
Citra sedang sibuk menata rumah bersama para asisten rumah tangga, sampai kemudian salah seorang dari mereka menyampaikan sesuatu padanya.
"Bu." ujar salah satu asisten rumah tangga tersebut sambil melihat ke arah pintu masuk. Citra pun menoleh, dan ia terkejut melihat Nino yang tengah berdiri disana.
Segera saja ia menghambur dan memeluk puteranya itu, meski tetap di balas dengan dingin oleh Nino.
"Kamu ada apa tiba-tiba kesini?"
Citra bertanya pada Nino ketika mereka telah duduk di kursi meja makan. Salah seorang asisten rumah tangga membuatkan minuman untuk Nino.
"Papa." jawab Nino kemudian.
Citra mengerutkan dahi.
"Amman?"
Nino mengangguk. Seketika wajah Citra pun jadi berubah.
"Ada apa?" tanya nya pada sang anak.
Ekspresi wajah wanita itu antara ingin tahu, namun juga sedikit tak peduli.
"Dia sakit, dan saat ini tengah di rawat." jawab Nino.
Citra diam dan membuang pandangannya ke suatu sudut.
"Untuk apa memberitahu?" tanya nya lagi.
"Aku cuma mau bilang, tolong berdamai."
Citra menatap tajam ke mata Nino.
"Aku tau ini nggak mudah, tapi aku minta tolong. Dia sudah tua."
Nino balas menatap ibunya itu.
"Kalau bisa." lanjutnya lagi.
"Maksud kamu mama harus mengampuni dia, begitu?"
Makin ketus suara Citra terdengar. Nino pun tak mampu berbicara lebih tinggi lagi. Ia hanya terus memberikan tatapan pada ibunya tersebut.
"Kalau kamu datang cuma untuk memohon supaya dia bisa keluar penjara dengan mudah. Mama memilih untuk tidak mau membicarakan hal tersebut. Terlalu sakit luka yang dia tinggalkan. Semua orang mengatakan mama kejam pernah membuang kamu, tapi mereka tidak ada di posisi mama saat itu."
Nino diam, tak lama kemudian ia pun beranjak tanpa berkata apa-apa lagi. Ia bisa saja mendebat Citra dan beradu argumen dengannya.
Namun seperti tadi yang Citra katakan, ia tak pernah ada di posisi wanita itu. Dan lagi wanita tersebut adalah ibunya.
Sebenci-bencinya ia terhadap wanita itu, tetap ia tak bisa mencecar layaknya kepada musuh yang tak memiliki pertalian darah.
***
Nino mengambil kopi dari tempat pemesanan, tepat beberapa saat setelah ia kembali dari rumah Citra. Pikiran pria itu kini masih terngiang pada sikap sang ibu, juga bagaimana tentang nasib sang ayah selanjutnya.
"Tak."
Nino meletakkan cup kopinya ke atas sebuah meja, dengan sedikit tekanan. Sehingga hal tersebut menimbulkan suara.
Ia lalu duduk di kursi yang terdapat di meja itu, dengan tatapan yang mengawang ke suatu sudut.
__ADS_1
"Enak bener ya, langsung duduk. Nggak diliat ada orangnya."
Tiba-tiba Nino tersadar jika ia telah duduk di meja orang lain. Dan yang lebih membuat kaget lagi, ternyata Min Ji yang ada di meja tersebut.
Nino diam menatap Min Ji, namun seakan tak ada rasa bersalah sedikitpun. Hal tersebut tentu saja membuat Min Ji jadi keki setengah mati.
"Aku nggak akan pergi, karena ini meja aku duluan yang duduk." Min Ji bersikeras.
Nino tak menggubris gadis itu. Ia lalu menyeruput kopinya dan mengeluarkan sebungkus rokok.
"Kamu mau ngerokok depan aku?" tanya Min Ji lagi.
Nino makin tak peduli, ia malah mengeluarkan sebatang lalu menyalakannya.
"Ih asap, ngapain sih ngerokok segala?"
Min Ji tampak risih, Nino menilik ke sebuah papan di dinding yang bertuliskan "Smooking Area."
"Jadi maksudnya kalau aku nggak mau kena asap rokok, aku yang harus mengalah dan pergi gitu?"
