
Rio akhirnya tertidur di dalam tenda. Arka sendiri terpikir akan rumah dan juga istrinya. Bisa dipastikan jika Amanda saat ini tengah pusing memikirkan keberadaan sang suami.
Semua karena Arka kurang sigap saat di bawah tadi. Harusnya ia segera menelpon atau mengirim pesan singkat pada sang istri. Arka menyadari keteledorannya.
"Lemot banget sih gue, elah. Ntar kalau Amanda kebingungan gimana ya?" ucap pemuda itu dalam hati.
"Semoga Amanda nggak kepikiran macem-macem." lanjutnya lagi.
"Ini semua gara-gara si ubur-ubur nih." tambahnya.
Malam beranjak naik, akhirnya Arka pun pergi tidur. Sementara di rumah Amanda juga telah terlelap. Namun perempuan itu tak terlalu nyenyak, lantaran ia masih menunggu kabar dari Arka.
***
"Pak Zio, kapan kita bisa ketemu lagi?. Aku mau kita bicara berdua aja. Kalau menjelaskan di chat atau di telpon, aku takut salah paham."
Nadine mengirim pesan singkat di tengah malam yang suntuk. Nino yang kebetulan belum tidur dan masih mengerjakan tugas kantornya tersebut pun, membaca pesan itu.
Nino mengetik jawaban, namun ia teringat pada Ansel yang tak menyukai jika dirinya lemah terhadap cinta. Maka ia pun mengurungkan niat tersebut dan kembali melanjutkan pekerjaan.
"Aku bener-bener menyesal, pak. Aku masih sayang sama bapak."
Nino menatap pesan tersebut dan hampir saja pertahanannya runtuh. Andai Ansel tak tiba-tiba berjalan sempoyongan dan hampir terjatuh di hadapannya.
"Nin, gue koq meriang ya?" ujarnya kemudian.
Seketika perhatian Nino pun teralihkan. Ia tak lagi melihat handphone, meski Nadine terus mengirim pesan padanya.
"Udah minum obat?" tanya Nino.
"Belum." jawab Ansel.
"Minum obat apa ya gue?" tanya nya kemudian.
"Gue bikinin susu dulu." ujar Nino.
Maka ia pun beranjak meninggalkan pekerjaan dan juga handphone. Pria tampan itu kemudian menuju ke dapur dan membuatkan susu hangat untuk Ansel. Tak lama ia kembali, dan memberikan susu tersebut.
"Nih, lo minum dulu." ucap Nino.
Ansel pun menerima dan mulai meminum susu tersebut.
"Koq panas banget, ini ada gingernya ya?" tanya Ansel pada Nino. Ia kini terlihat melet-melet lidahnya, karena kaget pada rasa jahe yang terkandung di dalam susu tersebut.
"Iya, biar badan lo enakan." ucap Nino.
__ADS_1
"Tapi pedes banget, Nin. Kayak seblak, anjay." ujarnya kemudian.
Nino tertawa.
"Emang lo pernah makan seblak?" tanya nya pada Ansel.
"Pernah, diajak Intan. Mana dipaksa lagi gue. Rasa pengen gue putusin saat itu juga si Intan."
Nino makin tertawa.
"Anjir, putus gara-gara seblak." ujarnya.
"Iya, sebel banget gue." ucap Ansel lagi.
"Nggak masalah soal seblaknya, tapi level kepedasannya itu loh." lanjut pria itu.
Lagi dan lagi Nino tertawa.
"Udah lo minum dulu itu, abis itu badan lo pasti mendingan." tukasnya.
Ansel lanjut minum meski lidahnya masih melet-melet seperti tadi. Nino mematikan air conditioner yang ada di ruangan tersebut. Kebetulan di luar pun tiba-tiba turun hujan.
Ia dan Nino lanjut berbincang hingga susu yang ada di tangan Ansel itu pun habis diminum.
Sementara di lain pihak, mbak Arni ada mengirim pesan pada Amanda. Namun Amanda kini telah benar-benar tertidur lelap.
***
Amanda terbangun karena seolah mendengar suara anak-anaknya. Kemudian ia tertawa karena ingat jika si kembar ada di rumah orang tua Arka. Ia kemudian meraih handphone dan melihat ada pesan dari mbak Arni.
