan.


"Gue nggak apa-apa koq."


Intan berusaha keras menyembunyikan kesedihannya.


"Ini kan baru perkiraan doang, mudah-mudahan sih si Ansel cuma lagi ada masalah doang sama kerjaan atau sama keluarganya." ujar Satya.


Intan mengangguk dan mencoba memberikan senyuman tipis, walau itu terkesan begitu di paksakan.


***


"Apaan sih?. Lo kenapa dah?"


"Pengen ketemu." ujar Ansel dengan suara yang lemah.


"Kenapa lo, mau minjem duit?" seloroh Nino.


"Gue punya uang ya, bangsat." jawab Ansel kemudian.


Nino tertawa mendengar semua itu.


"Gue lagi nggak enak hati." lanjut Ansel.


"Nggak enak hati kenapa?. Lo berantem sama daddy?"


Entah mengapa Nino jadi curiga ke arah sana.


"Nggak, ini soal pernikahan gue nanti." jawab Ansel.


"Kenapa sama pernikahan lo?" Lagi-lagi Nino melontarkan pertanyaan.


"Pokoknya lo kesini dulu deh. Tadi gue udah bilang juga sama Arka dan dia lagi on the way." jawab Ansel.


Nino yang tadinya ingin bercanda, tiba-tiba menyadari jika saat ini Ansel sedang berada dalam kondisi yang serius.


"Ya udah, tunggu. Gue baru banget keluar dari kantor ini." ujar Nino.

__ADS_1


"Oke, jangan nggak datang!. Gue butuh lo banget saat ini."


"Iya." jawab Nino.


"Ya udah deh, gue tunggu ya."


"Oke."


Ansel lalu menyudahi percakapan tersebut. Nino kini bergerak berlawanan arah dari apartemennya, menuju ke apartemen Ansel.


Sementara di jalan lain Arka juga sama menuju kesana. Tadi ia sudah mendrop istrinya ke rumah dan langsung kembali tancap gas. Tetapi ia janji tak akan pulang malam demi Azka dan juga Afka.


Ia akhirnya tiba di apartemen Ansel, setelah menempuh perjalanan selama beberapa saat. Dan hal tersebut juga bertepatan dengan tibanya Nino ke tempat tersebut. Mereka bertemu di pelataran parkir.


"Hei."


Nino menyapa Arka yang mendekat ke arahnya.


"Si Ansel kenapa sih?" tanya Arka pada saudara sekaligus iparnya tersebut.


"Nggak tau gue, kayak lagi mellow gitu si Bambang." jawab Nino kemudian.


"Ada masalah kali ya sama daddy?"


Arka sama menebak seperti Nino sebelumnya.


"Katanya sih bukan. Tadi gue juga nanya kayak gitu. Tapi kata Ansel ini soal pernikahan dia nanti." jawab Nino.


Ia dan Arka melangkah menuju ke lobi apartemen.


"Berarti masalah sama Intan dong?" tanya Arka.


"Belum tentu juga. Bisa jadi sama calon mertuanya atau wedding organizer atau apa. Soalnya dia cuma kasih clue soal pernikahan. Berarti kan bisa aja sebabnya bukan Intan."


"Iya sih."


Nino dan Arka masuk ke pintu lobi dan langsung menuju lift. Mereka naik ke unit Ansel yang berada di lantai 23.


***


“Jordan.”


Maureen berseru pada suaminya dengan setengah berteriak. Ada rasa panik juga yang terdengar dari dari sana. Maka Jordan yang baru pulang kerja itu pun segera masuk ke kamar dan menghampiri Maureen.


“Kenapa Reen?” tanya nya kemudian.


“Ini Joanna, dia kejang.” ujar Maureen panik.


Maka tanpa bicara apa-apa lagi Jordan segera mengecek kondisi sang anak. Ia bingung sekaligus panik dan khawatir sama seperti Maureen.


“Kita ke rumah sakit sekarang.” ujarnya.


Maka tak lama kemudian pasangan muda itu lalu bergegas membawa bayi mereka. Di sepanjang perjalanan Maureen sangat tegang. Tetapi Jordan mencoba menelpon ibu Arka dan menanyakan perihal bagaimana menghadapi situasi semacam ini.

__ADS_1


Ibu Arka yang sudah berpengalaman itu pun menenangkan Jordan dan bertanya mengenai kondisi Joanna. Ibu Arka juga mengajarkan sang anak tiri untuk menjaga kondisi Joanna hingga tiba di rumah sakit.


__ADS_2