Min Ji terus saja mengoceh, sedang Nino belum berkata sepatah pun sejak tadi.
"Sana pergi!"
Min Ji mengusir Nino, namun Nino tetap tak peduli.
"Ih, sana!"
Min Ji beranjak dan menarik Nino, namun secara serta merta Nino memeluk gadis itu. Menjadikan waktu seolah membeku seketika.
Jantung Min Ji berdegup kencang, ia benar-benar tak menyangka Nino akan melakukan hal tersebut.
Tadi Nino melihat gadis itu menatap ke arah dirinya dan juga Min Ji. Maka Nino menggunakan Min Ji agar Nadine merasa jika Nino saat ini baik-baik saja bahkan bahagia.
Min Ji yang tak tau apa-apa itu hanya merasa kaget sekaligus berdebar jantungnya. Kini perasaan gadis itu seolah berbunga-bunga.
Ia lalu kembali duduk dan diam, sebab semuanya ini masih terasa aneh baginya. Namun jujur ini juga terasa sangat menyenangkan.
Nadine berlalu, dengan wajah sedih sekaligus kecewa. Nino membiarkan saja meski hatinya sangat ingin menyusul dan mengajak Nadine bertengkar.
Ia sudah ditinggalkan tanpa sebab dan itu sangat menyakitkan. Ketika semuanya sudah terlanjur hancur, kini Nadine kembali menghubungi dirinya. Nino benar-benar kecewa dengan sikap gadis itu. Ia seolah tak memikirkan perasaan orang lain.
***
Malam hari.
"Papapa?"
"Iya kita lagi nunggu papa." jawab Amanda.
Sejatinya Arka sudah menelpon sejak beberapa detik lalu. Namun tiba-tiba ia pamit ke kamar mandi untuk buang air kecil.
"Hallo anak papa."
Arka kembali tak lama setelahnya.
"Papapa."
"Papapa."
__ADS_1
Azka dan Afka berujar dengan sangat antusias.
"Siapa yang naik tangga di rumah grandpa?" tanya Arka kemudian.
"Gaga?"
"Iya, siapa yang naik tangga?" tanya Arka lagi.
"Eheeee."
"Ehe-ehe." Amanda sewot pada keduanya sekaligus gemas.
"Kasihan Wew nya sampe dimarahin Nono loh." ujar Amanda.
"Eheeee."
"Nggak boleh ya naik-naik tangga kalau nggak ada yang mengawasi." ujar Arka
"Gaga?"
"Iya nggak boleh, kecuali ada yang jagain dari bawah." lanjut pria itu.
"Wew?" Afka berkata.
"Iya, kalau ada Wew sama Nono yang jagain nggak apa-apa naik tangga. Tapi kalau Wew sama Nono nggak ada, nggak boleh. Nanti jatuh ke bawah." Amanda menimpali perkataan sang suami.
"Udah pada makan kalian?" tanya Arka lagi.
"Udah dong papa, tadi kita makan bubur nasi sama ayam ya." jawab Amanda.
"Eheeee."
"Yam." jawab keduanya serentak.
"Mau Man, mereka makan bubur nasi?" tanya Arka.
"Lagi mau, Ka. Bosan kali kentang sama roti mulu."
Arka tertawa.
"Tapi abis?"
"Abis, nggak ada yang kebuang." jawab Amanda.
"Ngoook."
"Ngoook."
Terdengar seperti suara berisik di dekat Arka.
"Suara apaan, Ka?" tanya Amanda heran.
Arka lalu mengarahkan kamera handphone ke sofa satunya lagi. Tampak Rio tertidur dengan mulut sedikit menganga serta mendengkur.
"Astaga Rio, kayak orang abis membangun Piramid." seloroh Amanda.
"Abis kerja sama Daendels." celetuk Arka menyebut nama gubernur Hindia Belanda ke 36, yang terkenal dengan sistem kerja paksanya dalam membangun jalan.
Keduanya pun kini tertawa-tawa. Mereka lanjut berbincang dan terus berinteraksi dengan si kembar. Meski acap kali si Kembar memilih cuek dan merayap kesana-kemari.
__ADS_1