"Amanda, orang suruhan sutradara udah datang ke apartemen. Tapi apartemennya nggak ada orang. Udah tanya sama sekuriti juga, dan sekuritinya nggak tau Arka sama Rio kemana."
"Duh, mereka kira-kira pergi kemana ya?. Apa nggak ada orang yang dikasih tau sama mereka?. Sutradara kek, atau siapa gitu?" tanya Amanda kemudian.
Pesan tersebut terkirim, namun tak dibaca langsung oleh mbak Arni. Amanda mengerti ini masih pagi. Mungkin juga perempuan itu belum bangun pikirnya.
Maka ia pun beranjak dan membuat minuman hangat di dapur. Tak lama ia mengambil robot penyapu lalu menghidupkannya.
Sembari minum, ia membereskan penthouse. Tak lama mbak Arni pun membalas.
"Kurang tau kalau kemana-nya, Man. Mereka nggak ada pamit ke siapa-siapa juga. Sutradara aja nggak tau mereka dimana."
"Aku jadi khawatir, mbak." ujar Amanda.
"Sama, aku juga kepikiran ini." balas mbak Arni.
__ADS_1
"Tapi bisa jadi juga mereka mungkin liburan ke tempat yang susah sinyal." Mbak Arni kembali berkata.
"Arka tuh nggak pernah nggak ngasih tau, mbak. Soal kemana aja dia pergi." tukas Amanda.
"Rio juga biasanya ngasih tau. Tapi emang tempo hari Rio tuh ada mau ngajak Arka liburan, dan udah bilang ke aku. Tapi belum jelas tujuannya kemana." lanjut wanita itu.
"Gini aja deh, aku cari info dulu dan mungkin akan suruh orang buat melacak keberadaan mereka." tukas mbak Arni.
"Oke, thank you ya mbak. Nanti aku juga bakal suruh orang buat cari mereka." Amanda menimpali.
"Positif thinking dulu, Man. Jangan mikir macem-macem." ucap mbak Arni.
"Iya mbak, thank you ya sekali lagi."
"Sip." jawab mbak Arni.
"Nanti kalau ada perkembangan, aku kasih tau lagi." lanjutnya kemudian.
"Oke." jawab Amanda.
Maka chat tersebut pun berakhir begitu saja. Batin Amanda kini jadi kian cemas dan pikirannya mulai berkecamuk. Apakah sesuatu yang buruk telah terjadi pada Arka, pikirnya.
Jika tidak, apakah saat ini Arka tengah bersama perempuan lain. Apabila itu benar, setega itukah Rio mendukung perselingkuhan Arka.
"Ah."
Amanda kembali mengalihkan pikirannya ke hal positif. Kemudian ia bersiap untuk pergi mandi.
***
Flashback.
Menjelang dini hari, sebelum Amanda bangun. Bahkan sebelum matahari menampakkan sinarnya di ufuk timur.
Arka dan rombongan sudah kembali melakukan perjalanan, melalui track yang menjadi perlintasan para pendaki di jalur yang mereka pilih.
Mereka berniat mengejar sunrise. Rio berjalan di belakang Arka serta pemandu jalan yang mereka sewa. Sementara dibelakangnya lagi, banyak terdapat kru dan juga beberapa pendaki lain yang mereka temui setelah pos 5.
Rio agak takut dalam perjalanan menuju puncak tersebut. Sebab semalam ia ada mimpi buruk didatangi makhluk tinggi besar. Entah itu nyata atau hanyalah sugesti belaka.
Mengingat sebelum mendaki, Rio ada menonton tayangan tentang pengalaman mistis para pendaki. Salah satunya yang bertemu makhluk hitam dan tinggi besar.
Setelah menempuh perjalanan beberapa saat mereka summit atau tiba di puncak gunung Lawu. Tak lama matahari mulai terlihat dan mereka menikmati semua itu, lalu mengabadikannya dalam gambar atau video.
Usai menancapkan bendera dan puas menatap serta mengagumi sekitar. Mereka turun sedikit dan langsung menuju ke mbok Yem.
__ADS_1
Tentu saja Rio dan team kembali semangat 45 dan langsung menyiapkan peralatan untuk membuat konten. Sementara Arka hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa melihat sahabatnya itu. Ia kini tampak memegang kopi hitam panas. Untuk mengawali paginya yang dingin.